Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Tuan Jiang, apakah gadis itu adalah pacar Anda atau calon istri?” tanya seorang wartawan dengan penuh rasa penasaran.
Dylan menghentikan langkahnya sejenak.
“Untuk pertanyaan itu, saya tidak bisa menjawab karena menyangkut kehidupan pribadi saya,” jawabnya singkat.
Tanpa memberikan penjelasan lain, Dylan melangkah masuk ke dalam gedung perusahaannya.
Beberapa saat kemudian.
Di ruang kerja Dylan.
Jay berdiri di depan meja sambil memperhatikan layar tabletnya.
“Tuan, setelah pernyataan Anda tadi, seluruh media terus membahas hubungan Anda dengan Nona Viona. Mereka melontarkan berbagai spekulasi,” lapornya.
Dylan tetap fokus menatap layar laptop.
“Abaikan saja mereka.”
“Baik, Tuan.”
Jay mengangguk, tetapi dalam hati ia masih merasa heran.
"Selama bertahun-tahun mengikuti Tuan, belum pernah sekali pun beliau begitu melindungi seseorang..Kalau hanya karena utang budi, rasanya tidak mungkin beliau mengatakan Viona adalah orang yang paling penting dalam hidupnya..Jangan-jangan... Tuan benar-benar mulai jatuh hati pada Viona?"
Jay segera menggelengkan kepalanya sendiri.
Sementara itu...
Di mansion keluarga Jiang.
Delvin, Moly, dan Sanny sedang menonton siaran berita dengan wajah muram.
“Ternyata Viona sudah memberi tahu Dylan kalau dialah pendonor ginjal itu,” ucap Moly dengan kesal.
“Aku sudah menduganya,” sahut Sanny. “Manusia rendahan itu sengaja memanfaatkan Kakak untuk melawan kita. Kalau tidak, mana mungkin Kakak bisa tahu?”
Delvin tidak mengatakan apa pun.
Wajahnya terlihat suram.
“Bahkan demi Viona, Dylan rela menghancurkan Clara, seorang artis terkenal yang selama ini menyukainya,” ucap Moly. “Clara sampai rela pindah kembali ke negara ini demi Dylan, tapi tetap tidak dihargai.”
“Semua karena Viona!” geram Sanny.
Moly menoleh kepada Delvin.
“Karena Viona sudah berani melawan kita, sudah saatnya kita mengusir adiknya dari rumah sakit. Biarkan saja dia mati di luar..Biar Viona menyesal seumur hidup.”
Delvin mengangguk pelan.
Ia segera mengangkat ponselnya dan menghubungi rumah sakit.
“Hallo,” ucapnya dingin. “Hentikan seluruh pengobatan pasien bernama Vivi Lin. Dan segera usir dia dari rumah sakit.”
Beberapa detik kemudian, suara suster terdengar dari seberang telepon.
“Maaf, Tuan. Pasien Vivi Lin sudah dijemput oleh seseorang.”
“Apa maksudmu?” tanya Delvin dengan nada meninggi.
“Pasien telah dipindahkan ke rumah sakit lain untuk melanjutkan perawatan.”
“Apa?”
Delvin langsung berdiri dari sofa.
Wajahnya berubah drastis.
“Siapa yang memindahkannya?”
“Maaf, Tuan. Kami tidak memiliki wewenang untuk memberikan identitas pihak yang menjemput pasien,” jawab suster.
Telepon pun berakhir.
Delvin mengepalkan tangannya erat.
“Cepat selidiki!” bentaknya kepada anak buah yang berdiri di dekatnya. “Aku ingin tahu siapa yang berani ikut campur dalam urusan keluarga Jiang!”
“Pa, apakah Kakak yang melakukannya?” tanya Sanny dengan wajah kesal. “Viona sialan itu pasti sudah memberi tahu Kakak mengenai Vivi!”
Moly ikut mengangguk.
“Kalau bukan Dylan, siapa lagi yang berani memindahkan pasien tanpa sepengetahuan kita?”
Delvin mengepalkan tangannya.
“Dia sudah merencanakannya sejak awal,” ucapnya dengan wajah muram. “Dia sengaja mendekati Dylan agar bisa lepas dari genggaman kita. Sekarang dia memanfaatkan Dylan untuk menyelamatkan adiknya.Sepertinya... kita tidak bisa lagi menggunakan Vivi untuk mengancamnya.”
“Lalu bagaimana, Pa?” tanya Sanny. “Kalau Kakak terus melindunginya, bukankah kita tidak bisa lagi membuat dia bekerja di sini tanpa bayaran."
“Setelah kupikir-pikir,” ucap Moly sambil menyipitkan mata, “jangan-jangan Dylan memang sudah tahu sejak awal kalau Viona adalah pendonor ginjalnya. Kalau tidak, mana mungkin dia tiba-tiba pulang lalu membawa Viona pergi? Jelas semua itu sudah direncanakannya.”
Sanny mengepalkan tangannya.
“Kalau memang hanya ingin membalas budi, dia masih punya banyak cara lain. Untuk apa membawa pembawa sial itu pergi dan bahkan melindunginya seperti sekarang?”
Delvin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Apa pun alasannya, Viona tidak boleh lepas dari tangan kita.”
Moly mengangguk.
“Benar. Kita sudah membesarkannya selama enam belas tahun. Sekarang dia tidak bisa begitu saja pergi.”
Sanny tersenyum sinis.
“Aku tidak akan rela melihatnya hidup nyaman di sisi Kakak. Selama ini dia hanya pantas menerima perintah keluarga Jiang.”
Tatapan Moly berubah dingin.
“Kalau Dylan terus melindunginya, kita harus mencari cara lain.”
"Aku tidak puas melihatnya hidup tenang, aku lebih suka melihatnya hidup dalam ketakutan dan sakit-sakitan," ucap Sanny dengan penuh harap.
Namun setelah mengatakan itu, wajahnya tiba-tiba berubah pucat.
Sanny terdiam dan memegang sisi sofa.
“Sanny?” tanya Moly yang menyadari perubahan putrinya.
“Aku... tidak apa-apa,” jawab Sanny, tetapi suaranya terdengar lemah.
Delvin menatapnya.
“Kau terlihat pucat.”
“Hanya sedikit pusing,” jawab Sanny sambil mencoba berdiri.
Namun baru beberapa langkah, pandangannya mulai berkunang-kunang.
“Kenapa... tubuhku terasa lemas...”
Bruk!
Tubuh Sanny jatuh ke lantai.
“Sanny!” teriak Moly panik.
Delvin segera menghampiri putrinya.
“Cepat panggil dokter! Bawa dia ke rumah sakit!”