NovelToon NovelToon
Diratukan Oleh Raja Vampir

Diratukan Oleh Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.

Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.

Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.

Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal Yang Mustahil

“Ciel, periksa Evelyn,” ucap Evander setelah selesai memberikan darahnya.

“Baik, Yang Mulia”

Ciel segera mendekat ke arah ranjang. Sementara Lucien dan yang lainnya masih menatap simbol di tangan Evelyn yang belum berhenti bersinar terang.

Aura hitam kemerahan memenuhi seluruh kamar Raja Vampir.

Dan hal itu terasa sangat tidak normal. Ciel perlahan memeriksa denyut tubuh Evelyn.

Namun beberapa detik kemudian. Ekspresinya langsung berubah terkejut.

“Tidak mungkin…”

Tatapan Lucien langsung menyipit.

“Ada apa?”

Ciel perlahan menatap Evander dengan wajah tidak percaya.

“Tubuhnya…” gumamnya pelan. “Tubuhnya menerima darah Raja Vampir.”

Deg.

Seluruh ruangan langsung sunyi.

“Itu mustahil,” ucap Kaizer dingin.

“Manusia biasa seharusnya langsung mati atau berubah menjadi vampir gagal,” tambah Raven.

Namun Ciel justru menggeleng pelan.

“Tidak ada perubahan monster.”

Tatapannya kembali mengarah pada Evelyn.

“Dan tubuhnya juga tidak menolak darah Yang Mulia.”

Mata Lucien langsung membesar.

“Jangan bilang…”

Sementara Evander tetap diam menatap Evelyn yang kini perlahan mulai tenang.

Napas gadis itu kembali stabil. Bahkan urat hitam akibat racun Damien mulai menghilang sedikit demi sedikit.

“Akh…”

Evelyn perlahan membuka matanya.

Tatapannya masih sedikit buram.

“E-Evander…”

Seketika aura dingin di sekitar Raja Vampir langsung sedikit mereda.

“Aku di sini,” jawabnya rendah.

Evelyn perlahan memegang dadanya sendiri.

“Aneh…” gumamnya pelan. “Tubuhku terasa hangat…”

Lucien langsung menatap Evelyn cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil tidak percaya.

“Haha… ini benar-benar gila.”

Tatapan merahnya perlahan mengarah pada Evander.

“Kak Evander.”

“Apa?”

“Sepertinya…” Lucien menyeringai tipis. “Calon ratumu memang bukan manusia biasa.”

Tatapan Evander perlahan turun ke simbol hitam kemerahan di tangan Evelyn.

Dan untuk pertama kalinya.

Raja Vampir itu mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil oleh seluruh bangsa vampir.

“Racun itu juga seketika hilang di dalam tubuhnya,” ucap Ciel setelah kembali memeriksa kondisi Evelyn.

Seketika Lucien langsung menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Namun Ciel kembali melanjutkan penjelasannya,

“Hanya saja, efek samping dari darah Raja Vampir membuat tubuhnya sedikit lemah.”

Tatapan Ciel perlahan mengarah pada Evander.

“Mungkin besok dia sudah kembali normal.”

Evander akhirnya sedikit menurunkan aura dinginnya setelah mendengar ucapan itu.

Tatapan merahnya kembali tertuju pada Evelyn yang masih terlihat lemas di atas ranjang.

“Kamu merasa sakit lagi?” tanyanya rendah.

Evelyn perlahan menggeleng kecil.

“Tidak sesakit tadi…” gumamnya pelan. “Hanya sedikit pusing.”

Evander langsung mengusap pelan rambut Evelyn.

“Tidurlah.”

Deg.

Wajah Evelyn langsung sedikit memerah walaupun tubuhnya masih lemah. Lucien yang melihat itu langsung menahan senyum jahilnya.

“Benar-benar berbeda…” gumamnya pelan.

Kaizer meliriknya sekilas.

“Maksudmu?”

Lucien terkekeh kecil.

“Aku belum pernah melihat Raja Vampir mengusap kepala seseorang selembut itu.”

Tatapan merah Evander langsung melirik dingin ke arah Lucien. Namun Lucien justru tertawa kecil sambil mundur beberapa langkah.

“Baiklah, aku diam.”

Sementara itu, Evelyn perlahan memegang tangannya sendiri.

Tatapannya terdiam melihat simbol hitam kemerahan itu kini terlihat lebih jelas dibanding sebelumnya.

Dan entah kenapa.

Dia bisa merasakan kehangatan aneh dari dalam tubuhnya. Seolah darah Evander yang mengalir di tubuhnya sedang melindunginya.

Sementara Evander diam-diam memperhatikan perubahan itu tanpa mengatakan apa pun.

Namun jauh di dalam pikirannya. Raja Vampir itu mulai menyadari satu hal.

Evelyn Eirwen.

Mungkin benar-benar diciptakan untuk berada di sisinya.

Lalu, Evelyn perlahan menatap ke arah salah satu orang kepercayaan Evander.

Tatapannya berhenti pada Lucthen yang sejak tadi hanya diam sambil bersandar di dekat dinding kamar.

“Evander,” panggil Evelyn pelan. “Kenapa orangmu itu tidak banyak bicara seperti yang lainnya?”

Jarinya menunjuk pelan ke arah Lucthen.

Seketika.

Semua mata langsung mengarah pada pria berambut hitam gelap itu.

Lucthen perlahan menoleh ke arah Evelyn.

Tatapan merahnya terlihat tajam dan cukup menyeramkan. Namun Evelyn justru terlihat penasaran.

Lucien langsung terkekeh kecil.

“Haha, akhirnya ada juga yang berani bertanya langsung kepadanya.”

Lucthen langsung melirik Lucien dingin.

Sementara Evander tetap terlihat tenang.

“Karena dia memang seperti itu sejak dulu.”

Evelyn masih menatap penasaran ke arah Lucthen.

“Dia marah padaku?” tanyanya hati-hati.

“Hah?”

Untuk pertama kalinya. Ekspresi Lucthen terlihat sedikit berubah bingung.

Lucien langsung tertawa lebih keras.

“Tidak, tidak,” jawabnya santai. “Dia memang wajahnya menyeramkan begitu.”

“Aku tidak menyeramkan,” sahut Lucthen akhirnya dengan suara rendah.

Dan detik itu juga.

Evelyn langsung membelalak sedikit.

“Eh?!”

Lucien kembali tertawa.

“Tuh kan, dia sebenarnya bisa bicara.”

Lucthen langsung mendecakkan lidah malas.

“Aku hanya tidak suka banyak bicara.”

Tatapan merahnya perlahan mengarah pada Evelyn beberapa detik.

“Dan aku tidak terbiasa berada dekat manusia.”

Evelyn langsung mengangguk kecil memahami.

“O-oh…”

Namun beberapa detik kemudian.

Lucthen tiba-tiba berjalan mendekat ke arah ranjang.

Hal itu langsung membuat Evelyn sedikit tegang. Lalu pria itu menatap tangan Evelyn yang tadi terluka cukup lama sebelum akhirnya berkata,

“Tapi…”

Tatapan merahnya sedikit menyipit.

“Kau memang berbeda.”

Deg.

Evelyn langsung bingung.

“Berbeda bagaimana?”

Namun sebelum Lucthen menjawab. Evander langsung menarik selimut Evelyn sedikit lebih tinggi.

“Jangan terlalu dekat dengannya.”

Lucien langsung tertawa lagi.

“Haha! Kak Evander benar-benar posesif sekarang.”

Tatapan merah Evander langsung berubah dingin.

Dan Lucthen hanya menghela napas kecil seolah sudah terbiasa melihat tingkah Raja Vampir itu sekarang.

“Di antara kami semua,” ucap Raven sambil melirik Lucthen. “Hanya Lucthen yang berani protes kepada Yang Mulia.”

Evelyn langsung sedikit membelalak.

“Eh? Serius?”

Kaizer mengangguk kecil.

“Itu memang benar.”

Lucien langsung menyeringai jahil.

“Karena Lucthen satu-satunya yang tidak takut dimarahi Kak Evander.”

“Aku tetap takut,” sahut Lucthen datar.

“Tapi mulutmu tidak terlihat seperti orang takut,” balas Lucien cepat.

Lucthen langsung mendecakkan lidah malas.

Sementara Evelyn diam-diam mulai memperhatikan mereka satu per satu.

Entah kenapa.

Walaupun semuanya vampir dan terlihat menyeramkan.

Mereka terasa seperti keluarga yang aneh.

Namun di saat yang sama. Sangat dekat satu sama lain.

“Yang Mulia terlalu berlebihan akhir-akhir ini,” lanjut Lucthen sambil melirik Evander. “Bahkan saya berdiri beberapa langkah saja dianggap mengganggu.”

Tatapan merah Evander langsung dingin.

“Kau banyak bicara hari ini.”

“Karena saya merasa diperlakukan tidak adil.”

Lucien langsung tertawa keras.

“Lihat? Hanya dia yang bisa bicara seperti itu di depan Raja Vampir dan masih hidup sampai sekarang.”

Bahkan Ciel sampai menahan senyum kecil.

Sementara Evelyn tanpa sadar ikut tersenyum tipis melihat pertengkaran kecil mereka.

Dan hal kecil itu langsung disadari Evander.

Tatapan merah Raja Vampir itu perlahan melembut samar saat melihat Evelyn akhirnya tersenyum lagi setelah tadi kesakitan.

Namun Lucien yang melihat perubahan ekspresi kecil itu langsung berdeham pelan.

“Sudah selesai,” gumamnya dramatis. “Raja Vampir kita benar-benar jatuh terlalu dalam.”

“Sudah,” ucap Evander tenang. “Perintahkan orang dapur membuatkan makanan untuk Evelyn.”

“Baik, Yang Mulia,” jawab Ciel hormat.

Namun Evelyn langsung terlihat terkejut.

“Eh? Makanan vampir?”

Lucien langsung menahan tawanya. Sementara Evander menatap Evelyn datar.

“Apa yang sudah kau pikirkan, Evelyn?”

“Hah?”

“Vampir tidak pernah makan,” jelas Evander tenang. “Kami hanya minum darah.”

Deg.

Wajah Evelyn langsung berubah canggung.

“O-oh…”

Lucien langsung menyeringai jahil.

“Tapi jangan bilang…” ucapnya sambil mendekat sedikit. “Kamu juga mau minum darah seperti kami?”

“Hah?!”

Evelyn langsung menggeleng cepat.

“Tentu saja tidak!”

Lucien terkekeh kecil.

“Padahal tadi kamu meminum darah Kak Evander loh.”

“Eh?”

Seketika.

Wajah Evelyn langsung merah total. Dia baru sadar tentang itu.

“T-tadi itu karena terpaksa!” jawabnya panik.

Lucien justru makin tertawa.

“Berarti sekarang di tubuhmu sudah ada darah Raja Vampir.”

“Lucien,” suara Evander mulai terdengar mengancam.

Namun Lucien tetap belum berhenti menggoda.

“Dan biasanya,” lanjutnya santai. “Vampir sangat sensitif terhadap siapa yang meminum darah mereka.”

Deg.

Evelyn langsung menoleh cepat ke arah Evander.

Tatapan merah Raja Vampir itu terlihat tenang seperti biasa. Namun entah kenapa. Wajah Evelyn malah semakin panas sekarang.

“A-aku tidak tahu soal itu…”

Evander akhirnya membuka suara pelan,

“Tidak masalah.”

“Hah?”

Tatapan merahnya perlahan menatap lurus ke arah Evelyn.

“Kalau itu kau.”

Deg.

Lucien langsung memegang dahinya dramatis.

“Sudah selesai,” gumamnya. “Aku benar-benar tidak tahan melihat Raja Vampir jatuh cinta separah ini.”

1
Asra
Next kak
Anonim
semangat thor, lanjut lagi ....
Musicart Channel
best. cerita sang teratur Dan mendebarkan untuk setiap apisode. please update lagi🥺
Anonim
up lg donk thor...
Yayuk Yuhanah
lanjut donk
Yayuk Yuhanah
masih penasaran.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!