NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 KUNCI KEDUA HARI ITU

Sales itu membawa Arkan ke area mobil keluarga premium. Arkan melihat beberapa unit. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak berlama-lama. Ia membuka pintu, melihat kabin, mengecek kursi, ruang kaki, fitur keselamatan, dan bagasi.

Satu unit SUV hitam menarik perhatiannya.

Bukan yang paling mahal di showroom.

Bukan yang paling mencolok.

Tapi cukup kuat, elegan, dan nyaman. Cocok untuk membawa ibu kontrol rumah sakit, mengantar Naya urus kampus, atau dipakai Arkan bergerak tanpa terlihat seperti sedang memamerkan kekayaan baru.

Arkan masuk ke kursi belakang sebentar.

Dingin.

Senyap.

Ruangnya lega.

Ia membayangkan Bu Sari duduk tanpa harus terjepit di tengah motor. Membayangkan Naya membawa buku tanpa takut hujan. Membayangkan dirinya pergi ke kampus tanpa mesin tua yang batuk-batuk di parkiran.

“Yang ini,” kata Arkan sambil turun.

Sales itu berkedip. “Bapak ingin test drive dulu?”

“Tidak perlu.”

“Mungkin ingin melihat tipe lain?”

“Tidak perlu.”

Sales itu menelan ludah kecil. “Baik, Pak. Untuk pembayaran, kami bisa bantu skema kredit, leasing, atau—”

“Tunai.”

Kata itu membuat sales tersebut berhenti bicara.

Beberapa detik kemudian, senyumnya berubah. Lebih rapi. Lebih hormat. Lebih sadar.

“Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar, saya panggil manajer.”

Arkan mengangguk.

Tidak lama kemudian, manajer showroom datang langsung. Pria itu memperkenalkan diri dengan sangat sopan, lalu membawa Arkan ke ruang tunggu khusus. Kopi ditawarkan. Air mineral disiapkan. Dokumen unit ditunjukkan.

Arkan memeriksa secukupnya.

Untuk detail legal dan pembayaran, ia memotret dokumen lalu mengirimkannya kepada Olivia.

Beberapa detik kemudian, Olivia membalas.

[Dokumen awal aman. Saya hubungkan dengan bank. Jika Bapak setuju, transaksi bisa dilanjutkan.]

Arkan mengetik singkat.

[Lanjutkan.]

Tidak ada telepon panjang.

Tidak ada instruksi berlebihan.

Olivia bekerja di belakang.

Arkan memutuskan di depan.

Itu jauh lebih enak.

Sistem muncul.

[Model kerja ideal tercapai.]

[Tuan Rumah mengambil keputusan.]

[Olivia Tan mengurus jalur legal.]

[Sistem mengawasi agar Tuan Rumah tidak kembali menjadi manusia diskon.]

Arkan hampir tertawa, tetapi ia menahannya.

Manajer showroom kembali dengan wajah lebih ramah setelah mendapat konfirmasi bank. Cara bicaranya berubah halus, bukan berlebihan, tetapi jelas lebih hati-hati.

“Pak Arkan, pembayaran sudah masuk proses. Unit bisa kami siapkan hari ini. Pelat sementara dan dokumen pengambilan akan kami urus.”

“Bagus.”

“Apakah kendaraan akan kami antar ke alamat Bapak?”

Arkan berpikir sebentar.

“Tidak. Saya bawa sendiri.”

Manajer tampak sedikit kaget. “Baik, Pak. Tentu bisa.”

Sistem langsung memberi komentar.

[Keputusan: dapat diterima.]

[Catatan: Tuan Rumah akhirnya akan mengemudi kendaraan yang tidak mengancam harga diri.]

Setelah semua selesai, manajer menyerahkan kunci kepada Arkan.

“Selamat, Pak Arkan.”

Arkan menerima kunci itu.

Kunci kedua dalam satu hari.

Pagi tadi kunci rumah.

Sekarang kunci mobil.

Ia menatap benda kecil itu tanpa ekspresi berlebihan. Tidak ada foto. Tidak ada pose. Tidak ada kalimat sok bijak. Ia hanya memasukkannya ke saku, lalu berdiri.

“Terima kasih.”

Sales pertama berdiri tidak jauh dari pintu. Wajahnya masih tersenyum, tetapi ada rasa canggung di matanya. Mungkin ia ingat tatapan singkatnya pada sepatu Arkan tadi.

Arkan melewatinya tanpa menyinggung.

Ia tidak perlu membuat orang itu malu.

Cukup biarkan kejadian hari ini menjadi pelajaran kecil baginya.

Di luar showroom, SUV hitam itu sudah diparkir di depan. Bodinya mengilap di bawah cahaya siang Pontianak. Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup membuat beberapa orang di showroom menoleh.

Arkan masuk ke kursi pengemudi.

Tangannya menyentuh setir.

Hening di dalam kabin terasa berbeda dari semua kendaraan yang pernah ia pakai. Tidak ada getaran kasar. Tidak ada bau bensin tua. Tidak ada rasa waswas apakah mesin akan mati di tengah jalan.

Ia menyalakan mobil.

Mesinnya halus.

Sistem berbicara dengan nada yang terdengar puas.

[Transportasi utama diperbarui.]

[Status: layak.]

[Catatan: motor tua resmi pensiun dari tugas memalukan.]

Arkan menghela napas pelan.

“Motor itu tidak memalukan.”

[Benar.]

[Motor itu bersejarah.]

[Namun sejarah tidak harus terus dipakai harian.]

Arkan terdiam sebentar.

Kali ini, ia setuju.

Ia membuka pesan dari Olivia.

[Pak, rumah sedang diproses. Tim pindahan sudah menuju alamat lama. Barang penting akan dibawa ke rumah baru. Saya juga mulai menyiapkan dokumen awal perusahaan induk sesuai kebutuhan Bapak.]

Arkan menatap pesan itu.

Perusahaan induk.

Nama itu sempat muncul tadi.

Arkan Pradipta Holdings.

Terlalu besar?

Mungkin.

Tapi ia tidak ingin terus berpikir seperti orang yang minta izin untuk tumbuh.

Ia mengetik balasan.

[Siapkan. Nama: Arkan Pradipta Holdings.]

Balasan Olivia datang cepat.

[Baik, Pak. Saya proses.]

Tidak ada “sebaiknya”. Tidak ada “jangan dulu”. Tidak ada “tunggu”. Olivia mengikuti keputusan.

Arkan menyukai itu.

Sistem juga tampaknya menyukai itu.

[Entitas utama dikonfirmasi.]

[Nama: Arkan Pradipta Holdings.]

[Fungsi: payung legal untuk aset, investasi, properti, kendaraan, pendidikan, dan ekspansi bisnis.]

[Status: pembentukan dimulai.]

Arkan menatap layar beberapa detik.

Lalu sebuah ide muncul.

Bukan tentang keluarga.

Bukan tentang rumah.

Bukan tentang mobil.

Tentang dirinya sendiri.

Kampus.

Ia masih mahasiswa cuti. Status itu belum selesai. Hidupnya naik terlalu cepat, tetapi ada satu bagian hidup lama yang harus ia hadapi langsung.

Bukan karena butuh ijazah untuk menjadi kaya.

Tetapi karena ia tidak ingin ada bab dalam hidupnya yang berhenti hanya karena dulu ia tidak punya uang.

Arkan membuka kontak Dimas.

Ia mengetik pesan singkat.

[Dim, aku mau ke kampus hari ini. Dosen pembimbing ada?]

Balasan Dimas tidak langsung masuk.

Arkan meletakkan ponsel di konsol.

Ia menatap jalan keluar showroom.

Sistem muncul.

[Prioritas baru terdeteksi.]

[Penyelesaian status kuliah.]

[Catatan: baik. Tuan Rumah akhirnya mengingat dirinya sendiri tanpa harus diancam.]

Arkan memegang setir.

“Setelah urusan perusahaan dimulai, aku ke kampus.”

[Disetujui.]

[Catatan tambahan: disarankan membeli sepatu terlebih dahulu.]

Arkan menunduk melihat sepatunya.

Usang.

Bersih, tapi usang.

Ia diam beberapa detik, lalu menyalakan lampu sein.

“Baik. Sepatu dulu.”

[Sistem menyambut kemajuan peradaban tahap kedua.]

Arkan tersenyum tipis.

Mobil baru itu bergerak keluar dari showroom.

Di belakang, motor lama masih menunggu untuk dipindahkan ke garasi rumah baru.

Di satu sisi kota, rumah lama mulai dikosongkan oleh tim pindahan.

Di sisi lain, Olivia mulai membentuk perusahaan induk.

Dan di depan, kampus yang pernah ia tinggalkan karena uang akan segera melihat Arkan Pradipta kembali.

Bukan sebagai pemuda yang meminta keringanan.

Bukan sebagai mahasiswa cuti yang menunduk.

Melainkan sebagai seseorang yang sudah memutuskan bahwa hidupnya tidak akan lagi diatur oleh kekurangan.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!