Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File lama
Udara di sekitar Kirana terasa berbeda.
Bukan berubah drastis
tapi seperti ada sesuatu yang akhirnya… terbuka.
Nama itu masih tertinggal di bibirnya.
Mei.
Dan semakin dia memikirkannya
semakin tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.
Jemarinya bergetar halus.
Napasnya tidak lagi stabil.
Bukan karena panik.
Tapi karena sesuatu di dalam dirinya… mulai bergerak.
Perlahan.
Seperti ingatan yang tidak diminta untuk kembali
tapi akhirnya menemukan celah.
Kirana menutup mata.
Sekilas.
Dan di detik itu
gambar muncul.
Cepat.
Tidak utuh.
Tapi cukup untuk membuatnya terpaku.
Lampion.
Lebih banyak.
Lebih terang.
Langit malam yang lebih gelap.
Dan suara
tawa.
Bukan miliknya sekarang.
Lebih ringan.
Lebih bebas.
Kirana langsung membuka mata.
Napasnya terputus.
Tangannya mencengkeram meja lebih kuat.
“Itu…” bisiknya.
Bukan mimpi.
Terlalu jelas.
Terlalu terasa.
Dia mundur satu langkah.
Lalu duduk.
Pelan.
Seolah tubuhnya butuh sesuatu untuk menahan.
Kepalanya terasa penuh sekarang.
Potongan-potongan kecil
yang tidak lengkap
tapi saling terhubung.
Dan di antara semua itu
satu hal menjadi jelas:
Ini bukan pertama kalinya.
Dia tidak sedang “menemukan” sesuatu.
Dia sedang… mengambil kembali sesuatu yang pernah diambil darinya.
“Siapa yang bikin gue lupa…”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Tapi langsung terasa berat.
Karena sekarang
itu bukan sekadar rasa penasaran.
Itu kunci.
Kalau dia tahu siapa
dia akan tahu kenapa.
Dan kalau dia tahu kenapa
dia akan tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tiba-tiba
layar laptopnya menyala sendiri.
Tanpa disentuh.
Kirana langsung menoleh.
Refleksi hitam berubah jadi cahaya.
File terbuka.
Bukan yang tadi.
Bukan laporan.
Tapi sesuatu yang tidak pernah dia buka sebelumnya.
Folder kosong.
Dengan satu file di dalamnya.
Namanya
“MEI___”
Jantung Kirana langsung berdetak keras.
Dia tidak menyentuh mouse.
Tidak mengetik.
Tapi kursor bergerak.
Sendiri.
Klik.
File terbuka.
Layar berkedip.
Lalu
gambar muncul.
Hitam putih.
Tapi jelas.
Seorang perempuan.
Memakai pakaian tradisional.
Rambut disanggul rapi.
Lampion di belakangnya.
Dan wajah itu
Kirana tidak perlu waktu lama.
Dia tahu.
Itu dia.
Bukan mirip.
Bukan kebetulan.
Itu… dia.
Sebagai seseorang yang berbeda.
Sebagai seseorang yang… pernah hidup.
Tangannya naik ke layar.
Menyentuh wajah itu.
Perlahan.
Dan di detik jari itu menyentuh
gambar itu berubah.
Bukan berpindah.
Tapi… hidup.
Suara napas.
Langkah kaki.
Dan dunia itu
menariknya masuk lagi.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Lebih dalam.
Lebih kuat.
Kirana tidak sempat menahan.
Tidak sempat berpikir.
Semuanya terjadi dalam satu tarikan
dan dia sudah berdiri di sana.
Di tempat yang sama.
Tapi kali ini
berbeda.
Lebih jelas.
Lebih nyata.
Lebih… hidup.
Dan di depannya
Li Wei.
Tidak memudar.
Tidak samar.
Utuh.
Seperti seseorang yang belum pernah hilang.
Tapi ekspresinya
berubah.
Matanya tidak lagi hanya lembut.
Ada sesuatu di sana.
Terkejut.
Dan… takut.
“Mei…?”
Nama itu keluar.
Bukan ragu.
Bukan tanya.
Tapi pengakuan.
Yang membuat seluruh tubuh Kirana… diam.
Karena di detik itu
semuanya terkunci.
Bukan Kirana lagi.
Bukan sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya
dia tidak hanya mengingat.
Dia… kembali.
Tapi sebelum dia sempat menjawab
sesuatu di belakang Li Wei bergerak.
Pelan.
Dari bayangan lampion.
Sosok lain.
Lebih gelap.
Lebih dingin.
Dan suara itu
tidak ditujukan ke Li Wei.
Tapi langsung ke dia.
“Akhirnya kamu ingat juga.”
Suara itu tidak asing.
Tidak sepenuhnya.
Dan justru itu
yang membuat darah Kirana terasa dingin.
Karena sekarang
ini bukan lagi hanya tentang cinta yang tertinggal.
Tapi tentang sesuatu yang sejak awal…
tidak pernah benar-benar membiarkan mereka bersatu.Kirana tidak langsung bergerak.
Tubuhnya terasa… tertahan.
Bukan oleh sesuatu yang terlihat
tapi oleh dua kesadaran yang saling bertabrakan di dalam dirinya.
Satu bagian ingin mundur.
Lari.
Kembali jadi Kirana yang tidak tahu apa-apa.
Tapi bagian lain
tetap berdiri di tempat.
Diam.
Mengenali.
“Mei…?”
Suara Li Wei masih ada di depannya.
Dekat.
Terlalu dekat.
Tapi anehnya
nama itu tidak sepenuhnya terasa miliknya.
Seperti pakaian yang pas
tapi belum dia akui.
Kirana membuka mulut.
Ingin menjawab.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
Karena dia sendiri…
tidak yakin harus menjawab sebagai siapa.
Lalu suara itu lagi.
Dari belakang.
Lebih jelas sekarang.
Lebih dekat.
“Kamu lama sekali kembali.”
Kirana menoleh.
Pelan.
Seolah setiap gerakan bisa mengubah sesuatu yang rapuh.
Sosok itu masih tertutup bayangan.
Tidak utuh.
Tidak jelas.
Tapi kehadirannya
terasa lebih berat dari Li Wei.
Lebih dingin.
Lebih… mengenal.
Jantung Kirana berdetak lebih cepat.
Tapi bukan karena takut sepenuhnya.
Ada sesuatu yang lebih membingungkan dari itu
seperti dia pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Tapi di mana?
Kapan?
“Aku…” akhirnya suaranya keluar.
Pelan.
Serak.
“Aku nggak”
Kalimatnya terhenti.
Karena bahkan dia tidak tahu mau menyangkal apa.
Li Wei melangkah satu langkah ke depan.
Sedikit.
Seolah ingin menutup jarak di antara Kirana dan sosok itu.
“Jangan dengerin dia,” katanya cepat.
Nada suaranya berubah.
Lebih tegas.
Lebih protektif.
Tapi juga
lebih gelisah.
Kirana menatap Li Wei.
Lalu kembali ke sosok itu.
Pandangannya bolak-balik.
Seolah mencoba menyusun sesuatu
yang belum punya bentuk.
“Dia siapa…?” bisiknya.
Lebih ke dirinya sendiri.
Daripada ke siapa pun.
Sosok itu tidak langsung menjawab.
Tapi bayangannya bergerak.
Sedikit keluar dari gelap.
Cukup untuk memperlihatkan siluet wajah
yang membuat napas Kirana langsung tersangkut.
Karena
bukan asing.
Bukan juga familiar sepenuhnya.
Tapi ada sesuatu di garis wajah itu…
yang terasa terlalu dekat.
Terlalu… personal.
“Kamu bener-bener lupa semuanya ya,” suara itu berkata lagi.
Tidak marah.
Tidak dingin sepenuhnya.
Tapi ada nada kecewa yang tipis.
Yang justru lebih menusuk.
Kirana menggeleng pelan.
Refleks.
“Aku nggak ngerti…”
Dan itu
benar.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai
dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Bukan soal dunia.
Bukan soal Li Wei.
Tapi tentang dirinya sendiri.
“Kalau aku Mei…” suaranya pelan, hampir seperti berpikir keras, “…terus aku yang sekarang ini siapa?”
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung.
Berat.
Karena tidak ada jawaban yang terasa aman.
Li Wei diam.
Sosok di belakang juga tidak langsung bicara.
Dan di antara dua keheningan itu
Kirana berdiri di titik paling rapuhnya.
Bukan karena dia lemah.
Tapi karena
untuk pertama kalinya
dia tidak tahu mana yang benar untuk dipercayai:
Kenangan yang baru kembali…
atau hidup yang selama ini dia jalani.
Dan saat angin pelan menggerakkan lampion di atas mereka
bayangan itu melangkah sedikit lebih maju.
Cukup untuk membuat suara langkahnya terdengar.
Pelan.
Terukur.
Seperti seseorang yang sudah menunggu terlalu lama
dan akhirnya… tidak ingin menunggu lagi.
“Kalau kamu mau tahu siapa kamu sekarang…”
suara itu lebih rendah.
Lebih dekat.
“…kamu harus ingat kenapa kamu memilih untuk lupa.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi efeknya langsung terasa.
Seperti sesuatu di dalam kepala Kirana
ditarik.
Dipaksa terbuka.
Dan di detik itu
bukan jawaban yang datang.
Tapi pertanyaan baru.
Lebih tajam.
Lebih berbahaya:
Apa yang begitu menyakitkan… sampai dia memilih untuk melupakan semuanya?