NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 23. Pamit

Hari sudah berganti kala Wulan menginjakkan kaki di depan kontrakan. Setelah memergoki sang suami berselingkuh, ia memang sengaja tidak pulang ke rumah dan memilh untuk bermalam di rumah Risma. Dan hari ini ia pulang untuk berkemas-kemas setelah itu akan keluar dari rumah ini.

"Waow... Sungguh hebat kamu Lan. Belum resmi bercerai tapi sudah berani tidak pulang semalam. Bermalam bersama siapa kamu? Lelaki selingkuhanmu?"

Sambutan yang dilontarkan oleh Awan membuat langkah kaki Wulan yang baru saja menginjak teras terhenti seketika. Senyum sinis terbit di bibir Wulan mendengar tuduhan Awan yang tidak berdasar.

"Kamu sedang ngobrolin siapa? Diri kamu sendiri?" tanya Wulan dengan sinis. "Bukankah kamu yang sering tidak pulang dan sibuk memadu kasih dengan selingkuhanmu? Bisa-bisanya melemparkannya kepadaku."

"Lantas, dari mana saja kamu semalaman tidak pulang jika tidak dari tempat selingkuhanmu?"

"Ckkkckkk... Tidak perlu ikut campur. Mau aku ada di mana itu semua bukan urusanmu."

Wulan bergegas masuk ke dalam rumah. Ketika melewati ruang tengah, ia berpapasan dengan Ambar. Sekilas ia hanya menatap sang adik ipar dengan tatapan yang sulit diartikan setelah itu ia masuk ke kamar dan mengemasi seluruh pakaiannya.

Awan turut membuntuti Wulan. Lelaki itu ikut masuk ke dalam kamar dan melihat dengan intens yang dilakukan oleh istrinya ini. Wulan nampak sibuk memasukkan pakaian-pakaiannya dan juga milik Bagas ke dalam sebuah travel bag yang cukup besar.

"Kamu serius ingin bercerai dariku Lan?"

"Sebanyak apapun pertanyaan itu keluar dari mulutmu maka sebanyak itu jugalah aku menjawab iya, Mas," kekeuh Wulan yang sama sekali tidak goyah pendirian.

"Kamu tidak kasihan sama anak kita jika memiliki orang tua yang bercerai?"

Dahi Wulan mengernyit. Sejenak, ia hentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Awan.

"Bukankah seharusnya pertanyaan itu yang kamu jawab ketika berselingkuh?" tanya Wulan retoris. "Ketika kamu bercinta dengan Mega, apakah kamu ingat anakmu? Ketika kamu menyatukan raga dengan Mega apa kamu tahu jika sebenarnya kamu sudah meruntuhkan tembok rumah tangga yang kita bangun?"

Hening, tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut Awan. Lelaki itu nampak hanya terdiam dan membeku seakan tertampar dengan semua yang diucapkan oleh Wulan.

"Tentu saja kamu tidak ingat karena ketika bersama Mega yang kamu rasakan hanya kebahagiaan. Dia yang bisa memuaskanmu sampai kamu tega membandingkan apa yang ada padaku dengan apa yang ada padanya."

Wulan kembali mengemasi semua pakaiannya sembari menghembuskan napas kasar. Ia merasa sudah tidak perlu berlama-lama berada di rumah ini lagi. Setelah semua pakaiannya dan pakaian Bagas masuk ke dalam tas, Wulan melangkahkan kaki keluar dari kamar.

Ambar yang sedari tadi menguping pertengkaran sang kakak dengan istrinya tiba-tiba terperanjat seketika kala melihat Wulan yang sudah berada di hadapannya. Ia tersenyum kikuk, dan salah tingkah karena kepergok menguping.

"M-Mbak... Kamu sungguh ingin bercerai dari mas Awan?" tanya Ambar gugup.

"Ckkckkk.. Seharusnya kamu tidak perlu menanyakan hal itu karena sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya kan?"

"Maksudmu apa Mbak. Aku baru tahu kalau mas Awan selingkuh."

"Tidak perlu bohong. Aku tahu kamu dibelikan barang-barang mewah oleh Mega. Jadi, sangat tidak mungkin jika kamu tidak mengetahui perselingkuhan itu."

Ambar terhenyak. "D-Darimana kamu bisa tahu Mbak?"

"Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar obrolanmu dengan mas Awan."

Wulan kembali membusungkan dada dan melangkah pelan. Ia akan menemui sang ibu mertua untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan rumah ini.

"Wulan..." panggil Marta yang tengah duduk di kursi roda di ruang tamu.

Wulan tersenyum simpul. Wanita itu mendekati Marta dan duduk di kursi ruang tamu yang nampak kosong. Hening, tak ada satupun kata yang keluar dari bibir Wulan. Ia hanya menatap lekat wajah mertua yang selama hampir empat bulan ini ia rawat.

"Ibu mohon jangan bercerai dengan Awan, Lan. Ibu tidak mau kehilanganmu!"

Di saksikan semua orang yang ada di dalam rumah ini, Marta mengajukan permohonannya kepada Wulan. Dengan derai air mata yang tiada henti mengalir, wanita paruh baya itu mengiba agar sang menantu mengurungkan niatnya.

Wulan hanya bisa menatap sendu wanita paruh baya yang selama hampir tiga tahun sudah menemani hidupnya. Keadaan seperti ini juga tak pernah sedikitpun terlintas di dalam benaknya, namun pada akhirnya takdir lah yang berbicara.

"Wulan mohon maaf ya Bu. Untuk kali ini Wulan tidak bisa memenuhi permintaan Ibu. Wulan tetap akan bercerai dengan mas Awan. Wulan bisa menerima apapun keadaan mas Awan kecuali dengan perselingkuhan."

"Apa kamu tidak kasihan kepada Ibu, Lan? Apa kamu tega membiarkan Ibu tidak ada yang merawat?"

Wulan tersenyum penuh arti. Ia genggam jemari tangan Marta dengan erat untuk mentransfer rasa tenang dalam diri mertuanya itu.

"Sudah ada perawat khusus yang merawat Ibu dan sudah ada asisten rumah tangga yang mengurus semua pekerjaan rumah. Jadi Ibu tidak perlu risau. Lagipula calon istri baru mas Awan adalah seorang wanita yang hebat dan sukses, jadi semua kebutuhan Ibu bisa terpenuhi."

Marta menggelengkan kepala. "Tidak mau Lan, Ibu tidak mau. Ibu hanya mau diurus sama kamu."

"Aku yakin calon istri mas Awan bisa menggantikan peranku, Bu. Mas Awan pasti sudah berpikir masak-masak sebelum ia memutuskan untuk berselingkuh. Pasti dia sudah yakin jika Mega bisa menjadi sosok seorang istri dan menantu yang baik." Wulan melirik ke arah Awan. "Benar begitu kan Mas?"

Awan terhenyak. Mendadak lidahnya terasa kelu tak bisa menjawab apapun. Karena sejatinya ia belum tahu apakah Mega benar-benar bisa menggantikan peran Wulan atau tidak.

"Emmm.. Betul sekali yang diucapkan oleh Wulan, Bu. Calon istriku yang baru pasti jauh lebih baik daripada Wulan."

Akhirnya Awan memilih jawaban seperti itu untuk menenangkan hati sang ibu. Meskipun sejatinya ia tidak tahu bagaimana ke depannya nanti.

"Tuh, Ibu dengar sendiri kan apa yang dikatakan mas Awan? Calon menantu Ibu yang baru itu jauh lebih segala-galanya daripada aku. Jadi Ibu tenang saja ya."

"Aku tetap tidak mau Lan. Ibu hanya ingin kamu yang menjadi menantuku, bukan yang lain," kekeuh Marta.

"Isshhh Ibu tuh apa-apaan sih pakai acara menghalangi mbak Wulan segala. Biarkan mbak Wulan dan mas Awan bercerai, toh setelah ini hidup kita akan jauh lebih baik dan terjamin karena mbak Mega itu orang kaya raya," timpal Ambar gemas.

"Lan, apa tidak ada pertimbangan lagi? Apa ini sudah menjadi keputusan terakhirmu? Atau apakah kamu memilih untuk bercerai dari Awan karena kamu sudah tidak mau mengurus Ibu lagi Lan? Sehingga kamu tidak memberikan kesempatan kepada Awan untuk memperbaiki semua? Apakah seperti itu Lan?"

Wulan terhenyak mendengarkan penuturan Marta. Tidak ia sangka jika sang Ibu mertua justru menyudutkannya.

"Bu, tolong berhenti menuduhku seperti itu. Apakah Ibu tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat mengetahui mas Awan berselingkuh di belakangku? Apakah Ibu tidak memikirkan bagaimana aku pontang-panting mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan mengurus Ibu, mengurus anak sedangkan mas Awan justru enak-enakan tidur dengan wanita lain di luar sana? Apa Ibu tidak kasihan kepadaku?" cecar Wulan dengan suara sedikit bergetar dan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.

Marta seketika terdiam dan membisu saat mendengar nada bicara Wulan yang sedikit meninggi. Wulan seakan menumpahkan semua beban luka yang bersarang di dalam dadanya.

"Di sini aku korban, Bu. Korban dari keserakahan dan kurangnya rasa bersyukur mas Awan. Tapi mengapa Ibu seakan menyudutkanku dengan kata-kata bahwa aku sudah tidak lagi mau mengurus Ibu? Apakah aku harus tetap bertahan di sisi mas Awan padahal dia sudah melakukan kesalahan yang paling fatal?"

Hati Marta kian serasa tertampar. Ia sadar sudah sangat egois jika sampai ia tetap meminta Wulan untuk bertahan di sisi Awan. Padahal Wulan masih berhak untuk mendapatkan kebahagiannya.

Wulan menarik napas dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Ia sadar sedikit keterlaluan karena berkata dengan nada tinggi di hadapan sang ibu mertua.

"Aku minta maaf Bu. Aku tidak bermaksud untuk berkata kasar kepada Ibu."

Wulan memeluk tubuh Marta dan mengusap-usap punggungnya barang sejenak. Setelah itu ia urai pelukannya dan ia cium punggung tangan Marta dengan lekat.

"Aku pamit ya Bu. Aku minta maaf jika selama menjadi menantu Ibu, aku banyak kurangnya. Semoga setelah ini kita semua bisa bahagia dengan jalan masing-masing."

Wulan beranjak dari posisi duduknya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, ia melangkah pergi. Ketika berada di hadapan Awan, ia hanya tersenyum tipis kemudian kembali melangkahkan kaki dan benar-benar meninggalkan rumah ini.

"Wulan jangan pergi!" teriak Marta yang seakan tidak rela kehilangan sang menantu.

Langkah Wulan terhenti sejenak sembari membuang napas lega. Senyum itu tersungging di bibir dan lirih berkata...

"Jangan pernah biarkan aku berjalan sendirian Tuhan..."

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!