Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
"Bukan yang itu. Mana mungkin sepupu gue yang satu itu pulang ke sini, dia sibuk bantuin perusahaan bokap gue yang ada di sana," sahut Adit sambil membelokkan mobil virtualnya dengan tajam.
"Terus yang mana dong?" cecar Rahsya lagi.
Adit menghela napas panjang, akhirnya meletakkan controller-nya setelah memenangkan pertandingan dengan skor telak. "Sepupu gue yang tinggal di mansion Opa sama Oma gue. Nyokap gue yang nyuruh nengokin, katanya sepupu gue udah sembuh. Sebenarnya gue malas banget ketemu sama dia, yang kelakuannya dulu kayak setan. Hampir setahun gue nggak pernah ketemu dia secara langsung, sejak kejadian tragis yang menimpa dia dan keluarganya."
Reno yang sedari tadi asyik dengan ponselnya, kini mendongak dan menyeringai tipis penuh arti. "Oh, sepupu lo yang katanya berubah jadi buruk rupa itu? Bukannya lo sering ke rumah Oma lo itu, ya? Kalau nggak salah, kemarin lusa bukannya lo juga ke sana?"
Adit langsung menyambar bantal sofa dan melemparkannya ke arah Reno dengan wajah serius. "Sembarangan lo kalau ngomong! Kalau Opa gue sampai dengar lo ngatain dia begitu, lo bakal dicincang terus dilempar ke kandangnya Jennie!"
Jennie adalah singa betina Afrika peliharaan Opa Adit yang terkenal ganas dan hanya tunduk pada keluarga inti Abraham.
Reno terbahak-bahak sambil menangkap bantal itu dengan santai. "Lah, orang lo sendiri waktu itu yang ngomong gitu sama gue!"
"Gue waktu itu lagi khilaf karena kesal banget sama dia! Gimana gak kesel coba?" Adit bangkit berdiri, berjalan menuju jendela besar sambil merapikan kaos hitamnya. "Setahun yang lalu, waktu gue mau jengukin dia di rumah sakit setelah kecelakaan itu, dia malah ngusir gue mentah-mentah pake ngelempar vas bunga. Bukan cuma itu, setelah dia pulang dan tinggal di mansion Opa, dia maki-maki gue habis-habisan cuma gara-gara gue mau lihat keadaan wajahnya. Makanya gue nggak suka sama kelakuannya yang kayak setan itu. Udah buruk rupa, buruk pula akhlaknya. Mungkin itu semua karma buat dia," tutur Adit dengan nada bicara yang pahit.
Rahsya menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Adit dengan heran. "Terus yang lo maksud sampai nggak ketemu setahun itu gimana ceritanya? Kan lo sering datang ke rumah Opa lo, masa lo nggak pernah sekali pun ketemu dia gitu?"
"Ya gimana mau ketemu? Orang si buruk rupa itu ngurung diri terus di kamar, nggak pernah keluar sedikit pun dari kamarnya di lantai dua. Makan aja sampai diantarin pelayan ke kamarnya. Tapi kemarin nyokap gue bilang, dia mendadak keluar kamar demi nolongin nenek tua. Aneh, kan? Sebenarnya gue juga sedikit kasihan sih sama dia, tapi dianya kelewat nyebelin dan angkuh," Adit mengangkat bahu, menunjukkan rasa frustrasinya.
"Emang lo benar-benar sepupu luknut. Sepupu sendiri lo katain buruk rupa," Rahsya terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Ya terserah gue lah. Jadi, kalian mau ikut apa enggak?" tanya Adit sambil menyambar kunci mobil sport-nya di atas meja marmer.
"Oke, gue ikut. Pengen lihat gimana rupa dari sepupu buruk lupa lo itu," ucap Rahsya sambil berdiri dan meregangkan tubuhnya.
Adit beralih menatap Reno yang masih memegang ponsel. "Kalau lo Ren, mau ikut apa nggak?"
"Gue terserah kalian berdua aja. Ikut deh, daripada lumutan di apartemen," ujar Reno santai sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Oke, kalau gitu kita siap-siap sekarang. Jangan ada yang lama kayak cewek!" perintah Adit yang langsung dijawab dengan anggukan oleh kedua sahabatnya.
Mereka pun segera bersiap meninggalkan apartemen mewah itu, menuju lokasi mansion keluarga Abraham tanpa tahu kejutan apa yang menanti mereka di sana.
****
Di belahan kota yang lain, sebuah bus kota tua melaju membelah kemacetan Jakarta yang super gila pagi ini. Di dalamnya, Alin—yang sudah dalam versi glowing paripurna—duduk di kursi paling belakang, berusaha mengatur napasnya.
Suasana di dalam bus sangat sesak; aroma minyak angin, keringat penumpang, asap rokok dari luar, dan hawa mesin bus yang panas bercampur aduk menjadi satu khazanah penderitaan rakyat jelata. Penumpang berdiri berdesakan di sepanjang lorong, berpegangan pada handgrip yang bergoyang heboh setiap kali bus mengerem mendadak.
Saat bus melambat dan berhenti di sebuah halte yang ramai, pintu lipat bus terbuka dengan suara mendecit nyaring mirip suara nenek lampir. Dua sosok mencolok melangkah masuk dengan penuh percaya diri, seketika menyedot perhatian seluruh mata penumpang bak magnet.
Kedua orang itu mengenakan pakaian minim yang super ketat, berbahan spandeks mengkilap berwarna neon yang menonjolkan lekuk tubuh secara paksa. Bagian dada mereka tampak sangat berisi, namun bentuknya sedikit tidak alami, alias agak kotak karena ternyata hanya disumpal menggunakan balon mainan anak-anak.
Rambut mereka ditutupi oleh wig sintetis berwarna pirang jabrik dan merah menyala yang posisinya agak miring ke kanan. Mereka juga mengenakan sepatu hak tinggi dua belas senti yang membuat langkah mereka tampak goyah seperti anak ayam baru menetas di atas lantai bus yang tidak rata. Ternyata, mereka adalah dua orang waria legendaris jalanan yang sudah siap dengan peralatan tempur mereka.
Waria pertama, sebut saja Kety, menenteng sebuah tamborin plastik berwarna kuning. Sedangkan temannya, Lisa, memegang kaleng bekas biskuit Khong Guan yang berisi beberapa koin yang bergemerincing heboh.
Mereka berdiri di tengah-tengah lorong bus, menghadap ke arah barisan penumpang dengan senyum lebar yang dihiasi lipstik merah menyala setebal lima senti.
Mereka pun bersiap-siap untuk memulai konser dangdut dadakan tersebut.
"Mari kita tampiling sa—" ujar Kety, hendak membuka kalimat pembuka dengan suara yang sengaja dibuat kemayu.
Plakk!
Belum sempat Kety menyelesaikan bicaranya, Lisa langsung saja menggampar mulut temannya itu dengan telapak tangannya yang sekasar parutan kelapa. Suara tamparannya begitu nyaring bergema di seantero bus, mengalahkan suara deru mesin.
"Awss sshh, sakit bego!! Kenapa mulut gue main lo tabok aja sih?!" rintih Kety spontan dengan suara bass aslinya yang keluar karena terlalu kesal. Ia memegangi bibirnya yang berdenyut panas akibat serangan mendadak dari Lisa.
Matanya melotot tajam, hampir membuat bulu mata palsunya yang sepanjang lima senti itu copot.
"Lah... bukannya lo sendiri tadi yang minta digampar?! Lo bilang tadi 'tampiling' katanya! Ya gue tampol lah!" bela Lisa dengan wajah tanpa dosa, sambil tetap menggoyangkan kaleng biskuitnya dengan ritme kecrek-kecrek.
"Gue mau ngomong 'tampilkan saja', anjrr!! Lidah gue keserimpet! Lo main gampar aja!" ujar Kety sewot setengah mati, sambil memperbaiki posisi wig pirangnya yang makin melosot ke belakang.
"Oh, 'tampilkan' toh? Ya maaf, gue kan personel baru, jadi kurang chemistry," ucap Lisa mencoba kembali ke mode profesional.
"Ya udah, ekhmm... kita mulai!" lanjut Lisa sambil memperbaiki posisi balon dadanya yang sedikit melorot ke arah perut.
Mereka pun memulai aksi mengamen dengan suara yang melengking sumbang bergetar, menyanyikan lagu "Alamat Palsu" yang nadanya entah lari ke mana.
Sangat tidak enak didengar oleh telinga manusia normal, bahkan kucing di pinggir jalan pun mungkin akan trauma mendengarnya. Namun, keduanya tetap tampil penuh percaya diri, menggoyangkan pinggul gemulai dan memukul tamborin dengan semangat yang meluap-luap.
Nahas, tepat di kursi depan mereka, ada seorang ibu-ibu paruh baya yang sejak tadi memegangi pipinya dengan wajah super masam karena sedang menderita sakit gigi stadium akhir.
Nyanyian sumbang duo waria tersebut benar-benar menyiksa saraf giginya yang sedang berdenyut linu. Ibu itu baru saja pulang dari pasar dengan tas belanjaan besar berisi sayur-mayur dan sebuah panci aluminium baru yang masih berkilau mengkilap.
Karena sudah berada di batas akhir kesabaran akibat kebisingan yang merusak saraf otak itu, si ibu secara spontan merogoh tas belanjaannya, menyambar panci tersebut, dan melemparkannya ke arah Kety yang sedang asyik bernyanyi sambil kayang kecil.
Bugghhh! Klonggg!
Panci itu melayang indah di udara dan mendarat telak tepat di atas kepala Kety. Bunyi benturannya terdengar sangat nyaring seperti suara gong peresmian gedung bertingkat.
Kety yang kaget luar biasa langsung kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh ke belakang dengan posisi tangan yang secara refleks menarik baju spandeks milik Lisa di sampingnya demi mencari pegangan hidup.
Kreeeekkk!
Pakaian spandeks Lisa robek seketika dari atas sampai bawah. Dua balon yang menjadi tumpuan dadanya meluncur bebas jatuh ke lantai bus, lalu menggelinding ke arah kaki penumpang.
Lisa yang ikut kehilangan keseimbangan pun jatuh berdebam menimpa tubuh Kety, tepat di atas salah satu balon cadangan yang ada di area dada temannya itu.
Duarrr!
Balonnya meletus keras. Mereka berdua kini terlentang di lantai bus dalam posisi yang sangat berantakan mirip tumpukan kain perca. Karena pakaian bagian atas Lisa sobek parah, bulu ketiaknya yang gondrong, lebat, dan hitam legam pun mencuat keluar dengan sangat jelas, melambai-lambai ke arah wajah para penumpang bus.
Gelak tawa pun meledak seketika di dalam bus yang tadinya pengap dan tegang itu. Semua penumpang, mulai dari anak sekolah yang menahan tawa sampai bapak-bapak berkumis, terpingkal-pingkal sampai memegangi perut melihat adegan konyol di lantai bus tersebut.
Alin yang duduk di barisan belakang tidak sanggup menahan tawa hingga perutnya terasa kaku dan air matanya keluar.
"Bwahahahahha.... banci ketiban panci! Dadanya menggelinding, woy!"