NovelToon NovelToon
Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Karakter Utama:

​Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.

​Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Efek Samping Pijatan Maut

Detak jantung Arga yang berdegup kencang di balik kaus hitamnya terasa begitu nyata di telapak tangan Kinar. Ruang tengah kontrakan berukuran mini itu mendadak diselimuti keheningan yang mencekam, seolah-olah waktu sengaja berhenti berputar hanya untuk memberi kesempatan bagi sepasang sahabat masa kecil ini saling menyelami kepanikan di mata masing-masing. Jarak wajah mereka yang hanya terpaut beberapa puluh sentimeter membuat Kinar bisa melihat dengan jelas bagaimana jakun Arga naik turun, menelan ludah dengan susah payah.

Kinar membeku. Otaknya yang biasa encer memikirkan argumen untuk membalas ejekan Arga, mendadak mogok total. Perlahan, rasa panas yang luar biasa menjalar dari leher, naik ke pipi, hingga ke ujung telinganya.

“Jantung gue... kayanya ikutan rusak gara-gara lo mijitnya terlalu deket.”

Kalimat itu bergaung di kepala Kinar seperti efek gema mikrofon yang rusak. Kinar menatap Arga dengan mata membelalak sempurna, sementara Arga masih menatapnya dengan pandangan teduh yang sangat tidak biasa. Namun, semakin lama keheningan itu bertahan, kadar oksigen di antara mereka rasanya semakin menipis. Atmosfer romantis yang mendadak muncul itu terasa terlalu berat dan asing bagi dua orang yang biasanya hobi baku hantam ini.

Hingga akhirnya, ego dan rasa gengsi tingkat dewa milik mereka berdua menolak untuk menyerah begitu saja pada keadaan.

"A-Arga..." Kinar akhirnya berhasil memeras suaranya yang mendadak serak dan bergetar hebat. "Lo... lo kalau mau bercanda jangan kelewatan deh! Sumpah, gak lucu banget!"

Arga tidak langsung menjawab. Namun, begitu mendengar suara Kinar yang melengking gugup, kesadaran cowok itu langsung tersengat kembali ke realitas. Otaknya yang tadi sempat eror akibat pengaruh kedekatan fisik mereka, kini mendadak tersadar betapa memalukan dan cringe-nya kalimat yang baru saja ia ucapkan.

Gila! Gue ngomong apaaan barusan?! batin Arga menjerit histeris, merutuki mulutnya sendiri yang tidak punya filter.

Berniat untuk segera menyelamatkan harga dirinya yang sudah berada di ujung tanduk, Arga memutuskan untuk melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Kinar dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Namun, karena dikoordinasikan oleh tubuh yang sedang panik dan salah tingkah brutal, gerakan Arga justru menjadi sangat kikuk dan tidak terkontrol.

Saat lengannya ditarik mundur secara sentakan penuh, siku tangan kanan Arga tanpa sengaja menyenggol botol mug besar berisi sisa susu cokelat hangat miliknya yang berada di atas meja kopi.

BRAKK!

Mug keramik tebal itu tumbang seketika. Cairan cokelat pekat yang masih mengepulkan uap tipis itu langsung tumpah bebas, mengalir dengan deras di atas permukaan meja kayu dan merembes jatuh ke atas karpet bulu-bulu tempat Kinar sedang duduk bersila.

"Astagfirullah! Tumpah, kunyuk!" Kinar memekik kaget, kepanikannya langsung bergeser dari urusan baper ke urusan domestik rumah tangga. Jiwa kebersihannya meronta melihat karpet bulu kesayangannya terancam ternoda permanen. Tanpa pikir panjang, Kinar langsung melompat maju, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menegakkan kembali posisi mug tersebut.

Di saat yang bersamaan, Arga yang matanya melotot panik karena kecerobohannya sendiri, ikut melompat maju dari atas sofa. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai dengan posisi merangkak demi meraih mug yang sama agar cairannya tidak semakin meluber ke mana-mana.

Mereka berdua bergerak terlalu cepat, terlalu panik, dan dalam arah yang sama-sama lurus.

Akibat konyolnya pun tidak bisa dihindari lagi.

DUKK!

Dahi Kinar dan dahi Arga berbenturan dengan sangat keras di udara tepat di atas meja kopi, menciptakan bunyi hantaman yang cukup nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu.

"AWWW! SAKITT!" Kinar mengaduh spontan. Dia langsung terduduk mundur ke belakang sambil memegangi keningnya dengan kedua telapak tangan. Matanya sampai berair karena rasa pening dan linu yang menjalar instan dari jidatnya. "Argaaa! Kepala lo terbuat dari beton ya?! Pusing banget sumpah!"

Arga pun tidak jauh berbeda nasibnya. Cowok itu terjerembab ke samping, duduk di lantai sambil menggosok kening kirinya yang langsung memerah seketika. "Aduh... kok malah lo yang nyalahin kepala gue sih, Nar?! Kepala lo sendiri tuh yang mirip batok kelapa tua, keras banget! Jidat gue berasa mau retak nih!" ringis Arga dengan mata terpejam menahan nyut-nyutan di kepalanya.

"Ya lo ngapain pake ikutan maju segala sih?! Kan gue bisa sendiri yang beresin!" semprot Kinar dengan wajah yang makin merah padam—sebagian besar karena sisa salah tingkah tadi, dan sebagian lagi karena menahan rasa sakit luar biasa di dahi.

"Gue kan pemilik gelasnya, wajar dong kalau reflexes gue jalan buat nyelametin sisa susu gue!" balas Arga tidak mau kalah, suaranya naik satu oktav demi menutupi rasa canggung luar biasa yang kini kembali menyerang mereka.

Kinar mendecak kesal, memalingkan mukanya ke arah lain sembari terus mengusap jidatnya yang mulai terasa agak benjol. Suasana di ruang tengah itu kini benar-benar hancur berantakan. Cairan susu cokelat sudah sukses menggenangi lantai keramik dan membuat karpet bulu mereka basah kuyup, menciptakan aroma manis yang pekat di dalam ruangan. Dua manusia yang beberapa menit lalu hampir saja terlibat momen romantis, sekarang justru duduk berjauhan di lantai sambil saling melempar tatapan permusuhan yang dipaksakan.

Arga melirik noda susu cokelat di lantai, lalu melirik Kinar yang masih cemberut sambil mengerucutkan bibirnya dengan sisa air mata di sudut matanya akibat benturan tadi. Tiba-tiba saja, ingatan tentang betapa bodohnya mereka berdua barusan—dari mulai drama 'interogasi jantung' sampai adu jidat massal hanya karena segelas susu—melintas di kepala Arga.

Pertahanan gengsi Arga akhirnya runtuh juga. Sebuah tawa kecil spontan lolos dari sela-sela bibirnya.

Kinar menoleh dengan tatapan galak. "Ngapain lo ketawa?! Lucu menurut lo?!"

"Enggak, asli, ini komedi banget, Nar," Arga tertawa makin lebar hingga deretan giginya terlihat, menghilangkan seluruh kesan cowok misterius dan dewasa yang dia tampilkan tadi. Dia memegangi jidatnya sendiri yang memerah. "Sumpah ya, cita-cita kita mau akting jadi pasutri keren dan estetik di depan orang tua, tapi aslinya kalau berdua malah kaya pertunjukan topeng monyet gagal. Jidat lo merah banget tuh, mirip lampu merah perempatan."

Mendengar ledekan itu, Kinar awalnya ingin melempar Arga dengan bantal sofa lagi. Namun, melihat wajah Arga yang juga terlihat konyol dengan tanda merah di dahinya, Kinar tidak bisa menahan dirinya lagi. Tawa Kinar akhirnya pecah juga. Mereka berdua berakhir menertawakan kekonyolan masing-masing di tengah genangan susu cokelat malam itu.

"Ini semua gara-gara lo ya! Lo yang mulai drama pakai megang-megang tangan gue segala tadi!" tuduh Kinar di sela-sela tawanya, berusaha meredam detak jantungnya yang anehnya... masih enggan kembali ke ritme normal.

"Ya kan gue cuma mau ngetes mental lo doang, ternyata lo langsung baper sampai mukanya mirip kepiting rebus, wkwk," kilah Arga bohong, sengaja memasang wajah menyebalkan andalannya demi menyembunyikan fakta bahwa debaran di dadanya sendiri sampai detik ini belum juga mau mereda.

"Gak usah mimpi lo! Buruan ambil kain pel sana! Malah ketawa-tawa lagi lo!" perintah Kinar sambil melempar selembar tisu kering ke arah wajah Arga.

Arga bangkit berdiri dengan tawa yang masih tersisa, melangkah menuju dapur luar untuk mengambil alat pel dengan gaya santai. Sementara itu, Kinar yang ditinggal sendirian di ruang tengah langsung menjatuhkan tubuhnya telentang di atas lantai, menatap langit-langit langit rumah dengan napas yang berembus berat. Dia menyentuh dadanya sendiri, merasakan getaran halus yang masih tertinggal di sana.

"Sialan lo, Arga Mahendra..." bisik Kinar pelan pada kesunyian ruangan. "Aturan nomor satu kita... kayanya beneran lagi dalam bahaya."

Tetap kawal perjalanan sandiwara pasutri gadungan ini sampai akhir! Jangan lupa buat terus tinggalin jejak berupa komentar atau dukungan kalian di bab selanjutnya, karena satu komen dari kalian itu berharga banget buat kelangsungan jari-jariku ngetik, hehe.

Kalian semua luar biasa! Happy reading, and see you in the next chapter! ❤️

1
Delia_Sherlyn
bola mata ap bola apa?
Markario Putra: bola matanya k,siap salah🙏😄
total 1 replies
Delia_Sherlyn
semangat ya kak, mohon izin untuk jadi refrensi🙏
Markario Putra: ok ka👍
total 1 replies
Markario Putra
Untuk sahabat ku semua yang baru membaca novel ku ini,jangan lupa untuk klik tombol IKUTI ya kawan ku semua🙏🙏
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya masuk di aku 🤣. semangat terus ya author.


btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/
Kim Borahae: terima kasih yaa
total 2 replies
Markario Putra
Tinggalkan komentar Anda🙏🙏
Markario Putra: untuk sahabat ku,mohon tinggalkan komentar supaya sy bisa lebih semangat lagi untuk menulis🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!