NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Mobil sedan hitam perlahan memasuki halaman rumah keluarga Dimas. Arga turun lebih dulu, lalu membukakan pintu belakang.

"Silakan, Nyonya."

Karin melangkah turun dengan wajah yang tenang. Kini ia merasa kembali menjadi dirinya sendiri, sosok Karin sebelum menikah dengan Dimas.

Penampilan Karin terlihat sangat memukau dan benar-benar berbeda. Blus putih gading dengan pita lembut di bagian leher membingkai tubuhnya dengan anggun. Rok berwarna hijau sage jatuh rapi hingga di atas mata kaki, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna krem dan tas tangan bermerek dengan warna senada.

Arga kembali terdiam selama beberapa detik. Ia hampir tidak percaya wanita yang baru saja turun dari mobil itu adalah orang yang sama yang ia antar pagi tadi.

"Kenapa?" tanya Karin yang menyadari Arga terlihat bengong memandanginya.

Arga langsung menundukkan kepala.

"Maaf, Nyonya."

"Apa aku terlihat aneh?"

"Tidak, Nyonya. Anda terlihat... sangat cantik."

Karin terkekeh pelan.

"Pandai juga kamu memuji."

"Ini bukan pujian, Nyonya. Saya hanya mengatakan kenyataan."

Karin hanya tersenyum kecil.

"Ayo, masuk."

"Baik, Nyonya."

Arga segera mengambil semua shopping bag dari bagasi. Di antara belasan kantong belanja itu tampak beberapa kantong berwarna oranye terang berlogo cokelat tua khas Hermès, dipadukan dengan kantong putih berlogo hitam dari butik-butik mewah lainnya. Jumlahnya begitu banyak hingga kedua tangannya hampir penuh.

Karin berjalan lebih dulu memasuki rumah. Baru beberapa langkah melewati pintu utama, senyum hangat di wajahnya langsung menghilang.

Di ruang tamu, Bu Ratna sudah duduk dengan angkuh di sofa utama. Di sampingnya berdiri Bi Wati dengan dagu terangkat tinggi, memasang raut wajah yang tak kalah angkuh dari majikannya, seolah keduanya memang sengaja menunggu kepulangan Karin.

Tatapan Bu Ratna langsung tertuju pada penampilan Karin. Selama beberapa detik, wanita itu hanya diam. Ia bahkan hampir tidak mengenali menantunya sendiri.

"Karin..." Tatapannya bergerak dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu berdandan seperti ini mau ke mana?"

"Baru pulang." jawab Karin Santai.

"Itu Ibu tahu!" sahut Bu Ratna ketus. "Yang Ibu tanyakan, kenapa kamu berpakaian seperti ini?"

Karin mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya ada yang salah?"

"Tentu saja ada!" Bu Ratna menaikan nadanya. "Kamu ini sudah bersuami. Untuk apa berdandan berlebihan? Mau menarik perhatian laki-laki lain?"

Belum sempat Karin menjawab, Vina buru-buru berdiri.

"Ibu... jangan marah dulu." Suaranya terdengar lembut. "Menurut saya, Nyonya Karin memang cantik kok. Mungkin Kak Karin hanya ingin merawat diri." Vina menoleh kepada Karin lalu tersenyum manis. "Iya, kan, Nyonya?"

Karin menatap Vina tanpa berkedip. Ia tahu betul. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Padahal, Vina sedang menyiram bensin ke dalam api.

Bu Ratna langsung mendengus. "Merawat diri?"

Tatapannya beralih pada kantong-kantong belanja yang masih dibawa Arga.

"Lalu itu apa?"

Arga berhenti melangkah. Ia menunggu perintah Karin.

"Katakan!" bentak Bu Ratna.

"Itu belanjaan saya," jawab Karin tenang.

"Belanjaan?"

Bu Ratna langsung menghampiri Arga, lalu mengambil salah satu kantong berwarna oranye terang.

Saat melihat logo Hermès di kantong itu, matanya langsung membelalak. Tangannya kemudian meraih kantong lain. Satu demi satu logo butik mewah itu membuat wajahnya semakin gelap.

"Karin!" Suara Bu Ratna menggema di ruang tamu. "Kamu sudah gila?"

Karin tetap tenang. "Kenapa Ibu marah?"

"Masih bertanya kenapa?" Bu Ratna mengangkat kantong Hermès itu tinggi-tinggi. "Satu tas dari sini harganya ratusan juta!"

Vina menutup mulutnya pelan, pura-pura terkejut. "Ya Tuhan..." Ia menatap Karin dengan mata berkaca-kaca. "Nyonya... kenapa menghabiskan uang Mas Dimas sebanyak itu?"

"Aku jadi merasa bersalah..."

"Aku takut Mas Dimas nanti semakin bekerja keras karena harus mengganti semua uang itu." Nada suaranya terdengar tulus.

Namun di dalam hati, Vina justru tersenyum puas.

Marah lah, Bu Ratna. Semakin besar kemarahanmu, semakin besar pula kebencianmu kepada Karin.

Bi Wati ikut menyahut.

"Nyonya Besar, tadi saya melihat sendiri. Nyonya Karin belanja dari butik ke butik, lalu masuk salon, bahkan membeli perhiasan."

Bu Ratna memijat pelipisnya.

"Kamu benar-benar sudah keterlaluan, Karin. Kamu menghabiskan uang anakku hanya dalam satu hari!"

Bu Ratna melempar salah satu kantong belanja ke atas meja.

"Apa kamu sudah kehilangan akal? Satu hari saja kamu bisa menghabiskan uang sebanyak ini!"

Karin melirik sekilas kantong berlogo Hermès itu, lalu kembali menatap mertuanya.

"Ibu marah karena jumlahnya... atau karena yang membelanjakannya adalah saya?"

"Kamu masih berani bertanya?"

"Tentu saja." Karin menyilangkan tangannya.

"Karena selama ini saya tidak pernah melihat Ibu marah saat Dimas membelikan Vina tas, perhiasan, bahkan apartemen."

Senyum Bu Ratna langsung membeku.

"Itu berbeda."

"Bedanya di mana?"

"Itu uang Dimas."

Karin tersenyum tipis.

"Ibu yakin?"

Bu Ratna mengernyit.

"Ibu lupa... sebelum mengenal keluarga saya, perusahaan Dimas menuju kebangkrutan, Kalian sampai menjual rumah dan aset, tapi itu semua bahkan masih belum cukup menutupi hutang-hutang Dimas."

"Karin!" bentak Bu Ratna.

"Saya belum selesai." Suara Karin tetap tenang. "Kalau hari ini saya memakai sedikit dari uang yang dulu ikut dibangun oleh keluarga saya, rasanya saya belum perlu meminta izin kepada siapa pun."

Ruangan langsung sunyi.

Vina melihat situasi mulai tidak menguntungkan. Ia segera maju selangkah.

"Nyonya... jangan bertengkar lagi. Kalau semua ini karena aku, biar aku kembalikan semua hadiah dari Mas Dimas."

Air matanya mulai menggenang. "Aku tidak ingin Nyonya salah paham."

Karin memandangnya beberapa detik. Lalu tertawa kecil.

"Kamu pintar."

Vina berkedip.

"Maksud Nyonya?"

"Pintar memilih waktu untuk menangis."

Wajah Vina sesaat menegang. Namun hanya sesaat. Detik berikutnya ia kembali memasang wajah polos.

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Kakak selalu berpikir buruk tentang aku."

"Kamu memang tidak perlu mengerti." Karin berdiri. "Cukup terus berpura-pura. Itu sudah menjadi keahlianmu."

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!