NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Antara Taman, Masa Lalu, dan Tatapan yang Kembali

Kadang, semesta tidak butuh alasan untuk mempertemukan dua orang yang masih belum selesai.

...Happy Reading!...

...*****...

Taman kota mulai ramai walau matahari belum terlalu tinggi. Ada yang jogging, ada yang sekadar jalan santai sambil ngobrol, ada juga yang sibuk selfie di bawah pohon ketapang. Dari anak kecil sampai lansia, semuanya berkumpul di Minggu pagi yang cerah ini.

Aku berjalan bersama kedua sahabatku menuju stand yang katanya didirikan oleh calon suami Zira yang bernama Revan, bersama beberapa anggota komunitas NARA.

Dari tiga sahabat geng SMA kami, cuma aku yang masih setia pada status jomblo hampir kepala tiga. Aku lahir tahun 1996 dan ulang tahunku belum lewat. Jadi secara teknis, masih dua puluh delapan. Masih bisa sombong dikit lah sebelum resmi menyandang gelar perawan usia matang.

Di antara kami bertiga, aku yang paling muda. Vey dan Zira sudah genap dua puluh sembilan. Dan ya, dua-duanya sudah taken. Vey menikah tiga tahun lalu. Zira sebentar lagi nyusul. Sedangkan aku? Dari yang sudah bertunangan malah balik jadi jomblo. Mungkin semesta ingin aku menjalani versi soft opening dari hidup seorang perawan tua.

Kadang aku mikir, jangan-jangan satu-satunya cara untuk menghapus kutukan cinta ini adalah minta maaf ke cowok yang dulu pernah aku permainkan. Seriusan. Minta maaf lalu disiram air bunga tujuh rupa. Tidur di kasur beraroma melati sambil bakar kemenyan.

"Woy. Melamun lagi," tegur Zira sambil nyolek lenganku.

Ternyata kami sudah sampai di depan stand komunitas NARA. Revan sedang menata snack dan air mineral, dibantu beberapa anggota komunitas, baik laki-laki maupun perempuan. NARA memang komunitas perempuan, tapi siapa saja boleh bergabung.

Zira berdiri di sampingku, sementara Vey sibuk menata makanan dan minuman.

"Hai, Ca. Apa kabar?" sapa Revan begitu melihatku.

Aku tersenyum tipis, menahan komentar sinis yang hampir meluncur. "Baik. Tumben banget lo ikut acara gini?"

Sejujurnya aku jarang lihat dia aktif di kegiatan NARA sebelumnya.

"Tumben apaan. Gue sering ikut. Lo aja yang gak pernah nongol. Iya kan, Sayang?" jawab Revan sambil melirik Zira.

"Iya tuh. Lo sok sibuk. Diajak ikut pasti alasannya banyak," timpal Zira sambil menyenggol bahunya. Revan langsung merangkulnya dengan mesra.

"Gue bukan sok sibuk. Emang sibuk," sanggahku.

"Halah. Ngaku aja deh. Males."

Aku mendengus pelan. Zira memang gak bisa dikasih celah. Sejak rival masa SMA-nya berubah jadi kekasih, dia makin cerewet. Dulu saja mereka debat tiap lima menit. Sekarang malah lengket seperti lem super.

Benci dan cinta memang beda tipis. Aku sebenarnya sudah curiga sejak dulu kalau mereka saling suka. Cuma gengsinya kelewat tinggi. Apalagi mereka tetangga. Sudah kenal dari kecil. Debat dari kecil. Dan semesta akhirnya menyerah. Menyerahkan mereka satu sama lain.

"Halo, Alvaren."

Aku hampir terdorong saat Zira berjalan cepat melewatiku dengan semangat tiga ratus persen. Ternyata dia menyambut seorang balita yang duduk di stroller, didorong oleh seorang pria yang merupakan ayahnya.

Untung aku tidak jatuh. Zira malah asyik menyapa si bayi tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Sementara ibunya, Vey, masih sibuk membagikan makanan ringan dan botol minum ke pengunjung taman. Suaminya, Alvano, berdiri di sebelah stroller.

Lucu ya. Dua sahabatku menikah dengan teman SMA. Kalau Zira dan Revan dulu saling sindir, Vey dan Alvano lebih absurd lagi.

Vey yang kalem dan cantik dulu sangat cuek sama Alvano. Cowok yang terkenal suka godain cewek. Tipikal buaya sekolah versi ganteng.

Tapi Vey yang dikenal anggun dan agak sombong itu tidak pernah tergoda. Justru sebaliknya, dia sangat menghindari Alvano. Tapi entah kenapa, mereka malah menikah.

Setelah lulus SMA, Vey sempat menghilang. Baru bertemu lagi setelah dia kembali ke kota ini.

Saat itu dia cerita kalau keluarganya bangkrut. Setelah lulus kuliah dan iseng melamar kerja, dia diterima di sebuah perusahaan yang cukup terkenal. Dua tahun kemudian, dia baru tahu kalau perusahaan itu milik keluarga Alvano.

Dan seperti takdir dalam drama, mereka terjebak cinta lokasi. Pacaran. Lalu menikah. Plot twist-nya, ayah Vey ternyata cuma pura-pura bangkrut biar anaknya belajar hidup mandiri. Hasilnya berhasil banget. Vey sekarang bukan Vey yang dulu. Masih anggun, tapi jauh lebih rendah hati dan sederhana.

Padahal suaminya kaya. Tapi Vey tetap hidup biasa. Jarang terlihat mengenakan barang mewah. Bahkan terkesan hemat. Pernikahan mereka pun tampak tenang dan harmonis. Sekarang mereka punya seorang putra. Usianya baru lewat setahun. Namanya Alvaren.

Aku menatap bayi itu yang sedang tertawa senang melihat aksi konyol Revan dan Zira di depan stroller. Rasanya hangat. Manis. Dan sedikit menyedihkan.

Lucu ya, dulu kami sama-sama ribut soal album K-pop.

Sekarang mereka sudah ada yang mau menikah bahkan memiliki anak. Sementara aku masih mikir, sebenarnya ada yang mau gak sih sama aku?

Zira dan Revan kalau punya anak, pasti seramai ini. Tapi aku? Bahkan pasangan pun gak punya, apalagi rencana reproduksi.

Mungkin wajahku kelihatan terlalu melas sampai Alvano yang berdiri di sebelah stroller akhirnya menyapaku.

"Hai, Ca," katanya ramah.

"Hai," jawabku singkat. Singkat saja. Daripada dosa pikiran makin menjalar.

Jujur saja, dari semua pasangan sahabatku, Alvano yang paling bisa bikin iman goyah. Ganteng, kaya, kalem. Dulu centil, sekarang auranya CEO drama Korea. Tinggi, atletis, aroma visualnya kayak iklan parfum mewah.

Tapi dia suami orang. Suami sahabatku. Cayra, sadar. Jangan booking tiket ke neraka hanya karena satu punggung tegap dan aroma parfum mahal.

"Lo sendirian?" tanya Alvano lagi.

Aku mengangguk. "Iya. Emangnya sama siapa lagi?"

"Kata Vey, lo udah tunangan ya? Kenapa gak diajak ke sini?"

Aku terdiam. Kalau bisa balik ke masa lalu, aku bakal menampar diri sendiri karena dulu terlalu pamer soal tunangan.

"Nah, betul tuh. Tunangan lo kan abdi negara. Gak diajak?" timpal Revan yang kini sudah berdiri setelah tadi jongkok di depan stroller.

"Iya, Ca. Gue baru ingat. Kenapa gak sekalian diajak?" sambung Zira yang kini menggendong Alvaren.

Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam seperti anak panah. Aku belum siap jujur kalau pertunanganku gagal karena diselingkuhi. Gengsiku belum siap diinjak sedalam itu.

"Dia lagi cuti. Pulang kampung," jawabku sambil memaksakan senyum.

Ketiganya mengangguk. Aku menarik napas dalam-dalam, menahan luka agar tetap terlihat kuat. Semoga percakapan ini tidak menggali lubang yang belum tertutup.

Tak lama kemudian, Vey datang menghampiri. Baru sekarang dia sadar anaknya sudah berada dalam gendongan Zira.

"Hai, sayangnya Bunda. Sudah bangun ya?" sapa Vey sambil menepuk pipi Alvaren yang langsung tersenyum.

Alvaren mengangkat tangannya, minta digendong. Tapi Vey menggeleng pelan.

"Nanti ya, sayang. Bunda masih sibuk. Sama Ayah dulu ya."

Dia melirik Alvano dan memberi kode supaya menggantikan.

"Lo gak usah ikut bagi dulu, Vey. Kasihan Alvaren minta digendong," ucap Zira.

"Gak papa. Alvaren ngerti. Sekarang sama Ayah dulu ya, sayang," jawab Vey lembut. Ia mencium pipi anaknya lalu kembali ke meja.

Alvaren digendong oleh ayahnya. Tapi dia anteng. Gak nangis. Gak drama. Anak itu seolah paham bahwa ibunya sedang menjalankan misi penting. Parenting level Vey memang beda.

"Yuk, bantu yang lain," ajak Zira padaku dan Revan.

Aku mengangguk. Kami ikut membagikan paket semangat ke pengunjung taman.

Aku pikir pagi ini cuma tentang komunitas, sahabat, dan udara segar. Tapi ternyata, semesta punya rencana lain.

Sebuah suara terdengar dari belakang. Suara yang seharusnya asing, tapi justru membuat jantungku kehilangan irama.

Aku menoleh.

Dan di sanalah dia. Saka. Dengan postur tenang dan senyum samar yang terlalu familiar untuk dilupakan.

Dunia seperti berhenti sejenak. Suara orang-orang memudar, tapi detak jantungku justru terdengar paling keras.

Dia sedang mengobrol santai dengan Alvano yang masih menggendong Alvaren. Mereka terlihat akrab, seolah hari ini bukan kejutan besar untukku.

Gak aneh sih. Mereka memang teman SMA. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang...

Kenapa Saka bisa ada di sini? Apa dia ngikutin aku? Atau ada sesuatu yang tidak aku ketahui?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!