NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad

Saat ini Malika terlihat sudah ada di dalam rumahnya, sembari menenteng belanjaannya yang sudah ia letakan di atas meja dapur.

"Non Malika sudah pulang?" sapa salah seorang asisten rumah tangga yang tengah merapikan ruang makan.

Malika mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Iya,tadi ke Supermarket buat beli cemilan bi,biasalah buat temen maraton drakor."

"Belanjaannya biar saya bereskan saja non. ujar sang bibi "Ujar pembantunya yang di ketahui bernama bi Inah.

" Duh Bi inah maaf ya jadi ngerepotin. "Ujar Malika dengan wajah yang sedikit tidak enak.

" Ga papa atuh non, itu kan memang udah jadi tugas saya kerja di sini."Si bibi tersenyum setelah bertutur seperti itu.

"Ya udah, itu snacknya bisa bibi ambil buat bibi nyemil kalau mau, saya ke atas dulu ya bi makasih banyak. " Tuturnya sembari memegang bahu bi Inah setelahnya ia menaiki tanggga menuju kamarnya.

Sesampainya di depan kamar, Malika langsung memutar gagang pintu dan melangkah masuk.

Begitu pintu ia tutup kembali, ia lansung melangkah menuju kasur dan lansung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk.

Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar yang berwarna Pink bersih, sangat menyakitkan mata baginya warna itu.

Ah iya dia akan menyuruh bi inah mengganti dekor kamar ini, dia cukup terusik dengan warna pinknya, akan dia minta dekornya di ganti warna Maroon, seperti kamarnya saat ia masih hidup di dunianya dulu.

Dia terdiam cukup lama dan pikiranya lansung melayang ke kejadia waktu di supermarket tadi.

"Bisa-bisanya gue di tolong sama malaikat maut gue itu sendiri?. "Ia bergumam.

" Banson Cliant.

Tokoh yang sangat dikenalnya.

Salah satu pria paling berbahaya dalam novel yang pernah ia baca.

Dia juga adalah ancaman bagi Malika seperti Seron.

Banson merupakan salah satu pria yang terjerat dalam pesona Rara, sang tokoh utama wanita.

Malika menelan ludahnya.

"Bukan sekali, dia nolongin gue. Kenapa semeste secepat itu pertemukan gue sama mereka. Gue bahkan belum siapin ancang-ancang dan strategi buat hadapin mereka. "

Banson bukan tipe laki-laki yang suka mencampuri urusan orang lain.

Ia juga bukan orang yang ringan tangan membantu seseorang tanpa alasan ya jelas.

Lalu...

Mengapa pria itu justru menolongnya?.

Pria itu membantunya saat ia hampir terjatuh dari tembok pembatas karena ingin bolos. Ia menudukan dirinya sembari memegang tepian kasur sembari menengadah.

dan lagi.....

Pria itu membantunya, mengmbil cemilan. Padahalkan ia bisa saja pura-pura tak melihat keberadaanya.

Bahkan...

Mengapa ia sampai membayarkan seluruh belanjaannya?.

Malika Kembali merebahkan tubuhnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

"Astaga, kenapa harus secepat ini?. "

Entah mengapa, kenyataan itu tidak membuatnya senang.

Sebaliknya, bulu kuduknya justru meremang.

Dalam novel, siapa pun yang terlalu dekat dengan para pria di sekitar Rara hampir tidak pernah berakhir baik.

Malika mengembuskan napas panjang.

"Alangkah baiknya... setelah gue bayar utang gue, gue gak usah berhubungan lagi sama dia ."

"Gue memang sempat berpikiran gimana kalau seumpamanya gue pepet aja mereka, tapi gue dikit takut karena bisa aja boro-boro terpikat mereka malah semakin gencar buat gue mokad."

"Gue udah ketemu dua Heremnya Rara,dia cewe licik yang buat si Malika asli dibunuh oleh para heremnya, andai saja waktu dia jatuh ke kolam renang, dia perjelas kalau kakinya itu terpelincir bukanya di dorong Malika asli mungkin saat ini tubuh ini akan tetap di isi jiwa aslinya.

"Gak ada pilihan lain memang sebaiknya gue menghindar, tapi kalau seumpamanya mereka makan umpan gue maka gue akan santap mereka rawrr."Ia tertawa cekikikan.

Keputusan itu terdengar sederhana.

Sayangnya, Malika tidak menyadari bahwa takdir sering kali memiliki rencana yang sama sekali berbeda.

Malika masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tawa kecilnya perlahan mereda, berganti keheningan yang terasa aneh.

Kamar itu kembali sunyi.

Hanya suara embusan AC dan detak jam dinding yang menemani pikirannya yang mulai berisik lagi.

"..."

"Oke."

Ia mengangkat tubuhnya hingga duduk bersila di atas kasur.

"Otak, sekarang kita pakai logika."

Ia mengangkat satu jari.

"Pertama, gue harus balikin uang Banson."

Jari kedua terangkat.

"Kedua, setelah lunas... selesai. Gak ada basa-basi. Gak ada kenalan. Gak ada hubungan."

Jari ketiga.

"Ketiga, jauhin semua cowok yang muter di sekitar Rara."

Malika mengangguk puas pada dirinya sendiri.

"Nah, gitu dong. Simpel."

Rencana itu terdengar sangat masuk akal.

Sayangnya...

Ia sedang hidup di dalam sebuah novel.

Dan dalam novel,plot twist biasanya seringkali muncul.

Malika mengembuskan napas pelan.

"Gue cuma mau hidup tenang."

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jemarinya bergerak cepat membuka aplikasi mobile banking.

Nominal belanjaan tadi masih jelas tersimpan di ingatannya.

"Tapi... gue gak punya nomor rekening dia."

Ia memijat pelipis.

"Genius. Bener-bener genius."

Masa iya besok dia harus nyamperin Banson cuma buat ngembaliin uang?

Bukannya itu malah bikin mereka ketemu lagi?

"Enggak."

Malika langsung menggeleng keras.

"Pokoknya enggak."

Ia lebih memilih mencari seribu cara lain daripada sengaja membuka kesempatan untuk kembali berurusan dengan pria itu.

Lagi pula...

Semakin sering seseorang muncul di hadapan tokoh penting, semakin besar kemungkinan alur cerita mulai berubah.

Dan perubahan itu...

Belum tentu menguntungkannya.

Malika melempar ponselnya asal ke atas kasur, lalu bangkit berdiri.

"Daripada mikirin orang serem, mending ganti dekor kamar."

Tatapannya kembali menyapu seluruh ruangan.

Dinding merah muda.

Gorden merah muda.

Seprai merah muda.

Bahkan tempat pensil di meja belajarnya juga merah muda.

Sudut bibirnya berkedut.

"Ini kamar apa toko permen?"

Ia berjalan mendekati meja belajar, lalu membuka laci satu per satu.

Niatnya hanya mencari buku catatan untuk menulis daftar barang yang ingin diganti.

Namun...

Tangannya berhenti saat menemukan sebuah buku bersampul kulit berwarna cokelat tua yang terselip di bagian paling belakang.

"Buku apa ini?"

Alisnya mengernyit.

Perlahan ia mengambilnya.

Sampulnya polos.

Tidak ada judul.

Tidak ada nama pemilik.

Yang aneh...

Buku itu terlihat jauh lebih usang dibanding barang-barang lain di kamar Malika.

Seolah sudah disimpan sangat lama.

Padahal kamar ini tampak selalu terawat.

Malika membolak-balik buku itu.

Kosong.

Hampir semua halamannya kosong.

"Hah?"

Ia baru hendak menutupnya ketika sesuatu jatuh dari sela-sela halaman.

Pluk.

Sebuah foto kecil mendarat tepat di atas lantai.

Malika memungutnya.

Napasnya tertahan sesaat.

Di foto itu ada Malika remaja.

Usianya mungkin sekitar 15 tahun.

Ia berdiri sambil tersenyum di samping seorang remaja laki-laki yang wajahnya sengaja dicoret menggunakan tinta hitam sampai nyaris tak bisa dikenali.

"...Siapa?"

Malika membalik foto itu.

Di bagian belakang hanya ada satu kalimat yang ditulis menggunakan tinta yang mulai memudar.

Kalau suatu hari kamu lupa, jangan pernah percaya pada orang yang datang dan seolah mengenalmu.

Ruangan yang semula terasa biasa mendadak terasa lebih dingin.

Bulu kuduk Malika meremang.

"Apaan, sih..."

Refleks ia melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.

Dadanya berdebar pelan.

"Itu... tulisan siapa?"

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Jangan pernah percaya pada orang yang mengaku mengenalmu!.

Malika mengepalkan foto itu pelan.

"...Kebetulan doang."

"Iya."

"Pasti cuma kebetulan."

__________

For you🌸

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!