Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Ketidak inginan
“Lian…” El menarik tangannya dari genggaman Killian, langkahnya semakin berat saat pria itu hendak membawanya menemui tuan besar Vane.
Ini terlalu cepat. Saat ia mengatakan ingin mengetahui seluruh kehidupan Killian, bukan berarti secepat ini. Dimana ia belum siap bertemu dengan kedua orang tuan Lian.
“Ada apa?” Bingung Lian. Baginya sebuah hubungan tidak ada rahasia terlebih privasi.
“Aku datang hanya untuk menemanimu melihat Araya. Urusan ku sudah selesai saat ini.”
Terlihat raut wajah tidak suka Lian pada perkataan Elaine. Setiap Lian merencanakan hubungan ini untuk ke jenjang lebih serius, Elaine akan selalu menghindar.
“Aku kira kau tidak memiliki perasaan pada Sam.” Ketus Lian.
Elaine terdiam menatap pria yang berdiri dihadapannya. Ia tak percaya ternyata Lian mengetahui hubungannya bersama Sam. Lalu hubungan apa yang dimiliki Sam dengan Killian?
“Ini tidak ada hubungan dengan nya Yan.” Elaine mencoba tenang.
“Lalu?”
Elaine menghela nafasnya. Tak mungkin ia meninggikan nada bicaranya dirumah keluarga Vane. Lian tak ingin berdebat, ia juga tahu wanita itu sudah lelah dan ini sudah pukul 1 malam.
“Ini sudah larut, tidurlah dikamar ku.” Perintah Lian, “Hans bawa dia kekamar.” Ucapnya lagi pada Hansen dengan tatapan tetap tertuju pada wanita itu, tangan besarnya mengelus lembut rambut panjang Elaine. Ia masih tak mengerti apa yang ada dipikiran wanita itu.
Usia mereka terpaut 7 tahun lebih. Lian sudah cukup umur untuk menikah yang selama ini enggan ia lakukan. Namun setelah bertemu dengan Elaine, ia seperti sudah menemukan tujuannya. Tapi wanita itu terlihat belum siap.
Lian memasuki ruang kerja ayahnya. Sepanjang malam itu terjadi perbincangan cukup serius antara ayah dan anaknya. Keluarga Vane memiliki pengaruh sangat besar untuk wilayah barat dan semakin meluas hingga ke timur dan selatan. Rick Vane merupakan salah satu anggota elite global. Tak ada yang tak bisa ia tundukan.
Sudah menjadi rahasia publik, Kaum elite global dimata dunia memiliki segudang bisnis atau pekerjaan kotor. Hanya saja berulang kali interpol menyelidikinya, mereka akan terlihat bersih tanpa pergerakan.
Oleh karena itu, keluarga Vane salah satunya yang termasuk mengerikan dalam menjalankan politik bisnis. Melebihi Mafia. Mereka tak akan membiarkan tangannya sendiri kotor.
...****************...
Pagi itu Elaine dan Killian melewatkan waktu sarapannya. Mereka cukup lelah setelah melewatkan hari panjang semalaman.
Elaine terbangun dengan Lian disisinya memeluknya hangat. Entah sejak kapan pria itu kembali. Cukup lama ia memandangi wajah Lian. Seketika ada perasaan takut menyelubungi relung hatinya, bukan karena takut ditinggal begitu saja oleh pria itu. Hanya saja semua terasa berat, semakin ia mengetahui tentang Killian, semakin ia merasa ada belenggu yang melingkar dikakinya.
Perlahan tak ingin membangunkan Lian, Elaine memeluk pria itu. Seandainya pria itu bukan anggota kaum elite global. Seandainya tak ada nama Killian dalam daftar hitam kakaknya. Apakah semua akan berjalan normal?
“Kau sudah bangun?” Gumam Lian yang masih memejamkan matanya.
“Ya. Tapi aku masih tidak ingin bangun.”
“Pesawat kita akan terbang siang ini.”
“Pesawat? Kita akan kemana?” El mendongakkan kepalanya menatap Lian dengan bingung.
Pria itu dengan tubuh atletis nya bersandar pada sandaran kasurnya, “Aku ada pekerjaan di Krestovya. Tidak lama.”
“Lalu kenapa aku harus…”
Elaine tak melanjutkan kalimatnya, pria itu semakin sensitif jika El selalu menolak atau beradu argumen dengannya.
“Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama mu.” Jawab Lian.
El kembali terdiam. Ia beranjak bangun dari kasurnya. Entah kenapa ia berharap ada sebuah panggilan mendadak untuknya, entah itu operasi darurat atau ramainya UGD hingga butuh bantuan banyak tenaga medis. Kejam memang pikirannya. Namun ia semakin dalam menjalin hubungan dengan Lian, semakin dalam pula cara pria itu memperlakukannya. Over protective.
“Dimana handphoneku?” Tanya El saat memeriksa dalam tas nya tapi kosong.
Dengan bola matanya Lian menunjuk kearah meja nakasnya. Ponsel itu tepat berada disamping pria itu, seperti biasa semalaman Lian mengecek isi pesan dan panggilan di ponsel Elaine.
El tak ingin bertanya, bagi Lian saat bersamanya tidak ada privasi.
“Apa yang kau cari?” Tanya El yang kini duduk dipinggir kasur sambil mengecek email kampusnya. Ini akhir pekan, waktu nya membuat laporan tugas ke kampusnya, “Tanyakan pada ku, jika ada yang ingin kau ketahui.”
Lian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Ia sangat suka mencium aroma tubuh dan rambut Elaine.
“Sam… sejak kapan kau bersamanya? Apa alasan mu putus dengannya?”
“Entahlah. Terjadi begitu saja. Dia dan aku sama-sama sibuk. Tidak ada komunikasi akhirnya aku memilih untuk mengakhirinya. Itu sekitar tahun lalu.”
Elaine kini membalikkan tubuhnya, ada pertanyaan yang dari semalam ia ingin ketahui juga.
“Apa hubungan mu dengannya?”
“Dia sepupu ku.”
“Lalu Araya?”
“Kau sudah tahu, dia adik tiri ku.”
“Sejak kapan kalian hidup bersama?”
“Hmm… Entahlah. Saat itu aku masih sekolah tingkat akhir. Aku tidak terlalu…”
“Dia menyukaimu? Apa kau tahu itu?” Sela Elaine langsung. Tanpa sadar ada rasa cemburu didalamnya.
“Menurutmu begitu?”
“Katakan pada ku, jika terjadi sesuatu antara dia dan aku. Sangat darurat. Siapa yang kau utamakan?”
“Pertanyaan bodoh.”
“Jawab saja.”
“Laine… bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawa ku sekali lagi, maka akan ku lakukan untuk mu.”
El terdiam. Pria itu memang menyelamatkannya saat kebakaran itu terjadi. Mati-matian dia menahan rasa sakit akibat tusukan senjata tajam di perut kirinya, namun ia perlu melindungi Elaine yang saat itu tersudut akan kobaran api.
“Aku tidak menyukai saat kau bersama Araya semalam.” Sahut Elaine, ia tetap mencurahkan isi hati kekesalannya saat mereka terlibat obrolan bersama. Hanya mereka, tidak dengan Elaine yang duduk disofa menunggu pria itu bercengkrama hangat dengan Araya.
“Lalu bagaimana dengan mu?” Tanya Lian kembali, “Kau masih memiliki perasaan pada Sam?”
“Menurut mu?” El beranjak berdiri untuk menenggak segelas jus dingin yang ada di mini bar kamar Lian.
Terlihat Lian kesal dengan cara menjawab wanita itu. Ia merampas gelas yang hendak diminum Elaine, menenggaknya hingga habis.
“Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya Laine?” Lian meraih punggung wanita itu dan meremasnya hingga kencang.
Seakan ia siap menyiksa wanita itu jika jawabannya teramat mengecewakannya.
“Apa itu yang semalam ingin kau cari tahu dari handphone ku?”
Lian jelas tidak menemukan apapun di ponsel Elaine. Wanita itu telah menghapus apapun yang berhubungan dengan Samiel sejak mereka putus.
“Jangan ajukan pertanyaan lain sebelum menjawab pertanyaan ku.”
Tak sabar menunggu jawaban dari wanitanya, Lian mencoba untuk mencari tahu sendiri.
“LIAN…” Pekik Elaine saat dirinya dilempar oleh pria itu diatas ranjang. Mengunci kedua tangan kecilnya dengan satu cengkraman besar.
“Jangan pernah menguji kesabaran ku Laine.” Secara liar pria itu melumat bibir manis yang hanya ia tatap sejak tadi.
Tak ia izinkan wanitanya mengambil nafas meski hanya beberapa detik. Elaine mencoba berontak. Namun tenaga pria itu sungguh kuat. Membuat pakaiannya terobek.
Perlahan cengkraman itu terlepas saat Elaine mencoba menggigit bibir pria itu. Bukannya berhenti, pria itu justru tersenyum sadis. Lian membuka pakaiannya, menunjukkan dada bidang dan perutnya yang atletis. Elaine hanya terdiam menatapnya tak percaya hingga akhirnya pria itu kembali menciumnya
“Berhentiii Yan…” Elaine mendorong sekuat tenaga pundak Killian, namun semakin ia memaksa untuk mendorong tubuh pria itu. Semakin kuat pula Lian mendekap tubuh Elaine.
“Apa kau dan dia sudah sejauh ini?” Suara Lian terdengar dingin dan berat bernafas di tengkuk leher Eliane, meninggalkan kiss mark disana. Tangan besar dan hangatnya menjamah kebagian bawah perempuan itu. Semakin dalam dan membuat El ketakutan.
“LIAAANN……” El menangis dan sekuat tenaga mendorong pria itu hingga terhempas.
Elaine dapat melihat senyum miring dingin dari pria gila itu. Pria yang ia cintai dan ternyata adalah sebuah kesalahan.
“Kalau kau menjawab pertanyaan ku tanpa mengalihkan, semua ini tidak akan terjadi Laine.” Senyum dingin Lian. Jawaban yang ia inginkan kini sudah didapat. Elaine tak pernah memberikan tubuhnya pada pria lain.
“KAU BRENGSEK.”
Elaine mengambil mantelnya hendak keluar dari kamar itu. Namun pria itu langsung lari mendekapnya dari belakang.
Wanitanya kembali memberontak namun saat kedua tangan kecil itu kembali dicekal olehnya. El hanya bisa pasrah dan menangis. Ia berhenti berontak. Tenaganya sudah habis.
“Maafkan aku Laine. Maafkan aku. Tidak akan ku ulangi.” Ucap lembut Lian, “Aku hanya cemburu memikirkan hubunganmu sejauh apa dengan Sam. Aku tidak mampu membayangkannya.”
“Maafkan aku.”
Perlahan Lian melepas cengkramannya dan memeluk Elaine penuh kelembutan. Ia sadar caranya begitu kasar pada wanita itu. Tidak seharusnya ia memaksanya. Bukankah saat di apartemen Elaine, ia bisa begitu lembut dan hangat hingga membangkitkan hasrat wanitanya.