Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Ayah Sedang Kritis
Seminggu kemudian.
Bulan Oktober tiba begitu cepat. Terdampak musim hujan, suhu di Kota Jakarta turun drastis hingga mencapai 26 derajat Celcius.
Di Jalan Trotoar, seorang gadis dengan gembira berjalan-jalan di antara deretan toko di tengah keramaian. Mantel berwarna merah muda pucat yang dibuat khusus agar pas di tubuhnya memperlihatkan bentuk perut yang kini mulai sedikit menonjol. Dipadukan dengan sepatu putih, ia tampak cantik dan segar. Riasan wajahnya yang bersih melengkapi kepribadiannya yang tenang, menarik banyak perhatian orang di sepanjang jalan.
Gadis itu adalah Aluna.
Setelah aksi nekat di ambang jendela rumah sakit waktu itu, Gavin benar-benar memberikan banyak kebebasan kepadanya.
Sisi telah menghilang sepenuhnya dari kehidupan mereka, dan Aluna kini sudah kembali aktif mengajar di Pusat Pelatihan Seni Cendekia. Terlepas dari sedikit rasa tidak nyaman karena Gavin selalu bersikeras menjemputnya tepat waktu setiap hari setelah pulang kerja, Aluna merasa sangat lega karena bisa bernapas bebas.
Malam harinya, setibanya mereka di mansion, Gavin seperti biasa menyelesaikan mandi dan langsung naik ke tempat tidur. Ia menarik tubuh Aluna ke dalam dekapannya, memeluk gadis itu dari belakang, lalu mengusap pinggangnya dengan lembut.
"Aku terlambat setengah jam saat menjemputmu hari ini. Kamu pergi ke mana?" tanya Gavin. Suara berat pria itu terdengar pelan di dalam kamar, dengan hembusan napas hangat yang menyapu kulit telinga Aluna.
Aluna merasa geli di lehernya. Ia menahan rasa tidak nyaman tersebut, lalu membalikkan badan dan membenamkan wajahnya di dada bidang Gavin untuk meredam kecurigaan. Ia berbisik lirih, "Aku hanya berjalan-jalan sebentar di area Trotoar Jalan yang berada di sebelah gedung kursus."
Gavin merasa sangat puas dengan sikap penurut Aluna malam ini. Ia perlahan menurunkan tangannya, mengelus perut Aluna yang mulai membuncit dengan lembut.
"Tetaplah bersikap seperti ini. Kita akan segera menikah setelah kamu melahirkan anak kita."
"Menikah?!" Aluna tersentak kaget hingga suaranya meninggi.
Mata Gavin seketika memperlihatkan tatapan berbahaya. "Kenapa? Apa rencana menikah denganku adalah sesuatu yang sangat sulit untuk kamu terima?"
"Katakan padaku, apa kamu saat ini masih memikirkan Adrian?" tuntut Gavin dingin. Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Aluna dengan kuat hingga memicu guratan merah di kulitnya.
Aluna menahan rasa perih pada tangannya, lalu memasang wajah kesal. "Genggaman tanganmu terlalu kuat sampai kulitku menjadi merah. Aku hanya terkejut karena kamu membahasnya secara mendadak, bukan karena aku mau menolak. Kenapa kamu harus selalu bersikap seperti ini jika hanya untuk menakut-nakutiku!"
Setelah hampir dua bulan hidup bersama dalam ketegangan, Aluna perlahan-lahan mulai memahami titik lemah temperamen Gavin. Selama ia menunjukkan sikap patuh dan berpura-pura menjadi pihak yang terzalimi akibat salah bicara, amarah Gavin akan langsung surut lebih dari setengahnya.
Benar saja, Gavin yang semula siap meledak langsung menatap bekas merah di pergelangan tangan Aluna dengan raut wajah penuh penyesalan. Ia segera melonggarkan cengkeramannya, memijat pergelangan tangan gadis itu dengan sangat lembut, lalu meminta maaf dengan suara rendah.
"Maafkan aku. Aku salah karena impulsif."
"Bisakah kamu mengurangi sifat temperamental dan impulsifmu itu di masa mendatang?" tanya Aluna.
"Iya, aku akan berusaha sebaik mungkin."
Aluna membuka mulutnya seolah ingin memberikan kalimat tambahan. Namun, melihat sorot mata Gavin yang keras kepala, ia memilih mengurungkan niatnya dan hanya mengembuskan napas pasrah. Tidak ada gunanya berdebat panjang lebar dengan pria sekaku Gavin; hal itu hanya akan memicu konflik baru yang merugikan dirinya.
"Jangan mudah tersulut emosi lagi ke depannya. Jika ada sesuatu, bicarakan denganku secara tenang, oke?" tutur Aluna.
"Baiklah."
"Aku sudah lelah, aku mau tidur."
"Iya."
Begitu kalimat terakhir terucap, lengan hangat Gavin kembali melingkari pinggang ramping Aluna, menariknya merapat. Di tengah keheningan malam yang gelap, kedua tubuh itu saling berpelukan erat, menciptakan kehangatan yang perlahan mengusir hawa dingin bulan Oktober.
"Kamu memelukku terlalu erat," keluh Aluna pelan dengan mata yang terpejam.
Gavin dengan patuh sedikit merenggangkan pelukannya, namun posisinya tetap tidak bergeser dari sisi Aluna. Pada momen itu, Aluna sendiri tidak menyadari bahwa respons tubuhnya tidak lagi menolak secara brutal seperti dulu, dan cara bicaranya barusan terdengar seperti sebuah rengekan manja.
Sadar atau tidak, Aluna perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Gavin di sisinya.
Beberapa hari kemudian berlalu tanpa ada insiden berarti. Hingga pada suatu siang, di tengah berlangsungnya kelas musik, ponsel Aluna yang diletakkan di meja pengajar bergetar. Layar menampilkan panggilan masuk dari Rendra.
Saat jam pelajaran hampir selesai, Aluna meminta para siswanya untuk mengambil waktu istirahat mandiri, lalu ia berjalan cepat menuju lorong tangga darurat yang sepi untuk mengangkat telepon. "Kak Rendra? Kenapa menelepon siang-siang, apa Kakak merindukanku?" ujar Aluna dengan nada manja yang biasa ia tunjukkan kepada kakaknya.
Namun, kalimat balasan dari Rendra di seberang telepon seketika membuat Aluna ketakutan.
"Aluna... Ayah mendadak kritis dan sekarang sedang dilarikan ke ruang ICU rumah sakit!"
Prang!
Ponsel di genggaman Aluna terlepas dan menghantam lantai marmer koridor hingga casing-nya retak. Wajah Aluna seketika memucat, kehilangan seluruh warnanya. Air mata berukuran besar langsung luruh membasahi pipinya tanpa bisa dibendung.
"Ayah..."
Aluna memekik parau menahan rasa sesak di dadanya. Tanpa berpikir panjang mengenai tas atau barang-barangnya di dalam kelas, ia langsung berlari kencang keluar dari gedung pelatihan seni menuju jalan raya.
Ia segera mencegat taksi pertama yang lewat. Di dalam kabin mobil, Aluna terus menangis histeris. "Pak, saya mohon, tolong melaju lebih cepat!"
Melihat kondisi penumpangnya yang menangis tergugu, sang sopir taksi langsung memahami situasi darurat yang sedang terjadi. "Baik, Nona, Anda tenang dulu. Saya akan segera mempercepat laju mobil," ucap sang sopir dengan ramah, sembari menginjak pedal gas lebih dalam karena merasa iba.
Ckit!
Begitu taksi berhenti sempurna di depan lobi rumah sakit, Aluna langsung membuka pintu dan berlari masuk ke dalam gedung. Ia bahkan tidak memedulikan uang lembaran lima ratus ribu rupiah yang ia lemparkan begitu saja di atas kursi penumpang.
Sopir taksi itu menatap lembaran uang yang tertinggal dengan pandangan campur aduk antara senang dan prihatin. "Nona ini murah hati sekali. Tapi melihat kondisinya tadi, sepertinya ada anggota keluarganya yang sedang mengalami musibah."
Lima menit kemudian, Aluna tiba di depan ruang perawatan VIP dengan napas tersengal-sengal dan penampilan yang sudah sangat berantakan.
Saat pintu kamar rawat dibuka, Aluna terpaku menyaksikan tubuh ayahnya, Pak Surya, terbaring kaku tidak bergerak di atas ranjang pasien. Sang ayah kini hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan peralatan medis dan tabung oksigen yang terpasang di tubuhnya.
"Ayah...?" Aluna berseru dengan suara bergetar tak percaya. Bagaimana bisa sosok ayahnya yang semula selalu tampak sehat dan murah senyum kini berubah menjadi sekurus dan serapuh ini?
Mendengar suara Aluna, sang ibu tiri, Bu Utami, perlahan membuka matanya yang sudah terlihat sembap dan merah. Wanita paruh baya itu bangkit dari kursi tunggu, melangkah menghampiri Aluna, lalu menyeka sisa keringat dingin di dahi Aluna dengan lembut. Sembari terisak, ia berucap, "Aluna, kamu tenang dulu, ya? Ayahmu pasti bisa melewati masa kritis ini."
"Ibu... hiks... aku sangat takut terjadi sesuatu pada Ayah," tangis Aluna pecah seketika.
"Jangan takut, Nak. Ibu ada di sini bersamamu." Kedua wanita itu saling berpelukan erat di sisi ranjang, meluapkan kesedihan mereka dalam tangis hingga merasa terlalu lelah untuk bersuara lagi.