Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KEMBALINYA TARING SANG PUTRI
Hari-hari di kontrakan sempit Gang Kelinci ternyata tidak semudah yang dibayangkan Vanya. Seminggu ini terasa seperti simulasi neraka sekaligus komedi situasi yang tak berujung. Setiap sudut ruangan menjadi medan perang bagi mereka berdua. Perang argumen, ledakan emosi, hingga ledek-ledekan pedas menjadi menu sarapan harian.
"Vanya! Bekas makanmu itu dibereskan! Kamu kira ini restoran bintang lima yang ada pelayannya?" teriak Reyhan hampir setiap pagi saat melihat piring kotor masih bertengger manis di meja kayu.
"Berisik, Begal! Aku sedang sibuk memikirkan nasibku, piring itu tidak akan lari ke mana-mana!" balas Vanya tanpa dosa.
Belum lagi masalah kamar mandi. "Bisa tidak, kalau mandi itu diam saja? Jangan bernyanyi! Suaramu itu membuat tetangga kira ada kucing kejepit pintu!" protes Reyhan saat mendengar Vanya melantunkan lagu pop-diva dengan high note yang berantakan.
"Ini namanya ekspresi seni! Di rumahku, akustik kamar mandinya jauh lebih bagus dari kotak sabun ini!" sahut Vanya dari balik pintu plastik yang tipis.
Tapi dari semua itu, senjata paling ampuh Reyhan untuk membungkam keangkuhan Vanya tetaplah satu: Kecoa. Cukup dengan menunjuk ke arah pojok ruangan dan bergumam, "Eh, itu ada temanku, si Kecoa jantan lagi cari pacar," Vanya akan langsung melompat ke punggung Reyhan atau naik ke atas meja sambil menjerit histeris, melupakan semua martabatnya sebagai putri konglomerat.
Namun, semua drama domestik itu mencapai puncaknya di pagi hari yang menentukan ini.
Fajar di Gang Kelinci diawali dengan rutinitas Reyhan yang kini sudah dihapal di luar kepala oleh Vanya. Dari balik selimut tipisnya, Vanya mendengarkan suara gemericik air wudu, lalu keheningan panjang saat Reyhan bersujud melakukan Tahajud disambung Subuh. Ada rasa tenang yang aneh setiap kali ia mendengar gumaman doa Reyhan, namun ketenangan itu hancur berantakan oleh sebuah ketukan nyaring di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Mas... Reyhan... ini nasi uduknya," sebuah suara yang dibuat manis—namun terdengar seperti pemanis buatan di telinga Vanya—mengalun dari luar.
Itu Marni, si gadis nasi uduk yang merasa dirinya adalah kembang desa Gang Kelinci. Reyhan membuka pintu, mencoba bersikap sopan. "Mas pasti belum makan, kan? Masih hangat, lho. Spesial buat Mas Reyhan pakai telur balado kesukaan Mas," ucap Marni dengan kerlingan mata yang berlebihan.
"Oke, makasih Marni. Berapa semuanya?" tanya Reyhan datar.
"Aku cuma bawa satu bungkus, Mas. Aku tidak bawa buat cewek sok kaya itu. Biar saja dia kelaparan, toh dia cuma beban buat Mas, kan?" ketus Marni, suaranya sengaja dikeraskan agar menembus dinding kamar.
Reyhan menghela napas panjang. "Marni, masih pagi... jangan bikin ribut."
"Mas, kamu tidak tahu ya perasaanku? Aku suka kamu, Mas! Jangan mau sama perempuan sombong itu. Mas hanya akan dihina terus. Mas yang sholeh begini tidak pantas bersanding dengan wanita yang tidak tahu cara menghargai laki-laki!" Marni mulai mendramatisir, matanya berkaca-kaca buatan.
Vanya, yang sedari tadi menahan diri di balik pintu kamar, akhirnya meledak. Emosinya yang sudah menumpuk selama seminggu karena dipaksa hidup melarat mendadak menemukan sasaran empuk. Ia menyibak selimut, melompat dari kasur, dan muncul di ambang pintu dengan daster kebesaran milik Reyhan yang tampak gombrang di tubuh mungilnya. Namun, meski dasteran, keangkuhan Vanya tetap selevel permaisuri.
"Eh, perempuan uduk! Kamu jangan ngomong sembarangan ya!" teriak Vanya sambil berkacak pinggang, dagunya terangkat tinggi. "Bang Reyhan itu tidak suka sama kamu! Dia punya selera yang tinggi. Dia tidak akan mau dengan perempuan yang aromanya seperti campuran bawang goreng dan santan basi kayak kamu!"
Marni melotot, wajahnya merah padam seperti telur balado yang ia bawa. "Eh, kurang ajar ya! Sini kalau berani! Aku bisa suruh Bapakku usir kamu dari sini sekarang juga, dasar wanita jalang!"
"Siapa yang kamu panggil jalang, hah?!" Vanya merangsek maju, siap menjambak rambut Marni yang berminyak.
Situasi memanas. Reyhan berdiri di tengah-tengah, merentangkan tangan untuk menjadi pagar pembatas sebelum terjadi perang dunia ketiga di teras kontrakannya. Namun, sebuah suara berat dari arah gang menghentikan segalanya.
"Siapa yang berani mengatakan 'jalang' pada majikanku?!"
Semua menoleh. Di sana berdiri Angga dan Farid. Dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang sangat tidak nyambung dengan latar belakang jemuran warga di Gang Kelinci.
Marni menciut seketika. "Dia... eh... Bapak... maaf..."
Angga melangkah maju, sorot matanya sedingin es. "Dia itu Nona Vanya Hutama. Kalau kamu berani menghinanya lagi, aku pastikan lapak nasi udukmu hilang sebelum matahari terbenam," ucap Angga tanpa ekspresi.
Tanpa memedulikan Marni yang kini gemetar, Angga berlutut di depan Vanya. "Nona, seminggu sudah berlalu. Pak Bram menyuruh kami menjemput Anda hari ini."
Mata Vanya berbinar. "Angga! Farid! Kalian akhirnya datang!" Vanya merasa kekuatannya kembali dalam sekejap. Ia melirik Reyhan yang berdiri tenang, seolah kedatangan dua raksasa berjas itu adalah hal yang biasa. "Lalu dia...?" Vanya menunjuk Reyhan dengan telunjuknya yang lentik.
"Terserah Nona. Pak Bram menyerahkan keputusan pada Anda," jawab Angga patuh.
Vanya menyeringai licik. Sebuah rencana balas dendam yang manis melintas di kepalanya. "Kan kontraknya setahun, belum beres! Bawa dia juga sekalian. Aku mau kasih dia 'kejutan' di rumah nanti. Dia harus merasakan bagaimana rasanya menjadi pelayan di istanaku!"
Angga mengangguk. Ia menoleh pada Reyhan. "Baik Nona. Silakan Pak Reyhan, Anda ikut kami. Siapkan barang-barang Anda."
Reyhan hanya diam, ekspresinya sulit dibaca. Ia melirik Marni yang masih mematung. Gadis itu tidak mampu menjawab, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit—nyaris menabrak gerobak sampahnya sendiri karena takut menyadari bahwa wanita yang ia hina adalah seorang "Nona" besar.
Vanya berjalan melewati Reyhan dengan langkah kemenangan yang elegan, meski ia masih memakai daster. "Akhirnya, Papa menjemputku. Dan di sana... di rumahku, adalah kekuasaanku. Jangan harap kamu bisa menang di sana, Begal!"
"Terserah Nona Manja," sahut Reyhan santai sambil mulai melipat sajadahnya dan memasukkannya ke dalam ransel.
"Ingat kontrakmu satu tahun! Selama setahun ini, kamu harus patuh padaku! Kamu akan membayar setiap ledekan 'manja' yang kamu lontarkan!"
"Baik, Nona Manja."
Vanya berbalik dengan mata menyipit tajam. "Dan satu lagi! Jangan ada embel-embel 'Manja' di belakangnya! Panggil aku Vanya!"
Angga dan Farid yang menyaksikan interaksi itu saling lirik, lalu tersenyum tipis. Mereka belum pernah melihat Vanya begitu "hidup" dan bersemangat. Biasanya, Vanya hanya peduli pada tas bermerek dan pesta, tapi sekarang, ia tampak memiliki obsesi baru untuk menaklukkan pria di depannya ini.
"Kenapa kalian senyum-senyum begitu? Kalian mau saya pecat?!" gertak Vanya, mencoba mengembalikan citra taringnya.
"Maaf, Nona. Silakan ke mobil," ucap Angga sambil membukakan pintu mobil mewah yang sudah menunggu di mulut gang.
Reyhan menyampirkan ranselnya, menatap rumah kontrakan sempit yang menjadi saksi bisu perdebatan mereka selama seminggu terakhir. Ia berjalan mengikuti Vanya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, lokasinya adalah medan perang yang sangat dikenali Vanya, namun Reyhan tahu, dia harus berhati-hati dengan nona manja dan galak ini, dia tidak punya prinsip mood-nya mudah terpengaruhi.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan