Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 5. Satu apartemen
“Jadi gini, Mas. Barang-barang mas Barraq ini memang ada di apartemen Saya. Tapi dia cuma sesekali pulang, misalnya untuk ambil barang. Detik-detik sebelum dia kena tangkap, dia udah sering tinggal di rumah ibu kandungnya. Ibu Acara Paw…” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, aku lupa dengan nama ibu kandung mas Barraq yang sering ia ceritakan.
“Achara Phawitra?” tanyanya dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya.
Sebelumnya, memang aku jarang mengobrol banyak dengan mas Nadim ini. Banyak mengobrol soal pekerjaan saja, tidak dengan masalah pribadi seperti ini.
“Nah, itu.” Aku menjentikkan jemariku membenarkan tebakannya.
Eh, berarti mantan pacarnya.
“Barraq tau Chara?” ucapnya dengan suara yang bergetar.
“Loh???” Aku bingung di sini. Karena sepertinya aku yang salah di sini, aku membuka kartu.
Tapi, tapi…
Tapi Mas Barraq bercerita seolah ia dibuang dari orang tua dari pihak ayahnya saat ia tersandung kasus. Lalu, ia tahu dari mana tentang ia adalah anak mantan pacar ayah kandungnya?
“Katanya, mas Barraq dikembalikan ke ibu kandungnya?” tanyaku langsung membungkam mulutku sendiri.
Aduh, kenapa sih aku kepo dan keceplosan?
“Siapa yang buang dia? DI MANA DIA SEKARANG, anak ini kurang ajar!!!” Ia membentak keras dan berlalu pergi dengan gumaman.
Aku pasti dicecar oleh mas Barraq ini. Astaga, bagaimana aku menyelamatkan diri?
Mas Nadim kembali lagi. “Ini,” ucapnya dengan meletakkan uang di dekat sandaran kursi dekat pintu.
“Oh, iya.” Aku mengangguk.
Mas Nadim meletakan uang di sana. Jangankan keluarganya, mas Barraq sendiri jika makan di tempat coffee shopnya sendiri pun bayar.
Eh apa katanya tadi?
Keluarga mereka memiliki anak di luar nikah dan anak tanpa pernikahan? Jadi maksudnya mas Nadim menegurku begitu, karena beliau tidak mau jejak itu dipijak kembali?
Lalu, dari mana beliau tahu kalau kami satu apartemen?
Tenang, tenang. Jangan menduga-duga yang tidak-tidak, jangan memfitnahku yang bukan-bukan.
Seperti yang aku jelaskan tadi. Ditambah lagi aktivitasku banyak di coffee shop satu dan empat lainnya. Aku berangkat kerja jam enam pagi dan pulang jam sepuluh malam. Jadi sampai apartemen ya tidur.
Aku take video atau foto untuk endorse, biasanya melakukannya di coffee shop ini. Karena terang saja, bangunannya estetik. Ditambah lagi, aku lebih suka mengambil foto dan video di depan kaca besar. Jadi lebih simpel dan aku tidak butuh bantuan orang lain. Biasanya juga, aku mengambil foto atau video di waktu pagi, saat karyawan belum datang dan belum ada pengunjung.
Tentang mas Barraq pun benar adanya, dia lebih banyak tinggal di rumah ibu kandungnya itu.
Lalu dengan sejarah tentang dirinya sendiri itu, mas Barraq tahu dari mana ya? Mas Nadim terlihat begitu terkejut dan panik, seolah-olah memang beliau merahasiakannya dari mas Barraq.
Lebih baik aku menghubunginya.
Tak butuh waktu lama, ia langsung menerima panggilan masuk dariku. Uapan lebarnya yang aku dengarkan pertama kali.
“Ada di mana, Mas?” Aku memastikan kondisinya terlebih dahulu.
“Hmm, udah di PAP,” jawabnya terdengar mengantuk.
“Mas, tadi…” akuku takut.
“Bang Nadim nyariin kan? Udah telpon kok, udah dimakinya Masmu ini,” sahutnya terkekeh kecil.
Suaranya serak-serak lemas. Aduh, pikiranku gampang ngeres.
“Mas, maaf. Aku kira, permasalahan itu transparan. Maksudnya, kedua belah pihak memang tau,” jelasku kemudian.
“Yaaa gimana ya?” Ia terbatuk kecil, kemudian terdengar ia tengah meneguk air minum.
“Mas,” panggilku berulang, karena ia tak kunjung menejelaskan kembali.
“Ya, Sayang. Nggak apa, tenang aja, nggak usah dipikirkan. Sebenarnya, Mas tau dari keluarga ayah kok. Bukan dari bang Nadim langsung. Cuma memang Mas udah kecewa duluan, jadi ya alibi Mas keluar dari rumah alasannya setuju dengan saran dari ayah, maksudnya kakek Mas tuh. Untuk nerusin usaha kakek dan ngembangin juga. Tapi nggak taunya berkembang di tangan kamu ya, De?” ungkapnya dengan kekehan kecil.
Kok bisa ia tidak marah padaku? Pada siapapun, biasanya amarahnya meledak-ledak.
Di awal perkenalan kami, saat aku baru bekerja di coffee shop ini pun aku kenyang dimarahinya. Dimaki-maki, dibentak, diberi perkataan yang kasar. Entah karena ia dalam pengaruh narkotika, entah memang sifatnya tempramental.
“Ini juga berkat arahan dari Mas dan keluarga Mas kok. Jadi, Mas juga ditekan keluarga ya buat cari pendamping?” tanyaku setelah mengingat kembali percakapanku dengan mas Nadim.
“Kamu penasaran ya?” Kekehannya terdengar.
“Tadi mas Nadim ada bilang, Mas,” sahutku kemudian.
“Hmm, oke-oke. Ya nanti kita ngobrol banyak kalau kerjaan Mas di sini udah kelar. Keknya agak lama, soalnya abang yang merangkap sebagai ayah kandung itu lagi jalan nyusulin Mas. Pasti kerjaan Mas tambah lama di sini karena harus ngeladenin amukan bang Nadim dulu,” balasnya dengan tawa ringannya.
Ohh ternyata mas Nadim tidak cuma menelpon, ia pun akan mengunjungi anaknya juga. Memang pantasnya disebut abangnya, karena mereka terlihat seperti kakak beradik, bukan seperti ayah dan anak.
Waktu ia baru selesai dengan kasusnya saja, ia mengajak mas Nadim juga ke club malam untuk merayakan kebebasannya. Aku ada di sana waktu itu, makanya aku tahu.
“Mas mau tidur kah?” Aku melirik ke arah jam tanganku.
Sekarang pun sudah waktunya aku pulang kerja. Bayangkan saja setiap hari aku kerja enam belas jam, tanpa memiliki jadwal libur yang tetap. Aku libur kerja ketika menjalani operasi perombakan bentuk tubuh dan saat sakit saja. Selebihnya tetap bekerja selama bumi belum meledak.
Jangan tanyakan pendapatanku, sebulan pure gajiku saja sepuluh kali lipat UMK Jakarta. Itu belum bonusku, yang bisa mencapai full gajiku. Ditambah lagi dengan hasil endorse juga.
Kadang hasil endorse setara dengan pendapatanku bekerja di mas Barraq, kadang lebih besar, kadang lebih kecil. Kalau hasil endorse tak menentu, tidak seperti pendapatanku bekerja di mas Barraq. Makanya aku tidak melepaskan pekerjaanku, meski aku memiliki sampingan lain.
Tapi pendapatan fantastic itu aku dapatkan ketika aku sudah memiliki rupa sempurna, artinya kurang lebih setahun belakangan. Ke mana uang sebesar itu? Uang sebesar itu aku pegang sendiri. Hanya beberapa juta aku kirimkan untuk suamiku dan orang tuaku.
Tapi kini orang tuaku memiliki kesibukan, mereka memiliki aktivitas dengan kolam-kolam ikan air tawar milikku. Tapi hanya memantau saja, selebihnya aku menyuruh orang.
Kakakku pun memiliki usaha rumahan, yang modal awalnya aku berikan cuma-cuma. Asalkan, mereka mau menetap di kampung dan mengurus orang tua kami. Ya, aku pun hanya dua bersaudara seperti suamiku.
Perihal masalah usaha-usahaku pun diributkan suamiku, katanya aku tak memberikan apa-apa padanya. Sedangkan, pada keluargaku sendiri aku memberikan usaha.
Bukan aku tidak memberinya usaha, sehingga ia masih bekerja di pabrik saus saja. Tapi aku pernah memberinya uang untuk usaha, malah dipakainya untuk membangun rumah orang tuanya.
Setiap hari ada saja permasalahannya, maka dari itu aku sengaja slow respon padanya. Sebelum pertengkaran terakhir ini, ia minta aku mengirimkan uang untuk adiknya yang akan menikah.
Aku tidak menurutinya, karena itu bukan kewajibanku. Aku orang lain untuk keluarganya, aku ipar untuk adiknya. Saat aku kesusahan mereka tidak ada yang mau membantuku, masa iya kini mereka meminta bantuan terus padaku lewat tangan suamiku.
Aku tidak ridho terang saja.
Namun, laporan darinya membuatku semakin naik pitam dengan keluarganya. Untuk modal menikahkan adiknya itu, orang tuanya meminjam pada Bank Mekar sebanyak tujuh juta. Lalu, aku diminta membayarnya senilai tiga ratus tiga puluh tujuh per dua minggunya.
Siapa yang ngen***, siapa yang membayar. Bagaimana tidak muak aku ini?
Jangan salah, ibunya itu dulunya guru yang memiliki kedinasan. Ia memiliki tunjangan pensiun setiap bulannya. Dulu pun aku dan dia tidak direstui oleh ibunya, perihal statusku.
Ia merendahkanku dengan biaya pernikahan yang hanya diberi dua juta saja, selebihnya keluargaku yang memikirkan. Lalu, saat aku akan berangkat merantau. Aku meminta pinjaman untuk ongkos saja, karena untuk biaya hidup sebulan aku memilikinya dari gaji terakhirku bekerja di kampungku. Namun apa? Beliau tidak meminjamkannya.
Padahal ekonomi keluarga suami dan keluargaku itu setara. Buktinya, pendidikan kami saja di atas sekolah menengah atas. Suamiku S1 dan aku D1.
Tapi ya sudahlah, akunya mau kok dipersuntingnya saat itu.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠