Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Surat Tantangan dan Riak di Air Tenang
Uap hangat dari nasi goreng ayam buatan kantin bawah berangsur-angsur menipis, menyisakan kotak sterofoam yang kini telah kosong melompong di atas meja Elleanor. Gadis itu menyedot jus stroberinya hingga menimbulkan bunyi miring yang nyaring di pojok kelas yang sunyi. Sifat barbarnya terbukti tak pernah bisa berkompromi dengan urusan perut; amarah boleh membumbung, tapi asupan gizi tetap nomor satu.
Jayden yang sudah menyelesaikan makannya sejak sepuluh menit lalu hanya memperhatikan dalam diam. Jemari panjangnya bergerak teratur memutar pulpen perak, seolah ketukan konstan itu adalah detak jantung dari obsesinya yang tak pernah tidur.
"Udah kenyang?" tanya Jayden datar saat Elle meletakkan gelas plastik kosongnya dengan sentakan pelan.
Elle memutar bola matanya malas, bersandar pada sandaran kursi sambil melipat tangan di dada. "Kenyang. Tapi tetep aja rasa nasi gorengnya jadi hambar gara-gara gua harus makan sambil ngeliat muka lo."
Jayden tidak menyahut. Ia memajukan tubuhnya sedikit, tangannya terangkat secara alami untuk mengambil selembar tisu bersih dari laci mejanya. Tanpa peringatan, ia mengulurkan tangan dan mengusap sudut bibir Elle yang sedikit terkena noda bumbu nasi goreng.
Sret.
"Jayden! Apa-apaan sih lo?!" sentak Elle, wajahnya refleks menjauh seketika dengan rona merah yang kembali menjalar di sekitar pipinya. Ia menepis tangan Jayden dengan galak. "Bisa gak sih tangan lo gak usah hobi touchy sembarangan? Gua punya tangan sendiri buat lap muka!"
"Gua cuma gak suka milik gua kelihatan berantakan," balas Jayden tenang, membuang tisu bernoda itu ke dalam kotak sterofoam kosong di hadapannya tanpa beban. Netra hitamnya yang pekat mengunci manik mata Elle dengan kedalaman yang intimidatif. "Dan berhenti melotot kayak gitu kalau lo gak mau gua bikin lo diem pakai cara lain."
Elleanor menelan ludah, giginya bergemertak menahan sumpah serapah yang sudah mengantre di tenggorokan. Ancaman terselubung dari cowok bermuka tembok ini selalu berhasil memangkas keberanian barbarnya dalam sekejap.
Ketegangan intim di antara mereka berdua mendadak buyar ketika pintu kelas XI-IPA 3 digebrak dari luar dengan ritme yang terburu-buru. Shaka melangkah masuk dengan wajah yang kelewat serius, diikuti oleh Haikal yang memegang sebuah tablet digital dengan kening berkerut dalam.
"Jay, ada kiriman masuk," ujar Shaka, suaranya rendah namun memiliki intonasi yang langsung mengubah atmosfer santai di dalam kelas menjadi siaga satu.
Jayden tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya menegakkan tubuhnya, menurunkan kakinya ke lantai, dan memberikan isyarat dagu agar Shaka melanjutkan ucapannya.
Haikal maju, memutar layar tabletnya ke hadapan Jayden. Di atas layar kaca itu, terpampang sebuah dokumen digital resmi dengan logo serigala perak yang sangat familier di mata mereka. Surat tantangan terbuka untuk Inter-School Championship bulan depan, namun dengan poin addendum khusus yang ditulis dengan tinta merah tebal di bagian bawah.
Addendum Khusus VULTURES vs WOLFANGS:
Taruhan tertinggi di aspal sirkuit resmi. Jika Wolfangs memenangkan kompetisi, Jayden Xeno Frederick harus mengembalikan Elleanor Smith ke kelas XI-IPA 1, menghapus seluruh pembatasan administrator pada perangkat pribadinya, dan menjamin kebebasan mutlak ruang geraknya tanpa ada intervensi dari Vultures dalam bentuk apa pun.
Ditandatangani, Alkana Putra Adhytama.
Mata Elleanor yang tajam sempat menangkap deretan kalimat di layar tablet tersebut sebelum Haikal mematikan layarnya. Jantung Elle mendadak berdegup kencang. Alka... lo bener-bener nekat ya, bajingan! batin Elle panik. Sisi pembalapnya tahu betul seberapa tingginya taruhan ini. Alka mempertaruhkan harga diri Wolfangs di atas sirkuit resmi demi dirinya.
Suasana kelas XI-IPA 3 mendadak drop ke titik nol mutlak. Erlan yang baru masuk dari pintu belakang langsung menghentikan langkahnya, merasakan aura membunuh yang perlahan menguar dari tubuh sang ketua.
Jayden menatap layar tablet yang kini sudah menggelap. Sepasang netra hitamnya berkilat memancarkan kegelapan yang begitu pekat, seolah-olah iblis di dalam dirinya baru saja dibangunkan secara paksa. Sisi obsesif dan posesifnya merasa terhina hingga ke tingkat tertinggi. Alkana secara terang-terangan menantang otoritas kepemilikannya atas Elleanor di depan seluruh faksi jalanan Jakarta.
"Alka bener-bener bosan hidup," desis Erlan dengan tawa hambar yang sarat akan kemarahan. "Dia pikir sirkuit resmi itu tempat bermain apa? Dia mau nantang lo yang punya rekor gak terkalahkan, Jay?"
Shaka melirik Elleanor sekilas sebelum kembali menatap Jayden. "Undangan ini udah disebar ke grup perwakilan geng motor Jakarta Selatan dan Barat oleh Matthew. Kalau lo nolak, reputasi Vultures bakal turun karena dianggap takut sama gertakan Wolfangs. Tapi kalau lo terima..."
"Gua terima," potong Jayden cepat, suaranya mengalun sangat rendah, dingin, dan tak menyisakan ruang untuk perdebatan sedikit pun.
Jayden berdiri dari duduknya, memutar tubuhnya menghadap Elle yang masih terpaku di kursinya. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja Elle, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aura dominasi yang pekat dari tubuh tinggi tegap Jayden seketika mengurung akal sehat Elle.
"Lo denger itu, Elleanor?" bisik Jayden, suaranya parau dan sarat akan obsesi yang bergejolak hebat. "Pawang serigala lo itu mau mencoba bertaruh buat ngambil lo dari gua."
Elle mendongak, mencoba mengumpulkan sisa egonya untuk menantang tatapan Jayden. "Kalau Alka menang, lo harus nepatin janji lo, Muka Tembok! Lo harus lepasin gua!"
Jayden menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai dingin yang begitu tampan namun mengerikan di saat yang bersamaan. Ia mengulurkan tangan kanan, menjepit dagu Elle dengan jemarinya yang dingin, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam pusaran kegilaan di matanya.
"Gua gak bakal kalah, Elle. Gak bakal pernah," janji Jayden dengan nada mutlak yang menggetarkan dada. "Adhytama cuma bakal dapet peti mati di aspal bulan depan. Dan lo... setelah balapan itu selesai, gua bakal mastiin sangkar lo ini dikunci jauh lebih rapat dari sekarang, sampai lo gak punya pilihan lain selain tunduk di bawah kaki gua selamanya."