NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemas Yang Terasing

Asap sisa pertempuran masih membumbung tipis dari reruntuhan altar Biara Awan Tersembunyi. Di tengah puing-puing itu, He Xueyi masih berdiri mematung. Tangannya gemetar, perlahan naik dan menyentuh dadanya sendiri yang terbungkus kain sutra hitam.

Deg... deg...

Suara itu. Suara yang seharusnya tidak ada dalam kamus hidupnya selama seratus dekade terakhir. He Xueyi memejamkan mata, merasakan aliran hangat yang sangat tipis—hampir tak terasa, namun nyata—mulai merambat dari pusat dadanya ke ujung-ujung jarinya yang biasanya sedingin es nisan.

"Tuan?" suara Bian Zhi terdengar sangat ragu, hampir berbisik. Ia mendekat dengan langkah waspada, pedang hitamnya sudah disarungkan namun auranya masih siaga penuh. "Anda... aura Anda berubah total. Secara logika, energi Yin Anda seharusnya meluap setelah menyerap Segel Langit itu, tapi kenapa sekarang terasa... ada kehidupan?"

He Xueyi membuka matanya. Warna maniknya yang tadinya kelabu pucat layaknya kabut makam, kini memiliki secercah rona cokelat tua yang dalam, mirip dengan manusia biasa. "Bian Zhi... aku bisa merasakan angin ini. Bukan lagi sebagai gesekan energi yang menerpa kulit mayatku, tapi sebagai sesuatu yang dingin dan... menusuk."

Bian Zhi terpaku. Ia melihat rona merah tipis, hampir tak terlihat, muncul di tulang pipi tuannya yang biasanya sepucat porselen. Ini adalah mukjizat, sekaligus ancaman baru. Karena jika He Xueyi kembali menjadi manusia, maka secara logika, otoritasnya atas ribuan arwah jahat di Paviliun Lentera Abadi akan melemah drastis. Roh-roh itu hanya tunduk pada kematian, bukan pada kehidupan.

"Tuan Besar punya jantung! Tuan Besar tidak lagi jadi es batu!" Xiao Bo berputar-putar di udara dengan gembira, menari-nari di sekitar Lentera Abadi yang bagian retaknya kini perlahan menutup sendiri, namun warnanya berubah menjadi perpaduan ungu dan emas yang cantik.

Namun, kegembiraan itu terhenti saat Segel Langit di tangan He Xueyi tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah proyeksi cahaya muncul dari permukaan gioknya, memperlihatkan peta wilayah pegunungan yang sangat jauh di Utara—Puncak Langit Terlarang.

"Itu adalah tempat di mana sisa jiwamu yang lain disembunyikan," sebuah suara lemah terdengar dari arah pojok altar. Putri Ling'er perlahan bangkit, wajahnya masih sangat pucat namun matanya menatap He Xueyi dengan penuh rasa hormat yang baru. "Ayahandaku pernah bilang, Segel Langit ini hanyalah kunci. Esensi kehidupan yang dicuri oleh Raja Hantu itu hanya sebagian. Sisanya tertahan di puncak abadi oleh Segel Dewa Perang."

He Xueyi menatap peta cahaya itu dengan dahi berkerut. Logika detektifnya segera menyusun rencana baru. "Jika Segel Langit ini hanya wadah, berarti detak jantungku sekarang hanyalah 'pinjaman' sementara. Jika aku tidak mengambil sisa esensiku di Puncak Langit Terlarang dalam waktu singkat, jantung ini akan berhenti berdetak kembali, dan aku akan musnah sepenuhnya karena tubuhku tidak lagi murni Yin."

"Tapi Tuan," Bian Zhi memotong dengan nada cemas yang jarang ia perlihatkan, "Puncak Langit Terlarang dijaga oleh Arwah Penjaga Langit yang tidak memihak pada siapa pun. Mereka akan menganggap kehadiran Anda sebagai penyusup."

"Secara logika, aku sudah menjadi penyusup dunia sejak aku menolak reinkarnasi seribu tahun lalu, Bian Zhi," He Xueyi tersenyum kecil—kali ini senyumnya terasa lebih hangat, meskipun masih ada sisa-sisa kedinginan di sana. "Kita tidak bisa kembali ke paviliun sekarang. Kita harus menyelesaikan ini sampai akar-akarnya."

He Xueyi kemudian menoleh ke arah Putri Ling'er. Ia mengambil sebuah jimat kecil dari pinggangnya dan memberikannya kepada gadis itu. "Pergilah ke perbatasan Selatan. Cari sebuah kedai bernama Lentera Senja. Tunjukkan jimat ini pada pemiliknya, dia adalah mantan muridku yang sudah pensiun. Dia akan melindungimu."

Setelah sang putri pergi dengan langkah terburu-buru, He Xueyi menatap Bian Zhi dan Xiao Bo. "Perjalanan ke Utara akan sangat berat. Aku akan mulai merasakan lapar, haus, dan lelah... hal-hal tidak logis yang dialami manusia fana."

Bian Zhi berlutut satu kaki di depan He Xueyi, menundukkan kepalanya dengan penuh kesetiaan yang tak tergoyahkan. "Hamba telah mengikuti Anda saat Anda adalah dewi kematian yang tak berperasaan. Hamba tidak akan pergi hanya karena Anda mulai memiliki kelemahan manusia. Biarlah pedang hamba yang menjadi perisai bagi rasa lapar dan lelah Anda, Tuan."

He Xueyi mengangguk pelan, menatap lenteranya yang kini bersinar lembut. "Baiklah. Ayo kita berangkat sebelum fajar menyingsing. Aku ingin tahu... bagaimana rasanya melihat matahari tanpa harus merasa terbakar."

Malam itu, rombongan kecil itu meninggalkan biara yang hancur, menuju pegunungan Utara yang diselimuti misteri kuno. Sebuah perjalanan yang bukan lagi tentang menjemput nyawa, melainkan untuk memperjuangkan satu nyawa yang baru saja kembali: Nyawa He Xueyi sendiri.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!