NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 KHSC

Memasuki bulan ketujuh kehamilan Nareswari, rumah besar mereka di pinggiran kota mengalami transformasi besar. Juna, yang biasanya hanya peduli pada desain minimalis dan maskulin, kini secara pribadi mengawasi renovasi salah satu sayap rumah yang dikhususkan untuk kamar bayi.

Pagi itu, Juna tidak berangkat ke kantor lebih awal. Sebaliknya, ia berdiri di tengah ruangan yang dicat warna sage green lembut, memegang denah arsitektur dengan ekspresi seserius saat ia menghadapi akuisisi perusahaan besar.

"Rio, kenapa sudut meja ganti ini terasa sedikit tajam? Aku sudah bilang, gunakan round-edge yang paling aman. Dan karpet ini, apakah sudah dipastikan anti-alergi?" tanya Juna dengan nada menuntut.

Rio, yang berdiri di sampingnya sambil membawa daftar inventaris, hanya bisa menghela napas sabar. "Sudah, Pak Juna. Semua material telah melalui uji laboratorium untuk memastikan keamanan bagi bayi. Karpet itu terbuat dari serat bambu organik."

Nares muncul di ambang pintu, mengenakan gaun hamil berwarna putih yang membuatnya tampak seperti bidadari. Ia tertawa kecil melihat suaminya yang perkasa kini sibuk berdebat tentang kelembutan kain gorden.

"Juna, sayang... bayinya bahkan belum lahir. Dia tidak akan langsung berlari dan menabrak sudut meja," goda Nares sambil mendekat.

Juna langsung menoleh, wajah kaku itu seketika melunak. Ia menghampiri Nares dan menuntunnya masuk dengan sangat hati-hati, seolah Nares berjalan di atas es tipis. "Kita tidak boleh meremehkan apa pun, Nares. Aku ingin segalanya sempurna untuk kalian."

Juna membawa tangan Nares ke atas perutnya yang kini sudah menonjol cantik. "Lihat, jagoan kita setuju denganku. Dia baru saja menendang."

***

Setelah Rio dan para pekerja pergi untuk istirahat makan siang, Juna mengajak Nares duduk di kursi goyang kayu yang baru saja tiba. Kursi itu didesain khusus agar Nares bisa menyusui dengan nyaman nantinya.

"Duduklah, aku ingin mencoba fungsi pijatnya," kata Juna.

Nares duduk, dan Juna berlutut di depannya, mulai memijat kaki Nares yang sedikit membengkak dengan minyak aromaterapi. Gestur ini telah menjadi ritual harian Juna. Seorang miliarder yang biasanya memerintah ribuan orang, kini dengan tulus bersimpuh di kaki istrinya.

"Kau terlalu memanjakanku, Juna. Aku merasa seperti ratu yang tidak boleh menyentuh lantai," bisik Nares, jemarinya menyisir rambut Juna yang rapi.

Juna mendongak, matanya menatap Nares dengan intensitas yang membuat jantung Nares berdesir. "Kau memang ratuku, Nareswari. Dan bayi ini... dia adalah mahkota kita. Aku menghabiskan tiga puluh tahun hidupku tanpa arah yang jelas selain uang. Sekarang, setiap lelahku di kantor hilang hanya dengan membayangkan pulang ke rumah ini."

Juna berdiri, membungkuk, dan mencium dahi Nares dengan lama, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir di bibir Nares dalam sebuah ciuman yang manis namun penuh gairah. "Aku mencintaimu lebih dari yang bisa kau bayangkan," bisiknya di sela ciuman mereka.

***

Namun, ketenangan itu terusik saat Juna kembali ke kantor sore harinya. Rio masuk dengan wajah tegang.

"Pak Juna, ada pergerakan aneh di bursa saham. Seseorang sedang mencoba melakukan hostile takeover pada anak perusahaan kita di bidang teknologi hijau. Dan yang mengejutkan, konsorsium di baliknya dipimpin oleh nama yang tidak asing: Bagaswara."

Juna menyipitkan mata. Bagaswara adalah keluarga yang dalam surat tua ibu Nares disebutkan sebagai pihak yang menjebak ayah Nares dulu. Tampaknya, mereka tidak senang Juna mulai mengungkit sejarah lama untuk membersihkan nama mertuanya.

"Jadi mereka mulai merasa terancam?" Juna tersenyum dingin, aura CEO kejamnya kembali muncul. "Mereka pikir mereka bisa menyerangku melalui bisnis setelah gagal menghancurkan mental Nares? Mereka salah besar."

Juna menghabiskan sisa harinya di ruang perang kantornya, menyusun strategi serangan balik yang akan menghancurkan finansial keluarga Bagaswara dalam satu malam. Namun, di tengah kesibukan itu, ia tetap menyempatkan diri mengirim pesan singkat pada Nares: "Jangan lupa minum susumu, sayang. Aku akan pulang tepat waktu untuk makan malam."

***

Sesuai janjinya, Juna pulang tepat pukul tujuh malam. Namun, ia tidak mengajak Nares makan di meja makan seperti biasa. Ia menuntun Nares ke atap rumah (rooftop) yang telah ia sulap menjadi taman gantung kecil dengan lampu-lampu peri yang berkelap-kelip.

"Juna, apa ini semua?" tanya Nares terpesona.

"Ini adalah perayaan. Bukan hanya untuk bayi kita, tapi untuk keberanianmu menghadapi masa lalu minggu lalu," jawab Juna. Ia menarik kursi untuk Nares. Di atas meja sudah tersedia makanan organik yang dimasak khusus oleh koki pribadi mereka.

Selama makan malam, Juna tidak membahas sedikit pun tentang ancaman Bagaswara. Ia ingin malam ini hanya milik mereka. Mereka berdansa pelan tanpa musik, hanya diiringi suara angin malam dan detak jantung masing-masing.

"Terima kasih sudah menjadi suamiku, Juna. Dulu aku sangat takut padamu, kupikir kau adalah monster yang tidak punya perasaan," kata Nares sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Juna.

Juna tertawa rendah, suara yang sangat disukai Nares. "Aku memang monster sebelum bertemu denganmu. Kau adalah satu-satunya orang yang memiliki kunci untuk membuka sisi manusiawiku. Dan sekarang, monster ini akan melakukan apa pun untuk memastikan kau dan anak kita aman."

***

Malam kian larut. Juna membimbing Nares kembali ke kamar mereka. Sebelum tidur, Juna selalu membacakan cerita atau memutarkan musik klasik untuk perut Nares.

"Kau tahu, Juna? Aku merasa sangat lengkap sekarang," kata Nares saat mereka berbaring berpelukan.

Juna mencium puncak kepala Nares. "Ini baru awal, sayang. Besok, aku akan menyelesaikan urusan dengan Bagaswara agar mereka tidak pernah berani menatap mata kita lagi. Aku akan memastikan jalan bagi anak kita bersih dari semua duri masa lalu."

Nares memejamkan mata, merasa sangat aman dalam dekapan Juna. Di luar sana, perang korporat mungkin sedang berkecamuk, dan musuh-musuh baru mulai bermunculan. Namun, di dalam dekapan pria yang kini ia cintai sepenuh jiwa, Nares tahu bahwa tidak ada badai yang tidak bisa mereka lalui. Juna telah berubah dari seorang suami kontrak yang dingin menjadi pelindung yang tak terkalahkan, semua demi cinta yang lahir dari ketulusan seorang Nareswari.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!