Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 baptisan langit dan guncangan kota batu hitam
Pusaran awan spiritual di atas Ngarai Lembah Kapur Hitam berputar semakin cepat, membentuk corong raksasa berwarna ungu keunguan yang menembus batas atmosfer bawah langit Kekaisaran Naga Langit. Cahaya matahari sore yang kemerahan sepenuhnya lenyap, tertelan oleh kegelapan absolut yang dibawa oleh badai energi tersebut. Riak tekanan spiritual yang turun dari langit terasa begitu pekat, seolah-olah seluruh berat angkasa sedang dipaksakan runtuh ke satu titik di dasar ngarai.
Di pusat pusaran maut tersebut, Yan Xinghe duduk bersila dengan tenang. *Inti Monster Elemen Besi Tingkat Keenam* yang berada di atas ulu hatinya telah meleleh sepenuhnya, berubah menjadi lelehan cairan logam cair berwarna abu-abu metalik yang merembes masuk memenuhi pori-pori kulit dadanya.
Rasa sakit yang merambat di sepanjang jalur nadinya berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda dengan siksaan sebelumnya. Cairan esensi logam itu bertindak bagaikan ribuan pasak besi membara yang ditanamkan secara paksa di setiap titik simpul sarafnya. Sembilan Meridian Petir miliknya meronta, bergetar hebat mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang membuat udara di sekelilingnya terdistorsi.
"Buka!" raung Xinghe di dalam relung jiwanya yang terdalam.
Ia mengabaikan rasa perih yang membakar organ dalamnya. Menggunakan sisa kemauan bajanya, Xinghe memerintahkan pusaran energi spiritual dari langit untuk menghantam ubun-ubun kepalanya secara serempak.
*BLAAAM!*
Sebuah pilar cahaya petir ungu keemasan melesat turun dari corong awan, menghantam telak tubuh kurus Xinghe. Benturan energi transenden tersebut menciptakan riak kejut yang meretakkan fondasi batuan vulkanik di dasar lembah dalam radius seratus meter. Seluruh genangan darah murni sisa pembantaian Korps Serigala Hitam di sekelilingnya seketika menguap menjadi asap merah kehitaman yang sarat akan aroma kematian.
Fisik *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya menunjukkan ketahanan yang luar biasa mengerikan. Lapisan esensi logam dari badak purba yang telah menyelimuti dinding meridiannya bertindak sebagai perisai absolut. Arus energi spiritual alam yang liar dipaksa mengalir mengikuti rute yang telah ditentukan oleh Niat Pedang kaisarnya, membersihkan sisa-sisa kotoran fana terakhir yang melekat di jaringan sumsum tulangnya.
Proses baptisan energi ini berlangsung selama setengah jam penuh. Setiap detik diisi oleh gemuruh guntur yang merobek keheningan Lembah Kapur Hitam.
Hingga pada tarikan napas terakhir, seluruh pusaran awan di angkasa mendadak tersedot habis masuk ke dalam ubun-ubun Xinghe dalam satu sentakan pusaran tunggal. Keheningan yang mencekam kembali menguasai kedalaman ngarai.
Xinghe perlahan membuka sepasang manik mata gelapnya. Sepasang pupil matanya tidak lagi hanya memancarkan kilatan petir, melainkan memiliki pendaran cahaya keperakan yang sangat padat dan dingin menyerupai bilah pedang yang baru saja keluar dari tungku penempaan dewa.
Ia menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya membawa percikan api keemasan dan uap belerang yang pekat.
Ia telah resmi melangkah masuk ke dalam **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Pertama**.
Lompatan alam kultivasi ini mengembalikan seperseribu bagian dari kapasitas penyimpanan energi spiritual aslinya. Sembilan Meridian Petir miliknya kini telah terbuka sepenuhnya, bertindak bagai sembilan aliran sungai raksasa yang mengalirkan energi tanpa henti menuju pusat Dantian. Kepadatan energinya saat ini, walaupun baru menyentuh Tingkat Pertama, memiliki kemurnian yang sanggup meremukkan pertahanan praktisi Tingkat Keenam Alam Meridian biasa hanya melalui satu jentikan jari.
Xinghe bangkit berdiri perlahan. Persendian tubuhnya mengeluarkan suara gemeretak tajam menyerupai patahan bilah besi. Ia meraih gagang kulit *Pedang Berat Tanpa Bilah* di sampingnya, menyampirkannya kembali ke punggung menggunakan tali kulit yang baru. Beban lima ribu kati material meteorit itu kini terasa jauh lebih ringan, tidak lagi menekan kapasitas pernapasannya secara ekstrem.
Sesosok bayangan hijau lumut meluncur turun dari atas tebing batu kapur, mendarat dengan kelenturan tanpa suara di dekat kawah retakan. Ye Ling’er menyingkap caping bambunya, wajah mungilnya dipenuhi oleh ekspresi ketakutan yang bercampur baur dengan pemujaan mutlak. Gadis penenun informasi itu telah menyaksikan seluruh proses pertarungan dan baptisan langit dari awal hingga akhir dari tempat persembunyiannya.
"Penatua Yan..." suara Ye Ling’er bergetar pelan, matanya menatap hamparan abu dan sisa zirah hitam Korps Serigala Hitam yang memenuhi dasar lembah. "Kau... kau benar-benar telah membuka meridianmu. Tekanan aura yang kau pancarkan saat ini... membuat jiwaku gemetar hanya karena berdiri di dekatmu."
Xinghe merapikan jubah sutra hitamnya yang sedikit robek di bagian lengan. "Serigala-serigala ini telah dibersihkan. Kehancuran korps mereka akan segera memicu kepanikan di dalam kota. Ling’er, bagaimana situasi pergerakan Faksi Militer Naga Perak saat badai langit tadi berlangsung?"
Ye Ling’er menetralkan pernapasannya dengan susah payah, mencoba kembali ke sikap profesionalnya. "Jenderal Lei Zhan telah mengirimkan satu regu kavaleri elit berzirah perak menuju perbatasan lembah ini sejak lima belas menit lalu. Pusaran energi spiritual yang kau picu terlalu raksasa, mustahil untuk disembunyikan dari indra spiritual para tetua militer di pusat kota. Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka mengurung seluruh rute keluar."
"Tidak perlu menghindari mereka," jawab Xinghe santai, tatapan matanya sedingin es abadi. "Jalan lurus adalah rute terbaik menuju pekarangan kita. Jika mereka ingin bertanya tentang nasib Lang Feng, biarkan mereka melihat sendiri sisa-sisa zirah yang telah menjadi abu di tanah ini."
Xinghe melangkah mantap meninggalkan dasar Lembah Kapur Hitam, memimpin jalan kembali menuju gerbang Kota Batu Hitam dengan langkah kaki yang panjang dan berwibawa.
Sementara itu, di dalam Aula Komando Utama Faksi Militer Naga Perak yang terletak di pusat kota, suasana dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan dada. Aula raksasa yang terbuat dari susunan balok batu vulkanik hitam itu diterangi oleh lusinan obor minyak spiritual yang memancarkan pendaran cahaya kemerahan.
Di atas kursi utama yang diukir membentuk kepala naga perak, duduk seorang pria paruh baya dengan postur tubuh raksasa setinggi dua meter. Ia mengenakan zirah perang berat berwarna perak murni yang memancarkan aura elemen logam yang sangat menekan. Wajahnya keras penuh gurat pertempuran, sepasang matanya setajam mata burung elang yang mengintai mangsa dari langit tertinggi. Dialah Jenderal Lei Zhan, penguasa mutlak Kota Batu Hitam, praktisi transenden yang telah menduduki **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Akhir**.
Di hadapan Jenderal Lei Zhan, beberapa perwira militer berlutut dengan tubuh yang gemetar menahan tekanan aura sang jenderal.
"Laporan, Jenderal!" seorang perwira intelijen bersuara dengan nada gemetar penuh kepanikan. "Pusaran energi spiritual di Lembah Kapur Hitam baru saja padam. Regu kavaleri terdepan kita baru saja mengirimkan pesan darurat menggunakan jimat transmisi suara. Mereka menemukan... mereka menemukan seluruh kekuatan tempur Korps Serigala Hitam telah musnah total!"
*KRAAAK!*
Sandaran tangan kursi giok naga di bawah tangan kanan Jenderal Lei Zhan seketika retak hancur menjadi serbuk halus akibat tekanan cengkeramannya yang tiba-tiba menegang. Wajah kerasnya menggelap, memancarkan niat membunuh yang membuat suhu di dalam aula anjlok drastis.
"Musnah total?!" suara Jenderal Lei Zhan berat menggema layaknya gemuruh guntur bawah tanah. "Lang Feng berada di Alam Meridian Tingkat Kedelapan, didukung oleh seratus pasukan elit veteran medan perang! Siapa yang memiliki kemampuan untuk menghapus seluruh korps mereka dalam waktu kurang dari satu jam?! Apakah ada pergerakan pasukan dari dua faksi militer saingan kita dari wilayah dalam?!"
"B-Bukan pasukan militer, Jenderal," perwira itu menelan ludah dengan susah payah, wajahnya sepucat kertas. "Menurut sisa-sisa jejak pertempuran di dasar lembah, kehancuran itu disebabkan oleh satu jenis senjata berat yang murni mengandalkan hantaman fisik mentah dan energi guntur. Hanya ada satu pelaku... pemuda berjubah hitam misterius yang baru saja memasuki kota kita melalui Gerbang Air Mata Darah beberapa hari lalu!"
Mendengar laporan tersebut, seorang pria tua berjubah putih yang duduk di kursi penasihat sayap kanan perlahan bangkit berdiri. Pria tua itu memiliki janggut panjang yang dikepang rapi, sepasang matanya yang sipit memancarkan kilatan kelicikan yang mendalam. Dia adalah Tetua Gu Mu, utusan rahasia dari faksi perdagangan wilayah dalam yang memiliki koneksi gelap dengan Keluarga Mu di selatan.
"Jenderal Lei Zhan," Tetua Gu Mu bersuara, nadanya rendah mengandung intrik politik yang kental. "Pemuda berjubah hitam itu pastilah Yan Xinghe, buronan agung yang identitasnya telah disebarkan oleh Tanah Suci Gerbang Langit Abadi. Kemampuannya membantai Korps Serigala Hitam membuktikan bahwa ia menyembunyikan teknik dewa terlarang di dalam tubuhnya. Jika kita berhasil menangkapnya hidup-hidup dan menyerahkannya kepada Tuan Muda Gongsun Zhi, faksi Naga Perak tidak hanya akan mendapatkan hadiah batu spiritual yang melimpah, melainkan mengamankan dukungan politik Tanah Suci untuk merebut takhta kekaisaran pusat di masa depan."
Jenderal Lei Zhan terdiam sejenak. Jari-jarinya yang besar mengetuk meja besi secara berirama, menciptakan suara dentuman kecil yang menekan mental semua orang di ruangan. Analisis Tetua Gu Mu sangat sempurna; keuntungan politik dari Tanah Suci jauh lebih berharga daripada nyawa seratus tentara bayaran Serigala Hitam yang bisa digantikan kapan saja.
"Perintahkan Korps Pengawal Kota tingkat pertama untuk bergerak," Jenderal Lei Zhan memberikan titah mutlaknya, matanya berkilat memancarkan keserakahan tirani. "Kepung kompleks pekarangan tua di distrik barat tempat keluarganya bersembunyi. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk menyambut kedatangan pemuda sombong tersebut begitu ia menginjakkan kakinya kembali di jalanan kota ini."
Malam kembali merengkuh Kota Batu Hitam dengan hawa dingin belerang yang semakin pekat. Suasana di sepanjang jalan utama distrik komersial tampak sangat mencekam. Barisan toko senjata dan kedai tuak buru-buru menutup pintu kayu mereka rapat-rapat; suara derap langkah kaki ribuan prajurit berzirah besi hitam yang bergerak teratur menuju distrik barat telah menghancurkan sisa kedamaian malam para penduduk sipil.
Di pelataran kompleks pekarangan tua keluarga Yan, Yan Qingshan berdiri tegak di tengah kegelapan, memegang kapak bajanya dengan kedua tangan. Wajah pemuda kekar itu dipenuhi oleh ketegasan murni. *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi* di dalam tubuhnya berputar di tingkat maksimal, membuat permukaan kulit lengannya memancarkan rona kecokelatan yang tebal bagai lempengan batu karang vulkanik.
Di dalam bangunan batu utama, Shen Yulan mendekap erat tubuh Yan Xiaoxiao yang gemetar ketakutan di sudut ranjang. Di luar jendela, lingkaran cahaya obor kemerahan dari ribuan pasukan militer mulai terlihat mengepung seluruh perimeter tembok batu hitam pekat kompleks mereka.
*BRAAAK!*
Tembok pagar batu hitam di bagian depan pekarangan dihantam runtuh hingga hancur berantakan oleh satu dorongan tenaga spiritual yang luar biasa besar. Debu vulkanik membubung tinggi ke udara malam, disingkirkan oleh embusan angin panas yang dibawa oleh kedatangan barisan prajurit elit berzirah perak.
Jenderal Lei Zhan melangkah masuk melewati puing-puing tembok, memegang sebuah tombak panjang bermata naga perak yang memancarkan aura transenden Alam Pemadatan Inti. Di sampingnya, Tetua Gu Mu berjalan sambil memegang seutas tali pengikat spiritual berwarna emas yang dirancang khusus untuk mengunci aliran energi praktisi buronan.
"Hanya tersisa satu pemotong kayu fana di sini," Tetua Gu Mu menyapu pandangan meremehkannya ke arah sosok Qingshan, mendengus pelan. "Bocah, di mana adikmu Yan Xinghe bersembunyi? Katakan kebenarannya sekarang, atau aku akan memastikan seluruh tulang di tubuh ibumu dihancurkan satu per satu di depan matamu."
Qingshan tidak menunjukkan kepanikan sekecil debu pun di wajah kasarnya. Sesuai instruksi adiknya sebelum pergi, ia hanya memiliki satu tugas: bertindak sebagai perisai mutlak bagi keluarganya.
"Kalian para penguasa tirani selalu menggunakan bahasa ancaman yang sama pada keluarga kami," suara Qingshan berat menggema, kuda-kuda kakinya melebar mencengkeram lantai batu pelataran hingga amblas. "Adikku menyuruhku untuk meremukkan tengkorak siapa pun yang berani melompati pagar rumah ini. Jika kalian ingin menyentuh ibuku, melangkah lah di atas kapak bajaku terlebih dahulu!"
"Anak bodoh yang bosan hidup!" Tetua Gu Mu murka merasa otoritasnya ditantang oleh seorang praktisi Penyempurnaan Tubuh Tingkat Ketiga. Ia melambaikan tangannya memberikan perintah eksekusi sepihak kepada lima pengawal militer di dekatnya. "Cincang tubuhnya menjadi tumpukan daging!"
Lima prajurit bersenjata golok panjang melesat maju secara serempak, melepaskan tebasan terkoordinasi yang membawa tenaga spiritual tingkat menengah untuk memotong tubuh Qingshan dari berbagai arah.
Qingshan menarik napas dalam-dalam mengikuti ritme pernapasan harimau, membiarkan esensi elemen tanah dari lantai batu pekarangan tersedot habis ke dalam Dantiannya. Saat lima bilah golok baja itu menghantam permukaan zirah otot lengannya, suara benturan keras menyerupai hantaman palu pada batu granit kuno bergema kencang.
*BANG! BANG! BANG!*
Gelombang tenaga dari lima serangan tersebut tidak mampu menggores kulit kecokelatan Qingshan. Sesuai teknik perbaikan yang diajarkan Xinghe, ia menyalurkan seluruh dampak benturan tersebut turun melewati struktur tulang belakangnya, meledakkannya keluar menghancurkan lantai batu di bawah kakinya menjadi lubang sedalam dua jengkal. Postur tubuh besarnya tetap tegak lurus tanpa bergeser satu milimeter pun.
"Mati kau!" raung Qingshan.
Ia memutar pinggangnya dengan hentakan tajam, melepaskan ayunan kapak bajanya dalam satu gerakan horizontal penuh yang membawa bobot ribuan kati tenaga fisik murni elemen tanah.
*CRAT! CRAK!*
Bilah kapak besarnya membelah dada tiga prajurit terdepan secara diagonal, meremukkan zirah besi dan memotong organ dalam mereka dalam satu hantaman mutlak. Dua prajurit yang tersisa terhuyung mundur dengan wajah yang seketika pucat pasi menahan ngeri melihat kebrutalan fisik mantan pemotong kayu tersebut.
Jenderal Lei Zhan yang sedari tadi menonton menyipitkan matanya tajam. "Teknik pertahanan elemen tanah orisinal tingkat tinggi... Menarik sekali. Tidak kusangka keluarga cabang rendahan seperti kalian menyimpan pusaka kultivasi sepadat ini."
Jenderal Lei Zhan tidak memberikan kesempatan bagi Qingshan untuk memulihkan tenaganya. Ia melangkah maju satu langkah besar, mengayunkan tombak panjang perak naga miliknya dalam satu tusukan lurus yang santai namun membawa daya hancur transenden Alam Pemadatan Inti.
Serangan itu melesat membelah udara malam dengan kecepatan yang melampaui batas respons visual Qingshan. Udara di depan mata tombak itu menjerit terkoyak murni karena kepadatan Qi sang jenderal.
Qingshan membelalakkan mata, mencoba menyilangkan kapak bajanya untuk menahan area yang tidak bisa ia hindari, namun insting bertarungnya berteriak memperingatkan bahwa pertahanan fisik terbaiknya akan hancur berantakan jika berbenturan langsung dengan tenaga transenden tersebut. Kematian terasa begitu dekat mencengkeram lehernya.
*TING!*
Sebuah bunyi benturan logam yang luar biasa nyaring dan berfrekuensi mikro mendadak meledak di udara, tepat satu inci di depan dada Qingshan.
Sebuah balok logam hitam raksasa dengan guratan emas-merah yang berdenyut memancarkan hawa panas ekstrem tiba-tiba muncul memblokir lintasan mata tombak perak Jenderal Lei Zhan. Benturan dari massa lima ribu kati yang dialiri energi guntur murni seketika memantulkan kembali seluruh tenaga tusukan sang jenderal, memaksanya melangkah mundur dua langkah di atas lantai batu dengan raut terkejut yang nyata.
Asap debu ungu keemasan perlahan menipis di pelataran, menyingkap sosok pemuda berjubah sutra hitam yang berdiri tegak lurus menopang pedang beratnya di samping Qingshan.
Yan Xinghe telah kembali.
Aura kekuatannya kini tidak lagi tersembunyi; fluktuasi energi **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Pertama** berlapis guntur dan api Gagak Emas memancar konstan dari tubuh sempurnanya, menciptakan tekanan udara yang membuat jubah sutra hitamnya berkibar konstan tanpa bantuan angin malam.
"Xinghe!" Qingshan menghela napas lega, menurunkan kapak bajanya.
Xinghe menatap lurus ke dalam manik mata Jenderal Lei Zhan dan Tetua Gu Mu yang mematung di depannya. Ekspresi wajah pucatnya tetap datar, namun sepasang mata gelap tak berdasarnya memancarkan kedinginan tirani mutlak seorang penguasa sejati yang kembali untuk menagih hutang darah.
"Jenderal Lei Zhan," suara Xinghe mengalun tenang, sehalus es utara namun sanggup menggetarkan pilar jantung semua prajurit di pelataran. "Kau meruntuhkan pagar rumahku, mengirim pasukan untuk memburu nyawaku, dan mencoba menyentuh kakakku menggunakan tombak tumpulmu itu. Selamat. Kau baru saja menuliskan silsilah nama faksi Naga Perakmu ke dalam daftar nama orang mati di bawah ujung pedang beratku malam ini."
Kedaulatan kata-kata sang Kaisar Pedang kembali bergema memecah langit Kota Batu Hitam, menandai dimulainya babak pembantaian berskala besar yang akan meruntuhkan seluruh fondasi kekuasaan militer di perbatasan Kekaisaran Naga Langit.