Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Bertemu GD
"Kucingnya lucu," puji Bianca.
Laki-laki di depannya tersenyum, membiarkan Bianca membelai lembut wajah kucing yang berada di gendongannya.
Skala yang terlihat keluar sambil memegang ponsel di telinganya menatap punggung sang istri kemudian beralih ke pemuda berkaos merah yang sedang berbicara pada Bian.
"Dewa," teriak Bu Dewan dari pagar rumah Ska."Sini makan!"
Pemuda bernama Dewa itu terlihat malu, menggelengkan kepalanya, meminta sang mama untuk berhenti memanggil namanya.
"Anaknya ibu?" Tanya Ska. "umur berapa?"
"Iya anak saya mas Ska, anak satu-satunya malah, namanya Dewa. Dia masih kuliah semester tujuh," terang Bu Dewan.
"Udah punya pacar belum bu?" Ska semakin menggali informasi soal pemuda yang tengah berbincang dengan istrinya itu.
"Hem.. ya udahlah mas, anak saya ganteng gitu, cewek mah pasti pada antri buat jadi pacarnya." bangga bu Dewan.
"Oh.. bagus deh bu." Skala tersenyum, menepuk pundak wanita itu lantas kembali masuk ke dalam halaman rumahnya setelah menelpon Andra.
Bian masih sibuk bercanda dengan kucing bernama Lico itu, tiba-tiba jiwa irinya bergejolak, dirinya ingin memiliki peliharaan seekor kucing juga, tapi seketika ia teringat bahwa suaminya si badak Afrika Skala tidak menyukai binatang berbulu.
"Jadi namamu Dewa?" tanya Bian sambil membelai bulu Lico.
"Apa?" Pemuda di depannya terlihat tidak begitu jelas dengan maksud Bianca.
Gadis itu menatap ke arah Dewa, demi apa wajah laki-laki yang umurnya terpaut enam tahun darinya itu terlihat mirip salah satu member boy band ternamaan dari Korea di matanya.
"Nama kamu Dewa?" ulang Bian.
"Iya, tapi hanya di rumah saja aku dipanggil Dewa, teman-temanku memanggil aku GD," tawanya.
"GD? G-Dragon? big bang?" tanya gadis itu penasaran.
Dewa tertawa, pemuda yang tingginya hanya terpaut sedikit dengan Skala itu ternyata memiliki senyum hangat nan menawan.
"Namaku Giovanni Dewabrata, kalau boleh tahu nama kakak siapa?" tanya Dewa sopan.
"Bianca, panggil saja Bian, aku baru hari ini pindah kesini."
Mereka masih terus bercakap-cakap, kucing bernama Lico itu malah terlihat tidur di gendongan Dewa layaknya seorang bayi.
"Ca, pada mau pulang!" teriakan Skala dari dekat pagar membuyarkan obrolan Bian dan Dewa, gadis itu lantas meminta izin pergi masuk ke dalam rumah ke pemuda itu.
"Senang mengobrol denganmu, semoga kita bisa jadi tetangga yang baik." Bianca menepuk pundak Dewa lalu berbalik sedikit berlari menuju rumahnya.
"Ish... sok akrab banget pake nepuk pundak segala," cicit Skala.
"Baru aja aku telpon Melanie untuk kesini, kenapa malah sudah pada mau pulang," gumam Bian sambil berjalan bersisian dengan sang suami yang terlihat sedikit kesal.
"Besok kan hari Senin, semua orang harus kembali bekerja."
***
Setelah semua keluarga pergi para pelayan terlihat sibuk membereskan sisa pesta dadakan yang dibuat Prawira. Saat semua orang tengah sibuk terlihat Melanie dan Andra datang hampir bersamaan, keduanya langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Melanie membelalak melihat rumah baru sahabatnya itu.
"Kalian datang? telat, pestanya sudah bubar," ucap Bian yang sedang duduk di mini bar di dalam rumahnya bersama Skala sambil mengawasi beberapa pelayan yang tengah sibuk menata minuman yang di bawakan Prawira untuk cucu kesayangannya.
"Wah...berapa uang yang kalian keluarkan untuk membeli rumah ini?" Andra mendekat duduk di samping skala.
"Sepuluh Miliar," tukas Bian.
"Tidak mungkin paling tidak harganya...." terdiam, Skala dengan cepat memasukkan beberapa potongan buah ke mulut pengacaranya itu.
Setelah memastikan semua pelayan pergi meninggalkan kediamannya mereka mulai berbincang santai, Skala berkata ingin memasukkan klausul tambahan ke perjanjian mereka.
"Apa yang ingin kamu tambahkan?" tanya Melanie.
"Tidak ada kontak fisik diantara kami selain kebutuhan sandiwara." Skala menenggak minumannya melirik ke arah Bianca yang duduk tepat di sebelahnya yang hanya diam tanpa membalas omongan darinya.
"Oke gak masalah buat gue, tapi kalau suatu saat loe tiba-tiba kejang-kejang, gue gak bakal nyentuh loe, mau loe mati gue gak akan peduli karena gak boleh ada kontak fisik diantara kita selain kebutuhan sandiwara." Ternyata Bian terdiam hanya untuk memikirkan cara membalas omongan Skala ke dirinya.
Ska menoleh, menatap wajah istrinya heran, laki-laki itu menggunakan tangannya untuk menyentuh kening sang istri," loe gak panas kan?"
"Nah... kamu sadar tidak yang kamu lakukan sekarang di luar sandiwara?" Andra tertawa melihat kliennya bertingkah sebaliknya dari kalimat yang diucapkannya barusan.
"Dari pada kita menambahkan klausul lebih baik kita buat saja perjanjian tak tertulis. Denda! jika menyentuh anggota badan di luar kebutuhan sandiwara, kayak yang loe lakuin barusan, loe gue denda seratus juta, jadi hutang gue ke elo tinggal tiga koma sembilan miliar."
Mendengar ucapan Bianca jelas sang suami tak terima," enak aja, emang dahi loe terbuat dari apa? mahal bener dendanya."
Pasangan suami istri itu terlihat berdebat, Andra memberikan kode ke Melanie, keduanya lantas pergi ke lantai atas, melihat-lihat rumah dua lantai milik klien sekaligus sahabat mereka itu.
Melanie membuka setiap kamar yang ada di lantai atas, Ia dan Andra bisa menebak bahwa kedua mahkluk yang masih berdebat di bawah sana memilih tidur terpisah, saat mereka sampai di kamar utama keduanya terkejut, kamar berukuran luas itu benar-benar memanjakan mata dan sangat applicable untuk melakukan perbuatan mesum.
Keduanya saling menatap, Andra menarik tangan Melanie masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamar itu lalu menarik gadis itu sampai ke ranjang.
Mereka berbaring menatap langit-langit kamar Bian dan Ska denga kaki yang menggantung ke ujung ranjang.
"Apa kita besok bisa punya rumah seperti ini?" tanya Melanie ke Andra, sang kekasih.
Andra memiringkan badannya, menatap mata Melanie dalam-dalam, "Apapun yang kita punya harus kita syukuri yang terpenting kita saling mencintai, untuk apa rumah sebesar ini jika penghuninya tidak saling cinta?"
"Seperti Bian dan Ska?"
"Hem..., seperti mereka."
Andra dan Melanie saling melempar senyum, keduanya tengah di mabuk asmara, karena mengurus kontrak pernikahan Bian dan Ska mereka menjadi dekat dan saling jatuh cinta.
Bian dan Ska yang baru selesai berdebat terlihat bingung mendapati kedua pengacara mereka sudah tidak berada disana.
"Mereka mungkin pulang tanpa berpamitan, dasar ga sopan." Bianca bangun dari kursinya sambil meminta sang suami untuk mengunci pintu rumah. Ia berjalan naik ke lantai atas.
Tangan Bianca meraih gagang pintu markas, gadis itu mencoba membukanya tapi sepertinya terkunci. Kesal, tanpa berniat bertanya ke Skala dirinya langsung masuk ke dalam kamarnya karena kantuk sudah menggelayuti netranya.
Sedangkan Skala setelah mengunci pintu dan mematikan semua lampu juga terlihat naik ke atas, mencoba masuk ke kamar utama untuk mengambil baju ganti, sama seperti Bian dia juga mendapati pintu markas terkunci, Skala menduga Bian sedang marah lalu memakai kamar itu dan berniat mengerjainya agar Ia tidak bisa mengambil baju ganti.
"Terserah loe deh dasar istri durjana, ga bakal gue baik-baikin loe." Ska melepaskan tangannya dari gagang pintu, berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri, kemudian merebahkan badannya di atas kasur, ia terlelap tanpa mengganti bajunya.
Sementara di dalam markas milik Bian dan Ska, Andra dan Melanie tengah sibuk saling mencumbu, menanggalkan semua pakaian mereka untuk bercinta di bawah selimut tetangga.
(Eh salah maksud Na di bawah selimut sahabat mereka 🤭)
-
-
-
-
-
Jangan lupa like Komen dan subscribe, eh salah Love (dikira yutup kali ah) novel receh Na, terima kasih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cemburu Bi... c e m b u r u
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😍😍😍