NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.23. Ratih menjaga jarak

Setibanya kembali di kota, Ratih kembali menjaga jarak dengan Dimas. Itu semua dia lakukan untuk menjaga keamanan Dimas dari

amukan Regan setelah mengetahui dirinya dan Dimas terjebak dalam mobil saat meninjau proyek baru kemarin.

Meskipun Regan sudah menerima semua penjelasan dari Dimas tentang kenapa mobil kantor yang tiba-tiba saja mogok dan membuat mereka berdua terjebak dalam mobil sampai mereka bermalam di penginapan.

Dimas ingin melindungi Ratih dari amarah Regan yang sangat pencemburu itu, Dimas tidak mau Regan menyakiti Ratih makanya dia yang bertanggung-jawab atas kejadian kemaren itu pada Regan.

Tapi Ratih tahu siapa Regan, meskipun dia mau mendengarkan penjelasan dari Dimas tapi di hatinya pasti masih menyimpan amarah pada Dimas.

Dan untuk meredam itu semua Ratih harus bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi percakapan panjang antara dirinya dan Dimas malam itu.

 

...----------------...

Pagi ini suasana di kantor tetap sama seperti hari-hari kemaren, tapi sedikit ada binar bahagia di dalam hati Ratih. Dia bahagia karena Dimas sudah tahu tentang Regan yang saat ini masih dalam penyelidikan oleh Dimas dan Kenzo.

Ratih masuk kedalam ruang kantornya dan di sambut oleh Cindy sahabat baiknya itu.

"Rat, bagaimana kabar kamu? Apa kamu baik-baik saja setelah semalam terjebak di mobil yang mogok itu sama Pak Dimas? Buru Cindy sambil memegang tangan Ratih tidak sabar ingin tahu jawabannya.

"Ya, aku baik-baik saja Cin," Ratih menipiskan bibirnya tersenyum pada Cindy.

"Bagaimana perasaan kamu waktu tahu mobil yang kalian tumpangi itu mogok tiba-tiba?"

"Ya...aku panik apalagi di sana tempatnya sepi dan gelap banget," Ratih menjelaskan.

Cindy mengerutkan keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu kayaknya seorang penyidik yang sedang menanyai kliennya.

"Kamu pastinya sangat ketakutan waktu itu dan aku yakin Pak Dimas pasti berusaha menenangkan kamu dengan sikapnya yang lembut. Iya kan?" Cindy masih penasaran.

"Dimas berusaha memperbaiki mobil itu agar bisa hidup lagi meski kondisinya tidak cukup baik, agar kita bisa pulang kembali ke kota."

Cindy kembali mengerutkan keningnya, kali ini dia menatap Ratih sambil berkata," kamu tadi belum menjawab pertanyaan ku Rat?"

"Pertanyaan yang mana?" Ratih pura-pura lupa karena dia memang lagi tidak mau menjawab pertanyaan Cindy itu.

"Yang tadi...yang aku tanya sikap Pak Dimas sewaktu menangkan kamu saat situasi mobil mogok itu loh....," nada suara Cindy kesal.

"Apaan sih Cin, sikap Dimas biasa aja kok,"

"Halah... kamu pasti bohong. Aku tahu Rat, Tuhan itu maha adil, Momen kalian terjebak di mobil yang mogok itu adalah suatu karunia agar kamu dan Dimas bisa makin dekat agar kamu bisa mendapatkan tempat nyaman yang selama ini belum pernah kamu dapatkan. Iya kan."

"Kamu ngomong apa sih kok jadi ngelantur kemana-mana," elak Ratih, padahal di dalam hatinya yang paling dalam dia mengiyakan perkataan Cindy yang semuanya itu benar. Ratih memang sudah menemukan tempat nyaman untuk bercerita dan itu adalah Dimas.

Obrolan kedua sahabat ini seketika terhenti saat Bu Bella masuk dan menghampiri meja kerja Ratih.

"Rat, tolong dokumen ini kamu antarkan ke ruangan Pak Dimas, sekarang," perintah Bu Bella pada Ratih.

Ratih menganggukkan kepalanya pelan sambil menerima dokumen dari tangan Bu Bella.

Kemudian Ratih beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar dari ruangan sambil membawa dokumen yang di serahkan Bu Bella tadi.

"Mudah-mudahan kalian berjodoh, aku gak mau kamu tertekan terus kalau masih bersama Regan," tiba-tiba sebuah doa tulus keluar dari mulut Cindy sahabat baik Ratih di kantor.

Cindy tersenyum melihat punggung Ratih yang hampir menghilang di balik pintu kantor mereka.

Ratih berjalan melewati koridor menuju ke ruang kantor Dimas, dia mulai mengetuk pintu kantor itu setelah tiba di sana.

"Tok,tok,tok..."

"Masuk!" Terdengar dari dalam suara Dimas yang menyuruh masuk.

Hati Ratih sedikit deg-degan saat mau masuk ke dalam ruangan itu apalagi setelah kejadian semalam itu. Tapi Ratih harus tetap menjaga sikap.

Perlahan Ratih membuka pintu kantor itu lalu dia masuk ke dalam, Dimas mendongakkan kepalanya melihat wanita yang mampu menggetarkan hatinya itu kini sedang berjalan menuju ke arahnya.

Dimas menatap Ratih sampai Ratih berdiri tepat di hadapannya di seberang meja kerjanya.

"Ada apa Rat?" tanya Dimas.

"Ini dokumen dari Bu Bella," Ratih menyodorkan dokumen yang di bawanya tadi ke atas meja kerja Dimas.

"Ya, terimakasih," ucap Dimas.

"Aku permisi," Ratih menghindari kontak mata dengan Dimas, dia bersikap profesional dalam menjalankan pekerjaannya demikian juga dengan Dimas dia ikut mengimbangi sikap Ratih demi keamanan Ratih juga.

Dimas menatap punggung Ratih yang sudah menghilang di balik pintu kantornya itu.

...----------------...

Tiba-tiba Regan sudah berada di lobby gedung kantor tempat Ratih bekerja. Dia sengaja datang ke sana untuk mengajak Ratih makan siang.

"Sayang. Aku sudah ada di lobby, kamu belum makan siang kan?" Regan menelpon Ratih dari lobby.

Ratih sedikit kaget waktu Regan menelpon dirinya dan mengatakan kalau dia sudah berada di lobby kantor.

"Sayang, aku jemput kamu apa kamu yang ke sini?" tanya Regan pada Ratih masih di telepon.

"Jangan-jangan, aku yang kesana saja," ucap Ratih menjawab pertanyaan Regan.

Regan menutup teleponnya dan menunggu Ratih di lobby.

"Kenapa Rat?" tanya Cindy yang sedari tadi menguping pembicaraannya di telepon dengan Regan.

"Regan sudah ada di lobby, dia ngajak aku makan siang sekarang," ucap Ratih sambil bangkit dari tempat duduknya.

Cindy mencibir tanda tidak suka dengan kehadiran Regan sambil melontarkan candaan pada Ratih.

"Regan takut kamu di ambil Dimas kali maka nya dia kesini mantau kamu dengan alasan ngajak kamu makan siang, ya kan?"

"Ngomong apa sih Cin, sudah aku ke lobby dulu," Ratih berjalan keluar ruangan untuk menemui Regan.

...----------------...

"Aku pengen makan di kantin kantor kamu," ucap Regan saat Ratih sudah tiba di lobby tempat dia menunggu Ratih dari tadi.

"Ya," jawab Ratih pendek.

Mereka berdua pun berjalan menuju ke arah kantin kantor dan setibanya di kantin dengan sengaja Regan merangkul Ratih dan tersenyum mencibir saat mereka berpapasan dengan Dimas yang juga mau makan di kantin tersebut.

Dimas tidak terbakar oleh cemburu saat Regan merangkul Ratih di hadapannya karena dia tahu kalau Regan sedang berakting untuk memanas-manasi dirinya.

Ratih diam saja saat Regan merangkul pundak nya saat mereka berpapasan dengan Dimas.

Akhirnya Ratih dan Regan duduk di salah satu kursi yang masih kosong, dan kebetulan sekali meja Regan berhadapan dengan meja yang di duduki Dimas.

"Kamu beneran gak ngapa-ngapain kan sama si Dimas itu semalaman? Kamu tahu kan apa yang akan aku lakukan pada ayahmu jika kamu bermain-main di belakang ku," Regan mulai mengintimidasi Ratih soal kejadian semalam.

"Aku cuma kerja, Regan. Kejadian mobil mogok itu bukan kemauan aku. Kalau kamu gak percaya coba tanyakan sendiri ke montir mobil itu," Ratih yang dulu lunak sekarang sudah berani untuk bicara dan hal itu membuat Regan mulai curiga pada Ratih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!