NovelToon NovelToon
SEBUAH DOSA

SEBUAH DOSA

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:509.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Penelope Magdalene

Bagaimana bila ibumu tidak pernah mau menceritakan apapun tentang ayahmu yang tidak pernah kau temui?

Bagaimana bila sejak kecil kamu selalu diikuti sosok berdarah yang selalu berubah wujud mengerikan; kamu tidak tahu siapa sosok itu atau kenapa dia mengikutimu?

Bagaiman bila sampai ibumu meninggal dia tidak pernah membuka rahasia tentang ayahmu yang sangat ingin kamu ketahui?

Aku baru saja menguburkan ibuku dengan perasaan sedih dan menyesal yang begitu dalam. Rahasia besar tentang identitas ayahku di bawa almarhuma ibu sampai ke liang lahat.

Namun layar takdir akhirnya terkuak juga ketika aku menemukan buku harian ibu yang lama tersembunyi. Di buku harian itulah aku akhirnya menemukan jawaban tentang ayah dan kebenaran tentang sosok berdarah yang selalu mengikutiku.

Follow Akun IG @penelopemagdalene24

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penelope Magdalene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22

16 DESEMBER 1989

Hari ini begitu membahagiakan! Oh, aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa merasa sebahagia ini - bahwa hatiku mampu menampung rasa bahagia sebesar yang kurasakan sekarang.

Aku sudah terlalu jauh bercerita, aku akan memulai dari awal, ingin ku ceritakan semua yang terjadi hari ini secara detail.

Hari ini dimulai dengan kesegaran dan kepuasanku tidur semalam tanpa ada gangguan dari makhluk gaib maupun mimpi buruk yang selalu membayangiku sejak aku tiba di rumah ini. Semalam adalah pertama kalinya aku tidur dengan nyenyak. Aku terbangun jam 8 pagi dengan perasaan yang tenang dan puas.

Ketika aku terbangun, tante Nona sudah selesai memasak sarapan dan sedang memanaskan lagi air untuk membuat teh karena air panas yang dia buat tadi sudah dingin, rupanya tidak ada orang yang terbangun pagi-pagi sekali untuk menikmati teh hangat yang dia buat. Aku pun duduk di meja makan dan menikmati secangkir teh hangat dan kue panada sisa kemarin.

Beberapa menit kemudian, Adit masuk melalui pintu belakang; baju dan rambutnya basah karena keringat. Sepatunya juga terlihat basah dan penuh lumpur, aku pikir karena air pasang yang dia lewati. Adit berkata dia baru pulang habis lari pagi di kampung.

"Jam berapa kamu bangunnya, Dit?" tanyaku santai sambil menuangkan Adit secangkir teh.

"Jam setengah empat, mbak Ran. Aku gak bisa tidur karena perut ini begah, terlalu banyak makan kayaknya kemarin," Adit tertawa lepas. "Baru berapa hari di sini, ni perut udah buncit aja," kata Adit lagi sembari mengelus-ngelus perutnya yang memang mulai membuncit.

"Makanya kamu sampai bela-belain naik perahu pagi-pagi untuk joging."

Adit mengangguk sambil menyeruput teh hangat dari cangkirnya beberapa kali.

"Kamu ganti baju dulu sana, nanti masuk angin lagi," kataku.

Adit menyeruput sekali lagi teh hangatnya, sambil sesekali memperhatikan tante Nona diam-diam, seakan dia menunggu wanita tua itu pergi sebelum dia memulai obrolannya. Tidak lama kemudian tante Nona pun keluar dari dapur.

"Mbak Ran, tadi waktu aku lagi ngobrol sama pak Ito - suaminya ibu Vanda - eh aku lihat anaknya oma Maria, siapa namanya, Lusye, ya? Iya, Lusye, dia tadi ke rumahnya ibu Vanda mau pinjam uang kayaknya tapi, malah diomelin sama ibu Vanda, katanya yang terakhir pinjam aja belum dibalikin. Kasian deh, aku tadi mau kasih aja uang ke dia tapi gak enak kan, nanti dikira aku sok atau apa, kan," kata Adit sambil berbisik.

"Kamu nguping pembicaraan orang nih," kataku menggoda Adit.

"Aku gak bermaksud nguping, mbak. Tapi kan, kedengaran juga soalnya aku emang lagi ngobrol sama suami ibu Vanda di depan rumahnya, tau-tau ibu Vandanya keluar sama si Lusye dari pintu belakang sambil ngomel-ngomel. Aku juga jadi gak enak sama pak Ito, akhirnya aku langsung pamit pulang. Aku mau bantu tapi mereka bakalan tersinggung gak sih kalau di kasih uang tunai begitu?"

"Hmm...mungkin kali, ya. Kasian juga, ya, Dit. Anaknya oma Maria ada berapa sih?"

"Kayaknya hanya dua deh mbak; Lusye sama Rita yang hilang itu."

"Itu gak jelas juga, ya hilangnya. Apa betul dia hilang atau lari sama mantan pacarnya?"

"Kalau dari ceritanya tante Marice, sih banyak yang yakin dia itu lari sama mantannya, tapi ada juga beberapa orang yang yakin dia itu sudah meninggal, jadi tumbal makhluk gaib. Gak tahulah, mbak, bingung juga, mana polisi gak mau bantu juga katanya."

"Hmm..orang sini banyak bilang kalau gak ada duit polisi gak mau turun tangan mana tempat ini terpencil lagi, tambah malas polisinya!" Aku menghela napas untuk menenangkan hatiku yang mulai kesal. "Kalau memang benar Rita itu lari sama mantan pacarnya...gak kebayang deh dosanya sama ibunya! Bikin ibunya stres, banyak pikiran, sakit-sakitan; bikin susah keluarganya!"

"Tapi...kalau dia memang sudah meninggal..." kata Adit sambil berbisik.

Aku hanya terdiam, tidak bisa memikirkan kemungkinan itu; terlalu takut dan diluar nalarku untuk memikirkan hal itu, yang aku tahu kata-kata Adit tadi membuatku takut dan bergidik. Untunglah tante Nona kembali masuk ke area dapur sambil membawa sayur terong dan beberapa buah tomat yang barusan dia panen di kebun belakang. Kedatangan tante Nona menghentikan pembicaraan kami dan Adit pun segera pergi untuk mengganti bajunya yang basah.

Tidak lama kemudian Adit, Rosa dan Nining kembali ke dapur untuk memakan sarapan pagi mereka. Aku melihat Rosa tampak pucat dan meringis kesakitan, rupanya dia sedang sakit kepala. Setelah sarapan pagi, aku memberikan Rosa obat sakit kepala dan gadis itu kembali tidur sementara aku dan Adit mengajak Nining bermain di pantai.

Ketika jam sudah menunjukan pukul 10 pagi, Rosa sudah merasa baikan dan memilih untuk berenang bersama Adit dan Nining sementara aku yang tidak tahan lagi dengan panasnya hari ini berinisiatif untuk membuat minuman dingin. Sayangnya, ketika aku mencari di gudang, botol sirup jeruk yang kucari ternyata sudah kosong, aku pun berencana untuk pergi ke kampung, siapa tahu ada yang menjual es serut atau minuman dingin.

Saat hendak pergi, sebuah ide terlintas di pikiranku ketika aku teringat melihat sekarung besar beras di samping dus yang tadinya adalah tempat penyimpanan botol jus di gudang. Aku pun menceritakan ide itu pada Adit.

"Dit, gimana kalau kita kasih beras sama oma Maria? Tadi mbak liat beras kita masih ada sekarung besar. Nah, nanti dalam berasnya kamu sisipin uang juga biar mereka bisa beli lauk. Biar gak menyinggung mereka, kan?"

"Oh iya mbak! Bagus tuh idenya," kata Adit penuh semangat.

"Ya udah nanti aku aturlah berasnya sekalian nanti aku yang bawa kesana kebetulan aku mau jalan beli minuman dingin di kampung."

"Biar aku aja mbak yang bawa berasnya nanti sore. Aku pikir, aku harus menjenguk oma Maria. Seharusnya sudah dari dulu aku kunjungi dia sehabis kejadian itu."

"Maksud kamu kejadian oma Maria peluk kamu terus nangis-nangis itu?"

Adit mengangguk-anggukan kepalanya untuk mengiyakan.

"Ya udah, nanti mbak bungkusin aja berasnya, ya. Mbak mau ke kampung dulu mau beli yang dingin-dingin udah gerah banget!"

Aku pun bergegas pergi ke kampung untuk mencari es atau minuman dingin. Ketika menyebrangi batu melengkung, dari kejauhan aku melihat Yohanes sedang duduk dan mengobrol dengan beberapa orang pemuda. Jantungku berdetak kencang, perutku terasa geli seperti ada jutaan kupu-kupu di dalamnya dan tanganku mulai berkeringat karena aku begitu gugup! Aku berpikir dia akan menjauhiku lagi tapi, ternyata dia malah berjalan meninggalkan teman-temannya dan mendekatiku.

"Mau kemana, Ran?" tanya Yohanes sembari menyamakan langkah kakinya denganku.

"Mau mencari tukang jual es apa minuman dingin begitu," jawabku berusaha tenang. "Gerah banget hari ini!"

"Oh, ada di belakang pastori, tante Oli yang jualan. Ayo aku antar!"katanya sambil menuntunku ke arah sebuah sepeda ontel tua yang di parkir di bawah pohon.

Aku pun diboncengnya di belakang. Yohanes mengayuh sepedanya dengan santai sambil bersenandung sementara aku bergelut dengan perasaanku yang tidak dapat digambarkan ketika tangannya menyentuh tanganku, menarik dan melingkarkannya di pinggangnya. Aku bisa merasakan otot perutnya yang keras dari balik kaosnya.

"Pegangan biar tidak jatuh," katanya dengan santai sambil tersenyum lebar.

Perjalanan kami terasa sangat singkat, ketika tiba di kios kecil milik tante Oli terlihat banyak orang yang sedang menikmati makanan dan minuman yang dijual.

"Ini dia orang Jakarta! Sahabat karib saya," seru Mine yang langsung keluar dari kios dan menyambutku dengan riang.

Aku merasa malu dan aneh dengan penyambutannya yang berlebihan.

"Kalau dulu saya jadi ke Jakarta, kita pasti sudah kenalan lama, ya mbak Ran," Mine menyombongkan diri di depan kumpulan wanita paruh baya yang sedang duduk, mungkin sedang menunggu pesanan mereka. "Keluarga pak Adit pulang kapan rencananya, mbak? Saya mau ikut juga! Untuk masalah tiket pesawatnya gampang ajalah, saya punya uang warisan," Mine cekikikan.

Aku hanya terdiam, melihat Mine dengan tatapan kaget dan tidak percaya, bingung harus menjawab apa. Beberapa ibu-ibu yang sedang duduk itu menatapku dengan penuh arti, membuat ekspresi wajah yang mengatakan 'jangan dengarkan dia, dia orang stress'.

"Eh, mbak Rani nanti tolong bantu kenalkan saya sama mamanya pak Adit, ya. Saya mau minta kerjaan di majalahnya. Kalau soal gaya penampilan begitu saya bisa, mbak Ran. Mencocok-cocokkan pakaian, kalung-kalung, itu saya ahlinya! Nanti kabari saya, ya kalau mbak sudah mau balik ke Jakarta biar saya bisa siap-siap juga."

"Ah, Mine, kamu banyak omong! Ini makan aja!" kata salah satu ibu ketika tante Oli keluar dari dapur sambil membawa makanan pesanannya.

"Banyak omong kosongnya kamu, boro-boro ke Jakarta, ke Manado saja memang situ bisa? Tante kamu nanti mau dikemanain?" kata seorang ibu lagi dengan nada sewot.

"Kali aja dia bentar lagi mati!" seru Mine dengan penuh keyakinan. "Orang kan, tidak bisa hidup selamanya, siapa tahu sebentar lagi tuh orang napasnya habis," dia tertawa cekikikan.

"Dasar kamu!" seru ibu yang tadi menutup pembicaraan.

Aku merasa tidak enak, kasihan namun takut pada Mine. Aku pikir dia mungkin dulunya adalah wanita yang punya banyak impian tapi, akhirnya harus merelakan mimpinya pupus karena harus merawat oma Oce.

"Ayo!" ajakan Yohanes membuat lamunanku buyar.

Aku bingung karena aku belum sempat memesan apa-apa. Yohanes pun menjelaskan bahwa dia sudah memesan es namun, kami harus menunggu karena banyaknya orang yang sedang memesan. Aku dan Yohanes kembali menaiki sepeda, entah kemana dia akan membawaku.

Beberapa saat kemudian kami tiba di sebuah jalan masuk kebun yang sangat rapi; pagar bambu terlihat mengelilingi dan membatasi kebun tersebut. Di depannya ada sebuah lengkungan yang dirayapi tanaman ketimun yang berbuah rimbun.

"Bagaimana menurut kamu?" tanya Yohanes dengan penuh bangga.

"Ini di mana?" tanyaku dengan takjub sembari berjalan memasuki gerbang ketimun dan melihat tanaman buah dan pohon-pohon yang berbaris rapi sejauh mata memandang.

"Ini kebunku, Ran," jelas Yohanes. "Dulu aku remaja yang sulit, pemarah dan nakal. Ayah akhirnya memberiku lahan ini untuk diolah, katanya supaya aku melampiaskan amarahku dengan kerja keras di sini," Yohanes tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya.

Tanaman nanas berbaris berdua dengan rapi, di sampingnya pohon pepaya yang sudah berbunga banyak - di beberapa pohon bahkan sudah beranakan buah yang kecil, dan ada juga yang buahnya sudah besar dan menguning, siap untuk dipetik. Di seberang jajaran pohon pepaya, berdiri dengan kokoh barisan pohon rambutan yang sudah lebat berbuah meski anakannya masih berwarna hijau. Di sampingnya bertumbuh pohon nangka dan masih banyak lagi pohon buah-buahan berbaris sampai berkilometer jauhnya.

"Aku pikir kita memetik buah untuk dicampur di es, biar tambah enak," lanjut Yohanes. "Kamu suka buah apa, Ran?"

"Apa aja yang penting manis. Aku gak pemilih kok," kataku berusaha santai sambil mengalihkan pandanganku pada tanaman buah yang tumbuh subur di sekelilingku.

Yohanes tersenyum, memegang tanganku dan kami berjalan bersama menyusuri barisan pohon mangga dan pohon langsat sampai kami tiba di tempat pohon alpukat. Terlihat banyak sekali buahnya yang sudah matang dan jatuh di sekitarnya. Dengan teliti Yohanes memilah-milah buah alpukat yang masih bagus dan menaruhnya di dalam kantong plastik. Kami kembali lagi ke bagian depan kebun dan memetik buah pepaya dan nanas.

Ah, sungguh layaknya sebuah mimpi! Aku dan Yohanes menikmati waktu bersama di tempat yang indah! Rasanya aku tidak ingin momen ini berlalu - panas dan gerah bahkan tidak terasa lagi.

Entah berapa lama kami berada di kebun Yohanes, mungkin agak lama karena ketika kami kembali ke kios tante Oli, suasana yang tadinya ramai sekarang sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang masih makan.

Aku dan Yohanes masuk sampai ke dapur tante Oli di mana dia terlihat sedang menyerut es batu di sebuah papan tebal - sungguh olahraga otot yang berat!

"Tunggu, ya, ini pesanan kalian," kata tante Oli, nafasnya tersengal seakan dia sedang berlari.

"Ini tante Oli, pesanan alpukatnya. Taruh sini, ya," kata Yohanes sambil meletakan kantong plastik berisi beberapa buah alpukat di meja sebelum kami keluar dari dapur tante Oli yang panas.

Ketika kami kembali ke tempat makan, aku dikagetkan dengan suara meja yang di pukul. Pak Marten yang memukulnya sambil tertawa.

"Ah, dasar kalian penakut! Kebanyakan dengar cerita hantu. Ngapain takut sama Opo Nedaha?"

Mata pak Marten menatap Yohanes sambil tersenyum miring. "Saya tidak takut sama Opo Nedaha, iya kan, Yoh?" Dia kembali menatap teman-temannya sambil tersenyum puas. "Saya punya sesuatu yang akan membuat si Opo takut. Akan saya jadikan dia budak saya, lihat saja kalian nanti!" pak Marten berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kios. Di tengah jalan dia menyempatkan diri untuk menepuk pundak Yohanes yang terlihat tegang dan tidak nyaman berdekatan dengan bapak itu.

Dia pun keluar kios sambil tertawa ringan.

1
Evan Dirga
aku merasa terombang ambing antara keyakinan bahwa cerita ini lebih ke arah penyakit jiwa, tapi di sisi lain aku juga mempertimbangkan mengenai kebenaran adanya kutukan pemuja iblis.

terima kasih banyak atas karyanya yang luar biasa.
Evan Dirga
apakah Laura akan menjadi opo nedaha selanjutnya ?
Evan Dirga
jangan jangan Yohannes dan Effendi Panji tidak benar benar dieksekusi ?
Evan Dirga
dan sekarang Rani malah mengabaikan tanda tanda sakit jiwa yang diderita oleh anaknya, Laura.
Evan Dirga
kenapa tidak dibawa saja keponakannya ? malah menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain.
Evan Dirga
wah kacau sekali keluarga Subroto.
Evan Dirga
bukankah celah itu seharusnya cukup besar untuk keluar masuk dua orang dewasa ? 🤔
Evan Dirga
tapi kejahatan sesungguhnya dilakukan oleh manusia.
Evan Dirga
Pak Yusuf dan Yohannes masuk ke Villa lewat mana ?
Evan Dirga
apakah di jaman ini belum ada perahu motor ya ?
Evan Dirga
cinta memang buta.
Evan Dirga
bukan karena tante Nona alias Nela yang tidak mewarisi iblisnya, tapi mungkin karena dia tidak mewarisi penyakit mental pendahulunya, atau bisa juga karena kakek Paulus dengan cepat mengambil tindakan untuk memulihkan kondisi kejiwaan Nela ke psikolog.
Evan Dirga
kalau di klinik ada ruang rawat inapnya, bukankah rosa sebaiknya dirawat di sana ? selain akan dapat perawatan lebih intensif, juga untuk mengamankan kondisi psikologisnya.
Evan Dirga
tidak terpikirkan untuk diawetkan dengan dibuat ikan asap atau ikan asin ?
Evan Dirga
baru sadarkah ?
Evan Dirga
yang jadi masalah, jika rosa dibiarkan ketakutan terus menerus, bisa berakibat fatal bagi kehamilannya.
Evan Dirga
apa tidak lebih baik dibawa ke klinik saja supaya mendapatkan penanganan intensif ?
Evan Dirga
rosa hamil. pendarahan karena syok.
Evan Dirga
atau jangan jangan, rosa sedang hamil muda.
Evan Dirga
akhirnya .. Rani memilih menyerah pada gairah cinta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!