Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marissa
'Nih anak postur tubuh nya bagus juga ketimbang temannya tadi. Walau bentuk nya sedikit lebih kurus, tapi tidak mengurangi kepadatan dan kekokohan nya.' Fikir Marissa dalam hati. Sambil mencuri-curi pandang pada Jay yang sedang berkutat di meja kerja nya.
Marissa adalah guru BK yang baru di SMA Negeri 1 Padimas. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu baru bergabung enam bulan yang lalu di sekolah ini.
Dua tahun yang lalu dia mendapatkan sistem yang menyatu pada dirinya. Di tahun pertama nya, sistem nya memberikan misi untuk merubah bentuk tubuh yang dulu nya kutilang.
Sebuah anugrah bisa mencapai bentuk tubuh seindah ini dalam waktu yang cukup singkat. Di usia nya yang cukup matang ini, wanita itu belum berkeluarga. Namun jelas, kerang abalon nya sudah pernah di masuki oleh beberapa batang tombak dengan berbagai ukuran.
Marissa bukan penduduk asli di desa ini, dan juga bukan berasal dari kota terdekat. Tempat kelahiran nya jauh di kota lain, bisa menempuh dua hari dua malam dari desa ini jika menggunakan kendaraan pribadi, dan tiga hari jika memakai jasa angkutan umum.
Setengah tahun lamanya dia terdampar di kota Sutra, dan akhirnya berlabuh di desa Padimas ini sebagai guru BK atas panggilan dinas pendidikan.
Lika-liku perjalanan nya cukup unik. Sebelum mendapatkan sistem, dia adalah wanita yang sangat cupu. Jarang sekali berinteraksi dengan lawan jenis.
Kehadiran sistem merubah segalanya, jangan kan pria nakal, pria yang berkuasa saja bisa tunduk di hadapan nya jika sistem sudah menargetkan misinya pada pria tersebut.
Dan sekarang, dia merasa aneh terhadap sistem nya tersebut. Memberikan misi tidak seperti biasa nya. Sistem nya ini selalu merendahkan nya pada pemuda yang saat ini sedang bersih-bersih di ruangan nya.
Sementara itu, Aida masih membaca dan menulis sesuatu di meja kerja nya, sesekali dia melihat layar monitor di laptopnya.
Tok tok tok.
Pintu ruangan nya di ketuk dari luar. "siapa?" Tanya nya dengan suara sedikit lebih keras, agar orang yang mengetuk pintu mendengar nya.
"Shitta sama Shilla." Jawab suara dari luar.
"Masuk!" Titahnya memberi ijin untuk mereka memasuki ruangan nya.
Shitta dan Shilla pun memasuki ruangan itu. "Mamah belum mau pulang?" Tanya Shitta setelah menyalami ibu kandung nya itu. Kemudian diikuti Shilla.
"Bentar lagi, mamah masih ada kerjaan." Ucap Aida menjawab pertanyaan putri keduanya itu. "Kok kalian masih di sini?" Lanjut nya bertanya. Padahal seharusnya, jam segini mereka sudah berada di rumah.
Shilla tersenyum malu-malu. "Kunci rumah nggak ke bawa. mungkin ketinggalan di tas aku yang satu nya lagi." Jawab nya sambil menyengir.
"Huh! Kamu ini. Maka nya jangan gonta-ganti tas melulu." Dengus Aida sambil merogoh tas nya yang berada di atas meja.
"Ada nggak mah?" Desak Shitta yang merasa tak sabaran.
"Emangnya Jay belum balik?" Tanya Aida yang masih saja merogoh tas nya untuk mencari kunci rumah.
"Belum, dia lagi di hukum bu Marissa." Jawab Shilla dengan senyum mengejek.
"Hah! Emang dia ngapain La?" Tanya Shitta sedikit terkejut mendengar pemuda itu terkena hukuman di sekolah ini.
"Nggak ikut upacara!" Jawab Shilla singkat. "Ada nggak mah?" Tanya pada Aida kemudian, melihat ibu nya itu masih merogoh tas nya.
"Kayaknya ketinggalan di dasbor mobil deh." Jawab Aida setelah mengingat-ingat tempat dimana dia meletakkan kunci rumah terakhir kalinya.
"Yaah! Mobil mamah kan barusan di bawa pak Ujang." Keluh Shitta, menyadari bahwa mobil ibu nya itu di bawa oleh penjaga sekolah saat mereka tadi masih di parkiran.
"Sepertinya kalian harus nungguin pak Ujang balik lebih dahulu deh." Ucap Aida memberi solusi.
"Emang nya pak Ujang kemana mah?" Tanya Shilla ingin tahu.
"Ke kota." Aida menjawab dengan singkat.
"Lama dong." Sela Shitta.
Aida mengangguk membenarkan ucapan Shitta. "Coba kamu tanya Jay gih, barang kali dia bawa kunci cadangan yang lain." Ucapnya kemudian, Memberikan saran.
"Yuk kak!" Ajak Shilla pada Shitta sambil menggandeng tangan kakak nya itu.
"Ya udah deh." Timpal Shitta dengan pasrah. "Kami tanya dulu ya mah." Lanjut nya sembari menyalami kembali ibu nya itu untuk berpamitan dan di ikuti oleh Shilla.
Diruangan Marissa, Jay terus saja membersihkan semua area di ruangan itu. Menyusun tumpukan laporan serta beberapa buah buku yang tak teratur dengan rapi pada rak lemari yang ada di ruangan itu. Dan menyapukan kemoceng pada perabotan yang terlihat berdebu.
Kini tiba saatnya Jay ingin membersihkan area sekitar sofa. Dimana Marissa masih dengan santai nya membaca sebuah buku tanpa memperhatikan keadaan pakaian nya sendiri. Yang mana kedua tali tanktop nya sudah melorot, menyisakan dua tali bra berwarna merah muda yang masih tersampir di kedua bahu nya.
"Permisi bu, saya mau bersihin di area sekitar sofa." Ucap Jay pelan dengan sopan.
Marissa yang tengah duduk menunduk sambil menyilangkan kaki nya mengalihkan pandangannya dari buku ke arah wajah pemuda itu. "Duduk dulu, Kopi dulu tuh!" Ucap nya tersenyum sembari meletakkan bacaan nya ke atas meja. Wanita itu menepuk-nepuk sofa yang diduduki nya, mengisyaratkan agar Jay duduk di samping nya yang masih memiliki ruang untuk di tempati.
"Hah!" Jay terperanjat melihat kelakuan Marissa yang sekarang jauh berbeda. Bahkan wanita itu seakan tak peduli lagi dengan penampilan nya. Jelas-jelas tanktop nya sudah melorot, malah dibiarkan! Sehingga mempertontonkan bra merah muda nya yang kekecilan, seolah tak mampu menampung bobot dua benda berukuran besar itu.
"Kenapa masih bengong? Apa perlu ibu paksa lagi?" Ucap nya dengan nada main-main, melihat Jay yang masih mematung di hadapan nya.
"Itu bu, talinya udah melorot." Ucap Jay pelan, sembari menunjuk pada tali tanktop Marissa.
"Memang nya kenapa? Kan kita cu..."
Tok tok tok
Marissa tak melanjutkan ucapan nya ketika mendengar suara ketukan di pintu.
Gegas wanita itu bangkit dari sofa, "bilang, ibu udah pulang." bisiknya pada Jay, lalu dia segera menyembunyikan tubuh nya di balik meja kerja nya.
Samar-samar Jay bisa menghirup aroma wanita itu yang bercampur dengan parfum yang di kenakannya, ketika Marissa berbisik begitu dekat di telinga nya.
Setelah menghela nafas berat untuk menetralisir kan perasaannya, Jay melangkah menuju pintu.
Ce klek.
Jay tertegun melihat dua orang di balik pintu, "Ada apa La?" Tanya nya dengan sopan.
"Lu bawa kunci rumah nggak?" Tanya Shilla to the poin.
"Bawa. Tunggu sebentar." Jawab Jay. Kemudian melangkah kan kakinya menuju meja kerja Marissa, tempat dimana tas nya berada.
Sementara Shilla dan Shitta tanpa di beri ijin, masuk begitu saja. Mereka celingak celinguk, seperti mencari seseorang.
"Bu Marissa nya udah pulang?" Tanya Shilla tiba-tiba.
"Udah," Jawab Jay dengan singkat, sembari merogoh tas nya, mencari kunci rumah. Merasa kesusahan, pemuda itu pun mengeluarkan satu per satu isi tas nya.
"Itu kok, minuman nya ada dua?" Tanya Shilla lagi.
"Oh itu! Mungkin punya Tomi satunya." Jawab Jay sekenanya.
"Kok mungkin sih? Aneh banget lu!" Ketus Shilla.
Jay hanya mengangkat kedua bahunya. "Ketemu!" Sorak nya dengan riang, ketika menemukan apa yang di cari nya. Kemudian dia memasukkan kembali isi tasnya ya di keluarkan sebelum nya.
"Ini kan kemeja yang di kenakan Bu Marissa tadi!" Kali ini Shitta yang mengeluarkan suara nya sembari mengibarkan selembar kemeja berwarna putih di hadapan nya.
Deg!
'Buka hati mu... Buka lah sedikit untuk ku... sehingga diri ku.. bisa memiliki mu..'
"Nah loh! Itu kan nada dering ponselnya Bu Marissa!" Imbuh Shilla menimpali.
Deg!!
*****