Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Betapa kagetnya Nadine ketika pria berseragam tiba-tiba berdiri di hadapannya. Yang lebih membuatnya bingung, pria yang profesinya sebagai satpam itu minta undangan. Namun, ketegangan itu tidak lama, karena Nadine merasa punya senjata untuk membuat satpam menyingkir.
"Bapak bekerja di Chandresh Grup belum lama ya, masa tidak kenal saya?" Nadine melempar pertanyaan. Jelas satpam itu tidak mengenalnya kerena berjaga di gedung dua.
"Maaf Non, saya hanya menjalankan tugas, tamu yang hadir di sini harus menujukkan undangan ketika masuk tadi," jawab satpam yang sudah memperhatikan gerak gerik Nadine saat masuk gedung tidak tanda tangan di meja penerima tamu. Nyelonong masuk dan membuat keributan dengan perawat kakek. Satpam itu tahu jika Kartini perawat tuan Chandresh karena ia menyambutnya saat keluarga bos turun dari kendaraan setengah jam yang lalu.
"Mari saya antar ke depan Non," satpam hendak menarik tangan Nadine, tapi wanita itu menjauh.
"Saya Nadine calon istri Arga, dia yang mengundang saya datang kesini. Jadi tidak perlu menunjukkan undangan," jawab Nadine bangga.
Satpam itu mengeryitkan dahi dalam hatinya bertanya. "Tuan Arga memilih calon istri model gini? Alah maaak... gue yang orang rendahan pun tidak tertarik."
"Bapak tidak percaya? Atau saya akan buktikan telepon Mas Arga sekarang juga?" Nadine tersenyum penuh kemenangan ketika satpam meninggalkan dirinya. Dia menoleh kanan kiri, ketika ingin duduk tidak ada kursi yang kosong. Jelas tidak ada karena kursinya di tempati Aknes.
"Sialan, perusahaan sebesar ini kenapa tidak menyiapkan kursi lebih sih!" monolog Nadine. Tidak mungkin ia minta sahabatnya untuk berdiri karena dia sendiri yang mengundang dan tidak konfirmasi dulu kepada Arga.
Sambil berdiri, Nadine mengetik pesan untuk Arga. "Mas, aku nggak kebagian kursi," tulisnya dengan emoji menangis. Namun, Nadine harus menerima kenyataan bahwa pesan yang ia kirim tidak Arga buka.
Jelas tidak dibuka, Nadine menatap calon suaminya yang sudah selesai memberi sambutan itu saat ini sedang berbicara kepada pria yang duduk di sebelahnya.
"Nes, geser dong, gue nggak dapat kursi nih," ucapnya dengan raut wajah cemberut.
Aknes yang tengah asik main handphone baru sadar jika sahabatnya berdiri. "Sini, kita duduk berdua," Aknes menggeser bokongnya.
Nadine terpaksa duduk tentu saja hanya separuh bokongnya yang nempel di kursi. Ia merasa marah, kesal dan kecewa, kenapa Arga seolah tidak peduli kepadanya.
Nadine akhirnya menatap ke panggung, acara makan malam belum juga dimulai padahal ia ingin segera bertemu Arga. Terpaksa menyaksikan acara demi acara. Termasuk potong tumpeng akan segera dilakukan. Dua orang pria tengah menggotong tumpeng tersebut meletakkan di atas meja yang sudah tersedia.
"Kami silakan keluarga besar Tuan Chandresh agar naik ke atas panggung," panggil MC, pandangannya tertuju ke arah keluarga Chandresh.
Keluarga Chandresh semua berdiri menunggu kakek berjalan terlebih dahulu.Tampak Kartini mendorong kursi roda kakek menuju panggung diikuti dua keluarga.
Panitia segera mengatur posisi agar keluarga besar Chandresh berdiri berjajar. Arga bersama ayah Ibunya berdiri di sebelah kanan Kartini, kakek di tengah-tengah. Sementara sebelah kiri kakek, Kenzo, Kakak perempuannya, dan juga mama papanya.
MC memberikan mikrofon kepada kakek agar memimpin doa sebelum Arga memotong tumpeng.
Arga ambil centong dan piring kecil yang sudah disediakan kemudian memotong pucuk tumpeng.
Hampir semua mata tertuju kepadanya dan ingin tahu potongan tumpeng tersebut akan diberikan kepada siapa.
Nadine yang awalnya uring-uringan pun tiba-tiba tersenyum lebar. "Pasti potongan tumpeng itu Arga berikan ke gue, Nes," ucapnya penuh harap.
Aknes hanya mengangguk tipis berharap mimpi Nadine akan terkabul. Walau di hati Aknes berkata tidak mungkin. Nadine sendiri yang bercerita kepadanya bahwa Arga mengizinkan hadir ke acara ini dengan satu syarat, pura-pura sudah tidak ada hubungan. Hingga akhirnya apa yang terjadi di atas panggung.
"Awalnya saya akan memberikan potongan tumpeng ini kepada kakek, tapi rupanya kakek hendak memberikan kepada orang yang paling berjasa dalam hidupnya," Arga melirik sekilas ke arah Kartini di sebelah kakek, tapi Kartini tidak menyadari.
"Orang paling berjasa?" Tanya Nadine kesal, begitu yakin potongan tumpeng bukan untuknya.
"Yakni cucu terakhir yang paling beliau sayangi," lanjut Arga.
Suasana menjadi hening dan saling pandang, termasuk Kenzo dan kakaknya. Selama ini mereka tahu cucu kesayangan Kakek adalah Arga sendiri.
Dan para hadirin tercengang karena Kartini yang beruntung menerima potongan tumpeng tersebut. Wanita gemuk perawat kakek yang tidak mereka lirik selama di atas panggung kini menjadi pusat perhatian.
Kartini pun kaget, ia tidak segera menerima potongan tumpeng di piring kecil itu, justru mendongak menatap Arga.
"Ayo terima," ucap Arga.
Dengan tangan gemetar Kartini ambil tumpeng tersebut. Tidak menyangka ia akan menerima simbol perayaan kesuksesan perusahaan.
Selanjutnya diadakan sesi foto keluarga Chandresh. Nadine yang menyaksikan itu ingin rasanya berada di tengah-tengah mereka tapi mana mungkin?
Acara potong tumpeng selesai, dilanjutkan makan malam. Masing-masing ikut antri prasmanan. Hanya tinggal Kartini kakek dan Arga yang masih duduk.
"Kalian makan sana, biar kakek sendiri saja di sini," ucap Kakek.
"Baik Kek, tapi aku ambil makanan untuk kakek dulu ya," ucapnya segera menuju prasmanan tanpa menunggu jawaban kakek.
Kartini ambil piring hendak memilih makanan yang tidak mengandung banyak minyak dan tidak menyebabkan tensi naik.
"Heh! Sekarang loe sedang di awang-awang karena berada di tengah-tengah keluarga calon laki gue! Tapi tunggu lima bulan lagi. Loe akan segera angkat kaki dari rumah itu!" bisik Nadine. Ekspresi wajahnya diselimuti marah, benci, dan kecewa. Betapa tidak? Sudah di acara inti makan-makan pun Arga tidak menemuinya. Hatinya terasa gelap lalu menginjak kaki kiri Kartini dengan sekuat tenaga.
Tidak sulit bagi Kartini menarik kakinya cepat hingga membuat Nadine jatuh terduduk.
"Aagghhh..." Nadine berteriak hingga semua mata tertuju kepadanya. Arga yang hanya melihat kejadian itu dari jauh terpaksa mendekat.
"Mas... hiks hiks hiks, aku didorong si gendut!" Kartini menangis.
...~Bersambung`...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭