Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUDAHNYA LULUH
Gina sangat marah, sekarang dirinya akan diperkaos oleh pria yang ia cintai, masih ia cintai.
Sedangkan Elang melancarkan aksinya agar Gina tidak bisa berkutik lagi.
Namun Gina tidak mau kalah, ia memberikan pemberontakan yang sepadan.
"AAWWWK!!" teriak Elang saat bibirnya digigit oleh Gina hingga berdarah. Lalu Gina mendorong Elang mundur setelah badannya terbebas, tidak dikungkung lagi.
"JANGAN MEMBUATKU MEMBENCIMU, LANG!!!" balas teriak Gina sambil berdiri.
"BERANINYA KAMU MENYENTUHKU TANPA IZIN!" lanjut wanita itu membara.
Elang melihat jarinya ada darah yang ia sentuh ke bibir, ia pun tersenyum menyeringai.
"Kamu mengigit bibirku" lirihnya.
"KAMU PANTAS MENDAPATKAN ITU!" teriak Gina lagi.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk masuk kesini dan menyelesaikan masalah kita baik baik, tapi kenapa kamu melanggar batas dan merendahkan ku? Ini bukan cinta, Elang" ucap Gina dengan nada lebih rendah, matanya sudah berkaca kaca.
"Aku tidak ada cara lain untuk membujukmu. Aku bingung harus berbuat apa, aku sangat merindukanmu dan tidak ingi berpisah darimu" jelas Elang.
"Tapi bukan gini" sahut Gina.
Saat Ratih keluar kamar, hendak berjalan ke dapur untuk mengambil minum, ia melihat pintu rumah terbuka dan lantai ada bercak air. Lalu ditambah suara berisik dari kamar Gina.
Penasaranlah dia.
Ratih berjalan ke kamar Gina dan mengetuk pintu.
Tok..tok..tok..
"Gina, maaf ganggu, apakah kamu yang buka pintu rumah? Ini pintunya kebuka dan sedang hujan lebat. Air nya masuk" ucap Ratih dari luar kamar.
Gina pun menatap pintu lalu menjawab "Oh iya, mbak. Sebentar ya, nanti aku tutup, soalnya masih mau keluar".
Ratih merasa ada yang aneh namun dirinya tidak ingin ikut campur. Ia pun kembali ke kamar setelah mengambil air putih.
"Ada mbak Ratih disini, jangan bikin malu dan gaduh. Pergi dengan baik baik dan jangan pernah kembali lagi" suruh Gina.
"Kamu beneran ngusir aku?" tanya Elang.
"Beneran. Aku gak bercanda dan gak ada niatan menarik omonganku" jawab Gina.
"Meskipun aku batalin tunangan ini, kamu masih gak mau balik sama aku?" pancing Elang membuat Gina mengerut kening tak percaya.
"Gak usah aneh aneh. Bisa bisa aku nanti yang dibenci sama keluargamu dan jadi incaran keluarga tunanganmu. Lagi lagi aku yang disebut pelakor" sahut Gina.
"Aku gak aneh aneh. Aku serius bakal batalin tunangan ini kalau kamu serius mau balik sama aku dan memperjuangkan cinta kita" ucap Elang.
Gina melihat keseriusan wajah pria didepannya ini.
"Kamu serius?" tanya nya lagi memastikan.
"I'm serious, baby" jawab Elang sambil memegang kedua tangan Gina.
"Terus kalau Hana gak mau gimana? Kamu tetep harus nikahin dia kan?" tanya wanita itu berjaga jaga.
"Nggak, aku gak bakal nikahin dia. Aku udah numbalin Elon buat membereskannya" jawab Elang jujur lalu mengajak Gina duduk ditepi ranjang diikuti olehnya juga biar ngomongnya enak.
"Numbalin Elon? Maksudmu gimana? Asistenmu kamu kasih ke Hana?" tanya Gina masih tak mengerti.
Elang mengangguk.
"GILA YA KAMU!!! HANA JUGA ANAK ORANG, KAMU PERMAINKAN GITU!" seru Gina jadi marah.
"Eits jangan marah dulu.." tenang Elang.
"Semua butuh pengorbanan dan aku rasa aku gak cocok sama Hana, percuma dipaksa nantipun tetep masalah kedepannya" lanjutnya.
"Kalau gak cocok kenapa harus lamaraaaaaan haaaahh, aku gak habis pikir sama cara pikirmu" sahut Gina.
"Gina sayang, cintaku. Kamu tau kalau aku sangat menyayangi ayahku, saat hari terakhirnya memintaku untuk bertunangan dengan Hana, aku gak bisa menolak karena bayangan ayahku masih didepan mata. Tapi saat masa berkabung sudah ku iklaskan, aku sadar bahwa bahagiaku lebih penting saat ini dan itu ada di kamu" jelas panjang lebar Elang.
Gina terdiam dan mencerna perkataan Elang.
"Tapi kamu jahat, tanpa kata tiba tiba hilang sehari langsung muncul berita pertunangan mu di tv dan banyak artikel. Kenapa kamu gak info atau menjelaskan keadaanmu dulu?" ungkapan hati Gina.
"Ya aku salah. Aku tidak tau harus berbuat apa waktu itu saat kehilangan ayahku lalu seminggu kemudian acara pertunangan itu" sahut Elang.
"Sekarang, jika kamu ingin aku menjelaskan apapun yang masih ingin kamu tanyakan, tanyakan saja, akan aku jelaskan" lanjutnya.
Tiba tiba bukan pertanyaan yang keluar tapi pelukan. Gina memeluk Elang.
Grep.
"Maafkan aku tidak ada disisimu saat waktu berat mu kehilangan ayah. Aku pernah kehilangan ibuku dan rasanya berat sekali kulalui sendiri meskipun ada ayah dan adikku" lirih Gina.
Grep.
Elang memeluk balik Gina.
"Ya sangat berat, apalagi ditambah harus berpisah denganmu selama 1 minggu ini karena salah paham, setiap malam aku memimpikan mu" balasnya.
"Seminggu ini mana ada balas pesan, nerima teleponku, ataupun balas email, kamu bener bener cuekin aku tanpa kejelasan" tambah pria itu seperti curhat.
Cwkit. Pelukan terlepas
"Aaakh! Cubitan ini yang kurindukan darimu" rintih Elang namun tetap dibuat canda juga.
"Ya gimana gak nyuekin, udah ditinggal tunangan, gak dikabarin, lalu baca dan ngelihat berita panas dari media" balas Gina.
"Hahahhaa padahal kalau kamu udah baca pesanku dari seminggu lalu, aku udah jelasin kronologinya dan semuanya" ujar Elang.
"Males baca! Penuh kata kata gak jelas" balas Gina.
"Berarti sekarang kita baikan ya? Kamu udah gak marah sama aku lagi kan?" tanya Elang.
"Hmmm...selama kamu bisa menjaga hati dan pikiran untukku seorang lalu selesaikan hubunganmu dengan Hana" jawab Gina.
"Beres. Akan aku selesaikan segera terus langsung nikahin kamu" ujar Elang.
Mendengar kata nikah, Gina jadi ingat sesuatu.
"Kayaknya papaku yang akan nikah duluan, dia sepertinya udah jatuh cinta sama seseorang" celetuknya.
"Oh iya? Kamu udah dikenalin sama calon ibu tirimu?" tanya Elang.
"Belum sih, tapi lihat gelagatnya kayak orang jatuh cinta" jawab Gina.
"Emang bisa ya orang udah tua jatuh cinta?" tanya Elang polos.
"Ya bisalah! Mangkanya ada istilah puber kedua atau ketiga gitu" jawab Gina.
"Begitu yah. Okedeh, siapapun yang nikah duluan, papamu atau kita, pokoknya kita nikah" sahut Elang.
Gina tersenyum.
"Mungkin setelah urusanmu sama Hana selesai, aku baru berani ngenalin kamu sama papa ku" ujarnya.
Elang mengangguk paham.
Drttt..drttzzz..
Ponsel Elang di saku bergetar.
Ia mengambilnya dan melihat nama di layar.
"Mami" lirihnya sambil memberikan isyarat ke Gina.
"Halo mami" sapa Elang.
"Anak nakal! Kamu dimana sekarang? Hana ini loh nunggu kamu dirumah?" omel sang ibu.
"Mami..aku kan udah bilang hari ini aku dinas ke luar kota, pulang malam banget kalau memungkinkan atau besok pagi itupun langsung ke kantor" sahut Elang.
"Kamu gak jelasin ke Hana sendiri, dia datang kesini buat nunggu kamu" ucap sang mami.
"Hmm anak itu kayak gak punya kerjaan aja mampir kerumah cowok" kesal Elang.
"Hust! Dia calon istrimu" tegur sang mami.
"Please mami, jelasin ke dia ya. Aku lagi sibuk ini dan mau balik, paling sampek Pekan Baru 2 jam lagi" ucap Elang.
"Sekali ini lagi ya, awas kalau kamu ninggalin Hana tanpa kejelasan begini, kasian" sahut si mami.
"Hmm iya iya, tapi gak janji" ujar Elang.
"Love you mom, bye" lanjutnya lalu mematikan panggilan sepihak.
Gina menatap Elang dengan pandangan sulit diartikan.
"Kamu melawan keluargamu untuk bisa bersamaku?" tanya wanita itu.
"Yes! Aku akan melawan siapapun yang menentang cinta kita" jawab Elang.
Lalu pandangan keduanya bertemu dan saat bibir mereka sudah semakin mendekat, ketukan kamar berbunyi lagi.
Tok..tok..tok..
"Maaf, Pak Elang..Saya harus menginformasikan bahwa pesawat kembali ke Pekan Baru 1 jam lagi" ternyata suara Elon.
Elang terlihat kesal tapi dia juga harus kembali ke Pekan Baru karena besok pagi dirinya harus pergi ke Australia.
"Pergi sana..ya nanti aku baca pesan pesanmu" ucap Gina.
"Beneran ya? Udah gak dicuekin lagi aku kan?" tanya Elang.
"Iyaaaa...inget selesaikan hubunganmu bareng Hana baru aku bisa resmi menerima kamu lagi" jawab Gita.
"Beres" ujar Elang lalu berdiri.
Cup!
Elang mencium kening pemilik kamar, lalu hendak pergi keluar.
"Eh eh, barang2 mu bawaaa pulang Elang!" suruh Gita.
"Nggak! Aku masih mau sering kesini, titip baju bajuku lagi yaa sama tolong cucikan baju basahku di kamar mandi, love you sayang" sahut Elang tanpa tau malu dan keluar kamar.
Elon sudah kembali ke mobil.
Gita hanya bisa geleng2 kepala dan mengikuti langkah kaki Elang keluar rumah.
Ia menyaksikan pria itu pergi dari kawasan rumahnya.
"Aku tidak bisa melepaskan Elang begitu saja" batinnya.
Lalu ia pun masuk rumah, menutup pintu dan mengeringkan lantai yang masih ada sisa basah basah jejak Elang tadi masuk rumah.