Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Berbeda
Pagi itu, sinar matahari mulai menyelinap di sela tirai kamar Brielle. Gadis itu menggeliat pelan, matanya masih berat. Namun begitu kesadarannya pulih, ia langsung duduk tegak.
Oh iya... gue di rumah Cadel.
Ia mengusap wajah, turun dari kasur, lalu melangkah ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti seragam, Brielle keluar kamar dengan langkah hati-hati.
Lorong lantai dua masih sepi. Ia menoleh ke pintu kamar Nevran—masih tertutup rapat. Masih tidur kali.
Begitu sampai di ruang makan, Bunda Kalista sudah tersenyum dari kejauhan. “Pagi, Aya. Cepat sarapan, nanti Bunda antar ke sekolah.”
“Pagi, Bun. Makasih.”
Brielle duduk di kursi. Tak lama, Nevran muncul dari tangga. Rambutnya masih sedikit basah, kemeja putihnya rapi, wajahnya datar seperti biasa. Ia melirik Brielle sekilas, lalu duduk di kursi seberang.
“Pagi, Ndra,” sapa Bunda Kalista.
Nevran mengangguk kecil. Matanya kembali ke piring di depannya.
Brielle memotong roti lapisnya, sesekali melirik ke arah Nevran. Cowok itu makan dengan tenang, tidak bicara, tidak melihat ke arahnya. Tapi anehnya, Brielle merasa tidak terganggu. Mungkin karena sudah terbiasa.
“Bunda, Zayden udah berangkat?” tanya Brielle.
“Udah, tadi pagi. Katanya ada urusan dengan teman-temannya.”
Brielle mengangguk. Dasar kakak sibuk.
Bunda Kalista menatap mereka berdua bergantian, lalu tersenyum tipis. “Ndra, nanti anterin Brielle ya? Bunda ada rapat pagi.”
Nevran mengangkat wajah, melirik Brielle sebentar. “Iya, Bun.”
“Bunda, nggak usah—” Brielle mencoba menolak.
“Aman, Aya. Ndra juga sekalian ke sekolah.” Bunda Kalista sudah berdiri, merapikan tasnya. “Hati-hati kalian.”
Begitu Bunda Kalista keluar, suasana ruang makan berubah. Sunyi. Hanya suara sendok dan piring.
Brielle menghabiskan sarapannya lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri, meraih tas. “Cadel, gue tunggu di luar.”
Nevran tidak menjawab. Tapi sepuluh detik kemudian, ia sudah berdiri di samping Brielle di teras depan.
Motor gede hitam terparkir di halaman. Nevran melempar helm ke arah Brielle. “Naik.”
“Lo jangan maksa-maksa, Cadel. Gue bisa naik sendiri.”
“Ya udah, naik sendiri.”
Brielle mendelik. Tapi tetap mengenakan helm dan naik ke jok belakang. Tangannya ragu sejenak—lalu melingkar di pinggang Nevran.
Motor melaju pelan meninggalkan mansion. Pagi itu udara segar, matahari belum terlalu tinggi.
Sepanjang perjalanan, mereka diam. Tapi kali ini Brielle tidak merasa canggung. Ada kenyamanan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Angin pagi menerbangkan sedikit rambutnya yang keluar dari helm.
Lewat spion, Nevran mencuri pandang ke belakang. Wajah Brielle yang masih sedikit mengantuk itu terlihat... menggemaskan.
Ia menahan senyum.
---
Di parkiran sekolah, mereka turun. Beberapa siswa sudah mulai berdatangan. Tatapan penasaran kembali tertuju pada mereka berdua.
Keisha dan Celine sudah menunggu di depan kelas dengan senyum menyeringai.
“Cie, yang pagi bareng lagi,” goda Keisha.
“Biasa aja, Keish.”
“Ya elah, Bri. Muka lo merah tuh.”
“Kesel! Karena Cadel bawa motor ngebut!”
Nevran yang berjalan di depan, tidak menoleh. Tapi Keisha dan Celine bisa melihat—telinga cowok itu merah.
Suka-suka lo, Bos, pikir Keisha dalam hati sambil nyengir.
Mereka masuk ke kelas. Pelajaran dimulai. Seperti biasa, Nevran duduk di kursinya yang baru—jauh dari Brielle. Tapi sesekali, matanya mencuri pandang ke kanan.
Dan Brielle? Ia pura-pura tidak melihat. Tapi di dalam hatinya, ada debaran kecil yang tidak ia akui.
Dasar cadel. Ganggu konsentrasi.
Bersambung
bantu support juga yaa😇