Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelakor
Setelah dirawat intensif selama beberapa hari, akhirnya Dion diperbolehkan pulang. Namun, mobil mewah itu tidak melaju menuju rumah besar keluarga mereka yang selama ini dihuni bersama Giyandra.
"Kak, ini di mana?" tanya Tamara bingung saat mereka berhenti di depan gedung apartemen super mewah dan eksklusif.
"Ini apartemen pribadiku. Hanya aku dan Robby yang tahu tempat ini," jawab Dion santai sambil menggenggam tangan Tamara. "Kita akan tinggal di sini sampai aku menemukan rumah baru yang cocok untukmu."
"Kita? Jadi Kakak akan tinggal di sini juga bersamaku?" mata Tamara terbelalak tak percaya.
"Walaupun lukaku sudah membaik, dokter bilang aku masih butuh perawatan khusus," ucap Dion dengan senyum miring, mendekatkan wajahnya ke arah Tamara. "Karena kau aku sampai terluka parah begini, jadi kau harus bertanggung jawab merawatku sampai sembuh total. Makanya aku akan tinggal di sini bersamamu."
"Tapi... bagaimana dengan Giyandra? Dia pasti sedang menunggu Kakak pulang di rumah," ucap Tamara ragu.
"Jangan pikirkan orang lain dulu. Lebih baik pikirkan tentang kita saja," bisik Dion.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Dion menarik pinggang Tamara, mengikis jarak di antara mereka, dan menyambar bibir wanita itu dengan lembut namun mendesak. Tamara tidak menolak, justru ia membalas ciuman Dion dengan penuh gairah yang terpendam. Nafas mereka memburu, suasana apartemen yang sunyi seketika berubah menjadi panas dan intim.
"Jangan, Kak... kau kan masih terluka," desis Tamara saat tangan Dion mulai berani menjelajah dan berniat melakukan lebih dari sekadar ciuman.
"Punggungku yang terluka, Sayang... tapi yang lainnya masih prima dan sehat," goda Dion dengan nada serak yang menggoda. "Apa kau tidak yakin aku bisa melakukannya?"
"Aku yakin... aku yakin sekali," jawab Tamara memerah, matanya berbinar. "Tapi... pelan-pelan saja ya, jangan sampai lukamu terbuka."
Mendengar izin itu, Dion kembali melanjutkan aksinya. Dengan perlahan namun pasti, ia membuka setiap helai kain yang membungkus tubuh indah Tamara satu persatu. Tamara memejamkan mata, pasrah dan menikmati setiap sentuhan hangat milik pria itu yang membuat seluruh tubuhnya bergidik nikmat.
"Ah... Kak Dion..." lenguhan lemah tak sengaja lolos dari bibir Tamara saat Dion mulai menyesap dan memainkan dua gunung kembarnya dengan rakus dan penuh hasrat.
***
Tepat di saat suasana sedang berada di puncak kehangatan...
BRAKK!!
Pintu apartemen itu terbuka paksa dengan kasar!
Di ambang pintu, tampak Giyandra berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah, di belakangnya berdiri seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu kandung Giyandra sekaligus ibu mertua Dion. Mereka terpaku beku melihat pemandangan di depan mata mereka.
"DASAR PELAKOR MURAHAN! MENJAUH DARI SUAMIKU!!"
Giyandra meledak, tidak bisa menahan amarahnya yang meluap-luap melihat betapa intimnya sang suami bersama pelayan rendahan itu di tempat yang seharusnya menjadi miliknya.
"Mah! Lihat itu! Lihat apa yang mereka lakukan!" Giyandra segera beralih mode, wajahnya berubah menjadi sangat memelas dan menyedihkan sambil memegangi perutnya yang besar.
"Aku sedang mengandung cucu keluarga Anderson, Mah! Tapi mereka tega sekali melakukan hal kotor itu tepat di depan mataku! Mereka tidak punya hati!" ratap Giyandra histeris, berharap ibunya akan ikut menyalahkan Tamara.
Ibu Giyandra pun langsung bertindak. Dengan langkah tergesa ia mendekat dan menampar keras pipi Tamara.
PLAK!
Suara tamparan itu terdengar nyaring memecah udara.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Berani-beraninya kau merusak rumah tangga putriku! Kau ini pelayan atau sampah masyarakat?! Berani mengganggu suami orang saat majikanmu sedang hamil!" hardik wanita paruh baya itu dengan penuh kebencian.
Tamara memegangi pipinya yang panas dan perih, air mata hampir menetes. Dion yang melihat itu langsung marah besar. Ia segera menyelimuti tubuh Tamara dengan selimut tebal, lalu berdiri menghalangi istri dan mertuanya.
"JANGAN PERNAH BERANI MENYENTUH TAMARA LAGI!" teriak Dion dengan suara menggelegar, wajahnya garang dan menakutkan.
"Dion, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melindungi wanita ini?! Lihat istrimu sedang menangis! Giyandra sedang mengandung keturunan keluarga Anderson." seru Ibu Giyandra kaget.
"Jangan bawa-bawa nama keluargaku di sini!" Dion menatap tajam ke arah Giyandra. "Aku sudah tahu kalau anak yang dikandung Giyandra itu... BUKAN ANAKKU!"
JLEB!
Ucapan itu bagaikan petir yang menyambar. Giyandra dan ibunya terpaku kaget, wajah mereka pucat pasi.
"Kau... kau gila Dion! Apa yang kau omongkan?!" Giyandra gemetar ketakutan.
Bersambung...