Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Akar yang Membusuk
Jakarta setelah hujan selalu menyisakan aroma aspal basah yang tajam, sebuah aroma yang bagi Elena terasa seperti kemenangan yang dingin.
Api di gudang Marunda mungkin sudah padam, tapi bara di hati Elena justru menemukan bentuk barunya.
Ia tidak lagi meledak-ledak; ia menjadi tenang, stabil, dan jauh lebih berbahaya.
Pagi itu, Elena tidak berada di kantor Sarah Tower yang megah.
Ia duduk di sebuah warung kopi kecil yang kumuh di pinggiran pelabuhan, mengenakan hoodie kebesaran dan topi baseball.
Di depannya, Paman Han meletakkan sebuah map plastik yang agak lembap.
"Ini adalah potongan terakhir dari teka-teki itu, Nona," ujar Paman Han pelan.
"Tentang kenapa Adrian dan Siska bisa keluar dari penjara dengan begitu mudah. Ternyata bukan cuma sisa koneksi Haryo."
Elena membuka map itu.
Di dalamnya ada foto seorang pria paruh baya dengan seragam cokelat yang rapi, berdiri di samping seorang jaksa senior.
"Komisaris Hendrawan?" gumam Elena.
"Dia adalah orang yang dulu sering dipuji media sebagai 'polisi jujur' sahabat keluarga Adiguna."
"Jujur dalam tanda kutip," sahut Paman Han sinis.
"Dia adalah orang yang memegang 'kartu mati' banyak pejabat. Dia yang mengatur pembebasan Adrian karena Adrian menjanjikan lokasi penyimpanan emas batangan milik Haryo yang tidak sempat disita negara."
Elena menyesap kopi hitamnya yang pahit.
"Jadi, Adrian masih punya kartu truf. Dia pikir dia bisa membeli kebebasannya dengan emas itu?"
"Masalahnya, Nona... emas itu tidak pernah ada. Adrian hanya membual untuk bisa keluar. Dan sekarang Hendrawan mulai sadar dia dibohongi. Dia sedang memburu Adrian untuk menghabisinya, tapi dia juga mencari Anda karena dia tahu Anda memegang seluruh aset sah keluarga Adiguna."
Elena tahu, berlari bukanlah pilihan.
Jika ada serigala baru yang mengincarnya, ia harus menjinakkan atau mematahkan leher serigala itu sebelum sempat menggigit.
Malam itu, restoran mewah di lantai teratas sebuah hotel bintang lima telah dipesan seluruhnya atas nama Elena.
Hanya ada satu meja di tengah ruangan dengan pemandangan lampu kota yang berkelap-kelip.
Komisaris Hendrawan datang dengan langkah tegap, senyumnya terlihat ramah namun matanya penuh perhitungan.
"Nona Elena... atau haruskah saya panggil Alana?" Hendrawan duduk tanpa diundang.
"Anda benar-benar fenomena. Dari dasar jurang ke puncak gedung ini. Luar biasa."
"Mari lewatkan basa-basinya, Komisaris," Elena memotong sambil memotong steaknya dengan presisi.
"Anda membiarkan Adrian keluar supaya dia bisa menuntun Anda ke harta karun Haryo. Tapi Adrian cuma pecundang yang putus asa. Dia tidak punya apa-apa."
Hendrawan tertawa pelan.
"Memang. Adrian adalah kekecewaan. Tapi Anda... Anda punya segalanya. Semua aset Adiguna Group yang sudah berganti nama itu... bukankah terlalu berat jika dikelola sendirian?"
"Anda sedang mencoba memeras saya, Komisaris?" Elena mengangkat alisnya.
"Saya lebih suka menyebutnya 'biaya perlindungan'. Anda punya banyak musuh, Nona.
Dan saya punya kunci untuk membuat mereka semua tetap di dalam jeruji... atau di bawah tanah."
Elena meletakkan garpunya. Ia menatap Hendrawan dengan tatapan yang membuat pria itu sedikit tidak nyaman.
"Anda tahu apa kesalahan terbesar Haryo Adiguna? Dia merasa bisa membeli semua orang. Tapi dia lupa bahwa orang yang bisa dibeli, juga bisa dibeli oleh orang lain dengan harga yang lebih tinggi."
"Apa maksud Anda?"
Elena mengeluarkan ponselnya dan menggeser sebuah video.
Di layar itu, terlihat Hendrawan sedang menerima koper berisi uang dari seorang gembong narkoba di sebuah klub malam, tiga tahun lalu.
Wajah Hendrawan seketika pucat pasi. "Dari mana kau dapat ini?"
"Haryo tidak sebodoh yang Anda kira, Komisaris. Dia merekam semua 'investasinya'. Dan sekarang, semua rekaman itu milikku. Jika saya menekan satu tombol, karir 'polisi jujur' Anda berakhir malam ini juga."
Hendrawan mencoba meraih ponsel itu, namun Paman Han sudah berdiri di belakangnya dengan tangan di balik jas.
"Duduklah, Komisaris," perintah Elena dingin.
"Saya tidak butuh uang Anda, dan saya tidak butuh perlindungan Anda. Yang saya butuhkan adalah Anda membersihkan semua 'sampah' yang tersisa. Kirim Adrian kembali ke sel paling gelap. Pastikan dia tidak pernah melihat cahaya matahari lagi. Dan setelah itu... Anda akan mengundurkan diri dengan alasan kesehatan."
"Kau... kau mengancamku?" suara Hendrawan bergetar karena marah dan takut.
"Saya sedang memberi Anda kesempatan untuk pensiun dengan uang pensiun yang utuh, bukannya memakai baju oranye di samping Adrian," balas Elena. "Pilihannya ada di tangan Anda."
Hendrawan menatap Elena seolah melihat iblis dalam rupa bidadari.
Ia sadar, wanita di depannya ini bukan lagi Alana yang bisa ditindas.
Dia adalah badai yang tidak bisa dihentikan.
Dua hari kemudian, berita utama TV nasional melaporkan: "Komisaris Hendrawan Mengundurkan Diri Karena Masalah Kesehatan. Di Saat yang Sama, Buronan Adrian Adiguna Berhasil Ditangkap Kembali dalam Operasi Senyap."
Elena berdiri di balkon kantornya, menatap matahari terbenam. Paman Han masuk dan memberikan sebuah laporan.
"Siska sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa penjara, Nona. Dia mengalami trauma berat. Dan Adrian... dia ditempatkan di sel isolasi. Tidak ada lagi koneksi, tidak ada lagi harapan baginya."
Elena menarik napas dalam-dalam. Udara Jakarta terasa lebih ringan sekarang.
"Paman, apakah menurutmu aku sudah menjadi monster seperti mereka?" tanya Elena pelan.
Paman Han berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama.
"Monster tidak akan pernah menanyakan hal itu, Nona. Anda hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar tidak ada lagi orang jahat yang menang. Anda adalah pelindung yang terlahir dari rasa sakit."
Elena tersenyum tipis. Ia mengambil foto ibunya yang ada di meja kerja.
"Ibu, sekarang semuanya benar-benar bersih. Tidak ada lagi yang mengejar, tidak ada lagi yang mengancam."
Ia menutup jendela kantornya. Hari ini, identitas "Elena si Penuntut Balas" resmi pensiun.
Ia melangkah keluar ruangan, bukan untuk merencanakan kehancuran orang lain, melainkan untuk menghadiri peresmian yayasan pendidikan barunya.
Balas dendam mungkin telah membawanya kembali ke atas, tapi pengabdianlah yang akan membuatnya tetap di sana.
Elena Adiguna telah menyelesaikan permainannya. Dan kali ini, dia menang dengan caranya sendiri.
Bersambung...
Ayo buruan baca...