Hani tidak menyangka dia akan menikah di saat karirnya sedang bagus-bagusnya dengan Alex — seorang CEO yang tanpa sengaja dia temui di Paris.
Pertemuan mereka awalnya tidak bermakna, tetapi anehnya Alex melamarnya begitu sampai di Indonesia.
Awalnya Hani menolak tetapi karena umurnya sudah menginjak 27 tahun, kedua orangtuanya menyetujui lamaran Alex Dan dimulailah kehidupan pernikahan yang penuh keanehan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissTheolland_Reihan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH | 23
Hani berjalan santai di lorong rumah sakit tempatnya bekerja. Sesekali dia tersenyum kecil sembari menyapa ramah para pasien yang berada di sepanjang lorong tersebut. Dia baru saja memeriksa pemuda yang mengalami patah tulang karena kecelakaan di bangsal dan sebentar lagi adalah jam makan siang, karena itu dia memilih pergi ke kantin rumah sakit.
Tak lama Hani melihat Aldo berbicara dengan perawat. Ia mendekati pria itu lalu menepuk punggung Aldo hingga Aldo menoleh kaget.
"Kau sudah makan siang?" tanya Hani dengan cengiran khasnya.
Aldo yang masih terlihat kaget hanya menggeleng kecil. Dia mengembalikan laporan perawat itu lalu perawat itu berpamitan pergi.
"Ayo makan, aku sudah lapar. Hari ini aku menangani banyak pasien," ucap Hani spontan, tidak peduli Aldo mendengarnya atau tidak, "Bagaimana denganmu?" tanyanya kepada Aldo.
Aldo memasukkan kedua tangannya di kantong jas dokternya lalu menaikkan bahunya sedikit, "Lumayan. Hanya saja aku berurusan dengan seorang Ibu aneh yang membawa suaminya ke rumah sakit lalu bertengkar tentang perceraian," jawabnya sembari menghela napas.
Merasa terhibur, Hani tertawa kecil lalu memukul punggung Aldo cukup kuat, "Semangat dong, hari ini aku yang traktir deh."
Aldo menatap Hani datar, lalu mencubit pipi perempuan itu sekilas, "Aku maunya makan pipi tembem ini, gimana dong?" ucapnya gemas. Dengan cepat Hami menghempaskan tangan Aldo dari pipinya.
"Ah, sakit. Aku nggak jadi traktir. Kau harus mentraktirku karena sudah mencubit pipiku," tukas Hani dengan pipi mengembung.
"Cielah, ngambek," goda Aldo.
Hani mendecak kesal, "Dasar jomblo!" ejeknya.
Aldo tertawa lantang, "Bukan aku doang, kau juga jomblo, Han. Sadar!"
"Eh, aku akan menikah, Al," ucap Hani spontan membuat dia menutup mulutnya sepersekian detik kemudian, "eh, bercanda kok," kekehnya kikuk.
Aldo menyipitkan matanya, menatap Hani penuh selidik, "Aku mencium bau-bau kebohongan di sini," gumamnya seraya meneliti wajah Hani yang terlihat gugup.
Tak lama pria jangkung itu tertawa lantang, "Kau tidak akan pernah bisa membohongiku, Han. Kau harus banyak belajar agar bisa membohongiku," ejek Aldo kemudian merangkul Hani.
Hani menghela napas lega. Setidaknya Aldo tidak curiga karena dia belum mengatakan kepada siapa pun perihal rencana pernikahannya. Meski pun Aldo menuduhnya berbohong, itu lebih baik dibandingkan harus menjelaskan tentang pernikahannya yang pasti membuat banyak orang kaget karena mendadak. Semua orang di rumah sakit tahu jika Hani tidak pernah terlihat memiliki hubungan spesial dengan pria. Itu lah alasan mengapa banyak orang berasumsi jika dia akan menjadi perawan tua. Tapi, nyatanya dia akan menikah dengan pria yang datang tanpa tanda itu, dia, Alex.
Hani menatap tasnya lalu mendesah kesal. Dia meninggalkan lipstiknya di dalam mobil dan dia sekarang membutuhkan benda itu. Bibirnya terlihat sangat pucat sehingga dia harus memakai lipstik setiap saat, jika tidak, orang akan beranggapan dia sedang sakit. Memang bibirnya terlihat sangat pucat tanpa pewarna di bibirnya.
Karena itu, Hani bergegas pergi ke parkiran untuk mengambil lipstiknya. Begitu berhasil menemukan lipstiknya, Hani segera memolesnya dia bibirnya kemudian kembali bekerja. Sore ini keadaan rumah sakit cukup stabil. Tidak banyak pasien yang berdatangan sehingga Hani memiliki banyak waktu luang.
"Sayang."
Mendengar suara berat membuat Hani spontan menoleh. Matanya membulat saat melihat Alex berdiri cukup jauh darinya. Hani mendekat pada pria itu lalu tersenyum lebar.
"Apa yang kau lakukan di sini, Alex? Bagaimana bisa kau tahu tempatku bekerja?"
Alex mengacak rambut Hani lalu menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, "Aku merindukanmu, Sayang. Bagaimana bisa aku tidak tahu tempat istriku bekerja."
"Alex, lepaskan, nanti orang lihat," ujar Hani berusaha melepas pelukan Alex.
"Ini salahmu karena tidak menerima teleponku."
"Ah, benarkah?" Hani merogoh saku jas dokternya lalu melihat ponselnya yang mati, "sepertinya ponselku mati. Aku lupa mengisinya kemarin," kekehnya.
"Dasar," Alex menjitak kepala Hani pelan.
"Aku pergi bekerja dulu. Satu jam lagi aku akan selesai," ucap Hani seraya melirik jam tangannya.
"Aku akan menunggumu," balas Alex.
Hani tersenyum kecil, "Sampai nanti, Alex."
lanjut...
selamatkan alex... jangan biarkan bersama ulat bulu... kasian hani