NovelToon NovelToon
7-14: Insiden 06-06

7-14: Insiden 06-06

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Dean Jeremia Sp

"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"

Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.

Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersangka di dapurku

...Jakarta 8 Juni 2025...

Sinar matahari pagi yang terik menerobos masuk ke dalam ruangan Samuel yang berantakan. Berkas-berkas mengenai Kasus 06-06 tampak berserakan di mana-mana. Di sudut ruang kerja yang merangkap ruang tengah itu, sebuah televisi menyala, menyiarkan berita hangat mengenai perkembangan tragedi kecelakaan beruntun tempo hari.

​"...Terkuak bahwa penyebab utama dari kecelakaan beruntun tersebut adalah rem blong. Namun, hingga saat ini pihak kepolisian masih belum bisa memastikan apakah kegagalan fungsi rem ini murni karena faktor natural atau sengaja direncanakan oleh seseorang. Total korban yang terdata saat ini adalah 5 orang meninggal dunia, 10 luka berat, dan 14 luka ringan..."

​Reporter di televisi terus membacakan rincian berita dengan intonasi serius.

​"...Tepat setelah tabrakan beruntun tersebut terjadi, pemadaman listrik total langsung melanda area sekitar. Berdasarkan laporan, hal ini dipicu oleh hujan deras dan sambaran petir yang mengenai tiang listrik utama, membuat tempat kejadian perkara gelap gulita. Sekali lagi, pihak kepolisian tampaknya enggan memercayai alibi dari pihak PLN. Sementara itu, untuk kasus pembunuhan yang terjadi di malam yang sama, identitas pelaku masih belum ditemukan..."

​KLIK!

​Samuel menekan tombol remote, mematikan siaran televisi dengan kesal.

​"Apa-apaan pihak kepolisian? Yang menyelidiki setengah mati itu gue sama Ahmad, tapi mereka yang cuma ambil nama doang di media," gerutu Samuel.

​Ia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Kepalanya masih berdenyut pening akibat begadang semalaman, bergelut dengan hasil penyelidikan kasus pembunuhan yang belum membuahkan hasil apa pun.

​"Kenapa kamu enggak tolak aja permintaan Kepala Polisi kemarin?"

​Sebuah suara halus mendadak terdengar dari arah dapur, memecah keheningan apartemennya.

​"Mana bisa aku tolak, dia atasan ku... Huwaaaah! Lu ngapain di a-apartemen g-gue?!" Samuel terlonjak kaget. Jantungnya serasa mau copot saat menunjuk sosok Riza yang tiba-tiba berdiri di dapurnya.

​Wanita itu tampak mengenakan pakaian santai, lengkap dengan sebuah celemek yang membalut tubuhnya.

​Riza menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Samuel dengan dahi berkerut. "Maksud kamu? Bukannya tadi malam saat Mas Ahmad enggak bisa mengawal saksi mata—yaitu aku—karena istrinya cemburu, kamu sendiri yang setuju-setuju aja? Pukul 00.56 dini hari, aku dan Ahmad masuk ke apartemen ini dan kamu posisi sudah tertidur."

​Riza tampak bingung, tetapi Samuel jauh lebih kebingungan. Dengan tangan gemetar, Samuel buru-buru menyambar ponselnya dan mengecek riwayat obrolan. Matanya seketika membelalak. Apa yang dikatakan Riza benar adanya.

​Ternyata, tadi malam Samuel mengira chat yang dikirim oleh Ahmad hanyalah sebuah candaan belaka. Karena rasa kantuk yang teramat sangat, Samuel langsung terlelap begitu saja setelah membalas pesan tersebut tanpa memikirkan konsekuensinya.

​Rasa malu dan gugup seketika menyelimuti seluruh tubuh Samuel. "Oh... oh, ya, hm... ya. Kalau begitu gue mandi dulu. Maaf kalau apartemen gue kayak kapal pecah."

​Riza hanya merespons dengan wajah datar yang biasa saja. Bagaimanapun juga, akibat lingkaran kasus ini, Riza kini berstatus sebagai saksi kunci sekaligus tersangka potensial. Dia tidak boleh keluar sedikit pun dari pengawasan ketat seorang penyelidik BPI.

​Begitu keluar dari kamar mandi, Samuel langsung terpaku. Ia mengejutkan matanya, tidak percaya melihat kondisi apartemennya yang mendadak berubah menjadi super rapi dan bersih.

​"Oh, udah selesai mandinya? Kalau mau cari berkas, tanya aja sama aku. Aku cuma merapikannya sedikit kok," ucap Riza, masih dengan ekspresi datarnya.

​Mendengar itu, jiwa otaku Samuel mendadak kumat. Ia membusungkan dada dengan bangga. "Jangan meremehkan Tuan Kazu! Akulah penguasa w-w-waktu di dunia ini~!" seru Samuel sambil memperagakan pose aneh ala karakter anime, menunjuk ke langit-langit.

​Samuel lupa satu hal: saat ini dia sedang telanjang dada.

​Melihat tingkah konyol itu, wajah Riza yang awalnya datar mendadak merona merah akibat tersipu malu sekaligus kesal.

​TUNG!

​Sebuah sendok sup melayang di udara dan mendarat telak di dahi Samuel.

​"Cepat pakai baju, sialan!" ketus Riza, memalingkan wajahnya yang memerah.

​Samuel yang ketakutan langsung terbirit-birit berlari masuk ke dalam kamarnya. Di dalam, ia kembali dibuat takjub karena kamarnya pun sudah tertata rapi.

​Setelah selesai berpakaian rapi, Samuel melirik jam dinding. Sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (SOP), sudah waktunya dia berangkat kerja dan dia wajib membawa Riza bersamanya.

​"Ooi, tersangka! Ayo kita ke kantor BPI!" teriak Samuel dari ambang pintu kamar.

​Riza kembali muncul dari dapur, masih dengan sendok sup baru di tangannya yang terangkat tinggi.

​"Wait, wait! Jangan dilempar lagi!" seru Samuel refleks melindungi kepalanya.

​Riza mendengus pelan, menurunkan sendoknya. "Lempar? Enggak, lah. Sebelum pergi, makan dulu, sekalian bayar hutang gw kemarin. Ini sup kacang merah udah gue siapin. Waktu kita masih banyak, kan?"

​Samuel tertegun. Dengan wajah yang mendadak memerah karena malu sekaligus tersentuh, ia berjalan pelan menuju meja makan. Samuel akhirnya duduk di hadapan Riza, menyantap sup kacang merah hangat buatan sang tersangka dengan canggung namun lahap.

Di dalam ruang interogasi kantor BPI, Ahmad menyerahkan sebuah map dokumen kepada Samuel. Berkas tersebut berisi rangkuman hasil interogasi awal mengenai alibi dari masing-masing orang yang berada di lokasi saat insiden penembakan terjadi.

Samuel membuka map itu dan mulai membaca tiga nama tersangka potensial yang sudah didata oleh Ahmad:

Wisnu (Pria berbadan besar):

Memiliki alibi bahwa dirinya langsung lari tunggang-langgang menyelamatkan diri tepat setelah mendengar suara letusan tembakan di tengah kegelapan.

Yogi (Pria berbadan ideal):

Memiliki alibi bahwa saat kejadian, dia panik begitu mendengar suara tembakan dalam gelap, sehingga dia refleks langsung berlari menjauh dan menelepon polisi tanpa sempat memperhatikan keadaan sekitar atau melihat siapa pelakunya.

Riza Beatrice (Wanita berbaju korporat):

Memiliki alibi bahwa fokusnya sempat tersita sepenuhnya untuk menyaksikan kekacauan tabrakan beruntun dan momen saat lampu jalanan mendadak padam. Begitu menyadari situasinya berbahaya, ia langsung bergegas lari menyelinap ke tengah kepungan kemacetan jalan raya meminta pertolongan.

Samuel mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, menatap baris-baris alibi tersebut dengan mata menyipit.

​"Lu sebenarnya udah tahu jawabannya, ya kan, Mad?" Samuel melirik Ahmad yang duduk di sampingnya sambil asyik bermain game di ponsel.

​"Hah? Who knows. Siapa yang tahu?" Ahmad menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Kalau gue tahu dari sekarang, bukannya kita bisa bermalas-malasan, setidaknya sampai tanggal 14 nanti?"

​Samuel menghela napas panjang. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Ahmad. Setidaknya, antusiasmenya untuk memecahkan kasus ini kembali tersulut.

​Pukul 16.00 WIB

​Setelah interogasi awal selesai, ketiga tersangka dikembalikan ke bawah pengawasan ketat BPI. Wisnu ditempatkan di bawah pengawasan penyelidik baru yang merupakan anak buah Ahmad. Yogi diawasi oleh penyelidik baru dari divisi Samuel. Sementara Riza? Sesuai prosedur, dia tetap berada di bawah pengawasan langsung Samuel.

​Riza sedang sibuk memainkan ponselnya di ruang tunggu saat menyadari kedatangan Samuel dari kejauhan.

​Wanita itu sempat tertegun sesaat. Jika pagi tadi Samuel terlihat seperti pemuda kusut yang tak terurus, kini pria berwajah khas Indonesia itu tampak berbeda 180 derajat. Dengan tinggi 175 sentimeter dan bahu yang cukup lebar, Samuel terlihat begitu gagah dan rapi dalam balutan pakaian kerjanya. Tidak heran jika di usianya yang masih muda, ia sudah disegani sebagai penyelidik nomor dua paling berprestasi di instansi BPI.

​Namun, wibawa itu seketika runtuh saat Riza melihat ponsel di genggaman Samuel. Pria itu menggunakan casing HP bergambar karakter anime dengan warna yang sangat mencolok.

​Riza langsung berdiri sebelum Samuel benar-benar melangkah dekat di hadapannya.

​"Oh, lu udah siap? Baru aja gue mau telepon," ucap Samuel begitu berhadapan dengan Riza yang tingginya hanya sekitar 160 sentimeter. "Ayo pulang. Atau ada tempat yang mau lu singgahi sebentar? Buat ambil baju atau peralatan gitu? Kamar tamu di apartemen gue jarang dipakai, jadi isinya masih kosong."

​Riza yang kini mengenakan pakaian semi-formal menggeleng pelan. "Enggak usah, langsung kembali ke apartemen kamu aja."

​Hari pertama yang melelahkan itu pun akhirnya ditutup. Samuel mengalah dan memberikan kamar utamanya yang paling nyaman untuk ditiduri oleh Riza, sementara ia sendiri mengungsi ke kamar tamu yang kosong.

​Sebelum memejamkan mata di atas kasur lipatnya, Samuel menatap langit-langit kamar dengan pasrah.

​Pikir pikir... kok malah tersangkanya yang tidur di kamar utama gue, ya? batin Samuel heran pada nasibnya sendiri, sebelum akhirnya jatuh terlelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!