NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Istana yang Asing

Pagi itu cahaya matahari menembus jendela besar rumah megah itu, memantul ke lantai marmer yang bersih, memunculkan pola cahaya yang membuat ruangan tampak seperti lukisan hidup. Laura Roberts mengerutkan alisnya, menatap sekeliling. Setiap sudut ruangan dipenuhi kemewahan yang tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpi paling liar di dunia sihir.

Kristal gantung berkilauan di langit-langit tinggi, karpet merah tebal menutupi lantai luas, dan perabotan klasik yang tampak berat dan mahal memenuhi setiap ruang. Semua terasa… asing. Terlalu nyata, terlalu hidup, dan terlalu mewah untuk Laura yang baru saja beradaptasi dengan dunia manusia.

Ia melangkah perlahan, matanya menelusuri setiap detail. Tangannya menyentuh permukaan meja kayu halus, dan ia bisa merasakan kualitasnya, teksturnya yang jauh berbeda dari apa pun yang pernah ia sentuh di sekolah sihir. Di dunia sihir, segala sesuatu memiliki fungsi dan batasan. Di sini, segala sesuatu tampak lebih… bebas, namun juga membingungkan.

Laura berbalik saat suara Martin terdengar di belakangnya.

“Kamu siap?”

Ia menoleh, melihat Martin duduk di kursi roda dengan tenang, wajahnya tetap dingin namun memancarkan sesuatu yang berbeda—kepercayaan dan ketenangan yang tidak ia kenal sebelumnya.

“Siap?” Laura mengulang, bingung. Ia memicingkan mata, menatap kursi roda itu. “Aku… aku harus mendorong kursimu?”

Martin mengangkat alis sedikit, senyum tipis tergores di wajahnya. “Ya. Atau kamu mau aku tetap diam di sini selamanya?”

Laura mengerutkan dahi. Di dunia sihir, kursi roda tidak ada. Tidak ada kebutuhan untuk benda yang membatasi gerak seseorang. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara kerjanya, bagaimana cara membuat Martin bergerak dengan aman. Rasanya seperti sesuatu yang… terlalu manusiawi dan rumit.

“Eh… bagaimana aku… maksudku…” Laura mulai ragu, tangannya meraba lengan kursi roda itu, bingung harus mulai dari mana.

Martin menghela napas, tetap tenang. “Apa kamu tidak tahu cara menggunakan kursi roda? Lagi-lagi melantur, ya?”

Laura tersipu. Ia merasa bodoh. Di dunia sihir, semua hal memiliki logika yang ia kuasai. Di sini… semua berbeda.

Martin hanya menatapnya, sabar namun tetap dingin. “Tenang. Jangan panik. Hanya dorong perlahan.”

Laura menggigit bibir, berusaha memahami mekanisme kursi itu. Roda yang seharusnya sederhana tampak asing di tangannya. Ia mendorong sedikit, tapi kursi bergerak terlalu cepat dan hampir menabrak meja.

Martin menatapnya, tidak marah. “Perlahan.”

Namun Laura tetap gugup. Ia menahan napas, mencoba mengatur tenaga dan arah.

Dari pintu, suara Nyonya Quenza terdengar. “Jangan marahi istrimu. Baru siuman, Laura.”

Laura menoleh, wajahnya memerah. “Aku… aku cuma… ingin melakukannya dengan benar.”

Martin tersenyum tipis, matanya menatap Laura dengan tatapan berbeda dari sebelumnya. “Aku tahu. Santai saja. Kamu akan terbiasa.”

Laura menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mencoba dorongan lagi, kali ini lebih hati-hati. Kursi roda bergerak perlahan, stabil. Hatinya berdebar, tapi ada rasa kemenangan kecil yang ia rasakan.

Ia menatap Martin yang duduk diam, wajahnya tampan dan tegas, namun kali ini terlihat lebih lembut, menunggu dengan sabar. Laura tidak pernah merasakan ketenangan seperti ini sebelumnya. Di dunia sihir, semua orang menilai, menekan, dan menantang. Di sini… ada kesabaran yang nyata, sesuatu yang tidak bisa ia paksa atau kontrol.

Nyonya Quenza tersenyum melihat interaksi itu. “Kamu lihat, Martin tidak keberatan. Dia cuma ingin kamu belajar perlahan-lahan. Tidak ada yang salah jika kamu tidak langsung tahu semuanya.”

Laura mengangguk pelan. Rasa canggungnya berkurang sedikit, tapi ia tetap merasa asing dengan dunia ini. Semua ini begitu nyata, begitu hidup, dan terlalu berbeda dari dunia sihir yang selama ini menjadi rumahnya.

Martin mulai bergerak perlahan, didorong oleh tangan Laura yang mulai terbiasa. Ia tersenyum tipis, menatap Laura. “Bagus. Lebih stabil sekarang.”

Laura tersenyum tipis, sedikit lega. Rasanya aneh, tapi juga… memuaskan. Ia menyadari sesuatu—di dunia manusia, tidak ada yang bisa dikendalikan sepenuhnya. Tidak ada mantra yang bisa memastikan segalanya berjalan sempurna. Segalanya harus dirasakan, dijalani, dan dihadapi.

Ia menatap ke sekeliling lagi, rumah mewah ini, kursi roda, Martin, dan Nyonya Quenza. Semua terasa seperti lukisan hidup yang asing, namun… menenangkan. Ada sesuatu yang hangat di sini, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di dunia sihir.

Martin menatap Laura, matanya tajam tapi lembut. “Kamu akan terbiasa,” katanya lagi. Kali ini nada suaranya berbeda, tidak dingin, tapi penuh keyakinan.

Laura menelan ludah, menyadari betapa asingnya ia di dunia ini. Tapi juga menyadari satu hal penting—di sini, ia bisa belajar. Bukan tentang sihir, bukan tentang kekuatan. Tapi tentang kehidupan. Tentang manusia. Tentang… merasakan dan menerima.

Ia mengangguk perlahan. “Aku akan mencoba.”

Martin tersenyum tipis. “Itu sudah cukup.”

Dan untuk pertama kalinya, Laura merasa dunia manusia ini—dengan segala kemewahan, kelembutan, dan aturan asingnya—bisa menjadi rumah baru baginya.

Bukan hanya tempat untuk hidup.

Tapi tempat untuk benar-benar merasakan apa artinya menjadi manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!