Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dunia di sekitar Selena seolah berputar. Rasa sakit akibat pengkhianatan dalam halusinasi tadi belum hilang, namun kenyataan yang baru saja menghantamnya jauh lebih dingin dari salju di Lembah Pembuangan. Joan, pria yang ia tangisi, pria yang ia kira adalah tamengnya berdiri dengan keanggunan seorang penguasa yang selama ini menyamar sebagai temannya.
"Kamu Ketua Dewan?" Selena berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan angin. "Lalu penyerangan di kabin itu? Luka di bahumu?"
Joan tertawa rendah, sebuah suara yang kini terdengar penuh wibawa namun kosong akan kehangatan. Ia merobek perban di bahunya dengan satu sentakan. Luka cakar yang tadinya terlihat mengerikan itu kini menutup dengan kecepatan yang tidak wajar, meninggalkan kulit mulus tanpa bekas.
"Luka ini nyata, Selena, tapi ini bukan dari musuh," Joan melangkah maju dan membiarkan mata emasnya berkilat di tengah kabut. "Aku melukai diriku sendiri. Aku harus terlihat seperti korban agar kamu tidak pernah meragukanku. Dewan tidak menyerang kabin itu untuk membunuhmu, mereka menyerang agar aku bisa menggiringmu keluar. Kamu adalah aset yang terlalu berharga untuk tetap tinggal di hutan yang membosankan itu."
Selena merasakan mual yang luar biasa. "Jadi Lucian? Riven? Mereka semua benar-benar hanya bagian dari sandiwaramu?"
"Lucian adalah bawahanku." Joan menjawab tenang. "Dan halusinasi yang kamu alami tadi? Itu bukan sekadar pertahanan lembah. Itu adalah ujian. Aku perlu tahu apakah kamu cukup emosional untuk menghancurkan kaummu sendiri dan ternyata benar kamu hampir saja meledakkan segel ini hanya karena merasa dikhianati. Darah Bulan memang kuat, tapi hatinya terlalu rapuh."
Tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar dari balik kabut. Sosok yang seharusnya tidak ada di sana muncul. Ia melangkah maju, namun kali ini ia tidak tersenyum mengejek. Ia membungkuk hormat kepada Joan.
"Segel pusat telah terbuka, Ketua," lapor Lucian.
Selena menoleh ke belakang, ke arah pedang berkarat yang tadi ia pegang. Pedang itu kini tidak lagi berkarat. Logamnya mulai mengelupas dan menyingkapkan bilah hitam legam yang tidak memantulkan cahaya sama sekali. Itu bukan Breaker. Itu adalah Void-Bringer, senjata yang dirancang untuk menyerap energi Darah Bulan secara permanen untuk memberikan keabadian murni pada kaum Alpha.
Namun, saat Joan hendak meraih pedang hitam itu, Selena merasakan sebuah tarikan kuat dari dalam dadanya, sebuah memori yang tersimpan di sumsum tulangnya. Ia teringat kata-kata terakhir ibunya dalam mimpi yang sering ia abaikan.
"Jangan percaya pada apa yang mereka cari, carilah apa yang mereka takuti."
Selena menyadari satu hal. Jika Joan adalah Ketua Dewan dan dia membutuhkan Selena untuk membuka segel ini, itu berarti Joan sendiri tidak bisa memegang kekuatan itu.
"Kamu salah satu hal, Joan." Selena berkata dab suaranya sekarang dingin dan berwibawa. "Kamu bilang ibuku dibunuh karena dia hampir menghapus keberadaan serigala, tapi kebenarannya lebih buruk bagi kalian, bukan?"
Joan menghentikan langkahnya dan matanya menyipit.
"Ibuku tidak ingin menghapus serigala," lanjut Selena, tangannya sekarang bercahaya perak terang tanpa bantuan pedang apa pun. "Dia ingin menghapus jiwa manusia dari dalam tubuh serigala. Dia ingin kalian menjadi binatang seutuhnya, tanpa akal budi, tanpa ambisi kekuasaan, tanpa Dewan."
Saat ketegangan memuncak, Lucian tiba-tiba bergerak bukannya menyerang Selena, belati perak di tangannya justru terhujam ke arah punggung Joan.
Joan meraung kesakitan dan terhuyung ke depan. Alat pelacak di punggungnya hancur berkeping-keping.
"Apa yang kamu lakukan, Lucian?!" geram Joan, darah mulai merembes dari luka barunya.
Lucian berdiri di samping Selena dam wajahnya kembali dihiasi senyum licik yang familiar. "Maaf, Ketua, tapi tawaran dari pihak Darah Bulan jauh lebih menarik. Selena, kamu pikir aku bekerja untuknya? Tidak. Aku bekerja untuk ibumu. Aku sudah menunggumu selama dua puluh tahun untuk membawa kunci ini ke tempat yang tepat."
Selena menatap Lucian dengan bingung, namun perlahan pemahaman merayapi benaknya. Cahaya perak di kulitnya sekarang tidak lagi hanya berpendar. Cahaya itu mulai membentuk sulur-sulur yang mengikat pedang hitam tersebut.
"Lucian, siapa aku sebenarnya?" tanya Selena.
Lucian berlutut dan kali ini benar-benar tulus. "Kamu bukan sekadar Darah Bulan terakhir, Selena. Kamu adalah alasan kenapa Dewan diciptakan ribuan tahun lalu. Kamu bukan keturunan serigala yang memiliki darah manusia."
Lucian menunjuk ke arah bayangan Selena yang memanjang di atas salju, bayangan itu tidak berbentuk manusia dan juga tidak berbentuk serigala. Bayangan itu berbentuk sesuatu yang jauh lebih kuno dan agung.
"Kamu adalah entitas yang menciptakan kami," bisik Lucian. "Kami adalah pelayanmu yang memberontak dan pedang ini bukan untuk membebaskan kami, tapi untuk memenjarakanmu kembali. Joan ingin kamu tetap dalam wujud manusia agar dia bisa mengendalikan penciptanya."
Joan berteriak dan wajahnya berubah menjadi serigala yang mengerikan dan menerjang ke arah Selena. Namun, dengan satu lambaian tangan, Selena menghentikan waktu di sekelilingnya. Salju berhenti di udara. Joan terpaku dalam lompatannya.
Selena menggenggam pedang hitam itu. Bilahnya berubah menjadi putih murni saat menyentuh kulitnya. Penglihatan manusianya mulai memudar dan digantikan oleh kesadaran kosmik yang luas. Ia melihat ke arah Joan, pria yang ia telah menipunya.
"Perang ini belum dimulai, Joan," ucap Selena, suaranya sekarang bergema seperti ribuan lonceng. "Perang ini sudah berakhir ribuan tahun lalu dan kalian baru saja membangunkan pemilik semesta ini dari tidurnya yang panjang."
Dengan satu sentakan, Selena menghancurkan pedang di tangannya. Energi yang dilepaskan menyapu seluruh Lembah Pembuangan, menghapus kabut, menghapus Dewan, dan mengubah segalanya.
Selena berdiri di tengah lembah yang sekarang ditumbuhi bunga-bunga yang tidak pernah dilihat manusia. Joan dan Lucian tersungkur di tanah, kembali ke wujud manusia mereka tanpa kekuatan, dan tanpa taring. Mereka menatap Selena dengan ketakutan yang murni.
Selena menoleh ke arah hutan dan merasakan keberadaan ribuan mahluk lain yang sekarang menunduk dalam diam. Ia bukan lagi gadis dari dunia manusia. Ia adalah Sang Pencipta yang kembali untuk merapikan ciptaannya yang telah rusak.
"Sekarang," bisik Selena pada dunia yang terdiam. "Mari kita buat tatanan yang sebenarnya."