Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Paviliun Mahkota Xiong
Langkah kaki Wang Yan membawanya menyusuri jalanan Kota Qingshi yang mulai ramai oleh pedagang dan penduduk.
Setelah berbincang dengan beberapa pedagang yang memiliki beberapa usulan dagang dalam perjalanannya, dalam waktu sekitar 30 menit. Ia berhenti di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga dengan arsitektur yang mencolok.
Sebuah papan nama besar tergantung di atas pintu masuk utama dengan tulisan emas yang tegas: Paviliun Mahkota Xiong.
Paviliun ini adalah salah satu pusat perdagangan dan informasi terbesar di kota ini, termasuk salah satu cabang yang tersebar di berbagai penjuru negeri yang otoritas pusatnya berada di ibukota Dinasti Zhou. Paviliun Mahkota Xiong adalah tempat di mana uang dan kekuatan seringkali bertukar tangan di balik pintu-pintu tertutup.
Wang Yan menarik napas panjang, menekan sisa rasa sakit di kepalanya, lalu melangkah masuk.
Begitu Wang Yan melangkah melewati ambang pintu, aroma kayu cendana dan obat-obatan herbal yang samar menyambut penciumannya. Interior Paviliun Mahkota Xiong sangat kontras dengan keramaian pasar di luar; lantai marmer yang dipoles mengkilap dan rak-rak kayu hitam yang menjulang tinggi memberikan kesan mewah sekaligus menekan.
“Selamat pagi, Sarjana Wang,” sapa seorang pelayan pria dengan jubah hijau rapi. Ia membungkuk hormat begitu mengenali sosok Wang Yan.
Di Kota Qingshi, reputasi Wang Yan sebagai pemuda cerdas yang menguasai literatur dan strategi memang sudah cukup dikenal luas.
“Sudah lama Anda tidak berkunjung. Apakah ada buku atau alat tulis tertentu yang sedang Anda cari hari ini?"
Wang Yan membalas sapaan itu dengan senyum tipis yang hangat, namun matanya tetap terlihat waspada. “Terima kasih, Xiao Li. Tapi hari ini aku tidak mencari buku.”
“Oh? Lalu apa yang bisa kami bantu?” tanya pelayan itu, sedikit terkejut karena biasanya Wang Yan hanya menghabiskan waktu di bagian arsip atau buku-buku sejarah.
“Aku membutuhkan Pil Pengembali Stamina. Apakah kalian punya stok yang cukup?” tanya Wang Yan langsung pada intinya. Mengingat efek samping Bara Pelebur Jiwa yang menguras banyak staminanya semalam, ia tidak bisa hanya mengandalkan istirahat alami jika ingin segera memulai latihan dengan Teknik Kultivasi Penipu Langit yang terkandung di dalam Kitab Agung Penipu Langit.
“Tentu saja, Sarjana Wang. Kami baru saja menerima kiriman baru dari ahli herbal kami,” jawab pelayan itu sembari mengantar Wang Yan menuju konter bagian obat-obatan. “Satu botol berisi dua belas pil harganya sepuluh koin perak. Berapa banyak yang Anda butuhkan?”
Di Dinasti Zhou satu koin emas setara dengan 100 perak, satu koin perak setara dengan 100 perunggu. Namun terdapat mata uang lain, seperti batu kristal binatang buas hasil dari pembunuhan hewan buas. Tapi, kristal binatang buas tidak dijadikan patokan mata uang, itu hanya menjadi patokan mata uang antara sesama kultivator dan terdapat sistem barter lainnya.
“Berikan aku dua botol.” Ia merogoh kantong di balik jubahnya dan mengeluarkan 20 koin perak. Jumlah yang setara dengan 2000 koin perunggu, cukup untuk menghidupi keluarga biasa selama sebulan.
Bagi warga biasa, jumlah ini sangat banyak, namun bagi Wang Yan, ini adalah investasi wajib untuk memulihkan kondisinya.
Setelah pelayan itu menyiapkan botol-botol pil, Wang Yan tidak langsung pergi. Matanya menyisir rak-rak herbal di belakang konter.
“Satu lagi. Aku butuh herbal Daun Keberuntungan Maple. Apakah tersedia?”
Pelayan itu mengangguk “Ada, Tuan. Tapi seperti yang Anda tahu, Daun Keberuntungan Maple adalah herbal penyeimbang energi spiritual yang cukup langka. Satu ikatnya dihargai lima koin emas.”
Wang Yan tidak ragu. Ia tahu bahwa meskipun Paman Huo Ting sudah memberinya pil pengumpul spiritual, ia masih membutuhkan katalis tambahan agar tubuhnya yang belum pernah menyentuh jalur kultivasi tidak meledak saat pertama kali menyerap energi spiritual apalagi spiritual alam semesta yang baru pertama kali ia ketahui. Ia mengetahui kegunaan pasti Daun Keberuntungan Maple dari Kitab Agung yang menjelaskan Teknik Kultivasi Penipu Langit. Daun tersebut memiliki sifat penstabil yang sangat ia butuhkan.
Wang Yan mengeluarkan beberapa koin emas dari simpanannya, uang yang ia kumpulkan dari hasil memberikan konsultasi strategi kepada beberapa pedagang di kota selama beberapa tahun terakhir.
“Aku ambil satu ikat,” ujar Wang Yan singkat.
Begitu 5 koin emas itu berdenting di atas meja marmer, gerakan tangan Xiao Li seketika membeku. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya beralih dari koin emas itu ke wajah tenang Wang Yan, lalu kembali ke koin itu lagi dengan tatapan tidak percaya.
“Li... Lima koin emas?” Xiao Li berbisik, suaranya hampir hilang.
Sebagai pelayan yang sudah cukup lama melayani banyak orang termasuk Wang Yan, ia tahu pemuda ini cerdas, tapi mengeluarkan harta sebanyak itu—yang setara dengan gaji Xiao Li selama 2 tahun, hanya untuk seikat herbal pengumpul spiritual adalah sesuatu yang di luar nalar bagi seorang sarjana fana.
“T-tentu, Sarjana Wang. Mohon tunggu sebentar,” jawab Xiao Li dengan suara yang sedikit bergetar. Ia membungkuk sangat dalam, kali ini bukan sekadar formalitas, melainkan rasa hormat yang bercampur dengan kecurigaan yang besar.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Xiao Li mengambil koin-koin itu dan membungkus ikat daun maple dengan kain sutra merah yang paling halus. Ia menyerahkannya kepada Wang Yan seolah-olah ia sedang menyerahkan sebuah pusaka suci, matanya terus mencuri pandang ke arah Wang Yan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh sarjana ini.
Setelah transaksi selesai dan barang-barangnya terbungkus rapi, Wang Yan segera menyimpannya ke dalam saku jubah yang luas. Ia merasa beberapa tatapan dari lantai dua paviliun mulai memperhatikannya.
Di tempat seperti ini, seorang sarjana yang tiba-tiba membeli bahan kultivasi tingkat tinggi pasti akan mengundang tanya.
“Terima kasih, Xiao Li. Aku pergi dulu,” pamit Wang Yan tanpa menunggu balasan lebih lanjut. Ia bergegas keluar, niatnya sekarang hanya satu: kembali ke rumah dan segera memulai langkah pertamanya menjadi seorang kultivator.
...