NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pion Catur

Angin malam Jakarta di lantai lima puluh berhembus cukup kencang, namun rasa dingin itu seolah tak mampu menembus kulit mereka yang masih menyimpan sisa panas dari pergulatan gairah beberapa saat lalu. Bagas berdiri di balkon, menyandarkan punggungnya pada pagar kaca yang kokoh, sementara Nara berada di dalam dekapannya.

Nara menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagas, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berirama tenang, sebuah melodi yang menjadi favorit baru bagi pendengarannya. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Bagas yang kebesaran, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha, sementara Bagas hanya mengenakan celana kain panjang tanpa atasan.

"Kau melamun," bisik Bagas, tangannya bergerak ritmis mengelus bahu Nara yang halus.

Nara melepaskan tawa kecil, hampir seperti gumaman.

 "Aku hanya sedang berpikir... ternyata kata orang-orang itu benar."

"Tentang apa?" Bagas menunduk, mencium puncak kepala Nara yang harum.

"Tentang surga dunia," jawab Nara jujur, wajahnya sedikit merona di bawah siraman cahaya bulan. "Dulu aku berpikir bercinta hanyalah soal transaksi, soal eksploitasi tubuh yang sering kulihat di tempat kerjaku. Tapi tadi... bersamamu... rasanya seperti jiwaku ditarik keluar lalu dipeluk dengan sangat erat. Entah berapa kali kita melakukannya tadi, Bagas. Aku sampai kehilangan hitungan."

Bagas terkekeh, suara beratnya bergetar di dada yang menjadi sandaran Nara. "Aku juga tidak menghitungnya. Yang kutahu, setiap kali aku melihat matamu, aku merasa tidak akan pernah cukup. Aku ingin terus menyelamimu sampai aku lupa cara untuk bernapas."

Nara mendongak, menatap rahang tegas Bagas. "Kau tidak takut?"

"Takut soal apa?"

"Ibumu. Keluargamu. Kursi empukmu di perusahaan itu. Tadi siang ibumu bilang kau akan membuangku seperti sampah saat kau bosan. Dia bilang aku hanya gangguan bagi masa depanmu."

Bagas menghentikan gerakan tangannya di bahu Nara. Ia memutar tubuh wanita itu agar mereka saling berhadapan sepenuhnya. Dengan kedua tangan menumpu di pagar balkon, ia mengurung Nara dalam ruang pribadinya.

"Dengarkan aku baik-baik, Nara. Ibuku hidup di masa lalu, di mana gelar dan nama belakang adalah segalanya. Tapi dia lupa satu hal, siapa yang memegang kendali perusahaan Prawijaya Group sekarang," ujar Bagas dengan nada penuh percaya diri yang tidak dibuat-buat.

"Maksudmu?"

"Ayahku mungkin keras kepala, tapi dia adalah pebisnis ulung. Dia tahu betul bahwa selama tiga tahun terakhir, akulah yang membuat grafik perusahaan kita melejit hingga ke pasar internasional. Relasi bisnis dari London hingga Tokyo ada di tanganku. Namaku bukan sekadar pajangan di majalah bisnis; namaku adalah jaminan kepercayaan bagi para investor. Mereka tidak peduli dengan siapa aku tidur, mereka peduli pada angka yang kuhasilkan. Jadi, mereka tidak bisa memecatku begitu saja tanpa menghancurkan separuh kekayaan keluarga ini. Apalagi ayahku tahu betul kakek sudah mempercayakan perusahaan itu di tanganku jauh sebelum dia meninggal tahun lalu."

Nara menyentuh dada Bagas, meraba tekstur kulitnya.

 "Jadi kau yakin kau tidak akan hidup susah karna aku?"

"Susah?" Bagas menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum nakal. "Nara, jika kau ingin membeli seluruh isi toko desainer yang menghinamu tadi siang, aku bisa melakukannya sekarang juga tanpa perlu melihat saldo. Tapi aku tahu kau bukan wanita seperti itu. Yang ingin kujanjikan padamu bukanlah sekadar angka di rekening, tapi kepastian bahwa tidak akan ada lagi orang yang berani meludah di hadapanmu."

Nara terdiam, matanya tajam menatap ke depan.

"Tapi Sinta, dia punya segalanya. Dia model, dia cantik, dia sepadan denganmu di mata publik. Tentu dia juga berasal dari keluarga yang selevel denganmu."

Bagas merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi terus bergetar. Ia memperlihatkan layar ponsel itu kepada Nara.

"Lihat ini."

Nara membaca sebuah pesan terkirim kepada seseorang bernama Tomi. Matanya menyipit sesaat saat membaca isinya.

‘Tom, ini Bagas. Muat di headline besok pagi: Pertunangan Bagaskara Prawijaya dan Sinta resmi dibatalkan secara sepihak. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Kau dapat eksklusifnya.’

"Bagas, kau yakin?" Nara bertanya dengan tenang. "Tomi itu wartawan paling berpengaruh di rubrik gaya hidup. Ini akan jadi ledakan besar."

"Memang itu tujuannya," jawab Bagas santai sembari memasukkan kembali ponselnya.

 "Tomi pasti merasa seperti mendapat jackpot. Sinta adalah aset besar bagi media, dan berita dia terdepak akan menghancurkan citranya yang selama ini dia bangun sebagai 'calon menantu sempurna'. Aku ingin dia tahu, dan ibuku tahu, bahwa aku tidak main-main."

Nara tertawa kecil sebetulnya masih tidak percaya. Tapi entah mengapa dia merasa senang dan lega saat ini, terdengar jahat, tapi siapa yang memulai duluan?

 "Sinta akan mengamuk. Dia bisa melakukan hal nekat untuk menjatuhkanmu."

"Biarkan dia mencoba," potong Bagas tenang. "Dia hanya punya kamera dan panggung peragaan busana. Aku punya kuasa dan perlindungan hukum. Jika dia menyentuhmu seujung kuku saja, aku pastikan kariernya berakhir malam itu juga."

Bagas kembali menarik Nara ke dalam pelukannya, kali ini lebih erat, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka sekali lagi.

"Nara, aku membawamu ke sini bukan untuk menjadikanmu selingkuhan atau wanita simpanan. Aku membawamu ke sini untuk menjadi ratuku. Aku tahu hubungan ini pelik, aku tahu aku yang memulainya dengan mengejarmu ke gang sempit itu, tapi perasaanku murni. Aku mencintaimu lebih dari apa pun yang pernah kumiliki."

Nara memejamkan mata, menghirup aroma maskulin Bagas yang bercampur dengan udara malam.

 "Aku juga mencintaimu, Bagas. Dan mungkin akan sakit jika membayangkan kau bersama wanita lain." Nara mencoba tertawa kecil lagi meski ada nada getir, nyaris tak kentara tapi Bagas menyadarinya..

"Maka jangan bayangkan itu. Karena itu tidak akan pernah terjadi," bisik Bagas.

Nara tersenyum, kali ini senyumnya penuh kemenangan dan ketenangan yang hakiki.

 "Dulu aku takut bermimpi. Aku pikir takdirku hanya berakhir di tiang panggung atau di samping tempat tidur ibuku yang sakit. Tapi malam ini, setelah apa yang kita lalui... aku merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi seluruh dunia."

"Itu Nara yang kukenal," puji Bagas. "Gadis petarung yang tidak mempan diancam dengan buku cek."

"Uang ibumu memang banyak, Bagas," canda Nara sambil mencubit kecil pinggang Bagas.

 "Tapi dia melakukan kesalahan besar dengan meremehkan harga diri seorang wanita yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan."

Bagas tertawa, lalu menatap langit yang mulai menunjukkan semburat ungu kebiruan di ufuk timur.

"Sebentar lagi pagi. Dunia akan bangun dan mereka akan melihat berita itu. Kau siap menghadapi badainya?"

Nara melepaskan diri dari dekapan Bagas, berdiri tegak dengan dagu terangkat. Angin menerbangkan rambutnya yang hitam panjang, membuatnya tampak seperti dewi yang turun ke bumi.

"Badai sudah menjadi temanku sejak kecil, Bagas. Tapi kali ini, aku tidak akan hanya diam dan basah kuyup. Aku akan menari di tengah badai itu, dan memastikan semua orang yang membenciku melihat betapa indahnya langkahku."

Bagas terpaku melihat pemandangan di depannya. Nara bukan lagi gadis rapuh yang ditemuinya di rumah duka. Dia adalah api.

"Kalau begitu," Bagas mengulurkan tangannya, "mari kita mulai pertunjukan ini bersama-sama."

Nara menyambut tangan itu, menggenggamnya dengan jemari yang kokoh.

"Bersama-sama, Bagas. Sampai akhir."

Mereka kembali masuk ke dalam apartemen saat fajar mulai menyingsing. Di meja kerja Bagas, ponselnya terus menyala, menampilkan notifikasi balasan dari Tomi yang isinya penuh dengan tanda seru, menandakan kegemparan yang akan segera melanda Jakarta.

Tapi di dalam kamar itu, hanya ada keheningan yang manis. Nara kembali merayap ke tempat tidur, diikuti oleh Bagas yang segera mendekapnya di bawah selimut hangat. Sebelum memejamkan mata untuk tidur sejenak, Nara membisikkan satu hal terakhir.

"Bagas... terima kasih telah menyelamiku. Bukan hanya tubuhku, tapi juga jiwaku."

Bagas hanya membalasnya dengan kecupan lembut di bahu Nara yang terbuka, sebelum akhirnya mereka berdua terlelap, bersiap untuk bangun dan menghancurkan keangkuhan dunia yang selama ini membelenggu mereka.

Takdir mungkin telah merenggut banyak hal dari Nara, tapi malam ini, takdir memberikannya seorang raja yang bersedia meruntuhkan kerajaannya sendiri demi cintanya. Dan Nara, dengan segala keberaniannya, telah memutuskan untuk tidak lagi menjadi pion, melainkan pemain yang memegang kendali atas papan caturnya sendiri.

1
Mak e Tongblung
kapan up
Afternoon Honey
menunggu kelanjutan dari cerita bersambung ini....
Aluz Nana
kenapa lama bgt up nya thor😭😭😭
deeRa
Nara👀
Hosniyah Niyah
❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Siti Ngaisah
makin penasaran untuk mengetahui ceritanya
Lia Kiftia Usman
Nara... kamu sudah punya isi... tambah terus isi akan terlihat kualitas ... acuhkan mereka yg jadi bungkus ..😊
Ariany Sudjana
bagus Nara, tetaplah jadi diri kamu sendiri
Ariany Sudjana
bagus Nara, kamu tunjukkan kamu perempuan yang kuat dan mandiri, bukan pelacur murahan seperti Sinta itu 😂😂🤣🤣
Aluz Nana
keren bangetttt/Angry//Angry//Heart//Heart/
Aluz Nana
kereeennnnn bgt si thor ini cerita sumpah darderdor banget setiap episodenya😍😍😍😍jangan lama2 up nya ya thor
Ida Rina
sehat2 thor..ditunggu up selanjutnya..
Ida Rina
luar biasa..
deeRa
Othor, mau kopi? buat melek👀
Fauziaa Raisyaa
uuhh mantap thor
Fauziaa Raisyaa
uuhh mantap thor
Aluz Nana
astgaaa bolak balik buka noveltonn blm update juga thor😭😭😭😭
Fauziaa Raisyaa
kapan up thor
Indah P
sediiiih bangeeet, semangat author 💪
deeRa
attention seluruh warga Noveltoon, ini bacaan daging banget lho (aseli no fake) kok kurang pembaca ya apa ga ke promoin gitu? 👀
deeRa: Baca chapter awal pasti langsung minat sih (aku) ya😊
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!