NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Hitam

Pendekar Elang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasukan Ular

Dengan ilmu meringankan tubuh yang telah dikuasainya dengan sempurna, Jaka melesat bagaikan bayangan. Kakinya seolah tidak menyentuh tanah, meluncur cepat melewati bebatuan dan semak belukar menuju pusat pulau. Di hadapannya kini berdiri megah namun menyeramkan sebuah bangunan candi kuno yang sudah sangat tua dan terbengkalai. Dinding-dindingnya tertutup lumut, atapnya sebagian runtuh, namun dari dalamnya memancarkan aura gelap yang sangat pekat dan mengerikan, membuat bulu kuduk siapapun yang mendekat akan meremang.

"Ssssssssh... Ssssssssh..."

Begitu Jaka berada di area sekitar candi, terdengar suara mendesis yang sangat ramai dan serempak. Suara itu datang dari segala arah, menciptakan suasana yang mencekam.

Apa itu? batin Jaka waspada. Ia tidak langsung menerobos masuk. Dengan gerakan luwes, ia meloncat tinggi dan mendarat dengan ringan di dahan pohon beringin besar yang tumbuh di dekat pintu masuk candi. Dari posisi tinggi ini, ia bisa mengamati keadaan dengan lebih jelas.

Belum lama ia bersembunyi, tiba-tiba terdengar suara lain yang menusuk telinga.

Tuuuuu... Truuuuu... Liiiiliiiiii...

Alunan nada seruling terdengar sayup-sayup. Suaranya tidak merdu, melainkan bernada tinggi dan aneh, seolah memanggil-manggil sesuatu. Suara itu datang dari arah jalan setapak yang baru saja dilalui Jaka.

Jaka menahan napas, matanya tajam mengarah ke sumber suara. Ia ingin melihat siapa sosok misterius yang memainkan alat musik di tempat seram seperti ini.

Sssssssh! Sssssssh! Sssssssh!

Kembali suara mendesis itu terdengar, namun kali ini jauh lebih keras dan lebih dekat. Dan apa yang dilihat Jaka membuatnya terkejut.

Bukan manusia yang muncul pertama kali, melainkan gelombang hijau dan hitam yang bergerak merayap. Ratusan, bahkan ribuan ular berbisa dari berbagai jenis—ular kobra, ular welang, hingga ular tanah yang sangat beracun—datang berbondong-bondong memenuhi seluruh permukaan jalan setapak. Mereka bergerak teratur bagaikan pasukan yang dipimpin, semuanya menuju ke arah pintu candi.

"Wah... hebat sekali," gumam Jaka pelan sambil memperhatikan ribuan ular yang merayap tak jauh dari kakinya. "Ada seseorang yang bisa mengendalikan mereka sebaik ini. Ilmu pawang ular tingkat tinggi."

Perlahan-lahan, setelah gelombang ular itu lewat, terlihatlah sosok pemimpinnya. Seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih namun penuh wibawa misterius. Tubuhnya kurus kering, wajahnya keriput penuh dengan tato-tato aneh, dan matanya terlihat kosong namun tajam. Di tangannya, sebuah seruling bambu tua terus ditiupnya menghasilkan nada magis itu.

Tuuuu... Truuuu...

Lelaki tua itu terus berjalan masuk ke area candi, diikuti oleh ribuan ular yang seolah menjadi pengawal setianya.

Tidak lama setelah lelaki tua dan pasukan ularnya masuk ke area candi, terdengar teriakan-teriakan panik dari berbagai penjuru.

"AAAAAAARGH! ULAR! BANYAK ULAR!"

"AMPUN! GIGIT!

Ternyata, banyak pendekar lain yang juga sedang bersembunyi atau bergerak mendekat untuk merebut Pedang Kilat. Mereka tidak menyangka akan diserang oleh pasukan ular yang begitu banyak dan ganas.

Sret! Sret! Wush!

Para pendekar itu panik. Mereka mencoba menebas dan menendang ular-ular itu, namun jumlahnya terlalu banyak. Ular-ular itu seolah memiliki nafsu membunuh yang dipicu oleh seruling dan aura candi. Mereka menggigit apa saja yang bergerak.

"AAAAGH!

BADANKU KEBAS!"

Satu per satu pendekar yang malang itu tumbang. Wajah mereka membiru, tubuhnya kejang-kejang terkena bisa ular yang sangat mematikan. Hanya dalam waktu singkat, puluhan orang tewas mengenaskan tanpa sempat melihat wujud pusaka yang mereka incar.

Jaka yang melihat kejadian itu dari atas pohon mengerutkan keningnya. "Kejam... menggunakan hewan untuk membunuh. Ini bukan sekadar penjaga, ini pembantaian.

Namun, bahaya kini mengancam Jaka sendiri. Mungkin karena aroma tubuhnya atau gerakannya yang sedikit berisik, tiba-tiba puluhan ular besar menghentikan gerakannya. Kepala mereka terangkat ke atas, lidah mereka berkedip-kedip cepat, menatap ke arah pohon tempat Jaka bersembunyi.

Sssssssh!

Mereka mulai melingkar-lingkar di batang pohon, memanjat ke atas dengan cepat. Tidak hanya itu, dari arah lain, ratusan ular lain juga berbalik arah dan mulai mendekat, mengelilingi pohon tempat Jaka berpijak.

Dalam sekejap, pohon itu dikelilingi padat oleh ular-ular berbisa. Mereka mendesis marah, siap menerkam kapan saja.

"Dasar binatang !" geram Jaka. Ia mencoba melompat ke pohon lain, namun ternyata pohon-pohon di sekitarnya juga sudah dipenuhi ular. Mereka seolah terkoordinasi sempurna oleh siulan seruling lelaki tua tadi.

"HAYAAAAA!"

Beberapa ular kobra raksasa melompat tinggi ke udara, mencoba menggigit kaki Jaka.

Wush! Bugh!

Jaka menendang cepat, memukul kepala ular-ular itu hingga terpental jatuh. Namun jumlah mereka terus bertambah. Mereka datang dari segala celah, dari tanah, dari dahan, dari akar pohon.

"Sssssssh!

Jaka kini benar-benar terjepit. Jika ia turun, ia akan hancur digigit ratusan taring berbisa. Jika ia bertahan di atas, lama-lama ia juga akan kehabisan tenaga.

"Kurang ajar! Mereka benar-benar ingin membunuhku!" seru Jaka. Ia mencoba mengeluarkan pedangnya untuk menebas, namun ia sadar, menebas seratus akan datang seribu lagi. Ini tidak akan ada habisnya.

Ia butuh bantuan. Ia butuh sesuatu yang bisa terbang dan memiliki cakar serta paruh yang kuat untuk mengoyak musuh-musuh kecil yang banyak ini.

Tiba-tiba teringatlah ia pada kakak elangnya

"ELANG HITAM!!" teriak Jaka sekuat tenaga.

Ia meletakkan kedua tangannya di mulut, lalu bersiul dengan nada tinggi yang khas, nada yang sama persis dengan getaran Pedang Elang Hitamnya.

FIIIIUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!

Siulan itu melengking tinggi menembus langit, melewati suara desisan ular dan suara seruling tua.

Beberapa saat berlalu, dan kepungan ular semakin sempit. Mereka sudah sampai di dahan tempat Jaka berdiri.

GRAAKK!

Tiba-tiba langit di atas candi. Sebuah bayangan besar melintas cepat dengan kecepatan yang menakjubkan. Angin berhembus kencang tertiup oleh kepakan sayap yang sangat kuat.

HWAKKKK!!! HWAKKKK!!!

Dengan gagah perkasa, Elang Hitam datang! Burung raksasa itu seolah mengetahui situasi bahaya yang menimpa tuannya. Matanya yang merah menyala menatap ganas ke arah ribuan ular di bawah sana. Bagi Elang Hitam, ular-ular itu bukanlah musuh yang menakutkan, melainkan makanan lezat atau mainan yang siap disikat.

Melihat tuannya dikepung, naluri berburu dan melindungi tuannya bangkit.

"HABISI MEREKA, KAKAK ELANG!" perintah Jaka.

HWAKKK!!

Elang Hitam menjawab dengan pekikan yang sangat nyaring dan menakutkan.

Tanpa buang waktu, burung raksasa itu menukik tajam dari langit.

WUUUUSSSSHHH!!!

CRAAACK! BUG! BUG! BUG!

Dengan cakar depannya yang besar dan kuat bagaikan penggali besi, Elang Hitam menyambar ke tengah kerumunan ular.

PRAKK! PRAKK!

Setiap kali cakarnya mendarat, puluhan ular hancur berkeping-keping, remuk terhimpit kekuatan luar biasa sang raja udara. Paruhnya yang tajam dan keras bagaikan bajingan baja menyambar-nyambar.

GLEP! GLEP!

Ular-ular besar yang berani melawan langsung disambar paruhnya, dipatahkan tulang punggungnya, lalu dilempar begitu saja.

"HWAK! HWAK! WUSH! WUSH!"

Elang Hitam terbang berputar, kepakan sayapnya menciptakan angin puyuh yang menerbangkan ratusan ular ke udara. Di udara, mereka tak berdaya. Dengan mudah Elang menangkap mereka di tengah langit lalu mencabik-cabiknya.

Suasana kini berbalik total. Yang tadinya Jaka yang ketakutan, kini giliran ular-ular itu yang panik ketakutan menghadapi predator utama mereka.

Sssssssh! Sssssssh!

Ular-ular itu mencoba lari berantakan, namun Elang Hitam terlalu cepat dan terlalu ganas.

TRANG! BUGH! PLAK!

Di mana pun ular itu bersembunyi, di celah batu, di akar pohon, atau di rumput, cakar Elang Hitam selalu bisa mencapainya. Hancur lebur! Darah dan lendir ular membasahi tanah, bercampur dengan debu candi.

Lelaki tua peniup seruling di kejauhan terlihat kaget. Ia meniup serulingnya semakin kencang dan panik.

TUUUU! TRUUUU! LIII!!

Ia mencoba memerintahkan ular-ular untuk menyerang Elang Hitam secara serentak. Ribuan ular melompat ke atas bersamaan.

Namun Elang Hitam adalah penguasa angkasa. Ia terbang naik tinggi menjauh, lalu saat ular-ular itu jatuh kembali ke bawah...

DUAAAAAR!!!

Elang Hitam menukik lagi dengan kecepatan kilat! Kali ini ia menghentakkan sayapnya dengan kekuatan penuh tepat di tengah kumpulan ular.

Hentakan angin itu begitu dahsyat hingga puluhan ular terpental jauh, pingsan atau mati seketika karena hantaman angin saja.

Pertarungan antara raja udara melawan pasukan reptil itu berlangsung sangat seru dan cepat. Tidak butuh waktu lama, karena perbedaan kekuatan memang sangat jauh.

HWAKKK!

Dengan satu kepakan sayap terakhir yang sangat kuat, Elang Hitam mendarat di samping Jaka. Di bawah mereka, tanah sudah dipenuhi bangkai ular yang hancur lebur. Tidak ada satu pun yang masih bergerak hidup. Semua telah tewas dimusnahkan oleh murka sang Elang Hitam.

Suara desisan yang tadi mengerikan kini telah lenyap. Hening. Yang tersisa hanya bau amis darah dan tanah basah.

Jaka tersenyum lega dan bangga. Ia turun dari dahan pohon dan menepuk-nepuk kepala Elang Hitamnya.

"Haha! Hebat sekali kakak! Terima kasih. Tanpa kau, mungkin aku sudah menjadi sarang racun," ucap Jaka gembira.

Elang Hitam menggosokkan paruhnya ke dada Jaka dengan sayang, lalu berkokok pelan seolah berkata,

"Tentu saja Tuan, itu tugasku."

Di kejauhan, lelaki tua pawang ular itu melihat kejadian itu dengan wajah pucat pasi. Ia melihat pasukan ular andalannya musnah seketika. Ia menatap Jaka dan Elang Hitam itu dengan tatapan tajam penuh dendam, lalu dengan cepat ia berbalik dan menghilang masuk lebih dalam ke lorong-lorong candi yang gelap.

"Jangan berpikir kau menang mudah, bocah..." gerutunya pelan sebelum lenyap dalam bayang-bayang.

1
Night Watcher
rara jadi niken..
Blue Angel: salah ketik kak
total 1 replies
Night Watcher
berkali2 salah nama. srenggi jd lingga
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut terus
Blue Angel
salah up nanti di revisi
pendekar angin barat
lah kok lompat pertarungan nya mana? kok aneh seh Thor tau tau sdh di galungan
Dania
semangat tor
Lili Aksara
Wah, kok nggak ada yang heran sama elang itu ya, entah terkesima apa gimana gitu. Lanjutkan, unik ini novelnya, soalnya tokohnya dilatih sama burung elang.
pendekar angin barat
nah gitu donk .nhrs kejam ma penjahat..
Bagaskara Manjer Kawuryan
berasa baca kitab perndekar rajawali sakti 😁
Blue Angel: hampir mirip kak
total 1 replies
erick
hanya kena racun sdh keok... memalukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!