NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Kamar

Kiran masih selalu berada di kamar. Sebelum ada instruksi dari Mama Ariana maka ia belum berani menampakkan diri. Ia juga dilarang Ari untuk datang ke kantor. Atas pesan Mama Ariana, Kiran mesti dipingit dan tidak boleh kemana-mana.

Terdengar suara ketukan di pintu. Kiran mempersilakan masuk. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar.

"Nona diminta untuk menemui Nyonya di taman belakang." ucap pelayan itu sambil menundukkan sedikit kepalanya di depan Kiran.

Kiran tak menjawab hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Pelayan itu mempersilakannya untuk mengikuti. Kiran ikut melangkah mengikuti hingga akhirnya ia tiba di taman belakang.

"Duduk di sini, Kiran." ajak Mama Ariana menunjuk tempat di hadapannya di atas gazebo.

"Kamu suka tempat ini, Kiran?" tanya Mama Ariana setelah Kiran duduk di depannya. Kiran tak menjawab, hanya memperhatikan sekeliling. Tempat itu terlihat asri. Nuansa hijau yang mendominasi memanjakan mata yang melihatnya. Ia hanya mengangguk tanda menyetujui ucapan Mama Ariana.

Pelayan yang datang bersama Kiran tadi datang kembali membawa minuman dan beberapa camilan di atas nampan. Meletakkannya di hadapan Kiran dan Mama Ariana.

"Kiran, pertemuan kita sebelumnya mungkin kurang menyenangkan karena keegoisanku. Aku harap kita bisa mengulangnya kembali dari awal. Maafkan juga kemarin aku tidak bisa menjengukmu sama sekali ke kamar, karena aku harus menyambut suamiku yang baru pulang dari luar kota. Semoga kamu tidak merasa diabaikan karena hal itu."

Mama Ariana mengucapkan dengan kesungguhan hatinya. Ia memang sedikit merasa keterlaluan karena tidak menyapa gadis itu.

"Tante tidak perlu minta maaf. Seharusnya saya yang berterima kasih karena sudah dijamu dengan baik di rumah ini. Selain itu, saya jadi merepotkan semua yang ada di sini." ucap Kiran basa-basi. Sejujurnya ia malah senang di hari pertama ia datang, tidak ada yang mengajaknya mengobrol. Ia ingin sendiri.

"Syukurlah jika kamu berpikir seperti itu." jawab Mama Ariana memperhatikan gadis di hadapannya dengan cermat.

"Berapa usiamu, Kiran?" tanyanya lagi.

"Dua puluh tujuh, Tante."

"Berarti seumuran dengan Ari." ucap Mama Ariana menilik raut wajah Kiran mencermati banyak kemiripan dengan wajah sahabat lamanya itu. Ariana ingat, anak Kamil dan Rina memiliki usia yang sama dengan Ari.

"Mungkin ini terdengar aneh. Tapi wajahmu mengingatkan aku pada dua teman lamaku." suara Mama Ariana terdengar tidak yakin.

Kiran mengangkat salah satu alisnya. "Siapa Tante?"

"Kamil dan Rina. Kami sangat akrab dulu." Mama Ariana mengalihkan pandangannya pada ikan hias yang berenang pada kolam kecil yang berada di dekat gazebo. Bayangan kebersamaan dengan dua sahabatnya terlintas dalam ingatannya.

Kiran sedikit terkejut namun ia coba menyembunyikannya. Mencoba menimbang sesuatu. Hening sesaat melanda di antara keduanya.

Setelah sadar dari pikiran masing-masing, Kiran dan Mama Ariana melanjutkan pembicaraan ke arah pernikahan.

"Meskipun kalian hanya melangsungkan akad nikah tapi Tante sudah menyiapkan beberapa hal yang harus kamu lalui besok. Ari juga Tante larang pergi ke kantor. Kalo kata orang tua zaman dulu, pamali mau nikah keluar rumah."

Tiba-tiba Mama Ariana tersenyum geli mengingat kelakuan Ari yang protes manja padanya ketika Ariana juga melarangnya untuk menemui Kiran. Anaknya itu seperti terkena candu. Kasmaran tingkat dewa.

Mama Ariana melirik Kiran yang masih mendengarnya dengan tatapan datar. "Kamu bahagia kan, Kiran, dengan pernikahan ini?"

"Insya Allah, Tante." ucap Kiran sembari menunjukkan senyum manis pada Ariana.

"Maafkan Tante jika semua tampak begitu terburu-buru ya, Kiran. Tapi percayalah, kamu akan bahagia menikah dengan anak Tante." ucap Mama Ariana menggenggam kedua tangan Kiran.

"Insya Allah, Tante...." Kiran mengamini dalam hati. Berharap hal itu yang akan terjadi nanti.

Adzan Ashar berkumandang. Kiran meminta izin pada Ariana untuk kembali ke kamar.

Kiran masuk ke dalam rumah. Ia mencoba mengingat jalan dari kamar menuju taman belakang tadi. Ia berharap tidak akan tersesat sebab rumah Ari memang sangatlah besar. Menyesal ia menolak tawaran Mama Ariana meminta salah seorang pelayan untuk menemaninya.

Kiran menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Ia menghembuskan nafas lega ketika sudah berada di depan kamar. Ia berhasil menemukannya.

Tangannya memegang handel pintu dan membukanya. Satu pandangan luar biasa mengejutkannya. Ia terpana. Masih belum memahami dengan benar kenyataan yang ada di hadapannya.

"Ngapain disitu?! Mau mengintipku?!" suara seseorang yang berada di dalam kamar menyadarkannya.

"Astaga!!" pekiknya, terlambat menyadari bahwa semua memang nyata.

Kiran menutup pintu dengan cepat lalu dengan berlari kecil melewati kamar yang tadi ia buka. Ia membuka pintu kamar yang berada di sebelahnya. Gadis itu memegang dadanya ketika pintu sudah tertutup. Matanya terpejam, jantungnya bertalu dengan luar biasa.

Kiran mengusap wajahnya dengan gemetar. Ia takut, malu dan kaget luar biasa. Bagaimana mungkin dia salah kamar?

Di kamar Radit....

Radit menggerutu kesal. Berani sekali wanita mata duitan itu mengintipnya, pikirnya. Pria itu menatap bayangan dirinya dalam cermin. Ia harus berhati-hati sekarang. Ia tak ingin diperkosa oleh wanita mata duitan itu yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kemauannya.

Aku bukan Ari yang mudah tertipu oleh wajah lugumu itu! Dasar wanita licik!

Ia menghujamkan tatapan benci pada lintasan bayangan wajah gadis itu yang berpura-pura lugu ketika melihat ia berada di dalam kamar tadi.

Ia baru saja pulang dari kantor dan ingin segera mandi. Baru saja ia membuka celananya ketika tiba-tiba Kiran membuka pintu dan melihatnya dalam keadaan tanpa busana, hanya mengenakan celana dalam saja. Demi apapun itu, sungguh Radit tidaklah rela.

❇❇❇❇

Kiran termangu di atas tempat tidur. Tangannya memegang satu buah lembar foto lama. Foto itu adalah foto dirinya bersama Mama dan Papa. Satu-satunya foto yang tersisa. Karena semua, entah kenapa dibakar oleh Papa seminggu sebelum ia meninggal. Seakan tak ingin meninggalkan kenangan pada gadis itu agar ia tak bersedih. Foto itu pun ia sembunyikan dari sang Papa. Jika ketahuan pasti akan dibakar juga.

Kiran memperhatikan wajah kedua orang tuanya di sana. Kiran belum berani berterus terang pada Tante Ariana. Kebenaran yang hampir saja ia beritahu lebih awal.

Tanpa ia sadari, sepasang mata sudah mengamatinya beberapa saat yang lalu lewat celah pintu. Sepasang mata itu merasa penasaran, foto siapa yang diamati oleh gadis pujaannya dengan begitu tekun. Tatapan kerinduan dan kesedihan menyatu dalam manik mata gadisnya ketika memandang foto itu. Dengan mengendap, ia memasuki kamar.

"Foto apa ini?" sebuah suara menyadarkan Kiran yang termangu, merebut foto itu dari tangannya.

Ari mengambil foto itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar Kiran tak bisa menjangkaunya.

"Baiklah kau menang! Aku kalah tinggi darimu!" kesal Kiran karena tak bisa merebut foto yang telah dirampas Ari. Gadis itu terduduk kembali setelah sebelumnya berusaha mengambil foto itu dari tangan Ari.

Ari menurunkan tangannya. Melihat foto itu dengan seksama. "Ini foto orang tuamu?" tanya Ari menatap gadis di hadapannya yang masih menatapnya kesal. Pria itu merasa lega, sebab ternyata foto itu bukan foto pria seperti yang diduga sebelumnya.

"Wah, ternyata wajahmu sangat mirip ibumu ya. Dan coba lihat ini, wajahmu tersenyum. Kau begitu ceria ternyata waktu kecil ya." Ari menyadari gambar seorang anak dalam foto itu yang tersenyum dengan senangnya adalah calon istrinya yang bahkan selama ia mengenalnya, tak pernah sekalipun tertawa. Kiran tak menanggapi.

Ari menatap wajah Kiran dengan iba. Sudah begitu banyak mungkin peristiwa yang dilalui oleh calon istrinya itu hingga ia bertransformasi menjadi wanita yang begitu dingin.

Ponsel Ari berdering. Nama sahabat karibnya muncul di layar. Ia mengangkatnya. "Baiklah, aku akan segera datang." katanya menjawab suara dari sebrang.

"Maafkan aku, ya cantik. Sebenarnya tadi aku kesini ingin izin padamu, malam ini mau keluar. Aku mau ngundang sahabat karibku agar datang waktu akad nikah kita nanti. aku pergi dulu ya."

Ari melangkah keluar dari kamarnya sebelum Kiran sempat mencegahnya. "Fotonya, Ri... " lirihnya tak didengar lelaki itu.

❤❤❤❤

Yeee, aku datang hari ini...

Ternyata ketika aku merasa gak diburu waktu, aku malah semangat mau nulis. heheehe..

Buat yang setia baca karyaku ini, terima kasih banyak...😍😍😍

Buat mbak Tutik Januarsih, nama mbak terpahat benar dalam memoriku... Yang komen like pertama kali, plus begitu bermurah hati memberikan vote untukku.. Aku padamu mbak..😘😘

Untuk Mba Nur Hasanah juga yang selalu setia komen dalam chapter yg aku up..

love u..😘

Plus mbak2 dan mas2 yang ngasi like n komen, I love u full...😘😘😘

So, aku tetap doain semua yang baca karyaku ini, agar selalu diberikan kesehatan dan kemudahan oleh Allah.. Aamiin.

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!