Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Kembali Kemasa Lalu
Shen Dazhi merasakan nyeri yang sangat mendalam di kepalanya. Ia berusaha membuka matanya, namun rasanya sulit sekali.
Dazhi lalu merasakan bau yang aneh. Bau yang sungguh membuat dirinya nostalgia. Dia berusaha keras untuk membuka matanya secara perlahan, sampai akhirnya dirinya melotot tidak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya sekarang.
Lihatlah, ini adalah kamarnya saat ia masih kecil dan tinggal bersama keluarganya. Dazhi tidak percaya, bagaimana dirinya bisa ada disini? Apakah permintaannya untuk kembali ke masa lalu benar-benar terkabul? Ataukah ini hanya mimpi?
Dazhi lalu mendapatkan keanehan lainnya. Tubuhnya menciut, tidak lagi tinggi dan kekar. Jari-jari tangannya juga sangat mungil. Ini seperti tubuh seorang anak kecil.
"A–apakah aku benar-benar kembali ke masa lalu?" Gumam Dazhi.
Dazhi menoleh ke sekeliling. Ini benar-benar kamarnya, dengan bau kayu dan ranjang lapuk yang sangat ia kenal dulu.
Dengan tubuh yang masih berbaring dikasur, Dazhi mengangkat tangan kearah langit-langit tempat dimana diletakkan lampu minyak untuk penerangan. Ia seolah ingin menggapai Dewa dan berterimakasih kepada-Nya atas apa yang Ia berikan.
"Hiks..." Tanpa sadar Dazhi terisak kecil. Satu tetes air mata juga mengalir dari pelupuk matanya.
Ini benar-benar momen yang sangat mengharukan. Seorang Pengembara yang mempunyai banyak penyesalan kini berhasil kembali ke masa lalunya untuk menulis ulang takdirnya.
Tetapi momen mengharukan ini terpaksa berhenti karena tiba-tiba...
Byurr!!
Tanpa permisi, se-ember air mengguyur tubuh Dazhi. Anak yang tidak siap itu akhirnya basah kuyup sampai ke bajunya juga.
Dazhi menoleh kearah pelaku yang tak lain dan tak bukan adalah Shen Yunhe, Adik Dazhi yang dahulu meninggal bersama kedua orangtuanya saat sekte aliran hitam menyerang desanya.
"Eh~ Ternyata kak Zhi sudah bangun. Kukira belum bangun seperti kemarin, hehe." Shen Yunhe nyengir dengan polosnya seolah tak itu bukan kelakuannya.
Hampir saja Dazhi menangis lagi mendengar suara Adiknya itu. Sang Adik yang selama ini hanya bisa dia kunjungi di pemakaman kini bisa dia lihat lagi setelah bertahun-tahun.
"Ada apa? Kenapa wajah kak Zhi seolah ingin menangis begitu? Jangan-jangan kak Zhi menangis karena aku siram yah? Eh? Kak Zhi cengeng yah!"
Mendengar ucapan Yunhe membuat Dazhi mengelap air mata yang hampir jatuh. Dirinya tidak boleh terlihat mencurigakan disini.
"Tidak, aku tidak menangis."
"Hm~ tadi aku melihat kak Zhi seperti mau menangis loh~ Sudahlah akui saja kalau kak Zhi itu cengeng!"
"Tidak. Ngomong-ngomong, apa itu kecoa?!"
Dazhi menunjuk kearah belakang Yunhe. Hal ini membuat gadis itu sontak membalikkan badannya dengan panik.
"Dimana?!! Hah, tidak ada kok?" Yunhe akhirnya sadar kalau dirinya dibohongi. Ia hendak protes kepada kakaknya, tetapi tiba-tiba rambutnya ditarik dari belakang.
"Akh! Sakit!!" Yunhe merintih kesakitan karena Dazhi menarik rambutnya.
"Hahaha!! Ini balasan karena membuatku basah! Wlee~" ucap Dazhi sembari menjulurkan lidahnya.
Sungguh, rasanya menyenangkan sekali bisa berinteraksi dengan adiknya. Dazhi rindu momen-momen seperti ini. Apalagi momen bisa menjahili adiknya, itu sangat dia rindukan karena memang ada rasa puas tersendiri ketika melakukannya.
"Yunyun! Zhizhi! Cepat kemari dan makan!!"
Satu lagi suara yang benar-benar Dazhi rindukan terdengar. Itu suara sang ibu. Dazhi dengan cepat pergi keluar meninggalkan adiknya yang masih merintih kesakitan.
"Ih! Dasar kakak menyebalkan!!"
Ketika sampai diruang makan, Dazhi langsung mendapati sosok wanita berambut panjang dengan sorot mata bersemangat yang sedang menyiapkan makanan, itu adalah Xiao Xinyue, ibunya.
Saat itulah, kerinduan didalam diri Dazhi memuncak.
Grep!!
Dazhi mendekati sang ibu dan memeluknya secara tiba-tiba. Hal ini membuat Xiao Xinyue yang masih menyiapkan meja makan langsung terkejut.
"Apa? Ada apa denganmu Zhizhi?"
"Tidak... Aku hanya... Menyayangi ibu."
Xiao Xinyue menggaruk kepalanya dengan heran. Tak biasanya anak laki-lakinya bersikap seperti ini.
"Tak biasanya kau seperti ini? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
Xiao Xinyue mengira kalau Dazhi sedang ingin membeli sesuatu, karena biasanya anak itu memang akan melakukan hal-hal seperti ini jika menginginkan sesuatu. Tetapi jawaban Dazhi malah membuatnya terkejut.
"Ibu, aku hanya ingin bilang kalau aku menyayangi ibu. Tidak ada alasan tertentu. Lagipula, apa salah bila seorang anak ingin mengungkapkan kasih sayangnya pada orangtuanya?"
Xiao Xinyue sungguh terharu dengan ucapan anaknya itu. Ia langsung membalas pelukan Dazhi dan mencubit pipinya dengan gemas.
"Ya ampun!! Zhizhi ternyata sudah pandai berkata-kata. Nah, kalau kau memang menyayangi ibumu, pergilah mandi di sungai belakang. Bajumu itu juga basah, nanti kau bisa masuk angin loh!"
Dazhi mengangguk dan tersenyum. Walau sebenarnya ia masih ingin memeluk sang ibu, tapi Dazhi tak boleh bersikap seperti itu karena bisa membuat orangtuanya mencurigai dirinya.
Dazhi akhirnya pergi ke sungai yang ada dibelakang rumah mereka untuk mandi.
Xiao Xinyue yang masih terheran-heran melihat tingkah anaknya akhirnya mengadu pada sang suami.
"Lihatlah Zhizhi, kira-kira dia kenapa yah? Tak biasanya dia seperti itu."
Shen Guowei yang sedari tadi menatap interaksi mereka dibalik meja makan sembari menyeruput tehnya hanya menjawab singkat.
"Entahlah. Mungkin efek pubertas."
"Guowei gege!! Anak kita bahkan belum 10 tahun!!"
Xiao Xinyue menatap sebal kearah suaminya. Padahal dirinya sungguh sangat kebingungan dengan tingkah Dazhi yang tidak biasa. Ia juga menaruh rasa curiga dengan anak itu.
Untungnya, Yunhe muncul disaat yang tepat.
"Ibu!! Tadi kakak menarik rambutku sangat keras sampai jadi berantakan!! Pokoknya ibu nanti harus memarahinya!!" Yunhe keluar dari kamar Dazhi sembari memonyongkan bibirnya kesal.
"Oh, jadi karena ini." Gumam Xiao Xinyue.
Xiao Xinyue berpikir kalau tindakan Dazhi yang tiba-tiba memeluk dan mengucapkan kata-kata sayang itu karena Dazhi tidak ingin dimarahi setelah menjahili Yunhe. Akhirnya Xiao Xinyue tidak lagi terlalu memikirkan perubahan sikap Dazhi.