NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

***

Penawar racun militer dari botol perak Kaelen memang berhasil merenggut nyawa Arthur kembali dari gerbang maut, namun racun pelumpuh milik Shadow Blade bukanlah herba biasa. Dosis yang masuk ke dalam tubuh sang panglima terlalu pekat, menyisakan residu mematikan yang mulai membakar organ dalam serta merusak kesadarannya.

Selama tiga hari tiga malam berikutnya, pondok kayu kecil di desa perbatasan itu diselimuti oleh atmosfer yang gila. Badai salju di luar telah mereda menjadi keheningan yang membeku, namun di dalam kamar sempit itu, sebuah badai yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kepala sang Putra Mahkota.

Arthur tidak pernah membuka matanya dengan waras. Tubuhnya yang besar dan dipenuhi otot-otot keras itu bergetar hebat di atas ranjang kayu kasar. Keringat dingin membanjiri pelipisnya, membuat rambut gelapnya basah dan menempel di dahi. Suhu tubuhnya naik begitu tinggi hingga kulitnya terasa panas membakar saat disentuh.

Lilianne tidak meninggalkan sisi ranjang itu. Dengan perutnya yang membuncit besar memasuki usia tujuh bulan, ia duduk di kursi kayu berkaki pendek, mengabaikan nyeri tumpul di punggungnya sendiri. Kain linen basah digantinya setiap setengah jam sekali, mengompres dahi, leher, dan dada Arthur yang bidang. Tidak ada kelembutan romantis dalam gerakannya ini adalah kalkulasi dingin seorang wanita yang tahu bahwa jika pria di ranjang ini mati, maka runtuhlah seluruh dinding pelindungnya.

Namun, di malam ketiga, kepatuhan taktis Lilianne dihantam oleh pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Tidak... jangan... Yang Mulia..." Arthur mulai meracau. Suaranya tidak lagi terdengar seperti bariton yang berwibawa dan penuh ancaman, melainkan serak, parau, dan dipenuhi ketakutan anak kecil.

Lilianne menghentikan gerakan tangannya yang sedang memeras kain di dalam baskom kayu. Ia menatap wajah Arthur yang berkerut dalam, seolah pria itu sedang dikejar oleh iblis di dalam mimpinya.

"Ibu... Ibu, bangun..." rintih Arthur. Setitik air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, membelah garis rahangnya yang tegas. "Ibu... lehermu... darahnya tidak mau berhenti... Ibu!"

Jantung Lilianne berdesir aneh. Ibu? Mendiang Ratu Seraphina?

"Jangan buang aku... Yang Mulia Kaisar..." Arthur kembali meracau, tubuhnya menegang, tangan besarnya mencengkeram sprei linen dengan begitu kencang hingga kain itu robek. "Aku akan menjadi seperti Arthemus... aku akan membunuh mereka semua untukmu... Tolong, jangan masukkan aku ke dalam kegelapan itu lagi... sakittt..."

Lilianne terpaku di kursinya. Pria yang seminggu lalu memperlakukannya bagai binatang peliharaan di Aethelgard, yang merobek gaunnya dan menindihnya dengan kebrutalan seekor monster, kini sedang menangis layaknya anak anjing yang terbuang di dalam igauannya. Di dalam kamar yang sepi itu, rahasia paling kelam dari masa kecil Arthur terkoyak di depan mata perak Lilianne. Pria ini tidak terlahir sebagai monster dia dibentuk, dipecahkan, dan dibangun kembali oleh kekejaman Kaisar Valerius hingga kehilangan jiwanya sendiri.

"Begitu besarnya ketakutanmu pada ayahmu sendiri, yang mulia," bisik Lilianne sangat pelan, menatap kain kompres yang kini sudah menghangat di dahi suaminya.

Memasuki sepertiga malam terakhir, saat lampu minyak mulai kehabisan bahan bakar dan menari-nari redup di dinding, deru napas Arthur mendadak berhenti bergejolak. Kamar itu menjadi teramat sunyi.

Lilianne yang kelelahan sempat menyandarkan kepalanya di tepi kasur, tangannya masih memegang sisa kain kompres. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika sebuah gerakan kasar terjadi di atas ranjang.

Mata Arthur terbuka lebar secara tiba-tiba. Manik matanya yang biru gelap tampak buram, pecah, dan diselimuti oleh delusi murni akibat demam yang belum turun. Halusinasi merenggut seluruh kesadaran logisnya. Di dalam pandangannya yang kabur, sosok wanita berambut panjang perak yang sedang bersandar di dekatnya bukanlah Lilianne.

"Ibu...?" suara Arthur bergetar hebat. "Kau... kau kembali? Kau tidak mati?"

"Yang Mulia?" Lilianne tersentak, mencoba menegakkan tubuhnya dan mundur. "Yang Mulia Arthur, Anda sudah sadar? Ini saya—"

"Jangan pergi lagi!"

Sebelum Lilianne sempat menyelesaikan kalimatnya atau menjauh, sebuah kekuatan yang luar biasa besar menghantam tubuhnya. Arthur bangkit dari ranjang bagai orang kesetanan. Tangan kanannya yang besar menembus udara, mencengkeram pinggang Lilianne, dan dengan satu hentakan panik, ia menarik tubuh mungil istrinya ke atas ranjang, membenamkannya ke dalam dekapannya yang luar biasa erat.

"Nnghh—!" Lilianne memekik tertahan.

Tubuh besar Arthur menindih sebagian tubuhnya, memeluknya seolah-olah Lilianne adalah satu-satunya jangkar yang tersisa di tengah badai yang menghanyutkannya. Cengkeraman tangan Arthur di punggung dan pinggang Lilianne begitu kencang, menekan dada mereka hingga nyaris tidak ada jarak untuk bernapas.

Rasa tidak nyaman yang luar biasa langsung menjalar ke perut Lilianne yang membuncit besar. Janin di dalamnya memberikan tendangan protes akibat tekanan mendadak dari berat badan suaminya. Punggung Lilianne nyeri, dan napasnya seketika menjadi pendek.

"Yang Mulia! Lepaskan... Yang Mulia Arthur, ini sakit!" rintih Lilianne, tangannya mencoba mendorong dada bidang Arthur yang panas dan basah oleh keringat. "Saya bukan ibu Anda! Saya Lilianne! Lepaskan saya, Yang Mulia!"

Namun, Arthur berada di dalam dunia teritorinya yang hancur. Di dalam otaknya yang terbakar demam, jika ia melepaskan wanita berambut perak ini sekarang, maka ibunya akan kembali ke dalam kubur dan ia akan kembali dikurung di dalam ruang bawah tanah yang gelap oleh Kaisar.

"Tidak... tidak akan kubiarkan mereka mengambilmu lagi," racu Arthur, suaranya pecah, terdengar putus asa dan gila di saat yang bersamaan. Ia membenamkan wajahnya yang panas di ceruk leher Lilianne, menghirup aroma mawar yang bercampur dengan bau obat-obatan dengan rakus. "Aku sudah menjadi kuat, Ibu... aku sudah membunuh Arthemus... aku sudah mengambil takhtanya. Mengapa kau masih ingin pergi? Tetaplah di sini... kumohon, tetaplah di sini..."

"Arthur, dengarkan saya!" Lilianne mendesis, air mata kesakitan mulai menetes dari sudut matanya. Tekanan pada perutnya membuat rahimnya kembali terasa kencang, sebuah alarm bahaya yang membuatnya ketakutan setengah mati. "Yang Mulia... bayinya... Anda bisa menyakiti anak kita! Kumohon, sadarlah!"

Mendengar kata bayi dan anak kita, seberkas kesadaran yang sangat tipis tampaknya berhasil menembus dinding halusinasi Arthur. Tubuhnya yang besar menegang di atas Lilianne. Gerakan meracaunya terhenti, meski ia masih menolak untuk melonggarkan dekapannya.

Lilianne menyadari perubahan itu. Gadis berusia enam belas tahun itu menahan napasnya, mencoba menekan seluruh rasa jijik dan sakit fisiknya demi keselamatan diri dan kandungannya. Ia tahu, melawan Arthur dengan fisik di saat pria ini sedang gila adalah tindakan bunuh diri. Ia harus menggunakan cara yang berbeda cara yang semalam ia ikrarkan di depan cermin yang retak. Ia harus mengendalikan monster ini dengan kelembutan yang palsu.

Dengan tangan yang gemetar, Lilianne perlahan mengangkat lengannya, melingkarinya di balik punggung Arthur yang lebar dan panas. Ia mengusap rambut gelap suaminya yang berantakan dengan gerakan yang teratur, mencoba meniru gerakan seorang ibu yang menenangkan anaknya.

"Saya di sini, Yang Mulia..." bisik Lilianne, suaranya diatur sedalam dan selembut mungkin, meskipun hatinya berdegup liar karena ketakutan dan kebencian. "Saya tidak akan pergi ke mana pun. Saya ada di sini, di samping Anda."

Arthur menggeram kecil di leher Lilianne, seperti seekor binatang buas yang perlahan-lahan ditenangkan oleh pawangnya. "Kau... tidak akan meninggalkanku dalam kegelapan?"

"Tidak, Yang Mulia. Saya akan tetap di sini," jawab Lilianne, air matanya menetes mengenai bahu Arthur. "Tetapi Anda harus melonggarkan pelukan ini. Anda menekan perut saya, Yang Mulia. Anak kita... dia kesakitan di dalam sana."

Mendengar kalimat itu, Arthur perlahan-lahan mengangkat kepalanya dari leher Lilianne. Matanya yang biru gelap mulai sedikit fokus, meski masih tampak sayu dan merah akibat sisa racun. Ia menatap wajah Lilianne yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Sinar lampu minyak memperlihatkan wajah Lilianne yang basah oleh air mata, dengan bibir yang gemetar menahan sakit.

Paranoia Arthur berangsur surut, digantikan oleh kesadaran yang dingin bahwa wanita di bawahnya ini bukanlah hantu masa lalunya, melainkan istrinya—tawanannya, perisainya, dan mawar utara miliknya.

"Lili...?" bisik Arthur parau. Suaranya kembali rendah dan kaku.

"Iya, Yang Mulia. Ini saya... Lilianne," jawab Lilianne dengan sisa napasnya. "Bisakah Anda bergeser sedikit? Tubuh Anda... terlalu berat untuk saya."

Arthur segera menggeser tubuhnya ke samping, melepaskan tekanan pada perut Lilianne, namun ia tidak sepenuhnya melepaskan gadis itu. Salah satu tangan besarnya yang kasar langsung mendarat di atas perut buncit Lilianne, mengelusnya dengan gerakan yang protektif namun gemetar, sementara tangan lainnya tetap melingkar di pinggang Lilianne, mengunci tubuh istrinya agar tetap merapat di dadanya.

Mereka berbaring berdampingan di atas ranjang kayu yang sempit itu dalam keheningan yang panjang. Napas Arthur yang panas masih terasa di kening Lilianne, sementara efek penawar racun tampaknya mulai bekerja kembali untuk menekan demamnya setelah fase delirium yang hebat tadi.

Lilianne meletakkan tangannya di atas tangan Arthur yang berada di perutnya. Ia bisa merasakan denyut nadi Arthur yang masih tidak stabil melalui kulit tangannya. Di dalam kegelapan malam desa perbatasan ini, Lilianne merenungkan apa yang baru saja terjadi.

Ia telah melihat kelemahan terbesar sang panglima perang. Pria yang ditakuti oleh seluruh benua, naga ambisius yang membuat Kaisar Agung Valerius ketakutan hingga mengirim Shadow Blade untuk membunuh keturunannya, ternyata hanyalah seorang anak yang hancur dan trauma akibat kehilangan ibunya dan siksaan ayahnya. Kegilaan Arthur, obsesinya untuk mengurung Lilianne, perilakunya yang brutal semuanya bersumber dari ketakutan ekstrem akan kehilangan dan pengkhianatan.

"Kau sangat kuat di luar, Arthur, tapi di dalam, kau sudah mati sejak lama," batin Lilianne, menatap garis wajah suaminya yang perlahan mulai rileks dalam tidur yang sesungguhnya.

Lilianne tahu ini adalah kesempatan emas baginya. Sekarang ia memegang kunci untuk mengendalikan batin Arthur. Jika ia bisa memanipulasi luka masa kecil pria ini, jika ia bisa berpura-pura menjadi satu-satunya cahaya yang menyembuhkan traumanya, maka Arthur akan menjadi anjing pelindung yang paling setia untuknya dan bayinya. Arthur akan menghancurkan siapa pun yang diperintahkan oleh Lilianne termasuk Kaisar Valerius sendiri hanya agar Lilianne tidak pergi meninggalkannya.

"Yang Mulia..." bisik Lilianne sangat pelan, memastikan pria itu sudah benar-benar terlelap dalam fase pemulihannya. "Anda telah memilih saya sebagai mawar Anda, dan Anda telah berjanji menjadi tembok tertinggi untuk saya. Maka dari itu, jadilah tameng yang baik di ibu kota nanti. Terima semua anak panah dari ayah Anda untuk saya, karena pada akhirnya... akulah yang akan menulis akhir dari takdir kita."

Lilianne memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya yang kelelahan beristirahat di dalam dekapan hangat namun berbahaya dari pria yang paling ia benci sekaligus ia butuhkan saat ini. Di dalam korsetnya yang robek di lantai, cincin Ratu Isolde masih tersimpan, sebuah kartu as yang akan ia gunakan saat bidak-bidak catur di ibu kota sudah mulai bergerak sesuai dengan rencananya.

Malam itu, di sebuah desa kecil yang terisolasi dari dunia luar, sang Mawar tidak lagi hanya sekadar bertahan hidup dari keganasan sang Bayangan; ia telah mulai menjinakkan sang naga untuk menjadikannya senjata pembunuh yang paling mematikan bagi takhta kekaisaran.

****

Bersambung...

1
Runi Mayantri
akhirny trketuk jga hatimu yg dingin arthur 😄
Runi Mayantri
mkin seru !!!!💪💪💪💪
Runi Mayantri
knpa kaisarny kejem bget,arthur jga kan anakny
Runi Mayantri
kereeeeen
Runi Mayantri
semangat ya thor
Runi Mayantri
mantul bgt critanya
Runi Mayantri
waaaw,baru pembukaan udah seru
Runi Mayantri
aduh,sakitnya
meymonic
syukur dh mulai warasssss🤭
meymonic
aaaa hal hal yang seru akan segera di mulaiiiiiiii🤭😍
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune ya 🫶😚
total 1 replies
meymonic
alur nya bagus
Heresnanaa_: maaciw kak🫶🥰
total 1 replies
meymonic
ga sabarrr thorrrr, lanjuttt dongggg😍🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶🥰
total 1 replies
meymonic
bagussssssssssss👍👍👍👍👍😍😍
meymonic
thorrr bagusss bngtttttt😍😍😍😍
Heresnanaa_: hai Kaka, makasih yaaa🫶
happy reading 🥰🫶
total 1 replies
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🥰
total 1 replies
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!