Raka seorang guru di salah satu SMA Swasta di ibukota, sekaligus pemegang saham terbesar di sekolah tersebut. tidak ada yang tahu jika keberadaan Raka sebagai guru baru adalah awal dari petaka bagi Raya. Raka sudah lama obsesi pada Raya, hingga Raya harus berusaha melarikan diri ke ibukota. kini karna pertemuan tak disangka, Raka berhasil menemukan Raya, dan ingin memiliki Raya.
Raya, siswi peraih beasiswa di SMA swasta yang terpaksa harus menjadi tawanan seorang guru yang posesif Raka, harus tetap bertahan demi pendidikan nya kesenjang yg lebih tinggi..
dimana Raya berada, Raka pasti mengawasi nya.. seperti seekor pemangsa yg mengintai mangsanya..
"jangan berharap kau bisa lepas dariku Raya, karna itu adalah hal yang mustahil. kau milikku, dan akan tetap menjadi milikku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Predator
Ruang aula yang begitu besar menjadi penuh sesak oleh manusia. Mereka berkumpul bersama menikmati beberapa hidangan pembuka yang tersaji dalam stand-stand kecil aneka kudapan. Pakaian yang berkilau tampak melekat membalut tubuh mereka.
Acara penutupan akan segera dimulai, Raka berdiri disudut ruang berbaur dengan guru-guru lain. Tuxedo hitam yang ia kenakan membuatnya semakin memukau, membuat mata para siswi berdecak kagum ingin berada dekat dengannya.
Anastasia salah satunya, ia terbius oleh ketampanan Raka. Sorot matanya melembut hanya dengan melihat Raka dari kejauhan. Tak puas dengan jarak yang terlampau jauh, ia berjalan menghampiri Raka. Sedangkan Raka, ia sibuk mencari gadisnya.
" Halo pak Raka" sapa Anastasia tersenyum menggoda.
Raka hanya membalas tersenyum sambil lalu, ia enggan meladeni Anastasia. Matanya masih sibuk mencari gadisnya yang tak kunjung terlihat.
" Nanti setelah acara lelang, akan ada pesta dansa. Apa boleh aku berdansa dengan bapak?" Anastasia berusaha mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Raka.
Raka melihat Anastasia dari ujung kepala hingga ujung kaki, dia menyipitkan matanya sebelum kemudian berucap kasar.
" Aku tidak mau" jawabnya lugas.
Mata Anastasi terbelalak, dia gelagapan mendapat penolakan yang gamblang dari seorang lelaki. Terlebih itu adalah Raka. Guru paling diminati saat ini di sekolah.
" Apa.. Apa bapak sudah memiliki pasangan untuk berdansa? " tanya Ana, masih berusaha untuk dekat dengan Raka, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya akan jawaban Raka yang dingin.
" Bukan urusanmu. " jawabnya tegas. Anastasia semakin terpukul mundur mendengar jawaban Raka. Dia bukan orang bodoh yang tak tahu bahwa sikap Raka adalah pertanda Raka tak ingin didekati olehnya.
Wajahnya pucat mendapatkan perlakuan yang dingin dari orang yang diam-diam dia sukai.
Sementara itu Raka tersenyum senang melihat Raya telah tiba memasuki aula bergandengan dengan Berlian. Raka tak bisa melepaskan tatapan nya pada Raya, dia terpesona oleh penampilan Raya saat ini.
Gaun yang ia berikan tampak cantik melekat ditubuh Raya, dengan detail bunga krisan kecil memenuhi bagian pundak hingga pinggang, memberikan kesan manis namun tetap elegan. Ditambah warna pastel long dress terlihat begitu serasi dengan kulit Raya yang putih bersih.
Riasan wajahnya yang flawless dengan tatanan rambut dibuat tergerai, bagian sisi rambut dibuat bergaya side braid dengan hairpiece bunga-bunga kecil yang manis. Penampilan Raya layaknya peri hutan di tengah ladang bunga.
Raka tak berhenti memandang Raya dari kejauhan. Rahangnya mengeras, geram melihat beberapa pasang mata lelaki mulai memandang buas ke arah Raya. Mereka seolah ingin melahap penampilan cantik Raya dengan matanya. Karena memang tak bisa di pungkiri, kecantikan Raya mampu membuat para lelaki berdecak kagum dan ingin terus memandangnya.
Anastasia yang masih berada di dekat Raka menyaksikan hal itu. Dia menahan kesal melihat sinar mata Raka yang berbinar memandang Raya. Jelas bahwa Raka menyukai gadis miskin itu.
Ana terbakar cemburu melihat Raka terpaku pada Raya, dia juga melihat Raya yang berjalan menuju sudut ruangan dengan Berlian, sambil sesekali tersenyum dan tertawa bersama. Ana muak melihatnya, tatapannya berubah seketika menjadi sinis. Dia mulai menjauh perlahan dari Raka. Tak ingin merasakan sakit yang lebih parah bila berdekatan dengan Raka disaat lelaki itu terpaku pada gadis lain.
***
" Raka!" panggilan seseorang menghentikan Raka dari memandangi Raya.
" Kau datang, Kevin?" tanya Raka sambil menengok pada Kevin yang berjalan menghampirinya.
" Seperti yang kau lihat"
" Bagaimana acara lelangnya, apa sudah mulai?"
Tadi sore memang Raka dan Kevin saling bertukar pesan. Kevin menanyakan kebenaran acara amal si sekolah Raka, dan mengatakan ingin berpartisipasi juga. Sebenarnya tujuan utama Kevin bukanlah acara amal namun ia ingin bertemu Raya. Setelah mendengar informasi tentang Raya dan Raka dari Dokter Gunawan, Kevin semakin penasaran pada Raya. Bagaimana bisa seorang Raka yang introvert, mampu berubah drastis dengan menyamar menjadi guru hanya demi seorang gadis.
" Belum mulai, mungkin sebentar lagi." Raka kembali memandang Raya.
" Kau dengan siapa kemari? " tanya Raka tanpa melepaskan pandangannya pada Raya.
" Seorang diri." Kevin mulai mengikuti kemana arah pandang Raka.
Matanya terpaku pada sosok Raya yang berada jauh disebrang ruangan, betapa cantiknya dia. Wajah cerahnya, senyum manisnya berpadu dengan keindahan gaun yang ia kenakan. Raya, berhasil tampil memukau malam ini.
Ketika bertemu di rumah sakit, Kevin memang mengakui kecantikkan Raya yang berpenampilan polos khas anak sekolah. Namun ketika melihat saat ini, dengan penampilan Raya yang berbeda, kecantikannya semakin terpancar keluar. Membuat desiran hangat muncul dalam hatinya, ia ingin memiliki gadis itu.
Dalam buaian rasa takjub nya pada Raya, mata Kevin sesekali menoleh pada Raka. Dia melihat Raka dan Raya bergantian. Raka jelas memiliki perasaan yang sama dengannya pada Raya. Berteman dengan Raka membuat ia tahu sedikit karakter diri Raka. Raka bukan orang yang senang menebar pesona, sejak dulu Raka selalu dingin pada setiap wanita yang mencoba mendekatinya. Namun ketika Raka sudah tertarik pada seseorang, dia akan berusaha mengejarnya sampai manapun dan kapanpun hingga orang itu menjadi miliknya.
Kevin jadi berasumsi sendiri, Raka mungkin sudah memiliki hubungan spesial dengan Raya. Karna tidak mungkin apabila Raka tidak memiliki hubungan dengan Raya, dia mau mengurusi pengobatan ibunya.
Raka adalah orang yang selalu membatasi hubungannya dengan orang lain, dia tidak akan membiarkan orang lain masuk dalam hidupnya jika tidak ia sendirilah yang menginginkannya.
" Belum ada kata terlambat, Kevin." gumamnya dalam hati, dia berusaha menguatkan dirinya, saat kembali melihat tatapan Raka pada Raya.
Tak terasa waktu pelelangan akan segera dimulai. Semua siswa dan guru yang ingin melelang barangnya mulai berdatangan menuju meja panitia. Berlian berjalan menuju meja itu, dia ingin menyerahkan sepatu basketnya untuk di lelang. Dia berjalan meninggalkan Raya sendiri disana.
" Raya.." suara seorang lelaki menghampirinya.
" Hey Raihan." Raya tersenyum manis menjawab sapaan temannya.
" Kau cantik sekali malam ini."
" Ah, terima kasih." Raya tersipu malu mendengar pujian itu.
" Kau juga tampan dengan pakaian itu." sambungnya, memuji penampilan lelaki yang ada dihadapannya ini.
Raihan, teman sekelas Raya saat di kelas satu. Namun karna jurusan yang dipilih berbeda, di kelas dua dan tiga ia tidak sekelas lagi dengan Raya. Raihan sendiri adalah anak dari salah satu pengusaha tambang di Indonesia, dia lelaki yang baik dan sopan. Bahkan dulu ketika awal masuk sekolah, Raya mendapatkan perlakukan yang diskriminatif dari teman yang lain, Raihan lah yang membela Raya, selain Berlian.
Raihan menyukai Raya, dia kagum akan tekad Raya yang begitu besar untuk tetap bersekolah di sini. Melawan semua ejekan dan hinaan dengan prestasi yang gemilang. Tidak gentar meski banyak teman-teman yang menjahilinya.
" Kau akan melelang juga? " tanya Raya memecahkan keheningan mereka.
" Ya, begitulah.. Aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk beramal Raya." Raihan tersenyum bangga menatap Raya yang mengangguk mengerti.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan tampak dua predator lapar menatap mereka dengan tatapan yang sulit ditebak.
" Astaga, siapa lagi itu? Sepertinya aku harus bekerja keras mendapatkanmu, Raya" Kevin bergumam dalam hati.
Hal yang sama terjadi pada Raka, dengan tatapan tajam dia terus menatap Raya dan lelaki yang tidak dia ketahui itu.
" Sialan! berani sekali dia mendekati Gadisku" umpatnya dalam hati.