Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penukaran di Altar Kepalsuan
Fajar belum sepenuhnya pecah di langit California, namun atmosfer di kediaman keluarga Leone sudah terasa seberat timah. Udara pagi yang dingin seolah membeku di koridor-koridor rumah besar itu, tempat di mana pengkhianatan sedang dirajut dengan benang-benang sutra mahal.
Gedor! Gedor! Gedor!
Suara hantaman keras di pintu kayu ek kamar Nora memecah kesunyian yang rapuh. Antonio Leone tidak menunjukkan sedikit pun rasa hormat atau kasih sayang kebapakan.
"Nora! Bangun! Keluar sekarang juga!" suara Antonio menggelegar, serak oleh ambisi yang sudah di ujung tanduk.
Nora, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tidur semalam, bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa kaku, bekas luka di batinnya jauh lebih nyeri daripada luka fisik yang mulai memudar. Ia membuka pintu dengan tenang, wajahnya sedatar permukaan danau yang membeku.
Antonio berdiri di sana dengan setelan jas yang sudah rapi, namun matanya memancarkan kegelisahan seorang penipu. Di sampingnya, Stella berdiri dengan senyum kemenangan yang tak bisa disembunyikan.
"Bawa kotak itu keluar," perintah Antonio ketus, menunjuk pada kotak beludru hitam berisi gaun pengantin dua ratus juta dolar pemberian Adrian. "Dan jangan lupa kesepakatan kita. Hari ini, identitasmu adalah milik Stella, dan Stella adalah kau. Jangan berani-berani mengacaukannya jika kau masih ingin melihat hari esok."
Nora masuk kembali ke kamar, mengambil kotak beludru hitam yang menurutnya lebih mirip peti mati bagi harga dirinya. Ia melangkah keluar dan menyerahkannya pada Stella tanpa sepatah kata pun.
Sebagai gantinya, Antonio melemparkan sebuah kotak kayu besar yang kasar ke arah Nora. Di dalamnya terdapat gaun pengantin krem (ivory) kiriman keluarga Sullivan dari New York—gaun yang pernah diejek Stella sebagai barang "biarawati tua".
"Pakai itu," titah Antonio. "Keluarga Sullivan sudah menunggu di titik penjemputan setelah prosesi selesai. Dan ingat, kalian berdua harus memakai veil (penutup wajah) transparan berlapis ganda. Jangan buka sampai kau berada di dalam mobil menuju New York, dan Stella tidak akan membukanya sampai Adrian mengucapkan janji suci di hadapan saksi internal keluarga."
Stella tertawa kecil, memeluk kotak gaun dua ratus juta dolar itu seolah-olah itu adalah jantung Adrian sendiri. "Terima kasih, Kak. Kau sangat cocok memakai warna krem yang membosankan itu. Sangat pas dengan hidupmu yang malang."
Nora hanya menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam tas kecil yang ia sembunyikan di balik gaun kremnya, tersimpan kotak kayu ibunya—hadiah terakhir yang akan ia tinggalkan untuk Adrian.
Prosesi pencatatan pernikahan dilakukan secara tertutup dan cepat di kapel pribadi keluarga Leone. Sesuai rencana licik Antonio, dokumen-dokumen telah dipalsukan. Adrian Thorne, sang penguasa yang cerdas namun dibutakan oleh egonya sendiri, tiba di rumah keluarga Leone satu jam kemudian.
Halaman depan kediaman Leone dihiasi dengan mawar-mawar putih, namun bau pengkhianatan jauh lebih menyengat daripada aroma bunga. Adrian turun dari mobil limusin hitamnya, tampak sangat berwibawa dan penuh kemenangan. Ia percaya hari ini ia akan mengikat "tamengnya" secara resmi sebelum mengirim "malaikatnya" ke tempat yang aman.
Dua wanita berjalan keluar dari pintu utama rumah besar itu. Keduanya mengenakan penutup wajah yang tebal, menyembunyikan identitas mereka di balik lapisan kain mahal.
Wanita pertama mengenakan gaun sutra bertahtakan berlian putih yang berkilauan menyilaukan mata—gaun dua ratus juta dolar yang Adrian beli di pelelangan. Wanita kedua mengenakan gaun krem yang lebih sederhana namun berwibawa, gaun kiriman keluarga Sullivan.
Mata Adrian seketika terkunci pada wanita pertama. Senyum tipis muncul di wajahnya yang kaku. Dengan penuh percaya diri, ia melangkah maju dan mencondongkan tubuhnya ke arah wanita yang mengenakan gaun pilihannya itu. Ia meraih tangannya, merasakan jemari yang ia kira milik Nora.
"Kau tampak sangat luar biasa, Nora," bisik Adrian, suaranya rendah dan penuh kepemilikan. "Gaun ini memang diciptakan hanya untukmu."
Di balik penutup wajah gaun krem, Nora tersenyum sinis. Hatinya tidak lagi nyeri; ia hanya merasa kasihan pada kebodohan pria di depannya. Tanpa suara, Nora berjalan melewati Adrian, mengabaikan kehadiran pria itu seolah-olah Adrian hanyalah tiang hiasan di halaman rumah. Ia terus melangkah menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu dengan logo keluarga Sullivan di pintunya.
Nora masuk ke dalam mobil. Sebelum sopir menjalankan mesin, Nora membuka kaca jendela belakang. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menarik penutup wajahnya hingga jatuh ke bahu.
Adrian, yang masih menggandeng tangan wanita bergaun berlian, menoleh secara refleks. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia melihat wajah Nora di dalam mobil Sullivan. Bukan wajah Stella, melainkan wajah Nora yang masih menyisakan bekas memar samar, namun terpancar kekuatan yang mematikan dari matanya.
Nora menatap Adrian tepat di matanya.
"Selamat atas pernikahanmu, Adrian," suara Nora terdengar dingin dan jernih, membawa aura kematian bagi harapan pria itu.
Adrian terperangah. Ia segera menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya. Dengan tangan gemetar karena amarah dan kebingungan, ia merenggut penutup wajah wanita bergaun dua ratus juta dolar itu.
Kain transparan itu terlepas, menampakkan wajah Stella Leone yang sedang tersenyum lebar dengan lipstik merah menyala.
"Surprise! Ini aku, Stella," ujar Stella dengan nada manja yang memuakkan, langsung merangkul leher Adrian. "Kita sudah menikah secara sah di atas kertas, Adrian. Aku istrimu sekarang. Bukankah ini yang selalu kau inginkan? Melindungiku selamanya?"
Adrian terhuyung ke belakang, melepaskan pelukan Stella seolah-olah gadis itu adalah ular berbisa. "Nora! Berhenti!" teriak Adrian ke arah mobil yang mulai bergerak.
Ia mengelak dari kenyataan. Ia seharusnya menikahi Nora. Dialah yang ia inginkan di tempat tidur, dialah yang ia inginkan sebagai ibu dari anak-anaknya—anak-anak yang bahkan ia belum tahu telah ia bunuh sendiri.
"Nora!" Adrian berlari mengejar mobil SUV itu, namun kendaraan lapis baja keluarga Sullivan meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran.
"Kejar mobil itu!" raung Adrian pada para pengawalnya yang masih terpaku. "BAWA NORA KEMBALI! BUNUH SIAPA PUN YANG MENGHALANGI!"
Theo dan tim keamanaan Thorne segera melompat ke dalam mobil-mobil mereka. Sirine meraung-raung di jalanan perbukitan California saat mereka memburu konvoi keluarga Sullivan. Adrian ikut masuk ke dalam mobilnya, mengabaikan Stella yang berteriak-teriak memanggil namanya dari teras rumah.
Aksi kejar-kejaran terjadi di sepanjang jalan pesisir. Adrian menatap lurus ke depan, matanya merah oleh air mata penyesalan dan kemarahan. Ia harus mendapatkan Nora kembali.
Namun, keluarga Sullivan bukanlah amatir. Mereka telah menyiapkan rute pengalihan yang rumit. Di sebuah persimpangan jalan menuju pelabuhan udara pribadi, mobil SUV yang membawa Nora menghilang di balik truk-truk kontainer besar.
"Tuan, kami kehilangan jejak!" suara Theo terdengar dari radio panggil. "Mereka masuk ke area kargo dan ada tiga mobil identik yang menyebar ke arah berbeda!"
Adrian menghantam kemudi mobilnya hingga berdarah. "Cari dia! Sisir setiap sudut pelabuhan! Dia tidak boleh pergi ke New York!"
Namun, usaha mereka sia-sia. Setelah satu jam pencarian yang membabi buta, mereka menemukan mobil SUV asli keluarga Sullivan terparkir kosong di sebuah gudang tua. Nora sudah tidak ada di sana. Sebuah jet pribadi baru saja lepas landas dari landasan pacu ilegal milik Sullivan di dekat sana.
Adrian berdiri di tengah dermaga yang sepi, menatap ke arah langit di mana sebuah titik cahaya perlahan menghilang di balik awan.
Nora telah pergi. Membawa serta rahasia tentang kematian anak-anak mereka, membawa serta cintanya yang telah berubah menjadi belati, dan meninggalkan Adrian dalam pelukan Stella—sebuah hadiah yang sekarang terasa seperti kutukan paling mengerikan dalam hidupnya.
Adrian Thorne, sang penguasa yang mengira bisa mengatur segalanya, kini berlutut di tanah yang dingin. Ia telah memenangkan aliansi, ia telah mendapatkan Stella, namun ia baru saja kehilangan jiwanya sendiri. Dan di New York sana, Nora Leone sedang menatap cakrawala, bersiap untuk menjadi badai yang suatu hari nanti akan kembali untuk menghancurkan apa pun yang tersisa dari Adrian Thorne.
Pernikahan itu memang terjadi, namun bukan sebagai penyatuan cinta, melainkan sebagai deklarasi perang yang paling berdarah dalam sejarah keluarga Leone dan Thorne.