IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Tapi kita masih bisa berusaha kan?"
Naufal melepas pelan rengkuhannya, dan menatap lekat manik mata Anin.
Anin menelan ludah dan menunduk menatap ujung sepatunya. Jika di tanya seperti itu, Anin mau jawab apa? Dia tidak pernah bisa menjawabnya.
"Sayang, kalau kamu masih sedih begini, untuk apa kita di sini?"
Anin hanya bisa diam, karna pada dasarnya ia memang tidak pernah benar-benar senang, meski kemanapun ia pergi yang terpikirkan oleh Anin adalah bagaimana kehidupannya yang akan datang, jika bayangan keluarga yang berantakan itu tidak pernah bisa di perbaiki.
Naufal yang berdiri begitu dekat, perlahan menundukkan wajahnya. Membuat Anin yang tadi merasakan kesedihan, kegundah gulanaan, secepat kilat berubah panik, dengan keadaan jantung berdegup kencang.
"Kamu, mau ngapain?" ujarnya sambil mendorong tubuh Naufal agar menjauh, karna kini ia sadar jantungnya tidak baik-baik saja.
Tapi tangan Naufal secepatnya menarik tangan Anin, hingga dorongan Anin tadi padanya justru membuat tarikan ditangan Anin menguat. Alhasil kini justru tubuh Anin lebih condong dan menempel kembali di dada Naufal.
"Apa sih kamu tuh, biarin sebentar begini kenapa?"
Naufal masih ingin merengkuhnya. Tapi Anin yang tidak bisa menetralkan degup jantungnya, kembali mendorong dan melepaskan rengkuhan Naufal.
"Masalahnya, kamu itu orang yang sering melakukan hal tak terduga kalau di tempat sepi begini!"
Naufal lantas tertawa terbahak-bahak, "Ngarang deh!"
"Nggak, aku nggak ngarang!" pekik Anin setengah sebal, "Kemarin aja, bahasan parkiran sepi masih belum selesai. Terus itu, pas kita VC kamu minta nggak usah di matiin, padahal aku mau mandi."
Naufal kembali meledak dalam tawa. "Itu kan bercanda sayang, kamu tuh ngeres aja pikirannya."
"Dih, sekarang bilang aku yang ngeres pikirannya. Sendirinya padahal yang berharap aku mau-mau aja, iya kan?!" bentak Anin.
"Ya udah sih, malah marah-marah." Naufal menyimpulkan senyumnya, dan menatap Anin dengan tatapan innocentnya.
Anin berdecak kesal, karna faktanya hati Anin justru sangat tergoda jika Naufal memasang wajah dan tatapan innocent itu padanya.
"Tau nggak, sebenarnya kamu tuh dari tadi nggak bales pelukan aku. Kamu nggak sayang sama aku ya?"
Naufal, masih saja berani menggoda.
"Tuh kan, kamu tuh begini nih. Makanya cewek-cewek gatel model Elena selalu nempel-nempel sama kamu!"
Naufal memicingkan mata, "Kamu masih cemburu sama dia?"
"Nggak, ngapain juga cemburu. Pengen botakin pala nya, iya!" cetus Anin, dengan kesalnya.
Naufal terlonjak, lantas kembali tertawa.
"Ih kamu kalo mode begitu, nyeremin tahu." Lantas Naufal menatap Anin lurus. "Tapi tadi, kasih tahu aku. Kenapa Bryan bisa kenal kamu?"
"Oh itu..." Anin melunak "Aku dari toilet dan nggak sengaja ketemu dia."
"Dia godain kamu?"
"Nggak, cuma ya nyapa aja."
Mana mungkin Anin cerita, kalau dia ketangkap basah ngomong sendiri oleh Bryan. Bisa malu kan?
"Dan aku nggak nyangka, kalo dia anaknya Bu Paulina."
Naufal menyipitkan mata, "Trus kenapa tadi kamu terima tawaran Tante Paulina, buat jadi PA nya dia?"
Anin menautkan alisnya, "Kamu masih nanya, aku kenapa mau?"
Naufal mengangguk.
"Susah kalo ngomong sama anak orang kaya!" Anin membuang nafas kasar.
"Maksudnya gimana? Kenapa jadi bawa-bawa anak orang kaya?" Naufal tidak paham, maksud Anin apa.
"Kamu denger kan, Bu Paulina mau ngasih aku gajih berapa kalo aku mau jadi PA nya dia?"
"Dua puluh lima juta." sahut Naufal.
"Buat aku, yang belum pernah mendapat uang segitu, itu jumlah uang yang besar buat aku. Mana mungkin aku lewatkan begitu aja. Aku juga mau, Ibuk aku dan keluarga aku hidup enak. Makanya aku setuju."
"Aku bisa kasih kamu lebih dari itu!" sela Naufal.
"Nye Nye Nye! Enak ya yang punya banyak uang" sindir Anin.
"Beneran!" Naufal meninggikan suaranya, "Aku lagi nggak bercanda!"
"Ya bercanda lah," sela Anin, "Memangnya kamu suami aku? Bisa ngasih aku uang lebih dari itu tanpa ikatan kerja?!"
Lantas Naufal terdiam.
"Kenapa diam? Baru nyadar?"
Naufal menghela nafas, "Aku akan ngomong sama Papa dan Mama tentang hubungan kita, dan kita nikah segera!"
Anin terkesiap, kegilaan apa lagi yang akan Naufal buat–pikirnya.
"Memangnya kamu udah siap kalau seandainya hubungan kita ini di tentang? Mama kamu dan temen-temen nya itu alergi sama keluarga macam keluarga aku."
"Ya bodo amat, orang yang nikah aku. Bukan mereka!"
Naufal mulai di puncak ke egoisan-nya, "Albie sama Qistina dulu awalnya juga mikir begitu, Albie takut Qistina nggak bisa masuk ke keluarganya. Sampe di ajarin macam-macam sama Niken dan Diana."
"Ck , masalahnya itu, Qistina nikah sama Albie. Dia punya prinsip..."
"Itu lagi, itu terus!" potong Naufal. "Oke kita taruhan, kalo aku berani kasih tahu orang tua aku tentang hubungan kita, dan bagaimana tentang keadaan keluarga kamu, mau apapun respon mereka, kita akan tetep nikah. Gimana? Awas aja kamu yang ciut!"
"Ciut?" Anin menyela, "Ya gimana nggak ciut, kalo nanti akhirnya orang tua kamu tahu, dan Bu Paulina tahu, terus aku di depak dari kerjaan aku?"
"Tuh kan, aku udah nebak, sebenarnya yang nggak ada nyali tuh kamu" terang Naufal sedikit kesal, "Kamu yang nggak percaya aku!"
"Gimana aku mau punya nyali, kalo sampe aku di depak. Terus cicilan motor aku masih ada dua, kontrakan rumah aku bentar lagi jatuh tempo, sekolah adik aku, kamu mikir juga dong kesana!" timpal Anin tak kalah kesalnya.
"Ya kan aku bisa bantuin semuanya, Anin!" Naufal melunak. Namun masih menyimpan kekesalan.
"Tanggung jawab kamu, kalau sudah nikahin aku. Itu cuma nafkah-in aku. Cuma aku yang berhak morotin duit kamu, bukan keluarga aku!" timpal Anin, yang juga masih kesal.
"Kan akunya ikhlas, apa masalahnya?"
"Masalahnya, keluarga aku jadi makin nggak tahu diri!"
Lantas Naufal terdiam.
"Kamu tuh aneh ya, biasanya nih orang akan suka cita. Ada orang yang mau menerima pasangan sekaligus biayain keluarga nya. Tapi kamu kok nggak?"
Anin menoleh, lantas menghela nafas. "Aku nggak mau jadi orang yang bisanya cuma jadi beban. Masalah keluarga aku ini, lambat laun akan jadi masalah besar nantinya buat kita, kalau kamu terus maksain nerima."
"Aku nggak maksain, aku udah bilang kalo aku ikhlas. Kamu tuh, nggak pernah percaya-in aku." Ujar Naufal cemberut.
"Tapi aku yang nggak ikhlas, kalo kamu di manfaatin keluarga aku! Kamu tuh nggak ngerti-ngerti! Gimana sih." Anin hampir putus asa menjelaskan perasaannya.
Naufal memilih untuk menghentikan perdebatan. Melihat Anin yang sudah putus asa, ia pun hanya bisa melapangkan dada dan terus memikirkan cara untuk kedepannya bagaimana.
"Kalian di sini juga?"
Sontak Anin dan Naufal menoleh pada sumber suara. Siapa?
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍