NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari nabawi

Pagi itu, saat Mbah Sidik sedang mengasah pisau khitannya, ia melihat Ahmad kecil duduk bersila di samping sepeda ontel tua itu. Ahmad tampak berbicara sendiri, namun matanya menatap tajam ke arah bayangan pohon beringin di depan rumah.

"Bapak," panggil Ahmad kecil. "Kenapa kakek berbaju putih di bawah pohon itu tersenyum pada Ahmad? Dia bilang, Ahmad harus belajar naik sepeda ini suatu hari nanti."

Mbah Sidik tertegun. Ia tahu siapa yang dimaksud. Mbah Pupus telah menampakkan diri pada sang anak angkat. Ini adalah isyarat bahwa estafet penjaga tanah ini harus segera dimulai.

Mbah Sidik mendekati Ahmad, lalu meletakkan tangannya di pundak kecil itu. "Ahmad, itu adalah kakek guru kita. Dia menjaga mereka yang menjaga kebenaran. Mau bapak ajarkan cara melihat dengan hati?"

Ahmad mengangguk mantap. Sejak hari itu, di sela-sela kegiatannya sebagai dukun sunat, Mbah Sidik mulai menurunkan Ilmu Tafsir dan Ilmu Kewibawaan kepada Ahmad. Ia mengajari Ahmad bukan untuk menjadi jawara yang haus darah, melainkan menjadi pelindung yang penuh kasih, persis seperti yang ia jalani selama ini.

Zaenab kini tidak lagi merasa hampa. Melihat Ahmad belajar mengaji di pangkuan Sidik adalah pemandangan yang lebih indah daripada emas mana pun di dunia. Ia sering kali membuatkan wedang jahe untuk suami dan anak angkatnya itu sambil mendengarkan Sidik menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an.

"Zae," bisik Sidik suatu malam saat Ahmad sudah terlelap. "Tuhan memang tidak memberimu anak dari rahimmu, tapi Dia memberimu seorang 'paku bumi' untuk kau besarkan. Kelak, anak ini yang akan mendoakan kita saat kita sudah kembali ke tanah yang abadi."

Zaenab tersenyum, hatinya sudah benar-benar damai. Ia telah menerima takdirnya dengan ridho yang sempurna.

Pohon tua mungkin tak lagi berbuah,

Namun di bawah rindangnya, tunas baru mulai merekah.

Engkau Ahmad, titipan dari langit yang penuh rahasia,

Membawa cahaya di sela hari kami yang mulai menua.

Bapak ajarkan kau cara membaca tanda di angkasa,

Ibu ajarkan kau cara mencintai tanpa sisa.

Tak perlu darah yang sama untuk menjadi satu jiwa,

Sebab doa telah mengikat kita dalam satu karsa.

Kayuhlah langkahmu, wahai putra harapan,

Jadilah benteng bagi mereka yang kehilangan.

Sebab pahlawan sejati tak selalu lahir dari rahim,

Ia lahir dari takdir yang suci dan kasih yang mukim.

Mbah Sidik kembali mengayuh sepedanya menuju desa tetangga untuk sebuah panggilan khitan, namun kali ini ia tidak sendirian. Ahmad duduk di depan, memegang bel sepeda—Kring! Kring!—menebarkan bunyi yang kini bukan lagi tanda perang, melainkan tanda harapan baru bagi seluruh desa.

Keluarga itu kini lengkap. Seorang veteran, seorang istri yang sabar, dan seorang anak titipan langit, hidup dalam lindungan doa dan keramat yang takkan pernah padam oleh zaman.

***

Ketenangan di desa kembali terusik, bukan oleh deru mesin penjajah, melainkan oleh sepucuk surat yang tiba-tiba muncul di atas meja kayu Mbah Sidik. Surat itu beraroma kasturi, membawa stempel rahasia dari Syekh Mansur Al-Bantani di Makkah.

Isinya singkat namun menggetarkan sukma: “Sidik, datanglah. Tangan-tangan angkara dari Barat sedang menyusun siasat di balik meja-meja diplomatik untuk memindahkan dan menggusur makam Baginda Nabi dengan dalih tata kota. Hanya jalur langit yang bisa menghentikannya.”

Tanpa banyak bicara, Mbah Sidik berpamitan kepada Zaenab dan Ahmad. Ia tidak membawa senjata, tidak pula membawa pasukan. Ia hanya membawa sajadah lusuh dan serabut kelapa yang selama ini ia simpan di dalam mushafnya.

"Zae, aku harus memenuhi panggilan guruku. Jaga Ahmad. Doakan aku sampai di sana sebelum fajar menyapa makam kekasih Allah," ucap Sidik.

Dengan satu kayuhan mantap pada sepeda ontelnya di kegelapan malam, Mbah Sidik melesat menembus cakrawala. Ia tidak melalui pelabuhan atau bandara; ia meniti jalan rahasia di atas awan yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang memiliki rida Ilahi

Setibanya di Madinah, Sidik bertemu dengan gurunya. Syekh Mansur tampak cemas. "Mereka sudah menyiapkan alat-alat berat dan alasan-alasan logika untuk membongkar kesucian ini, Sidik. Apa yang akan kau lakukan dengan kekeramatanmu? Apakah kau akan membuat badai pasir?"

Mbah Sidik menggeleng pelan. Wibawanya kini benar-benar tenang, seperti air telaga yang tak beriak. "Guru, dulu saya berperang dengan otot dan amarah. Namun di tempat ini, saya sadar bahwa tidak ada kekuatan yang lebih dahsyat daripada menyerahkan segala urusan kepada Pemilik tempat ini."

Sidik tidak mendatangi kantor pejabat, tidak pula menyerang para perencana dari Barat yang sedang sibuk dengan cetak biru mereka di hotel-hotel mewah.

Mbah Sidik justru memilih duduk bersila di pojok Masjid Nabawi, menghadap ke arah Raudhah. Selama tiga hari tiga malam, ia tidak makan dan tidak bicara. Ia hanya tenggelam dalam Doa Sirr—sebuah doa yang tidak terucap di bibir, namun bergetar hebat di Arsy. Ia memohon dengan sangat agar rencana keji itu dibatalkan oleh tangan Tuhan sendiri.

***

Keajaiban terjadi tanpa ada satu pun ledakan. Saat para arsitek dan utusan Barat itu hendak menandatangani kesepakatan penggusuran, tiba-tiba terjadi serangkaian peristiwa aneh:

Seluruh dokumen digital mereka terhapus secara misterius, menyisakan layar kosong yang putih bersih.

Para pemimpin proyek mendadak diserang rasa gelisah dan ketakutan yang luar biasa setiap kali mereka memandang makam Nabi, membuat mereka membatalkan niat karena tekanan batin yang tak tertahankan.

Opini dunia mendadak berbalik seratus delapan puluh derajat, seolah ada suara gaib yang membisiki hati setiap manusia untuk menentang rencana tersebut.

Tanpa perlu mengangkat senjata, rencana penggusuran itu layu sebelum berkembang. Para orang Barat itu pergi dengan tangan hampa, merasa kalah oleh sesuatu yang tidak mereka lihat, namun sangat mereka rasakan kekuatannya.

Menang Tanpa Menantang

Aku datang bukan untuk menebas leher,

Sebab di sini, kesombongan manusia akan segera lumer.

Tak butuh ajian untuk menghancurkan baja,

Cukup sujud yang dalam di depan Sang Maha Raja.

Mereka bicara tentang beton dan tata kota,

Aku bicara tentang rindu dan air mata.

Biarlah doa menjadi benteng yang tak terlihat,

Menjaga makam suci dari tangan-tangan yang jahat.

Guru, lihatlah... rencana itu pupus bagai debu,

Diterjang sunyi dari doa-doa di waktu subuh.

Sebab siapa yang menjaga kekasih-Nya dengan tulus,

Maka segala makar manusia akan segera pupus.

Syekh Mansur tersenyum melihat muridnya. "Kau telah mencapai tingkatan tertinggi, Sidik. Menang tanpa merendahkan, unggul tanpa menyakiti."

Mbah Sidik mencium tangan gurunya, lalu kembali menaiki sepedanya. Ia pulang ke Indonesia dengan hati yang ringan. Ia membuktikan bahwa kekuatan terbesar seorang veteran bukan terletak pada peluru yang ia muntahkan, melainkan pada rida Tuhan yang ia jemput melalui kesunyian doa.

Di teras rumah, Zaenab menyambutnya dengan senyuman. Ia tahu, suaminya baru saja memenangkan perang terbesar—perang menjaga kesucian tanpa meneteskan setetes pun darah

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!