"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Hari sudah berganti malam, kembali diselimuti gelap yang setia menemani setiap rahasia yang takut terungkap di siang hari. Di apartemen megah di lantai 22 itu, suasana tidak pernah berubah dingin, sunyi, dan penuh jarak. Meysa duduk di sofa ruang tamu dengan tangan yang tanpa sadar melindungi perutnya yang mulai membuncit kecil. Ia sudah selesai memasak, sudah merapikan dapur, dan sudah selesai mencuci piring. Tidak ada kata terima kasih. Tidak ada teguran. Tidak ada apa-apa.
Di meja makan, Rangga duduk dengan laptop terbuka di hadapannya. Layarnya menyorotkan cahaya biru ke wajahnya yang dingin. Sejak pulang dari kampus, pikirannya tidak benar-benar fokus. Bayangan tentang apa yang Renal katakan terus berputar di kepalanya, terasa seperti semburan api yang membakar seluruh logika yang ia miliki.
Meysa berdiri. Kakinya gemetar karena keberanian yang harus ia kumpulkan berkali-kali lipat dari biasanya. Ia berjalan mendekati meja makan, langkahnya pelan, dan berhenti di sisi kanan Rangga.
"Mas..." panggilnya
Tetapi Rangga tidak menoleh.
Meysa menghela napas sesaat, sebelum ia mengatakannya."Mas, aku mau bilang sesuatu."
"Bilang apa?" kata Rangga, matanya masih tertuju pada layar laptop.
"Aku... aku hamil, Mas."
Sesaat Rangga berhenti mengetik.. Matanya masih menatap layar, tapi tidak ada yang ia baca. Hanya kata itu yang terus berulang di kepalanya. Hamil. Hamil. Hamil.
"Mas?" lagi-lagi Meysa memanggil Rangga.
Mendengar itu, Rangga merasa kesal, konsentrasinya terganggu, lalu ia mendorong meja.
BRAK!
Meja bergeser, dan cukup untuk membuat laptop di atasnya hampir terjatuh. Meysa yang melihat itu, dengan sigap ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya menahan laptop didepannya.
Tapi saat tubuhnya membungkuk ke depan, lagi-lagi Rangga mendorong meja dengan sangat kuat, tanpa sengaja mengenai perut Meysa. Membuat gadis itu kehilangan keseimbangan.
"Ahhh..."
Meysa jatuh terduduk di lantai. Laptop masih berada di tangannya. Ia selamatkan barang mahal itu. Tapi perutnya...terasa seperti diremas-remas dari dalam. Sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya..
"Mas... Mas... tolong..." rintih Meysa, suaranya putus-putus, tangannya masih memegangi perut. "Tolong... sakit..."
Rangga masih terdiam menatap Meysa, lalu matanya beralih ke lantai yang mulai terlihat ternoda merah, darah mengalir perlahan dari bawah rok Meysa, membentuk genangan kecil yang semakin melebar.
"MAS! TOLONG!" teriak Meysa, suaranya pecah, matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena sakit tapi karena ketakutan. Ia takut melihat darah yang keluar dari tubuhnya sendiri.
"DARAH!"
Rangga terlonjak kaget, dengan cepat ia mengangkat tubuh sang istri."Kita ke rumah sakit, Cha bertahanlah..."
"Sakit, Mas... sakit, tolongggg.." Meysa menjambak rambut pria itu dengan sangat kuat.
Rangga membopong Meysa keluar apartemen. Darah masih menetes di lantai, meninggalkan jejak merah yang akan ia ingat seumur hidupnya. Di mobil, Meysa terus merintih kesakitan. Rangga menginjak pedal gas sekencang-kencangnya, melaju di antara mobil-mobil lain dengan klakson yang tidak pernah berhenti dibunyikan.
*
Di Rumah Sakit Harapan Bunda, lampu ruang operasi menyala, tanda dokter sedang bekerja membantu pasiennya..
Rangga mondar-mandir di depan ruang operasi. Langkahnya tidak menentu, seperti orang yang kehilangan arah... Keringat membasahi pelipisnya, menetes ke kerah kemeja putih yang mulai kusut. Ia tidak tahu harus berdiri atau duduk. Setiap kali ia mencoba duduk, gelisah segera merambat ke sekujur tubuhnya dan memaksanya berdiri lagi.
Bayangan darah di lantai apartemen itu tidak mau pergi dari kepalanya. Rintihan Meysa masih terngiang di telinganya. Ia menggenggam rambutnya sendiri, menariknya kasar, seolah sakit fisik bisa menggantikan sakit yang ia rasa dalam dadanya.
"Apa yang udah gue lakuin sama Meysa?" ia bertanya pada dirinya sendiri..
lalu Rangga merogoh saku celananya, dan mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya bergerak membuka kontak, mencari nama Ayahnya dengan perasaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan rasa takut pada ayahnya, tapi takut pada kenyataan yang harus ia akui.
"Rangga? Ada apa?" Tanya Pak Soerya, dibalik telpon
"Ayah... Meysa..." suara Rangga tersendat. Ia menelan ludah, mencoba untuk menjelaskan apa yanh terjadi, tetapi ia sendiri tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. "Meysa di rumah sakit, Ayah." ucapnya dengan suara pelan.
Sunyi di seberang sana hanya sepersekian detik, tapi terasa seperti satu menit penuh.
"APA? APA YANG TERJADI DENGAN ISTRIMU?" kepanikan mulai melanda pak Soerya
Tidak ada jawaban dari Rangga...
"RANGGA! JAWAB AYAH! APA YANG TERJADI SAMA MEYSA?"
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima