Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Celsi berdiri terpaku di ambang pintu.
Matanya berkedip beberapa kali, seolah takut apa yang ia lihat hanyalah halusinasi karena terlalu lama menunggu.
Aska berdiri di sana.
Bukan dengan kemeja santai seperti biasa.
Hari itu pria itu memakai setelan jas gelap yang rapi. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tenang, tapi sorot matanya lurus mengarah ke Celsi seakan tidak peduli siapa pun yang melihat.
Di sampingnya berdiri seorang wanita anggun dengan kebaya modern warna lembut. Senyumnya hangat, matanya langsung berbinar melihat Celsi.
Di belakang mereka ada beberapa orang membawa nampan seserahan, kotak buah, makanan, minuman, dan bingkisan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang dibayangkan.
Bu Dewi sampai refleks memegang dada.
"Ya Allah… ini… ini serius?"
Wanita anggun itu langsung maju sambil tersenyum.
"Assalamualaikum. Saya Ayu… mamanya Aska."
Bu Dewi langsung gugup.
"Waalaikumsalam… eh… silakan… maaf rumah kami… ini…"
Bu Ayu langsung memegang tangan Bu Dewi dengan ramah.
"Aduh jangan minta maaf. Justru kami yang minta maaf karena datang mendadak."
Beliau melirik seserahan di belakang.
"Saya sengaja bawa makanan sama minuman banyak karena saya mikir Ibu pasti belum siap apa-apa."
Pak Rahman yang dari tadi diam akhirnya ikut mendekat.
"Ini… maksudnya benar mau…"
Bu Ayu tersenyum makin lebar.
"Iya, Pak. Kami datang baik-baik. Mau melamar anak Bapak."
Sunyi.
Bu Dewi menoleh ke Celsi.
Pak Rahman menoleh ke Celsi.
Celsi menoleh ke Aska.
Aska menatap balik tanpa mengalihkan mata sedikit pun.
Jantung Celsi berdebar lagi.
Ternyata dia benar-benar datang.
Bukan omong kosong.
Bukan ucapan sesaat.
Aska melangkah maju.
"Pak."
Suara pria itu tenang.
"Minggu lalu saya sudah bilang ke Celsi."
Dia menunduk hormat.
"Saya datang hari ini buat menyampaikan niat saya secara resmi."
Pak Rahman masih terlihat belum pulih dari keterkejutan.
"Tapi… rumah kami begini… belum siap…"
Aska langsung menjawab.
"Saya nggak datang lihat rumah, Pak."
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Aska lanjut bicara.
"Saya datang buat minta izin."
Bu Dewi langsung menunduk menahan mata yang mulai berkaca.
Akhirnya rombongan dipersilakan masuk.
Rumah sederhana itu mendadak penuh.
Kotak makanan dibuka.
Minuman ditata.
Bu Ayu bahkan ikut membantu menyusun gelas di meja.
Bu Dewi sampai malu.
"Bu… jangan… tamu kok bantu."
Bu Ayu tertawa kecil.
"Loh kita mau jadi keluarga. Masa nggak boleh bantu."
Kalimat itu membuat Bu Dewi diam beberapa detik lalu ikut tertawa kecil.
Perlahan suasana mencair.
Pak Rahman mulai mengobrol dengan Aska.
Bu Ayu bercerita bagaimana anaknya itu selama ini keras kepala.
"Biasanya kalau saya suruh kenalan sama perempuan selalu nolak."
Aska langsung memijat pelipis.
"Ma…"
Bu Ayu pura-pura tidak dengar.
"Eh giliran kenal Celsi, pulang-pulang langsung bilang mau serius."
Celsi langsung salah tingkah.
Bu Dewi menoleh.
"Celsi… serius?"
Celsi menunduk.
Pipinya merah.
"Iya, Bu…"
Pak Rahman menghela napas panjang.
Lalu menatap Aska.
"Aska."
"Iya Pak."
"Saya cuma mau tanya satu."
Aska duduk lebih tegak.
Pak Rahman bicara pelan.
"Kamu tahu masa lalu anak saya?"
Ruangan sedikit sunyi.
Celsi langsung menegang.
Tangan di pangkuannya mengepal.
Aska menjawab tanpa ragu.
"Saya tahu."
Pak Rahman diam.
Aska melanjutkan.
"Saya tahu semuanya."
Tatapannya berpindah ke Celsi.
"Dan saya tetap datang."
Celsi langsung menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Aska lanjut bicara.
"Saya nggak datang buat menyelamatkan Celsi."
Semua menatap.
"Saya datang karena saya mau hidup sama dia."
Bu Dewi menutup mulut.
Pak Rahman mengangguk pelan.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lalu pria itu menghela napas.
"Saya orang sederhana."
Beliau tersenyum kecil.
"Saya nggak punya syarat aneh-aneh."
Pak Rahman menoleh ke Celsi.
"Yang penting anak saya bahagia."
Lalu kembali ke Aska.
"Kalau memang niat kamu baik…"
Beliau mengulurkan tangan.
"Saya terima lamaran ini."
Ruangan langsung riuh.
Bu Ayu langsung tepuk tangan kecil.
"Alhamdulillah!"
Celsi membeku.
Benar diterima?
Aska menatapnya.
Lalu tersenyum.
Kecil.
Tapi cukup membuat jantung Celsi berantakan lagi.
Bu Ayu langsung memeluk Bu Dewi.
Bu Dewi ikut tertawa sambil mengusap mata.
Seserahan dibuka.
Semua makan bersama.
Foto-foto.
Suasana hangat.
Bahkan Aska sempat membantu mengambil piring dan membuat Bu Dewi makin tidak enak.
Beberapa jam berlalu.
Sore menjelang.
Rombongan akhirnya pamit.
Sebelum masuk mobil, Aska berdiri di depan Celsi.
Tidak terlalu dekat.
Tidak seperti minggu lalu.
Dia hanya menatap Celsi.
"Gimana?"
Celsi menunduk.
"Kamu… serius banget ya."
Aska tersenyum tipis.
"Aku nggak pernah bercanda soal kamu."
Lalu dia masuk mobil.
Dan pergi.
Begitu mobil hilang dari ujung jalan…
Baru terasa.
Tetangga mulai keluar.
Kepala muncul dari pagar.
Bisik-bisik.
Lalu…
Romlah datang paling depan.
"BU DEWIII!"
Widuri dan Ani ikut menyusul.
"Heh! Tadi itu siapa?!"
Bu Dewi langsung ketawa malu.
"Cuma… tamu."
Romlah melotot.
"Tamu apaan bawa seserahan segunung?!"
Ani langsung menunjuk Celsi.
"Jangan bohong! Itu lamaran ya?!"
Celsi langsung menutup wajah.
Widuri tertawa.
"Pantes dari tadi mobil mewah!"
Romlah langsung tepuk tangan.
"YA AMPUN CELSI! Dapet calon begini!"
Lalu tiba-tiba dia menoleh kanan kiri.
Wajahnya berubah jahil.
"Eh tapi hati-hati ya…"
Ani langsung nyengir.
Widuri sudah tahu arah pembicaraan.
Romlah menurunkan suara.
"Jangan sampai direbut lagi sama yang ono."
Mereka bertiga langsung saling pandang.
Lalu…
"Hahahahaha!"
Ani ikut menimpali.
"Iya lho! Suruh dijaga! Jangan kasih kesempatan!"
Widuri pura-pura berbisik.
"Nanti ada yang bilang, eh kebetulan jodoh."
Mereka bertiga makin ngakak.