Mira tiba-tiba terjebak di dalam kamar hotel bersama dengan Angga—bosnya yang dingin, arogan, dan cuek. Tak disangka, setelah kejadian malam itu, hidup Mira benar-benar terbawa oleh arus drama rumah tangga yang berkepanjangan dan melelahkan.
Mira bahkan mengandung benih dari bosnya itu. Tapi, cinta tak pernah hadir di antara mereka. Namun, Mira tetap berusaha menjadi istri yang baik meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan. Hingga suatu waktu, Mira memilih untuk mundur dan menyudahi perjuangannya untuk mendapatkan hati Angga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN CINTA MIRA
Angga berdiam diri di dalam kamarnya sambil memikirkan perkataan Mira yang bertubi-tubi. Dia berkali-kali mengerutkan kening seraya berfikir keras dan menelaah omelan dan cercaan dari Mira.
"Apakah dia menyukaiku? Apakah dia mencintaiku?" gumamnya.
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!" Dia mendengkus, lalu pergi dari kamar pribadinya.
Angga turun ke lantai dua dan langsung masuk ke kamar Mira. Dia membuka pintu yang tadi ia banting demgan kasar. Terlihat Mira sedang duduk sambil memeluk lututnya di atas ranjang.
Angga langsung menaiki ranjang Mira dan memegang pundak wanita itu dengan kuat.
"Katakan lagi apa yang kamu katakan tadi, Mir!" ucapnya dengan pelan namun penuh penegasan.
"Buat apa?" sahut wanita itu dengan tatapan dingin.
"Lihat mataku sekarang!" Angga beralih posisi, dia menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Mira.
Mira menggeleng.
"Mir,lihatlah mataku!" Angga kian meradang.
"Tidak mau!" Wanita itu kian memberontak.
"Apakah kamu mencintai aku?" bisik pria dingin itu di telinga istrinya.
DEGH
Mira pun terdiam.
"Katakan sesuatu, apakah itu cinta?" Angga terus berbisik.
"Apakah kamu marah karena cintamu bertepuk sebelah tangan?"
"Apakah kamu merasa cemburu karena aku sering pulang malam dan menghabiskan waktu dengan Carla?"
"Katakanlah! Apakah kau mencintaiku?"
"Apakah itu yang membuatmu rela memberikan tubuhmu kepadaku? Apakah kau mengira aku melakukan hubungan badan dengan rasa cinta juga?"
Angga terus menanyakan banyak hal kepada Mira. Dia memegang wajah Mira dengan tatapan tajam bak hunusan pedang.
"Katakan saja, kau pasti lelah dengan perasaanmu sendiri, lalu kau menyalahkan diriku karena cintamu tak terbalas? Hehehehe." Angga terkekeh.
"Ayolah ... akui saja, kau bukan satu-satunya wanita yang pernah mencintaiku hingga bucin," kelakarnya.
Mira terdiam.
"Kenapa diam saja? Kau tadi memakiku dengan sangat garang, coba sekarang katakan sesuatu." Pria itu menyeringai.
"Ya ... aku mencintaimu, Pak!"
"Ya ... aku benci saat kamu pergi dengan Carla dan selalu lebih perhatian kepada wanita itu!"
"Ya ... aku cemburu, aku kesal, dan aku marah kepada diriku sendiri, kenapa aku bisa menaruh hati kepada pria sepertimu!"
Mira menatap netra suaminya lalu beranjak ingin pergi dari hadapan pria itu. Namun ..., tiba-tiba, tangan kekar Angga merengkuh dan memeluk tubuh Mira dengan begitu erat.
"Aku juga mencintaimu, Mir." Pria itu berbisik di telinga istrinya dengan lembut.
DEGH
Jantung Mira rasanya ingin melompat jatuh ke lantai. Dadanya berdegup kencang dan nafasnya mulai memburu tak beraturan. Dengan susah payah ia meloloskan sebuah kalimat dari bibirnya yang tipis.
"Benar, kah?" sahutnya dengan netra berkaca.
"Tentu saja, tidak! Kamu jangan mimpi! Hahahah." Angga tergelak, lalu menepis tubuh istrinya dengan kasar.
"Loe jangan ngarep! Loe bukan tipe gua, paham?!" Pria itu menyeringai lalu pergi dari kamar Mira dengan senyum kemenangan.
Mira terdiam, ada sesuatu yang kini mencekat lehernya hingga ia bahkan tak mampu mengeluarkan suara ataupun tangisannya.
Dadanya terasa sesak, ia pun tidak mampu untuk sekedar terisak. Berulang kali dia menampar pipinya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukankah sebuah mimpi, tapi ini adalah kenyataan, kenyataan dimana cintanya untuk Angga telah DITOLAK.
Ini adalah pertama kali Mira jatuh cinta dan pertama kali dia mengutarakannya, juga ... pertama kali ia ditolak.
"Jadi aku sudah mengakui perasaanku?" bisiknya dengan bibir bergetar.
"Hahahah, bodoh sekali aku ini, bagaimana bisa aku menyukai pria sinting dan dingin itu" rutuknya.
"Jadi benar ... cintaku tak terbalas." Dia pun tersenyum getir.
Segera ia ambil gawainya di dalam tas, lalu ia berkirim pesan kepada Deva.
"Pak ... mengenai pembicaraan kita tadi pagi, untuk grand opening perusahaan Bapak yang di cabang Tangerang itu, besok, kan?" ketiknya lalu ia kirimkan.
Tak butuh waktu lama langsung centang dua dan berwarna biru.
"Iya, Mira. Besok saya ada grand opening. Malam ini saya meluncur ke Tangerang, karena saya mesti prepare buat acara pagi. Kebetulan saya juga ada rumah di Tangerang sih." Balasan Deva datang dengan sangat kilat.
"Saya mau menerima tawaran Bapak." Wanita itu pun mengetik pesan balasan.
"Tapi jauh ke Tangerang, Angga ngasih ijin, kah?" tanya Deva.
"Jauh gak masalah, Pak. Saya bisa mencari kost atau kontrakan. Kalau soal ijin, saya belum bilang, tapi sepertinya itu tidak penting. Karena Pak Angga juga sibuk dengan dunianya," balas si Mira.
"Heeemmnbb, baiklah kalau begitu, besok saya tunggu di kantor baru kita. Nanti saya sharelok ya," kata Deva.
"Siap, Pak, terimakasih." Mira pun meletakkan gawainya dan tersenyum masam.
"Ijin ...? Aku tak butuh ijin dari pria dingin itu," sungutnya.
****
Pagi buta, Mira segera bersiap untuk berangkat ke Tangerang. Dia membawa sekoper baju untuk persiapan selama bekerja di Tangerang.
"Nanti aku akan wa Mama, aku akan memberitahu jika aku kini bekerja di Tangerang dan tidak bisa pulang setiap hari," tandasnya.
Mira hanya pamit kepada Bik Wati ketika sholat subuh berjamaah tadi.
KREK KREK KREK
Dia menarik kopernya keluar dari rumah itu, lalu menutup pintu utama.
Angga yang baru bangun, cukup penasaran saat mendengar derit koper ditarik di lantai. Dia bergegas turun dari ranjangnya dan pergi ke lantai bawah. Angga melihat Mira sudah menaiki mobil, sebuah transportasi ojol, dan berangkat.
"Lhoh, lhoh, lhoh, dia mau kemana?" gumamnya sambil membuka pintu dan keluar ke halaman, tapi mobil yang Mira tumpangi sudah menghilang di pertigaan.
Angga terbelalak saat dia memasuki kamar Mira. Semuanya sudah bersih. Baju, skincare, bodycare, handuk, tas, laptop, dan segala macam tetek bengek milik Mira sudah tidak ada, hanya tersisa beberapa setel piyama dan baby doll di lemari istrinya itu.
"Bik ...! Mira pamit pada Bibik, gak, mau kemana?" teriaknya.
"Dia pamit mau berangkat ke luar kota, Mas. Ada kantor cabang baru milik Pak Deva di sana, katanya." Bik Wati menjelaskan.
"Luar kota mana?" Pria itu kian meradang.
"Yaaa, Bibik mana paham, Mas?" Bik Wati pun mendengus pelan.
"Deva lagiii ... Deva lagiii ...!" Angga terlihat sangat marah.
Dia pun segera menghubungi Mira tapi tak ada jawaban. Dia mencoba menelpon Deva tapi sambungan terputus.
"Aahhh ... sial ...!" umpatnya.
Hari itu juga Angga langsung menuju ke kantor Deva yang di Jakarta. Dia begitu emosi dan ingin sekali menghajar Deva. Namun, Deva tak ada di kantor.
"Pak Deva ada urusan di luar kota, Pak," kata seorang karyawan di kantor Deva, mungkin sekretarisnya.
"Luar kota mana?" Angga mendesis sebal.
"Kami tidak paham, Pak," jawab sesembak itu.
Angga pun menarik nafas dengan gusar.
"Awas loe ya, Dev! Berani-beraninya loe membawa kabur istri gua!" sungutnya dengan tatapan nyalang.
Dia segera menelpon Deva berulang kali, namun tidak diangkat. Dia pun langsung menelpon Mira, namun tidak aktif. Angga kian kesal saat melihat foto profil di akun Mira malah hilang.
"Apakah Mira telah memblokirku?" Dia terbelalak sebal.
"Sial ...! Apakah mereka berdua sengaja menjauh dariku agar aku tidak bisa mengganggu keduanya?" gerutunya.
*****