NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertamu Ke Rumah Reot

Aiza mematung di ambang pintu kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Wajahnya memerah, bukan karena malu yang manis, melainkan malu yang menyayat hati. Ia melihat Qais berdiri di sana, di tengah gang becek, dengan kemeja putih bersih yang tampak sangat asing di lingkungan kumuh itu.

“Neng Aiza! Ini siapa? Ganteng amat, kayak artis di TV," sahut Bu Siti, tetangga sebelah yang sedang menjemur pakaian tadi. "Ayo atuh ajak masuk, kasihan Masnya berdiri di becekan.”

Aiza beralih menatap bu Siti sambil mengangguk sopan.

“Iya, Bu. Ini dokter Qais, dia dokternya Mbah. Kesini mungkin mau ngecek keadaan Mbah." Aiza beralih menatap Qais. “Iya kan, dokter Qais?"

Qais sedikit tertegun mendengar Aiza yang menganggapnya hanya sebatas dokter, meskipun memang kenyataannya demikian.

Aiza mengatakan itu bukan sengaja ingin membuat Qais merasa tak dianggap, tapi justru Aiza malu pada dirinya sendiri, takut jika seandainya Qais risih karena keadaannya yang sekarang.

“Benar. Tapi selain itu saya ingin bertemu ke rumah teman lama saya,” sahut Qais beralih menatap bu Siti sambil tersenyum ramah.

“Wah, Aiza. Kamu nggak pernah bilang punya teman sebening ini. Kapan-kapan ajak mampir ke rumah ibu lah." Bu Siti menaik-naikkan alisnya sedikit genit. Qais hanya tertawa kecil dan tak menanggapi. Sementara Aiza jadi serba salah.

“I-iya, Bu. Kalau begitu kami masuk dulu ya, Bu. Assalamualaikum. Ayo, Gus," ajak Aiza sedikit terburu-buru.

"Silakan... silakan masuk, Gus. Tapi maaf... rumahnya seperti ini," ucap Aiza sambil menunduk dalam. Dia sengaja tak menutup pintu meskipun mereka bertiga dengan Mbah Warih yang sedang tidur.

Qais melangkah masuk. Ia harus sedikit menundukkan kepala karena langit-langit rumah itu sangat rendah. Ruangan itu hanya seluas kamar mandi di rumahnya di Jawa Timur. Hanya ada satu kasur tipis tanpa dipan di lantai, sebuah televisi tabung kecil yang rusak, dan tumpukan baju di sudut ruangan.

"Duduk di sini saja, Gus. Maaf, ndak ada kursi. Hanya ada tikar ini," Aiza menyeka tikar plastik bermotif pudar itu dengan ujung jilbabnya, berusaha membuang debu yang sebenarnya tidak seberapa.

Qais tidak ragu. Tanpa diminta dua kali, ia melipat celana kainnya yang mahal dan duduk bersila di atas tikar tipis itu. Kepalanya hampir menyentuh atap seng yang terasa panas karena terik matahari.

Sementara Aiza tampak sibuk menyimpan ember yang sudah pecah sisa menampung air hujan semalam. Dia tak ingin Qais melihat kekurangan pada rumah itu.

Aiza bergerak gelisah. Ia pergi ke sudut ruangan yang ia sebut dapur—hanya sebuah kompor gas satu tungku di atas meja kayu reyot.

“Tidak usah repot-repot, Aiza. Saya kesini bukan untuk bertamu secara resmi," cegah Qais lembut.

"Cuma ada air putih, Gus. Tehnya habis," suara Aiza terdengar sangat getir, namun dipaksa tersenyum. Ia menyodorkan segelas air putih dalam gelas plastik yang warnanya sudah mulai buram. "Saya benar-benar minta maaf. Tempat ini... tidak pantas untuk orang seperti Gus Qais. Harusnya Gus tidak usah mengikuti saya sampai ke sini.”

Qais menerima gelas itu, lalu meminumnya. Ia lantas menatap Aiza yang duduk bersimpuh di lantai semen yang retak, menjauh darinya agar tetap menjaga batasan.

"Aiza," panggil Qais, suaranya parau. "Apa yang membuatmu berpikir tempat ini tidak pantas untuk saya?”

"Semuanya, Gus. Baunya, sempitnya, bocornya kalau hujan…” Aiza menunduk dalam, menyembunyikan matanya yang hampir berkaca-kaca.

Qais meletakkan gelasnya di lantai. Ia ingin sekali mengusap air mata itu, namun ia hanya bisa mengepalkan tangannya di atas lutut.

"Aiza, dengar saya," ucap Qais dengan nada paling tenang yang ia miliki. "Di mata saya, tempat ini jauh lebih mulia daripada rumah mewah. Karena di sini, kamu menjaga kehormatanmu dan merawat Mbah dengan tangan halalmu sendiri. Tapi..." Qais menjeda sebentar, matanya menyapu langit-langit yang penuh sarang laba-laba, "...hati saya sakit melihat kamu harus bertarung dengan dingin di tempat seperti ini setiap malam.”

Aiza hanya bisa menyembunyikan matanya yang basah dengan cara menunduk. Di rumah reot itu, rahasia kemiskinannya terbongkar, namun anehnya, kehadiran Qais di atas tikar robek itu memberikan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan selama tiga tahun ini.

Setelah berpamitan dengan berat hati dari rumah Aiza, Qais kembali ke rumah sakit dengan pikiran yang berkecamuk. Bayangan Aiza duduk di atas tikar robek dan dinding papan yang berlubang terus menghantuinya.

Ia masuk ke ruang kerjanya, mencoba mengalihkan sesak di dada dengan memeriksa tumpukan laporan pasien lama yang perlu diarsipkan ulang untuk audit rumah sakit. Saat jemarinya memilah map-map tebal itu, matanya tertuju pada sebuah nama yang sangat ia kenali.

"Briana Calista.”

Qais mengernyit. Ini adalah laporan medis dari tiga tahun lalu. Ia membuka lembar demi lembar dengan teliti. Sebagai dokter lulusan terbaik dari Jerman, instingnya langsung menangkap ada yang tidak beres.

Hasil laboratorium menunjukkan kadar hCG yang sangat rendah untuk ukuran wanita yang mengaku keguguran di usia kehamilan dua Minggu. Bahkan, ada catatan kecil dari lab pusat yang menyatakan sampel darah tersebut diduga terkontaminasi atau tertukar.

"Ini palsu…Briana tidak pernah hamil. Dia hanya bersandiwara untuk memfitnah Aiza.”

***

Sementara itu, ruang makan kediaman Arjuna, tepatnya di rumah pribadinya terasa sangat sunyi, hanya terdengar denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen. Arjuna duduk di ujung meja, menatap steak wagyu di depannya dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang pada kejadian di rumah sakit kemarin—pada tatapan mata Aiza yang begitu teguh dan dingin.

Briana, yang duduk di sampingnya, mencoba mencairkan suasana. Ia mengenakan gaun tidur sutra yang mahal, berusaha menarik perhatian suaminya.

"Sayang, besok kita jadi kan ke butik langgananku? Ada koleksi tas terbaru dari Paris yang mau aku lihat. Kamu nggak sibuk, kan?" tanya Briana dengan nada manja yang biasanya berhasil meluluhkan Arjuna.

Arjuna tidak menyahut. Di kepalanya, tiba-tiba terbayang memori tiga tahun lalu. Saat ia pulang kerja dengan kepala pening, Aiza—wanita yang selalu ia bentak—akan datang membawakan segelas teh hangat tanpa diminta. Aiza tidak pernah meminta tas mahal, dia hanya akan tersenyum sabar meski Arjuna memaki masakannya terlalu asin atau hambar.

"Arjuna!Kamu denger aku nggak sih?" Briana menyentuh lengan Arjuna, sedikit kesal karena diabaikan.

Arjuna tersentak dari lamunannya. Ia menoleh, namun bayangan wajah sabar Aiza masih tertinggal di pelupuk matanya.

"Iya, Aiza... nanti aku—”

Kata-kata itu terhenti di udara. Arjuna membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari nama yang baru saja meluncur dari bibirnya.

Pranggg!

Denting sendok Briana jatuh ke lantai. Wajahnya yang tadinya penuh senyum palsu langsung berubah merah padam. Matanya melotot tajam, penuh kilat kemarahan dan kecemburuan yang meluap.

"Siapa? Kamu panggil aku siapa tadi?" suara Briana meninggi, bergetar karena emosi.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!