Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Keesokan harinya aku bangun, aku masih mengunci rapat kamarku. Entah dimana Alghi tidur tadi malam, aku begitu kesal sampai melupakan anakku Alghi.
Aku bangun dari tempat tidur, lalu mandi dan memakai baju. Setelah selesai, aku duduk dimeja rias. Aku menata rambutku dan merias wajahku. Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah panggilan video dari sekertaris Bara. Mau apa dia?
Aku mengangkat panggilan video itu, aku menatap wajah wanita itu. Tubuhnya ditutupi selimut, tawa terpancar dari wajahnya.
"Chika, selamat pagi!" tawa wanita itu.
"Mau apa?" ucapku tanpa basa-basi.
"Aku semalam tidur bersama suamimu! Bukankah aku hebat? Aku sudah bilang padamu, Bara akan menjadi milikku!" ucapnya sambil memeluk tubuh Bara yang tertidur disampingnya.
"Apa kau gila?"
"Aku masih waras Chika! Hanya saja, aku sangat terobsesi untuk bisa menikahi suamimu."
Air mataku jatuh, rasanya hatiku sakit menatap wanita itu menciumi pipi Bara yang masih terlelap. Apa mereka benar-benar tidur bersama tadi malam? Atau ini hanya rencana gila Raina untuk memisahkan aku dengan Bara?
"Bangunkan suamiku, aku ingin bicara dengannya. Aku tidak percaya dengan ucapan mu!" teriakku dengan uraian air mata.
"Aku tidak akan membangunkan Bara, dia baru saja melakukan pertarungan sengit bersamaku. Sudahlah, jangan menangis! Bersiaplah menerima kehadiranku di rumah itu sebagai istri kedua Bara," tawa Raina.
Raina memutus sambungan telepon itu, lalu mengirimkan beberapa foto saat dia mencium Bara. Aku benar-benar jijik dengan wanita itu. Andai saja aku ikut bersama Bara, mungkin semua itu tidak akan terjadi.
Aku keluar dari kamar, aku langsung memeluk tubuh Ibu Bara. Air mataku pecah, mengingat foto-foto yang baru saja aku terima. Ibu mengusap lembut wajahku, terlihat cemas dengan keadaanku.
"Ada apa, Nak? Coba, katakan pada Ibu?" tanya Ibu.
Aku tak bicara, aku langsung memberikan foto-foto yang dikirimkan Raina ke ponselku. Ibu melotot, menatap geram pada foto-foto yang aku perlihatkan padanya.
"Ibu akan telepon Bara! Apa yang mereka lakukan disana? Ibu tidak bisa terima ini, Bara tidak pantas mempermainkan wanita sebaik kau, Chika!" ucap Ibu dengan air mata haru diwajahnya.
"Tapi Bara dijebak oleh sekertaris nya itu!" ucapku.
"Raina? Jadi wanita itu menjebak Bara?" Ibu terlihat shock, mengusap dadanya berkali-kali.
"Tenanglah Ibu."
"Bagaimana bisa Ibu tenang? Apa kau juga bisa tenang, melihat foto-foto ini?" ucap Ibu.
"Tapi bagaimana? Aku harus apa?" tanyaku bingung.
"Susul mereka keluar kota, biar Ardi yang mengantarkan kau ke sana!" ucap Ibu.
"Tapi, kenapa harus bersama Ardi?" ucapku agak keberatan.
"Karena Ardi tahu, Hotel tempat mereka menginap!"
"Lalu, bagaimana dengan Alghi?"
"Biar Ibu yang urus selama kau pergi!"
Aku mengambil tas di kamarku, mengusap air mata di pipiku. Aku berjalan menuju ruang tamu, menatap Ibu dan Ardi sudah menunggu.
"Hati-hati kalian berdua, " ucap Ibu.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju mobil Ardi. Ardi mulai menjalankan mobil itu pelan, sambil menatap kearah ku.
"Apa yang terjadi? Tadi Ibu memintaku mengantarmu ketempat Kak Bara menginap. Sebenarnya ada apa? Kak Bara diluar kota untuk bekerja, kenapa harus sampai disusul begini?" tanya Ardi yang membuat aku bingung menjawabnya.
Aku memilih diam, air mataku tak henti mengalir membasahi pipiku. Masih ku ingat jelas, panggilan video Raina. Aku melihat Bara dan Raina tidur bersama. Bagaimana bisa aku tenang, jika melihat suamiku bersama wanita lain diluar kota.
"Baiklah. Kalau kau tidak ingin cerita, tidak apa-apa. Kau bisa tidur, perjalanan kita cukup jauh." Ucap Ardi.
Aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku, setiap aku menutup mataku bayangan Bara bersama wanita itu terus menghantuiku. Kenapa denganku? Kenapa hatiku sakit sekali!
Perjalanan cukup panjang, hampir tiga jam. Mobil Ardi berhenti disebuah Hotel mewah. Ardi mengajakku masuk, lalu menghampiri resepsionis untuk mengetahui nomor kamar Bara. Setelah tahu, dia mengajakku naik lift untuk ke kamar Bara.
Ardi juga meminta kunci cadangan, dia bilang pada resepsionis kalau pemilik kamar pingsan didalam kamar. Dengan mudah, Ardi mendapatkan kunci cadangan itu.
Sampai didepan kamar itu, Ardi membuka pintu kamar dengan kunci cadangan yang dia miliki.
Ceklek..
Pintu itu berhasil dibuka, Ardi dan aku menatap wanita itu sedang memeluk tubuh Bara. Dengan raut wajah kesal, Ardi menarik tangan wanita itu.
"Plak.." suara tamparan keras diberikan Ardi pada Raina.
"Apa yang kau lakukan pada Kakakku?" tanya Ardi dengan geram.
"Ardi? Kau disini? Chika, kau..." wanita itu menatap kesal padaku.
"Apa seperti ini, caramu merebut suamiku? Kau itu wanita, tapi sikapmu begitu menjijikkan!" ucapku kesal.
"Menjijikkan? Aku? Kau tidak menyadari, kalau kau lebih menjijikkan dariku. Jangan kau pikir aku tidak tahu, kau menikah dengan Bara karena menginginkan harta warisan dari Kakeknya Bara kan?" teriak Raina.
"Harta? Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Jangan pura-pura lugu. Kakek Bara orang kaya raya, dan hanya memiliki satu cucu yaitu Bara. Semua harta yang dimiliki Kakek akan jatuh ke tangan Bara nantinya. Kau, ingin mendapatkan keuntungan dari pernikahanmu bersama Bara kan? Dasar wanita licik!" ucapnya.
"Keluar sana! Kau pikir Chika wanita sepertimu, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan." Teriak Ardi.
"Kau pikir dia benar-benar lugu?" tawa Raina.
"Chika wanita baik, dia bahkan tidak tahu mengenai harta warisan yang kau maksud. Sudahlah, cepat pergi! Kau mau aku menampar pipimu lagi?" ucap Ardi yang membuat wanita itu seketika menghilang.
Ardi membangunkan Bara yang tidak sadarkan diri, Ardi juga menelepon Dokter untuk memeriksa keadaan Bara.
Dokter bernama Yudi itu tersenyum, sambil memeriksa keadaan Bara yang belum sadarkan diri.
"Sepertinya Pak Bara meminum obat tidur dengan dosis tinggi. Itu yang membuat Pak Bara belum sadar sampai saat ini." ucap Dokter.
Ardi terlihat geram, "Jadi Raina memberi obat tidur pada Kak Bara?"
Aku ikut terkejut mendengar penjelasan dari Dokter itu. Raina benar-benar melakukan cara licik untuk mendapatkan Bara. Dokter itu pun berpamitan, dia bilang dalam satu atau dua jam, Bara akan bangun.
Ardi mulai tidak sabar menunggu, sudah hampir satu jam tapi Bara belum sadar juga. Akhirnya Ardi mengambil air di gelas, lalu menumpahkannya kewajah Bara. Aku melihat Bara mulai sadar, dia mengusap wajahnya yang basah dengan tangannya. Bara bangun dan duduk ditepi tempat tidur, sebelah tangannya memegangi kepalanya.
"Kenapa kepalaku sakit sekali?" ucap Bara pelan.
Aku segera mendekat kearah Bara, lalu memijat kepala Bara yang sakit. Bara menarik lembut tanganku, menatap kearah ku sambil mengucak-ngucak matanya.
"Chika? Kau disini sayang?" ucap Bara sambil mengusap wajahku tak percaya.
"Apa yang semalam kau lakukan dengan Raina?" teriak Ardi kesal.
"Aku? Raina? Memangnya kami melakukan apa? Aku tadi malam hanya meeting dengan klien bersama Raina. Aku minum oranye jus, lalu pergi ke kamar. Aku tidur di kamar ini, memang apalagi?" ucap Bara.
"Ini Mas," ucapku sambil memperlihatkan foto-foto yang dikirim Raina ke ponselku.
Bara terkejut menatap foto-foto yang aku berikan, begitupun Ardi terlihat geram menatap Kakaknya.
"Kak, aku sudah berbaik hati merelakan Chika untukmu. Apa ini caramu memperlakukan Chika? Kalau aku tidak ingat kau Kakakku, sudah ku pukul kau!" teriak Ardi kesal.
"Tapi aku tidak ingat apa-apa! Aku berani sumpah. Aku tidur dikamar ini sendiri, mana mungkin bisa bersama Raina?" teriak Bara.
"Tapi, kami melihat wanita itu ada dikamar ini bersamamu tadi!" ucap Ardi.
"Apa?" Bara terlihat terkejut.
Aku mundur beberapa langkah dari tempat Bara. Air mataku kembali mengalir deras. Bagaimana ini? Bahkan Bara tidak mengingat hal yang semalam dia lakukan dengan Raina. Rasanya hatiku sakit sekali!
Bara berdiri dan mendekat kearah ku, dia memeluk tubuh lembut. Entah kenapa, aku mendorong tubuh Bara. Aku tidak bisa semudah itu menerima semua kejadian ini.
"Maafkan aku Chika, maaf... Aku tidak ingat apa-apa! Aku benar-benar tidak tahu yang ku lakukan semalam," bisik Bara.
"Bagaimana bisa aku memaafkan kesalahanmu Mas? Rasanya hatiku sakit sekali!" ucapku diiringi tangis.
"Chika, aku benar-benar tidak melakukan apa-apa pada Raina. Aku tidak mungkin mau disentuh wanita lain selain istriku." Ucap Bara.
Aku diam, aku kembali mengingat hal buruk yang pernah Ardi lakukan padaku. Bara bisa memaafkan kesalahanku dengan mudah, mana mungkin aku tidak memaafkan kesalahan yang dilakukan Bara padaku. Mungkin seperti ini rasa sakit Bara saat itu! Tapi kenapa dia bisa memaafkan aku dengan mudah? Sementara aku, aku bahkan tidak bisa melupakan foto-foto yang diberikan Raina padaku. Bukankah aku jahat?
"Apa kau membenciku? Apa kau tidak bisa memaafkan ku? Bukankah janji suci pernikahan itu, harus bisa saling percaya pada pasangannya? Apa kau tidak percaya padaku?" ucap Bara sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar kata-kata Bara membuat hatiku iba, bagaimana bisa aku membenci laki-laki sebaik Bara. Ini semua murni kesalahan Raina, Bara tidak tahu kalau tadi malam dia diberi obat tidur. Iya kan?
Aku memeluk tubuh Bara, air mataku masih mengalir membasahi pipiku. Rasanya aku membenci diriku sendiri, andai saja dari awal aku ikut menemani Bara kemari, mungkin semua tidak akan seperti ini.
"Maafkan aku sayang, " ucap Bara.
Aku hanya mengangguk dalam pelukan Bara. Biar bagaimanapun, Bara adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Mana bisa, aku membencinya
Beri dukungan untuk Author ya, dengan cara beri Like atau Jempol, juga Votenya.
Terimakasih, salam santun Author. ❤️❤️
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂