NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Kimi mencoba tenang, walau mulutnya tak berhenti mengoceh. Sampai tiba-tiba pemandangan di depan membuatnya membeku.

Air terjun setinggi tebing berdiri megah di ujung hutan. Airnya jernih, berkilau tertimpa cahaya sore. Suara gemuruh air bercampur kicau burung dan suara monyet yang entah ada di mana. Semua itu bikin kimi nyengir tanpa sadar.

"Gila. Bagus banget," bisiknya takjub.

Mereka semua turun membawa tas masing-masing. Dua staf keamanan yang ikut mengawal berdiri di kejauhan, menjaga jarak sopan. Mengintip? Jangan harap.

Sementara para peserta langsung heboh, tertawa, menjerit, lempar-lemparan tas. kejadian selanjutnya, Kimi terpaku ketika satu per satu mulai melepas baju hingga tersisa celana dalam. Tanpa malu. Tanpa mikir dua kali. Dan tanpa menunggu, mereka langsung melompat ke dalam air.

"Kim, ngapain bengong? Buruan, airnya seger banget!" seru Juli yang sudah nyebur duluan.

"A-aku malu," cicit Kimi sambil meremas ujung kaosnya.

"Lah, malu kenapa? Cewek semua ini, Kim. Lo punya, kita juga punya," sahut Janu santai.

Kimi menatap mereka satu- satu. Ya, benar juga sih. Tapi tetap saja, membuka baju di depan orang banyak? Huh, ke mamanya saja malu, apalagi ke teman- temannya.

Akhirnya dengan napas berat, kimi menarik kaos dan celana pendeknya. Saat tangannya menyentuh tali bra, ia garuk-garuk kepala, galau setengah mati.

"Lama banget, Kim!" seru Apri dari dalam air. "Kalau malu, biarin aja pake beha. Ribet amat!"

Kimi mengangguk pelan. "Iya juga ya." Tapi dua detik kemudian, entah kenapa keberaniannya muncul begitu saja.

Mereka aja nyantai, masa aku doang yang kaku, batinnya.

Dan- tada!-bra-nya melayang ke atas tumpukan baju. Kimi langsung lompat ke air. Begitu air dingin menyentuh kulit, ia langsung menjerit kecil. "DINGIN BANGET!"

"Seger kan?" Desi ngakak.

Kimi tertawa lebar. "Seger banget! Tapi sumpah, pas baru nyebur rasanya kayak kesetrum,."

Ia menoleh ke Agus, Juli, dan Nove yang mulai berenang ke arah air terjun, "Kalian gak ke sana?"

Febi menggeleng cepat. "Gak ah! Mereka tuh mau tahan-tahanan di bawah air terjun. Sakit, Kim. Kayak digebukin satu RT. Serius."

Kimi baru mau tertawa saat Marey menarik

tangannya. "Coba aja dulu!"

"Aku ogah nyoba!" teriaknya, tapi suaranya kalah sama gemuruh air terjun.

"Gak ada ogah-ogahan!" balas Janu, lalu menyeret Kimi ke bawah air.

Kimi menjerit, tapi langsung tenggelam karena kepala dan bahunya dihantam air deras. Rasanya seperti dilempar ke mesin cuci.

Kimi cuma bertahan lima detik sebelum akhirnya minggir dengan wajah panik. kulit bahu dan punggungnya yang putih sampai memerah dalam waktu singkat. "Astaga, sakitnya kayak ditabok setan!"

Seperti kimi, yang lain juga mulai menyingkir. Janu bahkan masih meringis sambil memijat bahunya. Tapi ada satu yang bertahan. Nove. Masih berdiri gagah di bawah air terjun dengan tangan terangkat bangga. "WO000! JUARA!"

Apri geleng-geleng kepala, menarik Nove sebelum cewek itu geger otak karena hantaman air.

"Hadiahnya apa?" tanya Kimi begitu napasnya kembali normal.

"Gak ada," jawab Nove santai.

Kimi melongo. "Lah, jadi tadi kamu digebukin cuma buat pamer?"

"Iya lah. Tapi keren kan? Abis ini gw mau daftar tanding gulat!"

"Kayak kurang kerjaan."

Sambil tertawa-tawa, mereka semua kembali main air. Tapi di sela keriuhan, Kimi sempat melamun.

Uby lagi ngapain ya? Jangan-jangan lagi berduaan sama Anela? Ih, jangan mesum dulu napa. Kimi mendengus kesal. Belum sempat overthinking lebih jauh, suara Septi tiba-tiba nyelonong tanpa filter.

"Eh, Kim. kok punya lo pink banget sit? Lo olesin madu ya?"

"HAH?!" Kimi langsung melotot, sementara yang lain otomatis menatap ke arah dadanya.

Desi ngakak. "Punyaku juga lumayan pink kok. Tapi gak seimut itu sih-"

"Woi, punya Janu item kayak arang!" seru Agus tiba-tiba.

"APA KÁTÁNYA?!" Janu langsung mencak-mencak, maju sambil ngacungin dada ke depan, "Mana yang item? Nih liat! Liat!"

Agus berenang mundur sambil ngakak. "Ampun, Mak. Jangan tunjukin bukti!"

"Lo buta Warna, sumpah!" Apri ikut nyeletuk santai. "Kalau Febi sih gede banget, seriusan. Kayak semangka mini."

Febi langsung merah padam, pelan-pelan tenggelam sampai dagu. "Gak segede itu juga lah."

"Malu dia tuh," kata Juni dengan nada mengejek. "Punya gw mah datar, jadi aman,"

"Datar gimana, lo masih ada tonjolan dikit!" timpal Okta. "Gw nih yang asli papan penggilesan."

"Ya kamu kurus banget. Kayak hanger, " balas Desi.

"Dari pada kayak gambar anak esde. Lo tau kan, yang kepalanya gede, tapi badannya mirip lidi."

"HAHAHAHAH!" Tawa mereka langsung pecah.

Kimi sampai terpingkal sambil memegang perut. "Astaga, obrolan apaan ini. Gak jelas banget!"

Dan di tengah kekacauan itu, Kimi merasa hangat. Bukan cuma karena air yang mulai terasa nyaman, tapi karena kebersamaan aneh yang bikin dia lupa semua drama.

Kalau Uby ada di sini, pasti lebih seru, pikirnya.

Anela? Elah, skip. Gak penting.

~

Tepat pukul lima sore, mereka akhirnya sampai di asrama. Sisa tawa masih menggema saat masing-masing kembali ke kamar. Kimi yang mulutnya dari tadi tak berhenti ngoceh, langsung mingkem setelah pintu kamar tertutup.

Ia berdiri di depan pintu cukup lama, memastikan langkah kaki dari kamar atas menjauh di koridor. Begitu yakin aman, kimi langsung kabur ke kamar Ruby.

Tok-tok.

Ketukannya pelan, tapi niatnya sih ingin mendobrak.

Tak lama, pintu terbuka. Muncul Ruby dengan wajah setengah ngantuk dan rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur.

Tanpa menunggu izin, kimi yang merasa 'sudah jadi teman' langsung nyelonong masuk.

"Oh, udah berani main masuk aja sekarang?" sindir Ruby sambil menutup pintu.

"Aku teman kamu kan? Anela aja boleh, Ya... walau beda sih, teman sama pacar," celetuk Kimi dengan nada jutek.

Ruby berdecak, lalu duduk di kursi. "Ngomong apa sih? Lo balik-balik kok malah cemberut?"

Kimi langsung nyolot. "Kenapa kamu gak ikut, hah? Jelasin. Dan gak usah pake alasan klasik kayak 'lagi capek' ya!"

Ruby memandangi kimi beberapa detik, lalu mengembuskan napas panjang. "Lo sadar gak kalau pertanyaan lo aneh?"

Kimi menggeleng polos.

"Inget waktu awal mereka tau tentang orientasi gw?"

Kimi mengangguk.

"Inget gimana mereka risih sama gw?"

Kimi mengangguk lagi, makin pelan.

"Dan tadi lo liat sendiri kan mereka pada mandli rame rame setengah bugil? Sekarang coba lo pikir, kalau gw ikut, gimana reaksi mereka?"

Kimi terdiam. Tatapannya kosong. tingga beberapa detik kemudian, sepertinya ia mulai paham dan senyum jahil khasnya balik lagi.

"Biarin aja mereka. Kalau aku sih gak masalah kamu liat-liat. Aku tadi juga topless loh," katanya bangga setengah mati.

Ruby langsung buang muka sambil geleng-geleng. Bisa gila dia punya teman model kimi Ariana. Tuhan, cukup satu aja yang kayak gini, batinnya lelah.

"Lo gak takut gw apa-apain?" Ruby tiba-tiba penasaran. Biasanya cewek kalau ditantang balik bakal mundur.

"Emang diapain?"

"Menurut lo?"

Alis Kimi naik, otaknya berputar cepat, tapi ia tahu harus pelan-pelan atau Ruby bakal menjauh lagi.

"Eh, bentar deh, By"

Kimi berdiri, mendekat, dan mengulurkan tangannya. Ruby menatap tangan itu dengan dahi berkerut.

"Mau minta apa?" tanyanya curiga.

"Pegang tanganku."

"Mau ngapain sih?"

"Ya ampun, pegang aja bentar kok susah banget. Tangan kamu gak bakal lecet. Aman."

Kimi memutar mata karena Ruby tak juga bergerak, bahkan tatapan cewek itu makin curiga. Merasa tak sabar, akhirnya kimi sendiri yang maju, dan-greb! menggenggam tangan Ruby erat-erat.

Deg.

Dunia seakan slow motion.

Oh, jadi gini rasanya pegangan tangan sama Uby. Lembut banget, tapi juga keras, ada uratnya dikit, dia pernah jadi kuli ya? batin kimi girang sendiri.

Ruby yang sadar kimi senyum-senyum aneh langsung menarik tangannya lagi.

"Kenapa lo nyengir gitu? Nyeremin tau."

Kimi nyengir makin lebar. "Gak ada, seneng aja bisa pegangan sama kamu,"

Dan tanpa menunggu respon, Kimi langsung kabur keluar kamar dengan langkah riang. Brak! pintu tertutup.

Ruby masih bengong di tempat. Matanya turun menatap tangannya sendiri.

"Apa maksudnya seneng pegangan sama gw?" gumamnya pelan.

Beberapa detik berlalu, alis Ruby makin keriting. "Jangan-jangan...."

Ia menggeleng cepat, lalu memutar mata karena merasa bodoh sendiri.

"Ngaco banget. Si Teddy Bear itu straight. Aturan nomor satu: jangan pernah baper sama cewek straight, terlebih kalau cewek itu si kimi. No debat."

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!