Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
Melihat pimpinan keluar dari ruangannya, Vania gegas menyusul langkah gagah pria itu menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dasar.
Sandi tak sengaja menyaksikan pantulan wajah tegang Vania melalui dinding lift.
"Harus berapa kali saya katakan pada anda, kalau saya ini tidak memakan manusia." Ujar Sandi tanpa menoleh ke arah Vania yang kini berdiri tepat disampingnya.
"Maaf, tuan." Sadar akan kalimat sindiran Sandi, Vania pun berusaha mengurangi rasa tegang dihatinya.
Tak ada komentar lagi dari Sandi. Pria itu berdiri tegap, menatap lurus ke depan. Sementara Vania sudah tak sabar menunggu pintu lift terbuka agar bisa segera terbebas dari ruangan yang terasa seperti mencekik lehernya. Ya, setiap kali berada di dalam ruangan yang sama dengan pria itu, Vania merasa organ pernapasannya seperti kekurangan pasokan oksigen. Entah mengapa, hanya Vania yang tahu jawabannya.
Ting
Pintu lift terbuka dan Sandi mulai mengayunkan langkah keluar dari kotak besi tersebut, kemudian diikuti oleh Vania.
Baru saja bisa bernapas dengan lega, tiba-tiba Sandi menyampaikan bahwa mereka akan menuju restoran hanya berdua saja menggunakan mobilnya. Dan Itu artinya tanpa bantuan sopir yang biasanya ditugaskan untuk operasional hotel.
"Duduk di depan! Saya bukan sopir." Ucap Sandi dengan nada datar dan hal itu sontak menghentikan pergerakan Vania hendak membuka pintu penumpang.
"Baik, tuan." Mau tak mau, suka tak suka, Vania akhirnya menempati kursi yang berada di samping kemudi.
Vania meletakkan kedua tangannya di atas paha sementara pandangannya nampak lurus ke depan. Vania mempertahankan posisi duduknya hingga mobil yang dikemudikan Sandi memasuki pelataran sebuah restoran mewah ditengah kota.
Dari balik kaca mobil Sandi melihat keberadaan mobil Bara terparkir di deretan mobil milik pengunjung lainnya. Rupanya Bara sudah tiba lebih dulu darinya.
Vania membuka pintu mobil dan beranjak turun, begitu pula dengan Sandi.
Dari ambang pintu Sandi mencari keberadaan Bara. Setelah menangkap keberadaan Bara, Sandi pun melanjutkan langkah menghampiri sahabatnya itu. Tentunya Vania tetap setia dibelakang bosnya itu.
"Sorry, telat." Kata Sandi.
"Nggak masalah, kawan."
"Silahkan duduk!." Bara mempersilahkan Sandi dan Vania untuk menempati kursi yang masih kosong.
Sebelum memasuki pembahasan serius, terlebih dahulu Bara mengenalkan sepupunya pada Sandi dan begitu pula sebaliknya.
Sebagai sekretaris manager hotel, Vania ditugaskan oleh Sandi untuk memberi penjelasan tentang fasilitas yang dimiliki oleh hotel Admodjo Group.
"Ballroom hotel kami bisa menampung hampir lima ribu tamu undangan. Dan untuk fasilitas lainnya, hotel kami menyediakan free suit room service untuk klien yang akan mengadakan pesta resepsi dihotel kami. Karena semua anggaran suit room service sudah termasuk dalam penyewaan ballroom hotel." Salah satu strategi yang masih jarang digunakan dalam bisnis perhotelan, digunakan hotel Admodjo Group untuk menarik minat klien. Dan, pencetus ide tersebut tak lain adalah Vania. Sebenarnya ide tersebut secara tidak sengaja dicetuskan oleh Vania saat menghadapi salah seorang klien yang merupakan korban dari kecerobohan manager hotel dalam memberikan penjelasan saat menyepakati kontrak dalam sebuah acara wedding. Tapi siapa sangka ide tersebut justru menjadi peluang hingga akhirnya banyak yang tertarik menggunakan hotel mereka untuk mengadakan acara, terkhusus acara wedding.
Vania terus memberikan beberapa informasi tentang fasilitas serta keunggulan hotel Admodjo Group hingga tak terasa hampir satu jam meeting berlangsung.
"Pegawai anda sangat berkompeten, tuan Sandi Admodjo." Puji saudara sepupu Bara.
Sandi menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyuman tipis di sana.
"Sekelas hotel Admodjo Group tidak mungkin memperkejakan seorang pegawai yang tidak berkompeten." Balas Sandi sambil melirik sejenak pada Vania. Kini Sandi menyadari satu hal, bahwa Vania lebih berkontribusi dalam memajukan hotel ketimbang pak manager. Padahal seharusnya itu merupakan tugas seorang manager hotel demi memajukan dan meningkatkan pendapatan hotel.
"Anda benar sekali, tuan Sandi."
Tak lama berselang, terdengar suara getar ponsel Sandi. Pria itu lantas pamit sebentar untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"Sahabatku itu memang nomor satu dalam urusan pekerjaan, tapi tidak untuk urusan cinta." Ujar Bara sekenanya, setelah melihat Sandi menjauh dari mereka.
"Maksud kamu?."
"Biasalah, akibat tak juga memikirkan untuk mencari calon istri, akhirnya sekelas pimpinan hotel Admodjo Group harus menerima perjodohan yang diatur oleh mamahnya." Bara yakin jika saat ini Sandi sedang menerima panggilan telepon dari ibunya. Pasalnya, jika hanya untuk urusan pekerjaan, Sandi tidak pernah menjauh saat menerima panggilan telepon dari siapapun itu.
"Rupanya sekelas pria tampan dan mapan sekalipun, tetap saja memiliki sisi memprihatinkan." komentar sepupunya Bara setelah mendengar sedikit cerita tentang pimpinan hotel Admodjo Group tersebut.
"Ketimbang prihatin pada anak itu, aku lebih prihatin pada wanita yang akan menjadi istrinya. Entah apa yang akan dilakukan oleh anak itu pada istrinya nanti. Tapi aku harap, dia tidak sampai melenyapkan wanita itu dari muka bumi ini." Kata Bara, mengingat bagaimana sikap dingin Sandi selama ini pada lawan jenisnya, apalagi faktanya wanita yang akan dijadikan istri Oleh sahabatnya itu adalah pilihan ibunya, bukan pilihannya sendiri.
Deg
"Memangnya apa yang kau inginkan, Vania? Dan apa urusannya denganmu, jika pria itu akan segera menikah?." Batin Vania yang saat ini hanya menjadi pendengar setia antara obrolan Bara dan sepupunya.
"Maaf." Suara bariton milik Sandi sekaligus menyadarkan Vania dari lamunannya.
"Its ok." Balas Bara.
Sesi meeting pun dilanjutkan hingga selesai.
Mereka berpisah dan kembali pada kesibukan masing-masing usai meeting berlangsung.
"Kita mau pergi ke mana, tuan?." Di tengah perjalanan Vania menyadari bahwa jalur yang mereka lalui bukannya mengarah ke hotel.
"Saya mau mampir sebentar ke mall, anda tidak keberatan, bukan?."
Sekalipun ia menjawab keberatan, apa jawabannya akan berpengaruh? Tentu saja tidak bukan, lalu mengapa masih saja bertanya. Begitulah kira-kira dalam hati Vania saat ini.
"Saya mau mampir sebentar ke mall, anda tidak keberatan, bukan?." Karena Vania masih diam saja, Sandi lantas mengulang kata-katanya.
"Tentu saja tidak, tuan." Jawaban Vania tidak sesuai dengan isi hatinya.
Setibanya di mall, Sandi menatap pada Vania yang tak terlihat ingin beranjak turun dari mobil.
"Apa ada yang salah, tuan?." Tanya Vania ketika menyadari tatapan Sandi.
"Ikut bersamaku!."Titah Sandi.
"Apa?."
"Maksud saya untuk apa saya harus ikut bersama anda tuan, bukankah lebih baik saya menunggu di mobil saja." Vania mengoreksi kalimatnya saat menyadari tatapan tajam bosnya itu.
"Tidak perlu banyak tanya. Ayo turun!."
Mau tak mau Vania turun dari mobil dan menyusul langkah lebar Sandi menuju pintu utama mall.
Vania terus mengekor di belakang Sandi hingga pria itu memasuki salah satu toko perhiasan yang berada di lantai empat gedung. Tak mau ambil pusing dengan kepentingan Sandi mengunjungi toko perhiasan tersebut, Vania diam saja pada posisinya. Sampai beberapa saat kemudian ia dikejutkan oleh perintah bosnya itu.
"Saya kesini untuk mencari cincin pernikahan, tapi saya tidak tahu berapa ukuran lingkar jari calon istri saya. So, sebaiknya anda membantu memilih ukuran yang pas agar kita bisa segera meninggalkan tempat ini!."
"Hah?." Vania sampai membulatkan matanya dengan sempurna. Mengapa harus meminta bantuan padanya? Bukankah pemilik toko bisa membantu.
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆