DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PERMAINAN KOTOR BUTUH TANGAN KOTOR**
**
Dua hari setelah David menggebrak meja kerja ayahnya sendiri, Junaedi memanggilnya kembali, kali ini dengan nada yang jauh lebih dingin dan penuh tekanan dibanding biasanya.
"David," Junaedi berkata, suaranya datar tapi setiap kata terasa seperti pukulan tersendiri, "Papa kasih lo waktu dua minggu. Kalau pembangunan gak mencapai tujuh puluh persen dalam waktu itu, Papa gak bisa lindungin lo lagi. Lo akan dilaporkan ke KPK, atas nama kelalaian dan dugaan korupsi proyek."
David berdiri diam, rahangnya mengeras, "Pa, ini bukan kelalaian saya. Ini sabotase."
"Buktiin," Junaedi menjawab pendek, lalu memalingkan wajah ke arah jendela, mengakhiri percakapan tanpa kesempatan untuk dibantah lebih jauh.
David keluar dari ruangan itu dengan dada yang terasa penuh bara, tapi kali ini, bara itu tidak lagi membuatnya goyah. Justru sebaliknya, semakin terdesak, semakin jernih pikirannya menyusun langkah.
***
Malam itu, di kantor mini proyek Bekasi, lampu masih menyala terang melebihi jam kerja biasa. David, Anto, dan kali ini ditambah Camelia yang datang membawa laptop sendiri serta secangkir kopi untuk semua orang, duduk mengelilingi meja kerja yang penuh berkas, dokumen pembelian, dan catatan transaksi yang harus diperiksa ulang satu per satu.
"Kita harus telusurin semua transaksi material dari awal proyek," Camelia berkata, jarinya sudah lincah membuka spreadsheet yang berisi ribuan baris data, "kalau emang ada penggantian spek bahan, pasti ada jejaknya di sini, sekecil apa pun."
Di luar gedung, Rambo berjaga bersama tiga anak buahnya yang baru pulih dari luka pertarungan malam itu, Baron, Alek, dan Eman, berdiri mengawasi setiap sudut halaman proyek, memastikan tidak ada satu pun pihak luar yang bisa mengintip rapat penting yang sedang berlangsung di dalam.
Tapi malam itu, ada satu sosok yang mencoba menyelinap, seorang kuli bangunan bernama Udin, berjalan mondar-mandir di dekat jendela kantor dengan gerakan yang terlalu kaku untuk sekadar lewat biasa.
Rambo, yang matanya sudah terlatih membaca gerak-gerik mencurigakan sejak bertahun-tahun jadi preman jalanan, langsung mendekat, mencengkeram kerah baju Udin.
"Lo ngapain di sini malem-malem, sok-sok lewat?"
"Eh, eh, saya cuma mau ke toilet, Bang," Udin menjawab gelagapan, matanya bergerak liar mencari jalan keluar.
Rambo merogoh saku jaket Udin, dan benar saja, dia menemukan alat kecil berbentuk seperti kancing baju, sebuah penyadap suara yang ternyata sudah dipasang di bagian luar dinding kantor, persis di bawah jendela ruang rapat.
"Siapa yang nyuruh lo pasang ini?"
Udin gemetar, menggeleng cepat, "Saya cuma disuruh orang gak dikenal, Bang. Dibayar lima ratus ribu buat masang ini doang. Saya gak tau siapa orangnya, beneran."
Rambo menatapnya tajam, dan tanpa basa-basi, "PLAK!" tangannya menampar pipi Udin dengan kekuatan yang membuat tubuh kecil itu langsung terpental, jatuh tersungkur, tidak sadarkan diri di tempat.
Dari dalam ruangan, Anto yang kebetulan melirik layar pemantau CCTV halaman, matanya melebar tidak percaya.
"Anjir," dia bergumam, "cuma satu tamparan, langsung pingsan kayak gitu. Bayangin kalau itu pukulan beneran. Dan Rambo aja masih kalah sama David. Sekuat apa sih sebenarnya badan culun itu?"
Camelia, yang ikut melihat layar dari sudut matanya, hanya menggeleng pelan, "Untungnya mereka di pihak kita, bukan pihak Reza."
***
Setelah memastikan tidak ada lagi yang mengintai, David, Anto, dan Camelia melanjutkan penelusuran data sampai jauh malam, dan akhirnya, satu per satu kejanggalan mulai terkuak jelas di depan mata.
Pembelian semen yang tercatat seratus persen sesuai standar, tapi nota aslinya menunjukkan jumlah yang hanya seperdua puluh dari itu. Mandor yang memerintahkan para tukang mencampur adonan beton dengan takaran asal-asalan, mengaku terang-terangan saat ditanya langsung oleh David esok harinya, bahwa dia memang diperintah seseorang untuk "mempercepat" pekerjaan tanpa peduli kualitas.
"Siapa yang nyuruh lo?" David bertanya tegas, menatap mandor itu lurus-lurus.
Mandor itu menunduk, bibirnya bergetar, tapi tetap bersikukuh, "Saya gak bisa bilang, Tuan. Saya cuma kerja, ikutin perintah atas."
Berapa kali pun ditanya, jawabannya sama, tidak ada satu pun yang berani menyebut nama Reza secara langsung, semuanya dilindungi rapi lewat lapisan perintah yang sengaja dibuat tidak bisa ditelusuri sampai ke sumber aslinya.
David akhirnya memecat seluruh enam posisi kunci yang terbukti terlibat dalam sabotase itu, satu per satu, tanpa ampun, walau dia tahu, tanpa pengakuan langsung, dia masih belum punya bukti cukup kuat untuk menjerat Reza secara hukum.
Malam itu, dalam mobil pulangnya, David menatap jalanan Bekasi yang basah sisa hujan sore, pikirannya berputar mencari cara lain, cara yang lebih cepat, lebih tegas, karena waktu dua minggu yang diberikan ayahnya sendiri terasa semakin menyempit.
"Kalau main bersih udah gak cukup," dia bergumam pelan, "gue harus main kotor juga sekali ini."
***
Esok paginya, David memanggil Anto, memberi instruksi singkat tapi serius, "Tot, cari semua riwayat Dimas Santos. Gue mau tau bisnis apa aja yang dia punya, yang resmi sama yang gak resmi."
Anto bekerja sepanjang hari, menyusuri jaringan gelap yang biasanya tidak pernah dia sentuh, dan akhirnya menemukan daftar yang membuat alisnya naik berkali-kali, penambangan ilegal di luar kota yang merusak lahan warga tanpa izin resmi, jaringan penjualan senjata berbahaya yang beredar diam-diam ke kelompok-kelompok bayaran, hingga keterlibatan dalam distribusi obat-obatan terlarang yang selama ini berhasil lolos dari pengawasan aparat berkat suap rutin.
"Ini, ini bukti yang berat banget, Vid," Anto menyerahkan seluruh data itu, "kalau ini bocor ke publik, Dimas bisa langsung dipenjara seumur hidup."
David tersenyum tipis, mengambil laptopnya sendiri, mulai mengetik sebuah email langsung ke alamat pribadi Dimas Santos, isinya singkat tapi penuh tekanan yang tidak bisa ditawar, "Saya tau semua bisnis ilegal Bapak. Penambangan, senjata, obat-obatan. Saya punya bukti kuat. Kasih saya beberapa orang terbaik Bapak, secara gratis, untuk gantikan tim proyek saya yang sudah dipecat. Kalau Bapak nolak, saya akan laporkan semuanya ke pihak berwenang."
Tidak butuh waktu lama, balasan datang, dan David bisa membayangkan wajah Dimas yang biasanya tenang dan penuh kendali, sekarang pasti dipenuhi keringat dingin membaca email itu.
Di gedung kosongnya, Dimas membaca pesan itu berulang-ulang, tangannya yang biasa tenang sekarang sedikit gemetar, lalu dia memanggil asistennya dengan suara yang jauh lebih tegang dari biasanya.
"Kasih orang-orang pilihan terbaik kita. Kirim langsung ke alamat proyek David, sekarang."
Begitu asistennya pergi menjalankan perintah, Dimas duduk sendirian, menatap layar ponselnya lama, lalu tertawa pendek, getir, "Kali ini, gue nyerah sama bocah sialan itu. Ternyata, dia licik juga ya, heh."
David, yang membaca pesan konfirmasi dari Anto bahwa tim pengganti sudah dalam perjalanan, tersenyum puas, sandaran kursinya terasa lebih ringan dari biasanya, untuk pertama kalinya sejak proyek ini bermasalah, dia merasa kembali memegang kendali penuh.
Sore itu, Camelia datang membawa kabar lain, menawarkan modal tambahan dari keluarganya sendiri untuk membantu mempercepat pembangunan ulang yang sempat terhambat.
"David, biar lebih cepat selesai, aku bisa minta dana tambahan dari keluarga aku."
"Gak usah, Cam, ini masalah gue, gue gak mau ngerepotin lo lebih jauh."
"Ini bukan ngerepotin," Camelia menjawab tegas, matanya menatap David lurus-lurus, "anggap aja ini investasi. Aku percaya proyek ini bisa berhasil kalau dipimpin sama orang yang bener."
David menatapnya lama, akhirnya mengangguk pelan, menerima tawaran itu dengan rasa syukur yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata, menyadari bahwa di tengah keluarga yang penuh kelicikan dan permainan kotor, masih ada orang-orang yang berdiri tulus di sampingnya, siap membantu tanpa pamrih sedikit pun.
*(bersambung)*