Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesal
Setelah keinginan nya untuk ikut dengan Alvian di tolak mentah-mentah oleh cowok itu, Riska memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang bisa menenangkan nya.
suara mesin meraung kasar, kakinya menginjak dalam pedal gas mobil untuk menambah kecepatan, wajah nya sudah sekaku kanebo kering, cengkraman pada setir mobil nya membuat buku jari nya memutih.
Tatapan nya tajam membelah jalan yang sedang ia lewati, namun pikirannya penuh dengan berbagai prasangka yang membuat nya kian kesal.
Sebenarnya dia memang tipe pencemburu serta posesif, tapi selama ini ia selalu bisa menutupinya dengan rapi dan tampil sebagai wanita pengertian di mata Alvian, karena memang tidak ada halangan yang berarti dalam hubungan mereka, semua cewek yang memiliki gerak-gerik mencurigakan, dari yang sekedar kode hingga sudah ke tahap ingin menggoda Alvian sudah ia singkirkan dengan rapi, sangat rapi hingga Alvian tidak menyadarinya.
Tapi kali ini berbeda, saingannya sekarang bukan lagi wanita-wanita jalang yang berkeliaran di kantor atau pun yang mendeklarasikan dirinya sebagai teman Alvian yang sebenarnya hanya modus, saingannya sekarang adalah wanita antah berantah yang entah dari mana dan merebut status yang harusnya menjadi milik nya, akan sedikit lebih sulit untuk menyingkirkan nya tapi Riska tidak akan pernah membiarkan wanita itu menyandang statusnya sebagai istri Alvian lebih lama lagi.
Alvian ingin balas dendam dengan wanita itu kan? Maka Riska akan membantu nya.
Mengingat sikap Alvian tadi membuat darahnya mendidih seketika, ia kesal saat pria itu menyembunyikan apa yang terjadi dengan nya, di kemas oleh kata-kata lembut yang seharusnya bisa menenangkan nya justru malah memantik emosinya, dan pergi begitu saja tanpa kecupan kening seperti biasanya atau pun pelukan, hal sepele seperti itu saja sudah sangat membangkitkan emosi nya mengingat kalau Alvian bukan lagi miliknya seorang.
Riska memutar setir nya dalam begitu akan masuk ke dalam basement apartment mewah yang sering ia kunjungi diam-diam saat ia kesepian ataupun kesal seperti saat ini
Langkahnya membawanya menuju unit yang ada di lantai empat, membawa dirinya yang sedang di kuasai emosi dengan gontai, penampilan nya sudah sangat kacau karena tak terhitung berapa kali ia mengacak-acak rambut nya ketika ia tak bisa mengendalikan emosinya.
" Riska! " begitu pintu terbuka setelah ia memencet beberapa kali bel unit itu dengan tidak sabar, menampilkan sosok pria tampan yang hanya menggunakan celana pendek.
" aku kesal Rey! " Riska menerobos masuk setelah Reyhan menggeser tubuhnya untuk memberinya jalan, menghempaskan tubuhnya di sofa lalu memejamkan mata setelah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan wajah menengadah
" kali ini kenapa lagi sweety? "Reyhan duduk di sebelah nya, setelah mengambil dua buah kaleng soda dari lemari pendingin. Menyerahkan satu pada Riska yang langsung di terima oleh wanita itu.
" Alvian sudah mulai main rahasia rahasiaan dengan ku, Rey. Kamu tau kan hal itu yang paling aku benci, Alvian juga tau tapi sepertinya dia melupakan hal yang paling ku benci itu, Rey!" Riska meremat kaleng soda yang baru ia tenggak sedikit hingga isinya berceceran di lantai.
" kamu nggak nyoba tanya pada pria bodoh itu?" reflek Riska menoleh pada Reyhan, tatapan nya yang nyalang mengatakan kalau ia tidak suka dengan ucapan Reyhan barusan.
" sorry honey, aku hanya kesal saja wanita yang kucintai di sakiti oleh pria tidak bersyukur itu!"
Tatapan Riska sudah tak segalak tadi, ia diam saja menikmati perasaan Reyhan yang selalu terasa tulus begitu laki-laki itu merengkuh nya dan mengusap punggungnya dengan lembut.
" andai yang kucintai itu kamu, pasti aku tidak akan pernah merasakan sakit ini."
Reyhan tergelak. " itu karena kamu sudah terobsesi dengan Alvian, sweety!" Reyhan menghela napas panjang." sebenarnya aku sangat benci mengatakan hal itu."
Reyhan benar, dirinya sangat terobsesi dengan Alvian sejak dulu, laki-laki yang menjadi idolanya sejak SMP, Superman yang pernah menyelamatkan nya dari perundungan dan perlakuan yang tidak menyenangkan yang pernah dialami nya karena ternyata aib nya yang seorang anak simpanan terkuak.
" seharusnya Alvian mengatakan apa yang membuat nya tidak fokus pada meeting, seharusnya dia percaya kalau aku selalu ada untuk nya, seharusnya dia lebih berusaha lagi untuk meyakinkan ku kalau pernikahannya bukanlah ancaman yang serius untuk hubungan kami tapi dia lebih memilih membiarkan ku tenggelam dengan pikiran ku sendiri."
" sweety, kenapa kamu jadi tidak percaya diri seperti ini, itu sama sekali bukan kamu."
" bagaimana aku mau percaya diri? Kekasih ku satu rumah dengan wanita lain, meskipun tidak ada rasa cinta di hatinya, tetap saja aku merasa was-was, cinta bisa datang kapan saja, apalagi seringnya pertemuan di antara mereka, aku takut Rey"
" bukankah Alvian akan menikahi mu juga sebentar lagi? Harusnya kamu yakin kalau posisi kamu tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun."
Riska tersenyum kecut, Alvian memang sempat mengatakan kalau ia akan menikahi nya juga, tapi hanya sebatas itu tanpa progres yang berarti.
"it's oke honey, aku akan membuatmu melupakan masalah mu malam ini" setelah itu tanpa ragu Reyhan mengikis jarak di antara mereka, lalu memagut bibir wanita itu dengan lembut.
Dengan senang hati Riska menerima lidah Reyhan yang menerobos masuk le mulut nya begitu ciuman nya mulai menuntut.
Memang ini yang ia harapkan, Reyhan selalu bisa membuat nya melupakan semua masalah nya dengan Alvian.
Pria yang dengan suka rela menjadi pelampiasan nya itu memang sudah memiliki perasaan pada nya sejak dulu, sejak ia tidak sengaja menemukan dompet pria itu yang di buang jambret begitu si jambret tertangkap dan di hakimi massa.
Pertemuan tanpa sengaja itu mengantarkan hubungan yang sangat rumit di antara mereka berdua, setidaknya untuk Reyhan karena Riska sama sekali tidak memiliki perasaan lebih selain kenyamanan.
Suara lenguhan keduanya mengudara begitu mereka mendapatkan puncaknya masing-masing. Reyhan mengecup bibir Riska sebelum melepas penyatuan mereka karena takut membuat Riska tidak nyaman sebab tetimpa berat badannya, meskipun ia selalu menjaga sebisa mungkin agar Riska tidak terganggu oleh nya.
" Rey, bagaimana dengan surat wasiat itu? Apa pak bambang mau di ajak kerja sama," Riska masih betah terlentang di atas sofa, memainkan ponselnya dengan tubuh Shirtless nya.
" agak susah sweety, tapi aku sudah menemukan cara untuk membuat pak Bambang tunduk sama kita" Riska yang sempat mengerutkan kening seketika tersenyum lebar, Reyhan memang selalu bisa di andalkan, tapi sayang dia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih selain rasa nyaman menjadi teman Hook up-nya.
" thank you very much, Rey!" Riska bangkit dari posisinya untuk mengecup bibir laki-laki itu.
" apapun untuk mu, honey!" Reyhan kembali menyerang bibir nya, ciuman nya yang brutal kembali memacu adrenalin nya, memang harus ia akui Reyhan adalah pencium yang handal, dan berkatnya kemampuan menciumnya kini berkembang sedikit lebih baik
" ronde ke dua?" sorot mata Reyhan kembali di penuhi kabut gairah, dan Riska menjawabnya melalui ciuman di bibir pria itu.